
Sari pov
*
*
*
*
*
*
Aku keluar dari kamar dan berjalan menuju meja makan didapur, ya untuk sarapan pagi. Sekarang aku sik tinggal di rumah eh apart, soal ajakan mama beberapa bulan lalu memang aku terima untuk tinggal bersama mama Katin dan papa Alan. Tapi sekarang meraka sudah kembali disibukkan oleh pekerjaan dan harus pergi ke jepang, jadi aku memutuskan untuk kembali ke aprat. Soal hantu mah masa bodo, lah. Yang penting ngak tinggal di rumah gedong sendirian, kan itu lebih seram.
Setelah sarapan aku bergegas pergi ke sekolah. Oh sekarang aku sudah kelas tiga loh!! Hebat kan!! Aku ternyata naik kelas, hahaha.
Aku tersenyum kecut, bahkan dia sudah pergi selama 5 bulan. Puasa dan hari raya saja sudah terlewat, kupikir disaat itu dia akan pulang. Tapi aku salah dia tidak datang bahkan menelponku saja untuk mengatakan selamat lebaran tidak. Rasanya lebaran yang paling buruk dan ramadan yang paling kelam bagiku adalah tahun ini dan mungkin juga tahun tahun berikutnya. Ah, apa aku pulang ke sidimpuan ajah ya atau ke desa binanga. Eh tapi setelah lulus kuliah ajah deh.
Aku yakin kak Ari gak akan kembali lagi, mungkin jika ia balik pun hanya akan menyampaikan kabar buruk doang. Se..perti..cerai.
Sampainya disekolah aku menyapa teman teman sekelasku termasuk dua sejoli ku.
"Wah, hampir lo telat nyet. " Tika mempersilahkan aku duduk disampingnya.
"Iya nih, kan lo tau les pertama pak gultom. " Lisa memasang raut wajah serius.
Aku hanya terkekeh, "heehe, sori sister ngesot!! "
Tika mendengus, "Sori tidak di beri, tapi maaf diberi. " Gurau Tika yang dibalas kekehan oleh Lisa dan tentu juga aku yah.
"Yehhh nyet, siapa yang minta sori sama minta maaf sik. " cibirku sok kesal.
"Ellehh, ya--udah. Au ah! Pusing awak bicala ama tu olang, kamplet lo olang. " Tika berucap dengan menirukan suara mei mei dalam animasi upin ipin. Tapi sumpah!! Tika beneran lucu, tinggal kaca mata sama kepang duanya ajah yang kurang biar sama persis.
Aku menghentikan tawaku, setidaknya bersama mereka aku bisa tertawa lepas kembali dan melupakan sakit dihatiku.
*
*
*
"Kamu pesen apa? " aku bertanya pada Tika, setelah sebelumnya pada Lisa.
Tika terdiam sebentar sepertinya ia sedang memikirkan makanan apa yang akan ia pesan.
"Terserah lo aja, nyet. " aku menatap jengah Tika, diriku lama berdiri menunggu mulutnya mengatakan sesuatu tapi yang keluar dari mulutnya itu loh buat aku kesellll, terserah loh. ' Wow!!
Aku melangkahka kakiku untuk memesan makanan, "mpok Rina, mie gor satu, batagor satu sama nasgor satu ya mpok. "
Mpok rina mengajukan jempol nya, "Siap neng, tunggu bentar ya. " Aku hanya menganggukkan kepalaku. Tidak lama pesananku datang aku segera membawanya ke meja kami. Setelah itu aku menyantap makananku dalam hening, sama seperti sebelum sebelumnya.
"Ekhmm..." aku menoleh pada Tika yang berdehem.
"Sar, lo..lo..,, masih kepikiran ya sama kak Ari?! " Tika merubah raut wajah nya jadi tidak enak.
Aku tersenyum walau terpaksa sik, "enggak juga. " jawabku berusaha santai.
"Kita tau kok Sar lo masih sedih soal kak Ari. Kita juga ngerti kok sama keadaan kamu. Bahkan menurut kita lo tu hebat bisa kuat, tapi saran kita kalo lo sedih yah sedih ajah Sar, jangan ditahan tahan atau pura pura bahagia. Karna itu ngak enak banget, dan lagi itu cuma buat lo tertekan. " Lisa berkata dengan nada yang tegas, tak seperti Lisa yang biasanya yang selalu berbicara imut dan manja.
