Ice Senior Is My Husband

Ice Senior Is My Husband
61



        Sari tertawa lucu saat mendengar lelucon yang Tika lemparka lewat via telpon. Namun saat matanya dan mata Ari tak sengaja bertubrukan Sari langsung berhenti tertawa, ia memutar mata malas dan melangkah untuk menjauhi suaminya yang diam melogo di ambang pintu.


"Cik, entah kesalahan apa yang telah ku perbuat. " sungut Ari dengan kesal saat melihat Sari yang menjauhinya, padahal seharusnya Sari menyambutnya karna itu memang tugas seorang istri untuk menyambut suami setelah pulang kerja.


Ari mengacak rambutnya kasar, ia langsung menyusul Sari dengan sedikit berlari, "Sari. " panggilnya sedikit berteriak.


Sari berhenti, ia memutar bola mata jengah, "udah yah Tik, kulkas aku kayaknya kesurupan, Assalamualaikum. "


Terdengar kekehan dari sebrang sana, "iya Sar,, Waalaikumsalam, beib! "


Tut!


Setelah mematikan panggilannya, Sari kemudian mendongak sembari bersedekap ke arah Ari yang sudah berdiri tidak jauh darinya.


"Apa! " ketus Sari.


Ari menghela nafas, yang Ari butuhkan saat ini adalah stok kesabaran yang banyak. Entah sejak kapan Sari mulai berani kurang ajar padanya dan sangat menyebalkan, tapi Ari juga harus berusaha maklum dan harus mengingat faktor dari semua keanehan yang terjadi pada Sari adalah karna kehamilan sang istri.


"Kau tidak menyambutku?! " Ari bertanya dengan nada yang___ semaksimal mungkin ia usahakan lembut, tapi sayangnya tetap saja terdengar datar dan songong.


Sari memutar bola mata jengah, "ck, menyambut seperti apa?! Kayak Shahrukh Khan yang baru pulang dari london di film kabhi khushi kabhi gham' pake nari nari trus nyanyi nyanyi, atau kayak penyambutan 17- an dengan masang bendera di depan rumah sekalian ngadain panjat pinang? " 


Ari berkacak kemudian menoleh kesamping untuk menyembunyikan raud masamnya. Yah, setidaknya hal positif yang Ari dapatkan dari perubahan Sari ini adalah ekspresi wajahnya yang bertambah yaitu kesal dan masam.


"Kau hanya perlu melakukan apa yang seorang istri lakukan ketika menyambut suaminya pulang kerja. " lagi lagi Ari berusaha berkata lembut meski pada akhirnya hasilnya hanya nada datar dan lempeng yang keluar.


Sari menaikkan sebelah alisnya, ia megetuk ketuk dagunya dengan jari telunjuk untuk berpikir sejenak, "umm,, baiklah! Tadi aku habis nonton film 'Ratapan hati seorang suami', nah di film itu pas suaminya pulang kerja istrinya datang untuk menyambut suaminya dengan membawa cucian se baskon gede sama sapu dan kain pel. Kakak mau kayak gitu juga?!  " kemudian Sari menaik turunkan alis nya ke arah Ari.


"Ngak usah! " Ari berkata ketus, dengan kesal tingkat dewa Ari langsung meninggalakan Sari yang sudah tersenyum lebar.


Sari terkekeh,  melihat air muka Ari yang sangat kesal membuat nya benar benar terhibur. Sari memang masih dendam pada Ari karna hal semalam dimana Ari yang menolak untuk mencarikannya ngidam berkelas ala ala ibu VIV dan eksklusif. Dan hari ini dendamnya terbalas, Sari benar benar tak menyangka jika membuat suaminya kesal seperti ini sangat menyenangkan.


"Akhirnya dendam pembaca terbalas juga. Dulu pembaca kesel tingkat dewa karna mu kakak ku sayang yang telah ninggalin bidadari secantik aku, dan sekarang kakak kena batu nya. Hahahaha... aku tertawa jahat!! " Sari bermonolog sendiri sembari tertawa gelik.


.......


Sari menatap suaminya dengan senyum yang tergambar indah di wajahnya. Setelah membuat suaminya kesal seharian, Sari memutuskan untuk bertobat dan memilih jalan damai dengan tak menjahili Ari lagi.


Dan sekarang misi Sari yaitu bagaimana cara agar Ari tidak kesal padanya lagi.


"Kang mas Ari!! " serus Sari dengan mengampiri Ari yang tengah sibuk dengan laptop nya.


Ari diam, bukan karna fokus pada laptop hanya saja ia masih kesal dengan Sari.


Sari berbaring dan menjadikan paha Ari sebagai bantal. Ia tersenyum lebar sembari menatap wajah serius Ari. Sedangkan Ari benar benar sudah tidak fokus pada pekerjaannya lagi, dan itu semua akibat Sari.


"Suamiku yang baik hati, ganteng, manis, imut, lucu, kayak eskrim rasa coklat tataplah pujaan hati mu ini. " Sari mengerjapkan matanya beberapa kali agar terkesan imut.


