
Author pov
Mata Sari membulat sempurna, mulutnya terbuka sedikit saat setelah ia mengenali siapa yang orang yang telah ia tabrak. Sari menegang, ia berdiri kaku didepan sosok yang selama ini menghuni otak dan hatinya.
Saat pandangan mereka bertemu, baik Sari maupun pria didepannya hanya diam dan larut dalam pikiran masing masing. Dan entah kenapa Sari seolah merasa waktu berhenti.
Dapat Sari rasakan jika jantungnya berdetak cepat, hatinya juga bergemuru hebat. Ingin sekali ia menerbitkan senyum di dibibirnya karna senanng, Arinya akhirnya pulang dan bertemu dengannya. Namun tubuhnya yang kaku membuatnya tak mampu, seolah lumpuh.
Sari masih menatap wajah yang ia rindukan itu dengan mata berbinar binar, rindu yang selama ia pendam akhirnya terluaskan dan terobati. Arinya telah kembali dan Sari sangat bahagia.
"Kak...kak Ari. " guman Sari pelan, tanpa ia sadari.
Sari memperhatikan wajah lelaki yang masih berstatus suaminya tersebut dengan raud pias, sekarang perasaannya bercampur aduk. Hatinya bertanya tanya, apakah Ari pulang untuknya atau hal yang lain?! Misalnya hanya untuk memutuskan ikatan mereka, kata lainnya cerai.
Sari dapat melihat raud wajah Ari yang dingin, dan hal itu hanya memberi rasa sakit di hatinya. Apalagi Ari hanya menatapnya tajam, tanpa mengatakan apapun.
Oke, rasanya sekarang Sari ingin menangis saja.
Lelaki itu, lelaki yang berdiri didepannya masih memandangnya tajam. Karna merasa tidak enak dengan sutuasi seperti itu, Sari memutuskan untuk memilih menoleh kesekitarnya. Dilihatnya ibu dan ayah mertuanya yang sedang menatapnya dengan senyum dibibir mereka.
Ia mengalihkan tatapannya pada orang tuannya yang juga sedang menatapnya, lalu dialihkannya kembali tatapannya pada Sera yang tentu menatapnya kesal.
Sari mengabaikan tampang tak suka yang ditunjukkan Sera padanya. Ia kemudian menatap sahabat nya Tika. Ia bisa melihat jika sahabatnya itu bak patung, hanya diam dengan pandangan kedepan. Sepertinya ia dan Tika sama terkejutnya melihat Ari yang tiba tiba pulang.
Sari kembali menatap Ari yang masih berdiri dan setia merhatikan tingkah lakunya sejak tadi, tapi kali ini tatapan tajamnya berubah jadi tatapan datar. Sari mengedip edipkan matanya beberapa kali lalu menggaruk pipinya yang sebenarnya memang tidak gatal, hanya saja ia bingung untuk berbuat apa.
Sebenarnya ia ingin sekali memeluk suaminya dengan erat, tapi ia takut suaminya marah dan mendorongnya kasar. Kan bisa saja, 5 tahun sangat sudah cukup untuk bisa merubah sifat, kepribadian dan tampilan seseorang, termasuk Arinya.
Karin berdehem untuk mengalihkan ketegangan yang tiba tiba menyelimuti mereka, "ekhhhmm.."
Sari spontan mendongak, tidak dengan Ari yang masih tetap menatapnya intens.
"Tegang amat yah!! " Karin menatap Ari kemudian menatap menantu tercintanya yang juga menatapnnya dengan kikuk.
"Kita pulang yuk!! Mami berasa artis jika lama lama disini. Orang orang pada ngelihatin kita dari tadi. " tambah Karin yang mendapat anggukan dari sang suami maupun besan.
Sari melangkah mundur untuk menperjauh jarak dari Ari, kemudian ia mendekat ke arah mertuanya.
"Yuk Mah, kita pulang. " ucapnya dengan meraih tangan sang Mamer.
Namun saat ia melangkah tiba tiba sebuah tangan mencekal pergelangannya.
Sari spontan berhenti dan menoleh pada seorang yang mencekalnya.
