
Sari pov
"Apa!!!! "
Aku meringis, mendengar pekikan Mami Karin yang cukup kuat. Aku menjauhkan hp dari telingaku, kemudian aku mengusap telingaku kasar.
Aku kembali menempelkan ponselku ke telinga, kemudian aku cengengesan, "hehehe..maaf Mah. "
"Kamu ngak papa kan sayang?! Kamu ada yang luka? "
Aku tersenyum, sebegitu pedulinya Mami Karin sama aku geng's. Padahal orang tua aku ajah belum pernah menghubungi aku setelah kejadian aku yang jambak jambakan tadi di sekolah.
Dan sekarang aku udah pulang sekolah dan sudah berada diapartemen aku maksudnya apart kak Ari.
"Aku ngak papa kok Mah. " ucapku dengan suara lembut.
Aku bisa mendengar Mami menghela nafas, "kok kamu bisa jambak jambakan sik Sar?! "
Aku mengerjap, sulit cukk untuk menjawab pertanyaan yang itu. Soalnya jawabannya sedikit menguras tenaga dan perasaan. Hayya, apakah akgohh yang imutz dan sholeha ini harus merangkai kebohongan?! Umm, sepertinya iya.
"Anu, Mah. Itu..dia yang duluan Mah, ngata ngatain Sari berlindung di bawah ketek Tika sama Lisa. Dan lagi, masa Sari di katai cemen?!!! " ucap ku mulau terbawa suasana. Bahkan aku tak sadar mulai menceritakan kejadian pertengkaraan ku tadi siang sesuai fakta. Padahal kan niat hati mau berbohong, takut keceplosan ajah makanya niat boong.
"Dia gosipin aku Mah. Dia sama teman temannya ngatain aku, Tika, sama Lisa sampah. Karna ngak terima yahh...itu..umm anu.."
"Kamu jambak dia duluan, kan?! " tebak Mama dari sebrang sana.
Aku menggaruk tengkukku. Nama baikku sebagai menantu idaman sudah tercoret guy's. "Hehehe.., maaf Mah. " aku kembali cengengesan.
Kudengar Mami malah terkekeh, "asal kamu ngak kenapa napa Mami ngak bakalan marahin kamu. Tapi jangan diulangi lagi yahh jambak jambakinnya!! "
Aku tersenyum lebar, lalu menganggukkan kepalaku tanpa sadar, "siapp Mami cantik. "
"Udah makan siang? "
Aku lagi lagi menganggukkan kepalaku tanpa sadar, seolah olah aku sama mami berbicara sambil berhadapan.
"Udah Mah. " lirih ku, karna entah kenapa perasaan itu kembali menikam hatiku. Perasaan ingin bertemu, berkumpul dan bersama mereka menyeruak dihati ini. Perasaan rindu yang sangat membuat dada ini sesak. Aku menghapus air mataku yang sempat terjatuh.
"Yaudah, Mami tutup yah. "
"Iya Mah, jaga kesehatan yah. Kirim salam buat Papi. "
"Iya sayang. Kamu juga jaga kesehatan yah. Assalamualaikum. "
"Waalaikum salam. " kemudian sambungannya terputus.
Aku tersenyum miris sembari menatap ponselku nanar, orang tuaku belum jua menelponku. Tapi tak masalah lah, karna mereka tak menelponku orang tuaku yang lainnya masih menelponku dan memperhatikanku dengan baik. Yah, Mami Karin sama Papi Alan sangat memperhatikanku dengan baik.
Eh, tapi sialan!! Siap yang ngadu ke Mamer yah kalau mantunya yang comel dan baik budi ini jambak jambakan di sekolah? Ck, perlu dikasih pelajaran tambahan nih guys. Aduhh, rasanya aku mau makan orang yang ngaduin aku ajah gess.
Ck, belom lagi besok harus bawa orang tua ke sekolah eh maksudnya panggalian. Masalahnya aku belum telpon Mama Anni sama Papa Baim. Bukan belom sik, tapi mereka nya ajah yang ngak bisa di hubungi.
'Haisss. ' aku menghela nafas kasar. Ck, para readers yang comel dan manis, aku harus gimana nih?