"Ingat Sar!! Lo masih punya kita, lo punya sahabat. Dan lo ngak perlu buat sandiwara didepan sahabat lo, bayangan lo sendiri. "
Aku menatap Lisa dan Tika, kemudian aku menundukkan kepalaku malu. Yah, seharusnya aku tak perlu bersikap **** dengan pura pura bahagia didepan mereka. Karna seperti yang Tika bilang tadi, mereka itu bayangan aku, sahabat aku. Dan mereka bakalan tahu dan ngerasaain apa yang aku rasain.
Tika menggenggam tanganku seolah ingin menyalurkan kekuatan padaku, "Sar, lo jangan pernah merasa sendiri yah. Sekali lagi, lo masih punya kita, Sar. Dan kita janji ngak bakalan biarin lo merasakan sakit ini sendirian, kita ngak bakalan biarin lo terlarut dalam kesedihan lo ini dalam waktu yang lama. Kita bakalan hibur lo setiap harinya agar lo kembali ceria dan bisa tertawa lagi. "
Aku tersenyum, aku sangat terharu. Apalagi dalam keadaan hatiku yang kering sehingga setetes air saja langsung diserap habis. Aku mengangguk bersamaan dengan air mataku yang lolos jatuh.
"Makasih!! " pekikku riang sembari merangkul mereka.
Hum, rasanya sesak dihatiku sedikit menghilang, berganti dengan rasa hangat. Dalam hati, aku berdoa agar tidak dipisahkan lagi dengan orang yang kusayang, tidak dipisahkan lagi dengan orang yang berarti dihidupku dan berharga bagiku.
Seandainya keluargaku akan meninggalkanku, suamiku, orang tua ku, mertuaku, kakak ku bahkan jika dunia pun ingin meninggalkanku dan menjauh dariku. Harapanku hanya satu, sosok sahabat yang selalu bertahan, merangkulku, menggenggam erat tanganku dan tersenyum padaku serta mengatakan jika aku tidak sendiri, masih ada mereka yang tak akan perna melepasku dan meninggalkanku.
Aku melepas pelukan mereka, kemudian menatap mereka dengan tulus lalu tersenyum hangat, "kalian sahabat terbaikku. "
Lisa dan Tika mengangguk kan kepala mereka dan tertawa, tawa yang akhirnya juga membuatku ikut tertawa. Ya,, inilah memang kami, lucu dan konyol. Dalam waktu yang sama kami bisa menangis dan tertawa.
...................
Author pov
"Hahahahahahaa....,, pas aja Pangeran bebeb yayang Aryansah masih disini, tuh cewek belagu. Eh, pas Kak Ari out, dia malah kayak banci, cemen! "
"Eh, katanya dia udah putus tus sama Kak Ari. "
"Beneran?! "
"Berita bagus nih, "
"Iya,beneran. Tapi masih katanya sik, yah, tapi mudah mudahan nyata Kalao mereka bener bener putus, biar si judes bloon Sari tahu diri kalo dia itu bukan siapa siapa tanpa bebeb. "
"Eh, hati hati awas didenger. Orangnya duduk di meja samping kita, ****. "
"Alaahh biarin, dia udah ngak ada power. Lagian anggap ajah hantu, anggap ngak ada. "
"Tapi temennya barbar. "
"Bomat. "
"Teman nya juga cemen!! "
"Cemen!! "
Brugh!!
Tika menggebrak meja dengan kuat, membuat semua orang dikantin menoleh pada mereka, "lo semua bisa ngak jaga mulut. Jangan asal ngomong!! " Tika menatap tajam ke arah segerombolan siswa perempuan di samping meja mereka.
"Yee, suka suka kita lah. Mulut mulut kita. " salah satu dari siswa perempuan itu membalas dengan menatap Tika kesal.
"Iya suka suka mulut lo. Tapi jangan jelek jelekin kita dong. " Lisa berdiri, ia bersedekap sembari menatap segerombolan perempuan itu dengan tak suka.
