Ice Senior Is My Husband

Ice Senior Is My Husband
31



"*What?? Cabeee ? woi ngaca dong!! " bukan aku yang membalasnya melainkan Tika. Emosi tika memang mudah terpancing*.


"Ouhh, jadi ini ya yang bernama sari yang udah brani ngerebut gebetan gue. Dasar cabe. " aikk ini siapa lagi kok datang langsung ikut campur .


"Ia kak Miska ini yang namanya Sari si cabe busuk itu lohh. " aku mengepalkan tanganku tidak terima dengan perkataan Tina.


Ohh jadi sekutu Tina ini namanya mmMiska dan yang satu lagi ini siapa juga kok liatin aku dengan tatapan jihik?? ihh sok jijik kenal juga ngak.


"Kalian siapa sik. Sok ikut campur masalah orang. " Jengkelku.


"Ha, omg si cabe gak kenal kita. Haahha, oh perkenalkan kami berdua mantan kakak kelas lo. Nama gue amiska dan teman hue namanya Salsa. "


"Oh kakak kelas ops mantan. Ngapain kesini mantan kakak kelas ter indahhhh. " Cibir Lisa mengejek.


Oke, bagus alisa tingkatkan prestasimu nak.


Soal Fais dan Ali mereka memilih diam ditempat mungkin tidak mau ikut campur dengan urusan cewek.


Teman Miska yang ku tau namanya salsa menatap jijik ke arah Lisa, "Huh sok sekali teman mu ini cabe. "


"Cabe? enak aja. Situ kali yang cabe. Tampang lo lebih cocok jadi cabe. " geram Tika tidak terima. Wahh??sahabat setia kau Tika tik tok.


"Iya nih. Itu lagi apaan tuh yang mera merahh di bawah mata, bekas tinju?? Hahaa, make up kok kaya orang habis babak belur sik. " ejek lisa polos membuatku, Lisa dan penonton alias pengunjung kantin yang tegang seseaat tertawa serempak. Bukan pemilihan serempak yaa.


Terlihat wajah Miska memerah menahan amarah, "jaga mulutmu kurang ajar. Dasar cabe gak tau diri cabe murah, bit*c. "


Sungguh hatiku tidak terima dikasari begini. Ayah dan ibuku saja tidak pernah mengataiku kasar.


Oke sahabatku sekarang gilaranku untuk membasni kuman-kuman nakal ini.


Aku maju selangkah tepat di hadapan Miska (gak pake embel embel kak deh, gak pantass).


Ku tatap tajam yang di hadapanku. Lalu aku tersenyum ramah, "eh kak miska maa maaf ya sama teman-teman Sari. Kaka bener kok kalau aku cabe." kuambil jedah. Tika dan Lisa memandangku tidak percaya, "kak skali lagi maaf yah. Soal kak Ari buat kaka ajah. " di akhir kalimat aku pura-pura cengir.


"Ouh bagus dong kalo lo sadar bahwa lo itu cabe. Oke, yuk guys kita pergi ajah cabenya udah nyerah. " Miska menatapku rendah lalu memutar badan Yang diikuti oleh teman nya.


"Nyett. Kok lo baikin si upil badak sik kan mereka uda ngehina lo. " ucap Tika berapi-api tidak terima.


"Eh mbekk. Siapa yang baikin? Itu siasat dan ini baru yang namanya berbuat. " Aku tersenyum devil. Dengan cepat ku rampas mangkok sambal ditangan ali saat ia mau menuangnya ke makanannya.


"Lo mau apa? " tanya Ali. Lisa dan Tika bahkan terlihat bingung.


"Lo siap-siap ajah. " Kataku misterius dan masih dengan seringaiku.


"KAK MiSKA!! " panggil ku sedikit berteriak. Mereka berbalik, aku berjalan menghampiri mereka diikuti oleh Tika dan Lisa yang nampaknya masih bingung.


"Apa lagi cabek busuk? " Ketus Miska bertanya.


"Oh ucapanku tadi  kutarik aja ya kak. Umm kalo di pikir-pikir kak Ari gak bakalan mau sama ondel-ondel seperti kakak. Oh maaf ondel-ondel saja tidak cocok buat penampilan kaka, barongsai kali yah. Iya gak sik guys? " di akhir kalimat aku meniru logat Miska. Lisa dan Tika hanya mengangguk.


Wajah amiska sudah merah padam menahan keaal but i dont care, " Jaga mulut lo anjing. " ucap Miska dengan kasar. Aku terkekeh geli mendengarnya.


"Oh maaf kak. Kan kaka nge cap aku dengan sebutan cabe. Ya inilah cabe, pedasss. Oh teman cabeku juga mau bantu sekalian kenalan ama kakak. " Aku tersenyum jail. Sedangkan Miska menatapku binggung.


Ku keluarkan mangkok sambal yang di belakangku dimana mangkoknya masih berisi penuh oleh teman cabeku si sambal. Miska menaikkan alis nya bingung. Lisa dan Tika juga kelihatan bingung.