"Sari akan pulang dengan ku. " Setelah mengatakan hal itu, Ari langsung menarik Sari kemudian membawa gadis itu bersamanya.
Sedangkan Karin serta orang tua Sari hanya bisa diam. Sera tentunya merasa kesal sendiri dan Tika,, ia cuma bisa meratapi nasibnya yang ditinggalkan Sari.
*
*
*
Sari hanya duduk diam di belakang jok kemudi tanpa berani menatap bahkan melirik suaminya yang duduk di sampingnya. Sekarang mereka sedang berada di dalam taxi dengan tujuan yang Sari tidak tahu sama sekali.
Sari memberanikan diri untuk melirik suaminya, hanya melirik saja dari ekor matanya itu pun sudah membuatnya gugup tidak tenang sampai keringatan. Bagaimana tidak?? Dirinya tertangkap basah curi curi lirik eh curi curi pandang.
"Turun!! Sudah sampai. " Sari hanya mengangguk dan langsung turun dari taxi tanpa menatap suaminya.
Ia melihat sekelilingnya, oh ternyata suaminya membawanya ke aprt. Kirain tadi ke pengadilan, bisa jadi kan cerai sekalian sidang pengadilan.
"Ayo! " Ari melangkah dengan tangan menggengam koper kemudian berjalan mendahului Sari. Dan Sari hanya mengekor dibelakang bak seorang pembokat, anjayyyy!!
Ia mengembangkan senyumnya. Para readers, Ari nya kembali!!! ingin sekali ia loncat loncat kegirangan tapi jaim lah.
Ari membuka pintu apratnya, dan dari isyarat mata ia menyuruh istrinya masuk duluan setelah itu baru ia masuk. Ari masis diam didepan pintu, menatap kesekeliling aprat.Ternyata masih sama masih seperti dulu.
Memori nya kembali mengulang peristiwa atau kejadian yang ia lewati dulu dengan istrinya di aprat ini. Bayang bayang kejadian dulu saat bersama dengan istrinya mengulangi setiap kegiatan yang pernah mereka lakukan bersama, dari pertama bertemu. Ouh, Sari saat itu kaku sekali padanya, antara takut dan bingung padanya. Bayang bayang saat mereka menonton bersama, makan bersama dan banyak lagi. Ari tersenyum melihat bayang bayang tersebut. Namun tidak lama senyum nya luntur saat melihat bayang bayang dirinya yang pergi meninggalkan aprat ini dan Sari.
Lamunan Ari buyar saat ada yang mencolek bahunya. Spontan ia menoleh kesampingnya mendapati Sari yang sudah melayangkan cengirannya.
Ari menaikkan alisnya, membuat Sari tambah bingung. Ia bingung bagaimana cara menghilangkan kecanggungannya pada sang suami. Lagi pula tadi seharusnya ia tak mencolek bahu Ari agar kecanggungan ini tak tercifta. Tapi jika ia tak begitu lalu ia harus bagaimana?! Ia hanya berniat untuk menyuruh Ari masuk dan istirahat, karna ia tahu Ari pasti lelah.
Sari menegug salivahnya kasar melihat Ari yang masih menatapnya datar. Ouh apa mencolek bahu suami sekarang adalah sebuah kejaharan?! Jika ia maka habislah Sari.
"Kakak maksudku jika kakak cape kakak istirahat saja. " setelah mengatakan itu Sari langsung membalikan badannya lalu mengatur nafasnya yang sudah memburu.
Ck, berbicara dengan Ari saja seolah Sari bertemu dengan Malaikat maut.
Sari melangkahkan kakinya, sekarang niatnya hanya mandi dan mengganti baju yang melekat ditubuhnya sekarang. Jangan lupa yahh, Sari masih memakai kebaya dan itu benar benar membuatnya kegerahan dan gatal.
Buru buru Ari menangkap tangan Sari untuk menghentikan gadis itu.
"Kamu mau kemana. " ia menatap Sari datar.
Sebenarnya dalam hati, Ari ingin sekali membentak dan memarahi Sari, bukan karna Sari yang mencolek bahunya tadi tapi karna istrinya yang semakin canggung padanya.
