
Selamat berduka dan keki sendiri. Author ngak tanggung jawab jika kalian meresa nyesek yahh!!
☺️😁😁☺️☺️😌
saran Author, jan lupa demgar lagu sad yahhh.
Setelah melarikan diri dari apart, Sari sekarang berada di taman dekat apart nya. Ia duduk ditemani dengan es krim dan keheningan malam, entah sudah berapa jam ia disana dan entah sudah berapa cup es krim yang ia habiskan. Intinya, ia hanya ingin meredam rasa nyeri dan sesak dihatinya.
Sari menatap es krim di tangannya dengan sorot kosong. Tuduhan Sera benar benar membuat hatinya kecewa, fakta jika ia bukan lah cinta pertama sang suami membuat nya sesak.
Sari menangis, ia menggigit bibirnya agar isaknnya tidak keluar. Rasanya benar benar sesak dan nyeri jika Sari harus kembali berpisah dengan Ari. Duulu ia berpisah selama 5 tahun dengan Ari dikarenakan pria itu anggap saja untuk mengenyam pendidikannya, meski sebenarnya bukan. Tapi 5 tahun itu berakhir dan mereka akhirnya kembali. Dan sekarang, Sari akan berpisah lagi dengannya mungkin dalam kurun waktu yang tak mampu di pastikan. Jika dulu alasannya pendidikan, tapi sekarang.......____
'Bukan cinta pertamanya. ' batin hadis itu dengan menangis senduh. Ia meletakkan cup es krimnya kemudian ia menengadah ke atas, ia menatap hamparan bintang dilangit. 5 tahun mengubahnya, rindu yang pernah membelenggu jiwanya mengajarkannya untuk tak akan membiarkan Ari lepas darinya lagi.
Sari bukan lagi anak SMA labil, ia sudah dewasa. Mungkin dulu ia tak bisa mengatakan apa apa pada Ari dan tidak bisah mencegahnya saat pria itu memutuskan untuk meninggalkannya. Tapi sekarang, setidaknya dewasa membuatnya berani untuk bicara bahkan untuk mencegah hal buruk itu terjadi.
Tapi, tapi masalahnya maukah Ari mendengarnya?!
Sari menghapus air matanya, tunggu! Tunggu dulu. Selama menjadi istri pria itu tidak mungkin Ari tak memiliki perasaannya pada Sari. Mungkin saja Ari sekarang tidak peduli lagi dengan cinta pertama. Yah, munhkin daja!!
Sari tersenyum, tapi senyumnya luntur saat mengingat sesuatu.
"Film mujhe dosti karoge. Pertama pria itu juga salah paham dan tak mengenali cintanya, ia salah karna mengira tina cintanya. Tapi setelah ia tahu yang sebenarnya, ia bahkan lupa jika dulu ia sering menghabiskan waktu dengan tina. Dan tanpa memikirkan kengannya dengan tina atau memikirkan perasaan tina, ia dengan mudah memutar haluan ke arah pooja. "
"Dan mungkin saja Ari akan sama dengan nya. Ari akan dengan mudah memutar haluan pada Sera. Siapa yang tahu, cinta kan buta. "
Sari kembali menitihkan air mata, benar! Cinta memang buta. Dan Ari dengan mudah akan mencampakkannya dan meninggalkannya dengan mudah, tanpa memikirkan perasaan Sari terlebih dahulu. Di tambah Ari yang akan men judge buruk, akibat hasutan Sera.
Jika Ari akan benar mencampakkannya, mungkin ia akan menghadiahi Sera satu tamparan. Persetan dengan status Sera sebagai kakak. Toh selama ini Sera tak pernah menganggapnya ada. Dan lagi Sera bukan kakak kandungnya.
Tapi Sari berjanji pada dirinya ia tak akan melepas Ari, pria itu miliknya. Sari akan memperjuang Ari, Sari tak akan membiarkan Ari lepas. Tapi, tapi bagaimana jika Ari yang ingin lepas darinya?!
"Arggggggggggg!!! " Sari berteriak sekencang mungkin. Meluapkan sakit hati dan frustasinya.
Setelah berteriak, gadis yang dilanda kepiluan itu menangis semenjadi jadinya.