"1..,2...3,...dan... " langsung ku menyiramkan sambal di tanganku ke arah Miska, Tina dan Salsa. Terlihat mereka kaget dan sasaran ku pas mengenai mereka. Sambal itu mengenai baju mereka dan juga rok mereka.


"LARI!!! "  Lanjutku berteriak dengan menarik tangan Lisa dan Tika. Sekilas sebelum lari dapat kulihat raut wajah mereka yang sangat marah tapi peduli setan yang penting sekarang ca..to the but. CABUTTTTT.


Kami terus berlari tidak peduli dengan orang yang berlalu lalang di koridor sekolah yang penting kami bebas dari 3 taikk yang entah sejak kapan sudah berada dibelakang kami dan sedang mengejar kami.


"WOI anjing berhenti gakkk!! " teriak Miska garang. Sumpah, kesan kecentilannya hilang ***! Yang ada tinggal kesan cewek bar bar, preman atau bencong yang lagi ngamuk.


Dan saat dia teriak begitu, kami tetap berlari. Tentu saja kami tidak bodoh mana mau kami berhenti.


"Lari..lari.. Lariiiii. " senandung Tka disela sela larinya.


" Kampret loh. Masih sempat nyanyi lagu sontrak Tsubassa lagihh. " balasku dengan teriakan, keadaan masih lari tak tau arah tujuan.


Seperti lirik lagu butiran hujan dehhhh aku berlariiii dan tak tahuuuuu arah jalan-jalan. Aku tanpa muuu butiraaannnn hujann. Hehehehehhe.


"Eh nyet itu lagu penyemangat biar kita larinya makin semangat. " ucap  tika bela diri, maksudnya bukan karate yaa!!.


"Ihhh mala debat lari lagi. Sekarang tuh kita larinya kemana nyet, sembunyi aja yok. Capekkkk!! " Lisa berhenti sebentar yang diikuti oleh kami. Lalu kami ngosngosan berjamaah.


"Anj*ng. " serempak kami menoleh kebelakang.


"Lari nyettt! " teriakku yang langsung ngacir.


"Tau nyet. " Sahut Tika. Kami membelok ke arah parkiran .


Aku menoleh ke belakang memastikan apakah si Tina mujulike dan temannya Miska, si salsa masih mengejar. Ternyata masih mengejar tapi lumayan jauh mungkin lagu lari-lari Tika tadi ber efek ya pada kami. Buktinya para taikk tertinggal jauh.


Setelah memastikannya aku kembali menoleh kedepan dengan keadaan masih berlari.


Siall. Aku terhenti dari lariku saat kurasa telah menabrak seseorang. Padahal tadi sudah banyak yang aku tabrak tapi tak sekeras ini cuiiii. Bahkan korban tabrak lariku malah terjatuh kao tapi ini malah kepalaku yang puyengg, keras woiii.


Aku mengetok dada bidang yang aku tabrak. Aaikkk, ini dada apa tembok sik, keras amat. Huummm, tapi nyami aroma parfumnya menggoda iman sekali seperti aroma parfum suamiku yakk. Eitt jangan jangannn?!! dari pada kelamaan jangan jangannya aku memilih mendongak. Benar sudah dugaan ku.


"Ehh kak..A...ri. " kak Ari menaikan alisnya.


Bukan kak Ari saja yang disini kak Renra sama kak Aldi juga disini ternyata. Tercyduk sudah diriku ini.


"Eh, kak Ari. Ngapain kak...-- " Belum selesai Tika ngomong kalimatnya sudah terhenti karna teriakan seseorang yang 5 dtk yang lalu kami lupakan.


"Anjinggg. " mereka bertiga berhenti berlari dan memilih berjalan santai tapi ngosngosan. Capek yaaa, kaciannnnn.


"Aduh, lupa!! kita kan lagi dikejar barongsai jadi jadian!! " Lisa menatapku cemas sedang aku menegug salivaku kasar.


"Kalian kenapa ??? " tanya kak Renra kebingungan.


"An..anu anu kak.... " Miska yang baru tiba langsung memotong kalimatku.


"Mereka buat onar dikantin. Lihat! Baju kami kena sambal. Ini semua gara gara Sari dan temannya. " Miska berkata dengan nada marah dan berapi api yang di angguki dua cecurutnya.


"Boong kak. "


" setengah kebenaran kak. " Ucapku  dan Tika serempak.


Kak Ari menatapku datar, "baju kamu kenapa, Sar. " Aku melihat bajuku. Oh sampe lupa, baju yang malang harus jadi korban kekerasan.


"Aku heran yaa kenapa kamu mau sama cabe kayak gini. " Miska menatapku jijik.


"Heii tayo, ngomong ko dj sik. " Cibir Tika yang emosinya mulai tersulutkan.


"Diamm! gue gak ada urusan sama lo. " Bentak Miska.