Sari kemudian mengusap usap dada bidang Ari yang berbalut kaus tipis tersebut.


Ari melirik sebentar, ia kemudian menegug salivahnya kasar. Sial! Bisa bisa nya Sari menggodanya seperti ini. Ck, Ari jadi was was,, sebenarnya istrinya itu merencanakan apa lagi?!!


"Sari!! " peringat Ari tanpa mau menoleh pada Sari.


"Iya Kang Mas? " 


Ari menoleh kemudian menatap Sari tajam, "kau sedang apa? " ucapnya dingin.


"Rebahan manja. " Sari menjawab dengan tampang polos dan tanpa dosa.


'Sial!! '  batin Ari yang sungguh sangat sudah tersiksa.


"Tangan mu! " lagi lagi Ari berkata dingin dan penuh peringatan.


Sari spontan menarik tangannya lalu menatap tangannya dengan kening mengerut.


"Tangan aku salah apa? " tanya nya tanpa dosa dan tak bersalah.


Ari merubah mimiknya menjadi datar, "jangan memacingku, dear! "


Sari semakin mengerutkan keningnya. Namun setelah mengerti maksud Ari, Sari langsung tersenyum lebar sembari menatap Ari jahil.


"Aaa... aku paham! " Sari terkekeh.


Ia mendekatkan ke telinga Ari kemudian membisikkan sesuatu, "kakak lapar kan? " ucapnya dengan nada sensual dengan jari jarinya yang berjalan nakal di sekitar leher Ari.  Kemudian Sari menjauhkan wajahnya dari telinga Ari, lalu ia mengedipkan matanya genit membuat Ari salah tingkah sendiri.


Po*r Sari! ' batin Ari.


Ari menatap Sari sekilas, ia berdehem untuk menetralkan tubuhnya yang panas dingin.


"Humm. " Ari lagi lagi berdehem, kali ini sebagai jawaban untuk pertanyaan Sari tadi.


Sari tersenyum lebar, "oke,, tapi sebelum itu kakak harus buat aku jadi pengen sesuatu. Karna aku pengen ngidam, tapi bingung harus minta apa. "


Ari menaikkan alis nya,, hatinya mencolos kecewa. What the___akrggg,, padahal Ari sudah___


Sial!! Sepertinya Sari hanya ingin mempermainkannya. Tapi sudahlah, mungkin setelah memenuhi syarat dari Sari, Ari akan mendapatkan apa yang ia mau.


"Baiklah! "


"demi malam yang menuh hasrat, tak masalah. " ucap Ari dengan melanjutkan dalam hati.


"Kau mau apa? " Ari menyingkirkan laptop nya dari depannya.


"Aku pengen ngidam. " Sari merebahkan kepalanya kembali ke atas paha Ari.


"Humm,, ngidam apa? " Ari bertanya sembari mengelus sayang rambut Sari.


"Aku ngak tahu, aku bingung. Rekomendasiin sesuatu dong?! " pinta Sari dengan menatap Ari memakai puppy eyes andalannya.


Ari menaikkan alis nya sebelah. Ck, istrinya ada ada saja, ngidam tapi tak tahu harus ngidam apa. Yang benar saja!! Ini bahkan lebih sulit dari cerita horor seorang istri ngidam yang pernah ia dengar. Menurut Ari memanjat pohon durian untuk mengambil madu liar lebih gampang dibanding memenuhi kenginan istrinya yang ngidam tapi kepengen ngidam. Humm,, sedikit membingungkan.


"Bagaimana kalau rambutan. Kau suka buah itu kan?! "


Sari langsung menggelengkan kepalanya, "tapi aku lagi ngak pengen. Yang lain deh.  "


"Karna aku maunya yang luar biasa jadi aku ngak mau. Yang lain, yang lain. "


"Es krim? "


"No! "


"Markisa? "


"Ngak, ah. "


"Marjan rasa cocopandan? "


"Puasa masih 7 bulan lagi, iklan nya ajah blom muncul. "


"Rendang? "


"Kita makan rendang pas lebaran ajah nanti. "


"Ayam panggang? "


Sari mengibas tangannya tanda tak suka.


"Rujak? Yah itu pasti! "


Sari menatap Ari malas, "aku baru makan rujak, sayang!! "


Ari terkekeh saat mendengar Sari memanggilnya sayang' . Aih, Sari- nya benar benar menggemaskan saat menyebut sayang' dengan ekspresi dan nada kesal.


"Bagaimana kalau brownis coklat? Itu makanan favoritmu. " Ari mencium gemas wajah Sari.


"Iuhhh. " keluh Sari saat Ari menciumi wajahnya, ia juga me- lap wajahnya yang terkena ciuman Ari.


Ari yang melihatnya terkekeh gelik, Ari tersenyum nakal saat hal itu' terlintas di otaknya.