"Aaaa..hick..hick. "
"Se..selama ini aku membiarkanmu menghinaku didepan keluarga mu. Selama ini aku diam dengan sifat ketus mu padaku. Aku tak pernah membalas perbuatanmu, aku tak pernah dendam padamu. Tapi...hick..tapi kanapa kau menuduhku sekeji ini. Apa salah ku Kak?! Sesulit ituhka bagimu untuk menganggapku adik?! "
Sari terdiam sejenak, ia membiarkan rasa sakitnya menyebar dan perlahan menggoresi hatinya. Setelah rasa sakit itu sedikit mereda, ia kembali mengeluarkan unek uneknya entah pada siapa.
"Apa karna aku anak pungut makanya kau sangat membenciku hick... " Sari terdiam sesaat.
"Salah yah jika aku anak pungut?! Apa anak pungut tak berharga?! " Lirih Sari dengan menunduk.
Sari tiba tiba mendongak, pipi nya basah karna air matanya sendiri.
"Tapi asal kau tahu, aku juga tak pernah mau ditakdirkan sebagai anak pungut. " ia menengadah, mengerjap untuk menghalau air matanya yang akan jatuh.
Rasa sakit dihatinya kembali menyeruak.
"Hick.., ak..akuh aku tak ingin takdir ini. Tapi aku tak bisa menolak, tak bisa. "
"Aku tak pernah merebut semua yang kau tuduhkan. Aku tak merebut keluargamu, aku tak merebut Mama sama Papa, aku juga tak merebut Kak Ari darimu. Aku tak pernah melakukan hal itu, aku tak licik, aku tidak dendam padamu. Ak..akuh...hick. "
"Aku sakit, kak!! Hick..hick..hick..hick. "
Sari kembali menundukkan kepalanya lalu membiarkan rasa sakit itu semakin mengusai hatinya. Sari semakin terisak saat otaknya memutar keluarganya. Memutar perlakuan keluarganya padanya dulu.
"Mereka tak menyayangiku seperti penyayangimu. Mereka hanya iba, mereka hanya kasihan padaku karna...karna hick..karna aku anak pungut. Apa kau tak pernah melihat nya, hah?! Dimana matamu saat tatapan iba mereka berikan padaku, dimana telingamu saat mereka melontarkan kalimat iba padaku?! Kenapa kau harus iri padaku yang hanya anak pungut ini?! Apa yang kau irikan, kak?! Hu..uuuuuu.."
"Kau iri dengan kasihsayang mereka padaku?! " Sari menghapus air matanya.
"Mereka hanya kasihan, kak. Mereka hanya kasihan, tidak benar benar peduli padaku. "
Sari menundukkan kepalanya, "padahal disini aku yang pantas iri padamu. Karna kau terlahir diantara tengah tengah keluargamu, kau tumbuh di besarkan orang tua kandungmu, kau, kau hick.. kau dikelilingi dengan keluargamu yang benar benar menyayangimu. Sedangkan aku?! Aku terlahir entah dimana, orang tuaku enggan membesarkanku dan malah membuanhku, aku besar ditengah tegah keluargamu yang selalu menatapku malang, orang tuaku tak pernah mencariku sampai sekarang, dan ditambah kau yang membenci. Lengkap sudah deritaku. "
"Jika kau tak bisa menyayangimu seperti adik mu sendiri. Jika kau tak bisa menyayangiku dengan tulus, setidaknya kau bisa lakukan seperti keluargamu yang lain, hanya mengasihaniku. Apa perlu aku berlutut dan bersujut duhadapanmu agar kau mengasihaniku si anak pungut ini?! Atau deritaku belum cukup untuk membuat hati mu tersentuh untuk mengasihaniku?! "
Sari kembali menengadah, berbicara sendiri mungkin orang sudah menganggapnya gila. Tapi siapa yang peduli?!
Sari menghapus air matanya, kali ini tidak ada isakan lagi. Hanya air mata yang semakin kian deras meluncur, "Aku tahu Mama sama Papa membohongiku agar aku mau menikah dengan Kak Ari. Aku tahu itu, tapi aku tak bisa menolak?! Memangnya siapa aku, bisa menolak?! Aku cuma anak yang mereka pungut, mereka membesarkanku dengan baik, mereka memberiku pendidikan yang baik juga. Lalu, haruskah aku membalas kebaikan mereka dengan menolak pernikahan ini?! Aku hanya ingin balas budi. Aku tahu kebaikan Mama dan Papa tak akan terbalas olehkuh meski dengan menerima pernikahan ini. Tapi setidaknya aku sudah berusaha. "
Sari tersenyum saat mengingat awal pernikahannya dengan Ari, namun air matanya masih mengalir.