Oh, apa pikiran laknat yang sempat melintas di otaknya itu benar jika Sarinya sudah melupannya dan sudah memiliki pria istimewa pengganti dirinya?!
Pengganti dirinya? Memangnya ia pernah istimewa di hidup Sari?!
"Tidak!! hanya aku yang menjadi teristimewa di hidup nya. " batin Ari berusaha mencekal pikiran negarip yang merasuki pikirannya.
"Diam? " Ia menarik Sari dan membawanya duduk di sofa, " jawab! "
"I..itu itu, aku cuma mau mengganti baju. " Setelah menyelesaikan kalimat nya, Sari menelan ludahnya kasar sangking gugup nya ia.
Ari mengerutkan keningnya kemudian meneliti penampilan istrinya. Aih benar saja, istrinya masih memakai kebaya.
Ari menghembuskan nafasnya kasar, berusaha meredakan emosi yang menyulut hatinya. Ia menarik istrinya ke dalam pelukannya, mungkin dengan memeluk istrinya rasa sesak dan amaranya bisa hilang.
Ari meletakkan dagunya diatas bahu istrinya lalu menghirup aroma istrinya. Benar saja,, dengan memeluk istrinya amarahnya bisa reda.
Ari tersenyum, merasakan detak jantung istrinya yang berdebar kuat, "kau merinduka ku? "
Tentu! Sari sangat merindukannya, ia hanya menganggukkan kepalannya sebagai respon.
"Aku juga merindukanmu. " Ari menelusupkan kepalanya ke leher Sari, kemudian mencium aroma yang ia sangat rinduka sebanyak bayaknya dan ia juga memberi kecupan lembut disana.
Sari mematung, tubuhnya kembali membeku. Dperlakukan seperti itu membuatnya mati gaya. Tapi disatu sisi hatinya menghangat, damai dan tentram. Ia memejamkan matanya menikmati hembusan nafas suaminya yang hangat dilehernya.
"Kenapa kamu diam? " Adi melepas pelukannya dan menatap istrinya lekat.
"Hah? " Benar benar Sari tadi gagal fokus. Untung gak gagal wisuda yah.
Ari menaikkan alisnya, lalu menatap Sari datar. Ia melupakan satu hal jika istrinya ini memiliki konsentrasi yang rendah, "ck. "
Mensengar Ari berdecak, Sari menegig salivahnya kasar. Sekarang apakah suaminya akan marah lalu mengatakan cerai alias talak tiga padanya?! Arggkkkkkkkkkkkk,, tidakkkk!!!
Ari spontan menutup telinganya lalu menatap Sari tajam saat gadis itu tiba tiba berteriak, "ada apa?! kenapa kau teriak?! "
Spontan Sari membekap mulutnya sendiri lalu menggelengkan kepalanya. Sungguh tadi ia kelepasan, ck dasar!! Itu semua pasti karna si salah fokus yang suka bermain konsentrasi.
"Maaf kak, maaf. " Ucapnya buru buru.
"Tidak ada apa apa. Cuma..- " lanjutnya dengan menggantung kalimat.
Aikk,, dasar si Sari!! Padahal Sari sendiri tahu bagaimana rasanya digantung tapi masih saja suka menggantung si kaliamat. Ckckck,,
"Cuma apa? " tanya Ari. Jujur ia bingung tiba tiba istrinya berteriak dengan dadakan.
"Oh luupakan. Sekarang kakak pasti cape kan. Kan kan kan kan. " Sari mengedip edipkan matanya. Jurus rayuan yang ia pelajari dari Lisa mode on, aktif. Dan semoga berhasil, Amin!!
Ari tersenyum melihat tingkah istrinya yang sangat menggemaskan baginya, ia kembali menarik Sari dalam dekapannya lalu mengelus sayang rambut istrinya.
"Tidak, aku masih ingin berada di dekatmu. Aku merindukanmu. Sangat!! " ucapnya senduh.
oke, dah up nih.
readers jan lupa like, comen, dan vote yahh😁😉