"Bagaimana kalau kita buat anak' mungkin saja itu yang kau inginkan. "


Sari yang mendengarnya spontan menghentikan tangannya yang sedang me- lap wajah. Ia menatap Ari congang dan tak percaya. Dengan gerakan cepat ia duduk dan menatap Ari dengan ekspresi konyol.


"Buat apa tadi, buat anak? "


Ari menganggukan kepalanya polos, ia tak salah lagi kan kali ini?!


"Yang di dalam perut aku ajah belom keluar, udah mau buat lagi. Emangnya rahim aku banyak?!! " ucap Sari dengan berkacak pinggang sembari menatap Ari galak.


"Hanya proses saja tanpa hasil. " Ari berkata masih dengan berharap.


Sari menggoyangkan jari telunjuknya didepan Ari, "no, no, no!! "


"Ingat kata dokter?!! " tambah Sari penuh peringatan.


Ari mendengus sebal, tentu saja ia ingat. Karna suatu insiden yang membuat Bayi dalam perut Sari, mereka hampir kehilangan anak mereka tersebut. Dan hal itu membuat kesenangan terbesar Ari juga harus tertunda untuk kurun waktu yang menurut Ari cukup lama. Tapi terakhir kali mereka cek up,, keadaan kandungan Sari yang sudah memasuki bulan ke tiga tersebut sudah stabil dan dalam kondisi yang baik. Tapi tetap saja dokter  menyarankan agar mereka tidak melakukan hubungan suami istri untuk saat ini, sebelum kandungan Sari benar benar kuat.


Tapi, ada tapi nya lagi. Dan Ari tak akan lupa untuk bagian itu, disaat dokter bilang mereka boleh melakukannya asal jangan sering dan tak bermain kasar, kata yang lebih tepat nya disaat Ari kebelet saja.


"Aku ingat! Tapi dia juga bilang...-- "


"Sayang anak, sayang anak!! " seru Sari dengan nada menyebalkan membuat Ari mendengus kesal.


Ari mendengus kemudian bersedekap sembari menatap Sari datar, "lalu maksudmu menanyaiku lapar tadi apa? "


Sari berdehem, ia tidak boleh ketahaun jika sejak tadi ia hanya mengerjai Ari. Bisa gawat kalau Ari sampai tahu, celaka tak terhitung ini.


"Kau mengerjaiku?!! " Ari menatap Sari datar.


Sedangkan ia tatap hanya bisa tercengir sembari menggaruk tengkuk.


'Wo' o,, aku ketahun, ngerjain suami. Dengan diri nya...cieee yang lagi baca sambil nyanyi. '


Wlekk!!


Sari melayangkan cengirannya, "hehehehe.. sepertinya aku tahu aku ngidam apa ?! Yah,, aku... "


"Kau memangnya ngidam apa?! " potong Ari masih dengan menatap Sari datar.


"Ngidam lihat kakak bete, kesal, keki, manyun, marah tapi tertahan. Pokoknya aku suka lihat kakak tersiksa, TBC. Tekanan batin no cinta!! " diakhir kalimat Sari kembali melayangkan cengirannya.


Ari mendengus. Bayinya benar benar kurang ajar, belum lahir sajah udah berani durhaka sama ayah sendiri.


Ngidam apaan itu? Yang ada disini Ari malah tersiksa TBC, tekanan batin cinta. Yah, batin Ari benar benar tertekan dan tersiksa. Rasanya Ari pengen berubah menjadi naga agar Ari bisa mengeluarkan seluruh siksaan batin ini dari semburan api yang keluar dari mulut naga.


Ari melirik Sari yang sedang tersenyum lebar. Sepertinya bayi mereka benar benar sengan melihat Ari terpuruk seperti ini.


"Sari! "


Sari menoleh, "iya? "


"Pernah dengar ngak, kalau laki laki itu bisa kehilangan akal sehatnya? " Ari memperlihatkan tanpang datar dan lempengnya, suara yang ia keluarkan juga terdengar tak enak.


"Pe.. pernah. " jawab Sari ragu.


"Bagus!! Cuma mau bilang kalau sekarang aku sedang kehilangan akal sehat. " ucap Ari dengan mengungkung Sari dan menyudutkannya pada kepala tempat tidur.


Sari memundurkan kepalanya saar Ari semakin mendekat dan seolah akan mengikis jarak. Ia menegug salivahnya kasar saat melihat sorot mata Ari yang penuh dengan gairah.


Astaga!! Kali ini Sari yang terkena batunya. Sari kembali meneguk salivahnya saat bibir Ari sudah menempel dengan bibir nya dan la Lalalalalalalalalalalalalalalalalalalalalalaalalalalaalalalalalalalalalalalalalalalalalalalalalalalalalalalalalalalalalalalalalala.


😂,, yang pengen tahu bagian lalalala itu apaan, silahkan terjemahkan sendiri. Bocoran,, bagian lalalala' itu author ambil dari bahasa alien yang tinggal di planet venus.


Vote, komen dan like like nya yah!😉


Dukangan mu sangat berarti buat author☺️