Hah, lama lama akgoh pengen gantung diri ajah mumpung rumah lagi sepi. Yah, biar hantu di gedung apart ini nambah.
'Haiss. ' aku memukul kepalaku sekali tapi dengan tenanga yang lumayan kuat. Ngak nyangka ajah kalau aku tadi mikir **** banget.
Hadehh, kalo udah nyinggung nama hantu begono solusi permasalah nya sik cuma satu, ngungsi. Yah, aku harus ngungsi kerumah Lisa lagi nih sebelum bulu kuduk ku berdiri karna merinding disko.
Dengan cepat aku menyandang tas selempangku yang sudah kupersiapkan sejak kemarin, tas khusus saat aku mengungsi dadakan yang selalu aku letakin di rak sepatu dekat pintu keluar.
Oke, guys. "Jurus seribu bayangan. Run!!! " gumanku kemudian lari secepat mungkin demi menyambar pintu keluar yang entah kenapa jika aku dalam keadaan takut selalu saja terlihat sangat jauh.
.........................
"Assalamualaikum. " ucapku sedikit berteriak sembari mengetuk pintu rumah Lisa. "Li..._"
Ucapanku harus terhenti karna nada dering ponselku yang mengintruksi.
Aku langsung memeriksa hp ku. Aih, Mami Karin nelpon aku lagih, ***! Aku mengangkat telpon dari Mami.
"Halo, Assalamualaikum, Ma...-" kalimat ku lagi lagi harus terhenti, kali ini penyebabnya...____
"Huaaaaaaaaa....., ". " Aaaaaaaaaaa. "
Teriakku dan Lisa karna kaget. Aku kaget karna sesuatu yang hitam hitam diwajahnya dan ia berteriak mungkin karna kaget mendengar teriakanku.
Aku menetralkan deruh nafasku yang memburu karna kaget. Tanganku kuletakkan diatas dada, merasakan bagaiman ritme jantungku yang menggila. Pliss yahh, ini bukan efek jatuh cinta.
"*****!! " maki ku pada Lisa.
Waduh, malah aku yang di omelin. Dia ngak sadar apah, kalau mukanya itu udah kayak pantat kuali. Hitem!!!
"Ngaca!! Wajah kamu itu serem tahu! " kesal ku sambari bersedekap.
Kulihat Lisa meraba raba wajahnya, kemudian ia menatap ke arahku dengan cengengesan, "hehehee sori gess. Oh, tadi kamu kaget kan sama wajah setengah bidadari gue. Tapi itu masih setengah, nanti kalo maskernya udah di hapus lo bakalan lihat wajah bidadari yang sebenarnya. "
Aku hanya tersenyum paksa sebagai tanggapan. Oke, aku harus baik baikin nih anak biar aku dikasih ngungsi.
"Capcus, Sar. Kita masuk! " Aku dan Lisa masuk ke dalam rumahnya dan langsung menuju kamarnya.
"Hueh, gue tebak yah lo ngunjungin gue begene pasti mau ngungsi lagi?! "
Aku melayanglan cengiranku ke arah Lisa, "seratus buat Lisa. " aku mengajukan kedua jempolku.
Sekarang aku dan Lisa sudah berada di kamarnya. Aku duduk di atas kasurnya sedangkan Lisa ke kamar mandi untuk menghapus maskerannya.
Aku langsung menepuk jidatku, astaga!! Tadi Mami nelpon kan?!
Waduhh, celaka empat belas ini. Aku langsung memeriksa ponselku. Ternyata sambungannya masih belum terputus.
Cepat cepat aku menempelkan hp ku ke telinga, "Ha..halo Mami!! " sapaku sedikit nervous.
"Astaga!! Kamu ngak papa kan?! Mami tadi dengar kamu teriak habis itu suara kamu ngak jelas lagi. " tergengar kalau Mami sedang panik.
Aku jadi merasa bersalah banget. Pasti tadi Mami panik banget pas aku teriak.