"Kenapa?! Ngak suka?! " cewek lainnya ikut menyahut.
Tika mendengus sebal, "iya ngak suka. " ketusnya.
Sari menghela nafas berat, urusannya yang satu belum selesai masalah lain malah datang. Ck, hilang Miska siberuang malah datang segerombolan betina berwujut rubah.
"Udalah, Tik,, Lis. Ngak usah diladenin, ngak ada guna tuh. " tegurnya pada Tika dan Lisa yang sudah akan mengamuk kesetanan.
Siswi berpenampilan paling mencolok itu menatap Sari sinis, "lemah,, cuma berani pas Kak Ari ada disini ajah. "
Sari mengepalkan tangannya, rasanya sangat marah ketika siswi berpenampilan mencolok itu mengatainya seperti itu. Sari akui ia lemah, tapi ia tidak pernah sok sok kuat sampe nindas orang saat Ari masih SMA dulu. Perasaan Sari masih seperti itu itu ajah, yah hanya saja ia sedikit berubah menjadi pendiam karna Ari nya yang tak pernah mengabarinya.
"Maksud kamu ngomong begitu buat apa?! Mau jelek jelekin aku?! Emang kalo aku lemah atau pemberani, apa hubungannya sama kamu?! " Sari menatap nyalang pada siswi tersebut.
Siswi berpenampilan mencolok itu mendecik, "ck, ngak usah teriak teriak dideoan gue yahh. Lo sekarang udah ngak punya Kak Ari lagi buat belain lo, lo itu udah sendiri. "
"Masih ada sahabat aku. " ucap Sari cepat dengan meninggikan suaranya.
Tika dan Lisa spontan melebarkan senyumnya, hati mereka berasa senang saat Sari tadi mengucapkan hal itu. Yah, masih ada mereka yang akan menjadi temeng Sari, yang akan mendukung Sari dan melindunginya.
"Yah, masih ada kami. " Tika dan Lisa berdiri lalu melangkah kedepan Sari seolah berusaha melindungi gadis itu. Kedua gadis itu tersenyum miring sembari menatap tajam segerombolan siswi perempuan didepan mereka. Setelah perkataan Sari tadi, entah mengapa mereka jadi beramangat.
Beberapa siswi digerombolan penggosip itu memilih meninggalkan tempat itu, mereka takut dengan ketiga gadis didepan mereka yang terlihat menyeramkan. Dari gerombolan siswa yang berjumlah sekitar 11 orang tersebut kini hanya tersisah 4 orang saja.
Dan keempat orang itu tidak mau kalah dengan Sari, Tika dan Lisa. Mereka juga menatap ketiga perempuan didepan mereka dengan tajam bercampur tak suka.
"Lo jangan belagu deh. Dengar yah, terutama lo, Sari. Kalian itu bukan apa apa jika Kak Ari ngak macarin lo. Dan setelah Kak Ari mutusin lo, itu tandanya lo sekarang bukan apa apa lagi. Dan sekarang lo itu cuma sampah, "
Sari menatap marah pada siswi berpenampilan mencolok didepannya itu, nafas nya mengebuh ebuh pertanda jika ia benar benar marah.
"Kamu yang sampah. " Sari langsung menjambak gadis didepannya dengan brutal. Tidak lupa kukunya yang sedikit panjang karna lupa untuk memotongnya ia gunakan untuk mencakar wajah gadis itu.
Entah siswi yang berpenampilan mencolok itu yang tak pandai jambak jambakan atau karna jambakan Sari yang sangat kuat, tapi gadis itu benar benar tak berkutik. Ia hanya bisa menjerit sakit sembari berteriak agar Sari melepaskan rambutnya.
Sebagai teman yang baik serta sedikit sesat, Lisa dan Tika membantu Sari dengan menjambak kedua teman siswi berpenampilan mencolok itu. Sedangkan teman mereka yang satu nya lagi sudah berlari terbirit birit untuk melapor ke guru.
...............
Dan, see!
Sari, Tika, Lisa serta tiga rival jambak jambakan mereka dan juga sipelapor sekarang berada di ruang BK.
"Kalian benar benar keterlaluan. " omel Farida, sang guru BK.