"He, cabe. Lo minggir gak! " Miska menarik tanganku membuatku mundur beberapa langkah dari kak Ari, lalu ia mendekat dan mengalungkan tangannya ke lengan kak Ari, "lo cabe yang gak tau diri, mending lo pergi ajah. "


Aku masih diam, tatapanku masih tertuju pada lengan kak Ari yang dipeluk Miska. Jujur, aku saja belum pernah. Ohhh tuhannnn, sabarkan hambamu ini.


Ada sedikit letupan di hatiku, salah bukan sedikit. Rasanya seperti ada gempa yang mengguncang hati ini, nyeriii man. Aku mengalihkan pandanganku ke kak Ari yang tidak ada responnya sama sekali atas kelakuan Miska. Ouh, ini kah yang dikatakannya cinta pekan lalu? Cerita indah namun tiada artinya hanya bullshit doang.


"Lo yang harusnya pergi! " bentak Tika. Ku alihkan pandanganku ke arah Tika, kulihat dia sudah emosi. Aku aja masih diam looo, emang ya sahabat sejati banget.


"Udah gue bilang ya..-- " Lisa langsung memotong perkataan Miska. "Bilang apa? Dah lupa kami. Eh barongsaii, mendingan lo pada minggat de. Lagi pula situ sudah minggat alias out dari sekolah ini. "


"Miska, lo apa apaan sik. Minggir gak dari Ari. Lo kaya benalu ajah tau gak?! " Kak Aldi menyingkirkan Miska dari kak Ari. Wah ternyata beliau berada dipihak ku, oke jadi semangat diriku ini dibuatnya.


" janga...-- " kalimat Miska dipotong oleh teriakan amAli.


"Nyett. Hosss hoss.. " Ali mengambil napas dalam dalam yang dalam nya sedalam celana dalam lalu melanjutkan kalimatnya.


"Kalian ngutang ya sama gue, lari sih lari tapi ingat dong! makanan belum banyar. " kesal Ali sedangkan Fais hanya terkekeh. Aku Lisa dan Tika hanya bisa nyengir akibat tindakan gegabah kami yang berujung pada hutang. Sial!! sudah tercyduk lari lari, difitnah buat onar dikantin, dapat hutang lagi, ini mah namanya durian ketiban kepala.


"Gue gak butuh yaa cengiran lo pada, hutang dibayar. Ingat gak bayar hutang gak masuk sorga. " Aikk ngeri kali kau hutang, bisah mencegah diriku yang comel ini masuk sorga.


"Huh, dasar tukang ngutang gak punya uang jangan kekantin dong huh. " sinis Miska, aku menghela napas berat. Huub, sabarkan hamba ya Allah.


Kurogok caku rok ku, mencari keberadaan uang yang hasilnya ni...hil. Ha, uangku eh lupa di tas lagi. Siall!! aku menatap Ali dengan cengiran, "hehehehe. "


"Udah gue bilang jangan cengir cengar Sari, gak butuhh. " Ketus Ali. Aikk udah kayak renterir aja nih orang.


"Ali yang ganteng pintar dan baik hati. Uang aku tinggal ditas. " ucap ku dengan wajah yang dibuat buat sok memalas.


"Gue juga Li. Heheheh. "


"Lisa juga Li. " Eh kok pada berjamaah sik ninggalin uangnya. Lisa juga sok imuzz lu. Aku menatap kak Ari yang kebetulan juga menatapku.


"Biar gue aja yang bayar. " ucap kak Ari. Aduhh akhirnya peka juga lu suami ku cayang.


Kak Ari mengambil 1 lembar uang berwarna merah jambu bergambar pak soekarno, oikkk kebanyakan itu bang cayang nanti situyul malah kesenangan.


"Eh, kebanyakan lo kak. Jajannya Sari sama teman teman cuma sekitar 30.000 doang. "


Ali langsung merampas uang ditangan kak Ali, "eh, kalau kakak mau sedekah pada anak melarat namun ganteng seperti saya, gak papa kok kak heheheh. "


"Humm. " Kak Ari hanya berdehem. Sngguh kaya dirimu bang!! Membiarkan tuyul beraksi dengan cara sok miskin, dasar Ali tuyul taik.


Aku menatap Ali tajam.


"Ar, gapain sik mau bayarin makanan sicabe. " Miska menatap kak Ari protes, kemudian menatapku tak suka.


"Yang cebe itu lo! " kak Ari berkata dining dengan menatap Miska  tajam. Wow, seketika senyumku terbit. Yeihh kakak Ari ku cayang ngebela aku, yeh. Hahaa, makin cinta deh.


Kak Ari mengelus sayang kepalaku, "kita pulang! " aku mengangguk antusias seperti anak kecil, ia sik memang jam pulang masih lama tapi ini perintah suami gak boleh di tolak nanti dosa. Heehe, lagian yang punya sekolah juga sisuami jadi sekali kali gaya bebas kan gak papa, bosan sama gaya kupu kupu. Hehhhee.


Jan lupa like like, Vote dan komennya😉