"Ku kira menikah dengannya akan memberi luka dalam di hatiku. Tapi aku salah, kak Ari benar benar menyayangiku, ia sangat memperhatikanku. Dia selalu menjagaku, dia memarahiku jika aku salah, dia mewarnai hari hariku, dia tak pernah memandangku iba. Dia berbeda, karna dia melakukan semua itu dengan tulus. Aku sangat menyayanginya, mungkin tanpanya aku tak akan pernah merasakan kebahagiaan yang sebenar benarnya. Kak Ari sudah seperti rumah bagiku, tempatku berpulang, berlindung, berteduh dan mengabiskan waktu. "
Sari melebarkan senyumnya, namun detik berikutnya senyumnya luntur. "Tapi sekarang,, kau merebutnya darilu Kak. Kau mengambil kebahagianku, kau merenggut rumah ku. Dan sekarang, aku tak memiliki rumah untuk pulang lagi, aku tak memiliki seorang yang membuatku merasa aman lagi, aku tak akan bisa merasa damai lagi dan waktu bahagiaku juga akan sirna. "
"Selamat kak! Kau berhasil membuatku hancur. Huh, aku semakin menyayangimu saja. "
Ari hampir sudah menelpon semua orang yang mengenal istrinya untuk menanyakan keberadaan nya namun tidak satupun yang tahu kemana Sari sekarang. Yah, ni memang salahnya karna lupa menjemput Sari dan sekarang istrinya belum pulang.
"Sial !! " Ari mengumpat. "Dimana kau Sari!!!! " frustasi Ari.
"Ck, kau membuatku marah gadis bodoh!! " Ari memukul stir mobil nya karna marah.
...............
Di tempat lain, Sari berjalan menelusuri jalanan dengan pandangan kosong kedepan.
"Apa aku pulang kampung saja yah?! Tapikan belum lebaran?! " racaunya bermonolog sendiri.
Sari mendudukkan dirinya di halte, "kenapa aku dan Kak Ari harus bertemu jika pada akhirnya berpisah. Kenapa aku dan Kak Ari harus terikat jika pada akhirnya harus terlepas. "
"Kenapa juga harus ada cinta di antara kami jika pada akhirnya cinta itu sendirilah yang menghancurkan kami satu sama lain. Ck, cinta memang rumit. "
"Dan kenapa juga yah prang tuaku setega itu pada ku. Kenapa orang tuaku harus membuangku ke got, sunggu ngak elit banget. Kenapa ngak diletakin didepan teras rumah ajah biar sedikit berkelas gituh. Atau memasukkanku kedalam keranjang trus dihanyutkan kesungai biar kayak difilm film jaka tarup, jaka tingkir dan jaka jaka lainnya. "
"Cewek. " Sari mendongak untuk menatap siapa yang telah mengganggu nya.
Sari menyerngit bingung karna tidak mengenali orang ada didepannya sekarang. Ia lalu berdiri dari sembari menatap ketiga orang didepannya dengan dahi mengerut, "kalian siapa? " tanyanya.
"Ouh ngak kenal yah? kalau begitu kenalan dulu dong cewek cantik. Tapi kenalannya di tempat sepi ajah gimana? biar...___" salah satu dari 3 pria itu berkata dengan menatap Sari penuh gairah.
Sedangkan Sari hanya memasang wajah penuh ekspresi kekesalan namun jelas ia sedikit ketakutan.
"Tempat sepih yaa?! "
ketiga lelaki itu saling bertatapan lalu mengangguk semangat, mengira mangsa mereka kali ini mudah ditaklukan tanpa ada pemaksaan.
Sari mengambil batu yang cukup besar untuk dijadikan senjata dadakan, lalu tanpa peringatan ia melemparnya ke arah tiga pria didepannya.
"Tempat sepi tuh dikuburan, dan aku harap setelah melempar kalian maka tujuan kalian ketempat sepi itu kenyataan. Amin ya ALLAH!! " lalu segera ia berlari.
"Catat malaikat, tujuan mereka mulia ingin cepat cepat ke bawah tanah, ingin lebih cepat bertemu sang pencifta. " teriak Sari kembali membuat ketiga pria itu menjadi murka apalagi pria yang terkena lemparan Sari yang membuat jidat pria itu mengeluarkan darah.