"Dia yang duluan buk. " ucap siswa berpenampilan mencolok itu dengan menatap Sari tak suka.
Farida menggebrak meja, "diam kamu. "
"Ibu paling tidak suka jika salah satu murid disekolah ini berantam, berkelahi, apalagi jambak jambakan. " Farida kembali mengomeli ketujuh murid didepannya tersebut.
"Ta..tapi saya buk, cuma pelapor. " protes siswi yang melaporkan tadi.
Farida langsung menatap tajam pada siswi tersebut, sedangkan tiga teman siswi pelapor itu menatap taksuka padanya. Yang benar saja,, gadis itu cari aman sendiri.
"Ibu tidak mau tahu, kalian harus panghil orang tua. Karna perbuatan kalian tadi bukan mencontohkan pribadi siswi teladan dan sudah seperti binatang. " putus Farida, ia bersedekap sembari menatap ketujuh siswi didepannya dengan tajam.
Sari menegug salivahnya, madalah nya sekarang adalah orang tuanya sedang ada di jepang, mertuanya juga sedang disana.
"Um, tapi buk orang tua saya sedang tidak ada disini buk. Mereka sedang melakukan perjalanan bisnis. " jelasnya.
"Alasan!! Pokoknya ibu tidak mau tahu. Jika orang tua kalian besok tidak datang, maka kalian di skor tiga minggu. Dan perlu saya ingatkan, jika kalian sekarang sudah kelas tiga. "
Farida melayangkan tatapan memperingati.
"Wahhh, libur tiga minggu?! Kapan lagi?!! Libur semester ajah cuma 2 minggu, beneran hukuman yang brilian ini. " itu bukan berasal dari mereka bertujuh, tapi berasal dari seorang siswi yang bari datang.
Spontan Sari, dan yang lainnya menoleh ke sumbersuara menemukan sang Most Wanted, bulan dari sekolah serta ratunya para siswa siswi disekolah ini. Gelar ratu sebenarnya di berikan pada Sari yang mereka ketahui sang mantan pacar dari Aryansah Wijaya yang menjadi Raja di sekolah ini. Hanya saja gelar yang diterima siswi tadi tak seindah gelar Sari. Jika Sari mendapat gelar karna merupakan kekasih Aryan dan juga karna pribadinya yang mengesankan maka berbeda dengan siswi tersebut, ia mendapat gelar itu karna merupakan ratunya dari tauran, ratunya terlambat, ratunya bolos, ratunya membuat guru kesal dan juga ratunya panghil orang tua.
"Syakila, kamu ngapain disini. " bentak Farida pada siswi itu.
Syakila tersenyum lebar, ia berjalan di ikuti oleh seorang siswi lainnya sedangkan dua lainnya terlihat menunggu diluar. Syakila berhenti disamping Sari kemudian merangkul gadis itu sok kenal saja.
"Assalamualaikum, Guru ku yang cantik. " siswi bernama Syakila itu serta temannya yang bernama Hana tersenym lebar setelah memberikan salam pada sang guru BK.
"Waalaikumsalam. " ketus Farida dengan menatap kesal pada kedua siswi yang baru datang itu.
"Kalian mau ngapain kesini?! " lanjutnya kembali bertanya dengan nada ketus.
Sari dan yang lainnya melirik ke arah syakila yang sudah melepas rangkulannya. Mereka penasaran saja dengan kemunculan kedua gadis itu. Ah, Sari hampir lupa sesuatu jika Syakila dkk sudah mengklaim ruang beka sebagai kesal kedua mereka.
"Aihh, manis nya guruku ini kalo lagi muarahh. " ujar Hana dengan nada menggoda.
Farida menatap tajam kedua makhluk yang selalu ia hindari itu dengan tajam, "katakan! Kenapa kalian datang kesinin? "
"Loh ngak bisa gitu dong buk. Kami dalam antrian terakhir, ibu ngak boleh langsung mewawancarai kami. Masih ada pasien utama eh antian utama maksudnya. Jadi mereka dulu dong buk, jangan karna kami murid kesayangan ibu, jadi ibu pilih kasi dan mengutamakan kami. Tidak, tidak!! Harus adil dan tertib. " cerocos Syakila panjang lebar membiat Sari, Tika, Lisa dan keempat siswi lainnya menganga tak percaya. Pasalanya Farida adalah guru yang paling mereka takuti di sekolah ini.