"Maaf Mah, Sari ngak maksud buat Mami panik. Itu tadi cuma karna kaget ajah. Umm, Sari baik baik ajah Mih. "
Kudengar Mami menghela nafas, "syukurlah! "
Aku juga ikut menghela nafas legah, syukur Mami ngak panik lagi sama aku.
"Sari!! "
Aku tergelonjak karna tiba tiba Mami meneriakiku. Sepertinya kanjeng Mami mertua akan marah, ***?!
"Kamu kenapa bisa panghil orang tua, hmm?! "
Aku meringis mendengar nada galak dari Mami Karin. *****!! Siapa lagi nih yang ngaduin aku, kalau aku panggilan. Wahh, sepertinya ada yang mata matain aku, trus laporin ke kanjeng mami mertua.
"Itu..itu Mih. Umm..gara gara aku yang jambak jambakan itu Mih. " cicit ku takut takut Kanjeng Mami ngamuk.
"Oalahh,, kenapa tadi kamu ngak kasih tahu?! Mami kira kamu ada masalah lain selain jambak jambakan di sekolah. "
Aku menggaruk pipiku karna tak tahu harus merespon apa. Ku lirik Lisa yang sudah keluar dari kamar mandi. Ia kemudin menatapku dengan mimik wajah yang bertanya, 'siapa? '
"Mami mertua. " jawabku tanpa suara, Lisa yang menganggukkan kepalanya. Kemudian ia memilih berbaring di kasurnya sambil memainkan ponselnya.
"Trus kamu gimana?! Mami Karin sama Papi Alan kan masih di London. Mami Anni sama Papi Baim juga ada disini. Trus Sari besok panggilannya sama siapa? "
Aku tersenyum kecut, ternyata Mama sama Papa ada di London bukan dijepang. Andai Mami ngak kasih tahu, aku benar ngak bakalan tahu soal itu. Orang tuaku benar benar tak mengabariku.
"Tenang ajah Mih. Sari ada saran dari teman kok buat ngatasin panggilan itu. "
"Saran dari teman?! Saran apa toh, jangan yang aneh aneh yah! " kudengar suara Mami seperti keheranan.
Hohoho, dengarlah saran sesat dari teman aku ini Mah. "Katanya besok aku suruh ajah tukang ojek buat jadi orang tua eh maksudnya wali aku untuk panggilan nya Mih. Trus aku cuma buat skenario kalau tukang ojek nya itu paman atau keluarga dari desa yang jagain aku disini selama Mami sama Papi ada di luar negri. "
Sari tersenyum bangga karna telah membeberkan rencananya pada Sang mertuanya, entah senyum bangganya itu ditunjukkan untuk siapa. Tapi dalam hati Sari merasa miris, orang tuanya tak ada disaat ia benar benar membutuhkannya. Ya, ngapain juga orang tuanya mau ladenin Sari, orang Sari nya ajah ngajak orang tuanya buat panggil orang tua karna aksi tak baiknya disekolah.
'Sok sedih lu Sar. ' pikir Sari sembari teesenyum ****.
"Ya tuhan!! Teman kamu kasih ajaran sesat itu Sar. " Di sebrang sana, Mami terdengar terkekeh membuatku ikut terkekeh juga.
"Kamu mau bicara ngak sama Mama atau Papa kamu. Mungpung mereka lagi disini. "
Aku membelalak terkejut, "Mama sama Papa lagi ngumpul sama Mami?! " tanyaku tak sadar sedikit berteriak memekik. Sangking tak percanya aku.
"Iya sayang. Mama sama Papa kamu ada disini, kita lagi ngumpul makan malem bareng. Ari sama Sera juga ada disini, atau kamu mau ngomong sama Ari. " terdengar diakhir kalimat Mami sengaja berkata dengan nada menggoda.
'Uhuk' uhuk' . Aku sampe terbatuk sangking terkejutnya hanya karna mendengar nama Kak Ari cukk!! Dengar namanya ajah aku udah **** begini, apalagi ketemu yahh!! Mungkin aku bisa jadi gila.
.
katanya nge gantung makanya ngak jadi end. Nih, akgoh lanjut ceritanya.
oke, jan lupa vote, like, dan comen yahhh😉😉😉