"Gadis gila!!!kurang ajar. Kejar dia !! " teriak pria yang terkena lemparan Sari sambil berlari mengejar gadis tersebut yang diikuti kedua temannya.
Di sela sela berlari, Sari masih bisa mendengar teriakan preman, "sudah tahu gila masih aja di ganggu. Itu artinya kalian yang lebih gilak. Wlekk. " balasnya dengan menjulurkan lidah saat menoleh kearah para preman itu dalam keadaan ia masih berlari.
Dan hal itu berhasil membuat para preman tersebut geram sehingga memperlaju lari mereka agar menggapai gadis yang seolah mengejek dan mempermainkan mereka.
Sari berlari kejalan berniat menyebrang. Sari spontan berhenti saat silau menyorot matanya.
Ia menoleh kedepan dan seketika matanya membelalak, "aaaaaaaaaaaaaakkk...." Sari sekuat tenaganya berteriak dan menutup matanya kuat kuat.
smSedangkan preman yang mengejarnya juga ikut berhenti tapi dipinggir jalan, bahkan mereka membelalak kaget.
1 dtk, 2 dtk 15 dtk 20 dtk, Sari berhenti berteriak.
'loh, kok aku gak terpental jauh sik?! Kaya yang di film film gitu. Atau jangan jangan aku sudah mati dan masuk surga, munkin karna aku anak sholeh makanya pas ditabrak dan malaikat istroil mencabut nyawaku rasanya tak sakit sama sekali. Bahkan tak ada rasa apapun. ' batin Sari bertanya tanya.
Sebenarnya tadi ia masih sempat menyelamatkan diri dengan berlari menyebrangi jalan karna jarak mebil dengannya masih jauh dan laginlaju mobilnya tak terlalu cepat. Namun ia menghentikan langkahnya dan memilih berteriak seperti pemain sinetron yang akan di tabrak. Sari memang sengaja berhenti karna merasa hidupnya yang sangat sama persis dengan sinetron. Yah, memang muali dari tadi itulah yang ada dipikirannya, hidupnya yang dramatis seperti sinetron.
Sari membuka matanya, lalu menghembuskan napasnya entah merasa legah atau apa. Karna niatnya tadi kecelakaan seperti di flm film, efek stres berat dan otaknya yang tiba tiba koslet.
Sari memandang mobil dan dirinya bergantian, mobil itu berhenti bahkan dengan jarak satu meter darinya. Haiss, sekarang Sari sadar betul jika ilmu fisika yang pernah ia pelajari benar benar tak termanfaatkan olehnya dengan benar, entah itu karna ia yang bodoh dengan fisika atau terlalu pintar. Tapi intinya, jurusan IPA yang pernah ia ambil sungguh sangat sia sia.
Sari menatap seseorang keluar yang dari dalam mubil itu. Eh, tunggu dulu! Sepertinya Sari mengenali mobil itu.
Sari langsung membulatkan matanya saat benar benar mengenali mobil itu.
'hah..ka..kak Ari. ' batinnya cemas.
Dan benar saja, itu mobil Ari.
Ari berjalan kearahnya dengan langkah tegas dan pandangan tajam seolah olah ingin mengoyak tubuh Sari saja. Sedangkan Sari sudah seperti patung, kaku dan hanya bisa menegug salivahnya kasar.
Saat sampai didekat Sari, Ari langsung menarik kasar dan menyeret Sari ke kemobil. Sedangkan 3 preman tadi hanya bisa melongo tanpa berbuat apa apa. Meraka sama seperti ekspresi Sari, merasa takut dan merinding. Aura Ari benar benar mengerikan.
T»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»Tekanan
B»»»»»»»»»»»»»»»»»Batin
C»»»»»»»»»»Cinta
Awas ada Typo!!!!!!!! Prikitiw.
Vote, vote, vote.
Guys,, masih ingat ngak sama tokoh Syakila dalam Love you senior es ini?! itu lohh, si cewek yang suka tauran dan ratunya keburukan. Nah, sebenarnya dia punya cerita dalam dua bagian berbeda. Satu, judul ceritanya Coupel Soulmate' yang mengisahkan kisah persahabatannya di masa kuliah. Dan yang kedua itu judulnya Back to see love' ini mengisahkan kisah Syakila dengan seseorang yang terobsesi padanya.
Kalau readers penasaran, bisa cek di karya aku yahh. Tapi untuk back to see love sepertinya belom di review oleh noveltoon. Jadi masih menunggu...😁