Ah, mereka sepertinya lupa lagi. Syakila and geng's kan anak berandalan yang ngak takut sama siapapun termasuk guru.
Farida menghela nafas, ia memilih mengabaikan siswi paling menyebalkan itu dan memilih kembali memproses ke tuju murid didepannya.
Sedangkan Sari melirik ke arah Syakila dan Hana kemudian ia menarik seulas senyumnya. Kedua siswi yang dinobatkan dengan gelar si bajak laut tersebut benar benar membuatnya merasa rileks dari ketegangan yang disebabkan oleh sang guru BK. Ah, mungkin mengikuti alur Syakila dkk bisa membuat akhir cerita dari Sari membaik.
Yah, Sari sekarang merasa lebih baik. Ia bisa meneladani Syakila dkk, yang tetap santai dan masih menebar senyum saat meski menghadai masalah. Mungkin masalah Syakila dan Sari berbeda, mungkin masalah Sari lebih rumit dan susah. Tapi Sari yakin jika ia menirukan gaya santai dari sang pembuat onar mungkin Sari juga bisa lebih baik. Yah, masalah itu di senyumin ajah. Membaik tidak membaik, intinya kita masih bisa tersenyum.
Sari kembali tersenyum, kali ini senyumnya sangat lebar membuat Tika, Lisa dan yang lainnya mengerutkan kening melihatnya.
"Heh, kamu kenapa senyam senyum?! Sudah gila?! " Farida, sang guru BK menatap Sari dengan mata yang memicing.
"enggak, aku cuma mau senyum ajah buk. Ngak ada yang larang kan?! " di akhir kalimat Sari kembali melayangkan senyumannya.
Farida berdehem, "memang ngak ada larangan buat kamu senyum, tapi tolong senyumnya dikondisikan. Jangan sampe kamu saya anggap gila. "
"Dan kembali ke masalah kalian. Sari, Lisa, Tika, dan kalian bertiga juga, kalian tetap panggil orang tua. Tidak ada pembantahan! " lanjutnya sembari menatap tajam ke enam muritnya tersebut.
"Dan untuk kalian berdua, jika tidak ada urusan. Silahkan keluar! " Kemudian Farida menatap tajam pada siswi sang pembuat onar tersebut. Sedangkan kedua siswi tersebut senyum senyum tak jelas kemudian keluar dari sana. Sebelum keluar mereka sempat menyalim tangan Farida dan juga keenam murid yang ada didalam sana.
'yeihh, benar benar santai. Bisa jadi panutan inih. ' batin Sari sembari menatap kedua siswi tersebut yang sudah melenggang pergi.
Sari kembali tersenyum, masalahnya dan Ari bukanlah suatu masalah yang besar. Ari hanya pergi untuk menuntut ilmu, meski tak perna mengabarinya tetap saja itu bukan masalah, jika Sari pikir pikir. Sekarang masalah Sari adalah bagaimana caranya agar ia bisa lusus dengan nilai yang bagus dan menjalani hidupnya dengan bahagai, penuh dengan senyuman dan tawa kesenangan.
Dan Sari sekarang tahu cara nya agar ia tetap bahagia dan bisa melupakan masalahnya dengan Ari. Kedua siswi tadi benar benar menginspirasinya. Senyum dan santai, dua hal yang akan menjadi solusi dari masalahnya.
Yah, mulai saat ini Sari akan menerapkan hal itu. Dan Sari yakin untuk keesoknya ia akan benar benar bisa menjalani hari harinya tanpa kata galau, cemas dan permasalahan hati. Ari?? mungkin tak bisa ia lupakan. Tapi sejenak bisa ia diamkan dalam hatinya. Sari butuh ketenangan, Sari butuh kebebasan, Sari butuh udara segar, Sari butuh hari yang cerah, Sari butuh kesenangan Dan hari ini Sari perlahan mendapatkan semuanya.
**The end
Sekian dari cerita ini, jan lupa vote, comen dan like yahh😉.
bye bye😖😖😖😖**