
Author pov.
Sari menyerup jus nya kemudian memandang dua sejoli didepannya. Sekarang Sari, Tika, Lisa dan Fais sedang berada di cafe.
Ia memutar bola mata malas melihat salah sejolinya yang tengah asik berpacaran didepannya itu. Siapa lagi kalau bukan Lisa dan Fais.
Sebenarnya ia bahagia melihat mereka romantis dan bisa bertahan selama hampir 5 ini, tapi yah,, kadang bikin kesel sik, apalagi kalau mereka sampai lupa daratan.
Sari menatap sinis pada pasangan di hadapannya, "ihh, dunia serasa milik berdua yahh. Yang lain mah dianggap cuma turis pendatang. "
Tika menganggukkan kepalanya setuju, tapi setelah itu ia langsung menatap horor pada Sari, "turis pendatang?! Maksud kamu alien?! "
Sari menganggukkan kepalanya polos.
"Berarti kita dong aliennya?! Iuhhh, ogah banget jadi alien. Wong jadi manusia ajah gue jomblo apala lagi kalau jadi alain. Bisa bisa jomblo seumur hidup. " cerocos gadis itu dengan menatap Sari protes.
"Ada kok alien yang cantik. " Sari kembali menyerup nya kemudian menatap Tika, menunggu respon sahabatnya itu.
"Iya, ada!! Tapi kebanyakan yang jelek. " ketus Tika membuat Sari terkekeh.
Tika dan Sari mentapa jengah Lisa serta Fais yang masih asik didunia mereka masing masing, "WOI....nyadar nyett. "
Lisa dan Fais menoleh menatap Tika dan Sari bingung, "kalian ini kenapa?? kok kaya cacing kepanasan? " Lisa memasang tampang polos, ia menatap kedua sahabatnya dengan dahi mengerut.
Sari dan Tika melogo mendengar perkataan Lisa. Mereka memilih menggelengkan kepala dengan memasang tampang masam.
"Kalian kenapa sih, aneh!! " Fais menyerngit dahinya bingung.
Kalian tau simbol ekuvalen di mtk?! Jika tau maka dahi alias kening Fais sama seperti itu, berlipat tiga.
Tika menatap Sari memberi isyarat, "okeh, kita pergi yah. Takut mengganggu kalian. "
Sari mengangguk kepalanya, mengiyakan Tika.
Lisa menatap temannya tidak suka, "ihhh,, kalian sekarang mau pulang?! "
Sari dan Tika menganggukkan kepalanya, " dari tadi kek!! " lanjut Lisa.
Sari dan Tika kembali melogo. What the hell?!
Sari dan Tika saling bersitatap kemudian kembali menatap Lisa dan Fais, "i..iiiya kita mau pulang. "
"Yaudah. Sana sana. " Lisa mengibas ibaskan tangannya, mengusir kedua sahabatnya itu.
Sari dan Tika berdiri kemudian beranjak dari sana dengan hati yang tak ada hentinya menyumpah serapahi sahabat mereka tersebut.
...................
"Gilak!! Lisa benar benar kampre!! Beraninya dia ngusir kita. Gue jadi kesel man!! " gerutuh Tika di sepanjang jalan.
Kedua gadis yang masih mengenakan baju kebaya itu sekarang tengah berada di pinggir jalan dengan tujuan tak menentu. Mereka memakai kebaya yang mereka kenakan di acara wisudaan mereka tadi, hanya saja sekarang mereka menggantikan heels mereka dengan sendal jepit.
Sari menatap Tika dengan mengeryit, "aikk,, kok man sik?! Kita girls, Tik tok. "
"Terserah gue dong. Mulut mulut gue. Tapi yah,, lo berhenti manggil gue Tktok dong. Nama gue Tika Anandika bukan Tiktok atau Matematika. "
Sari hanya terkekeh mendengar perkataan panjang kali lebar kali tinggi per dua dari Tika.
Hihihihihihiiii !!!!
Sari menoleh pada Tika, "Tik tok, hp lo bunyi. "
Tika segera memeriksa hp nya, tapi eh kan dia gak bawa hp karna hp nya tertinggal di mobil. Trus..--
Aikk,, punya sahabat kok dodol!! Tika menepuk jidatnya pelan, kemudian ia menatap Sari kesal.
"apa?? " Sari bertanya pada Tika yang malah menatapnya kesal.
Tika berdecak dan berkacak pinggang, ia menggelengkan kepalanya. Padahal baru aja temannya ini sah jadi sarjana tapi kok udah makin ***** ajah yah?!
"Sari bodoh!! Hp lo yang bunyi nyet, bukan hp gue. Ya kali hp gue bunyi kedengaran sampe sini. " Tika bersedekap didada.
Langsun Sari menatap hpnya, oh benar.
Ia kemudian menatap Tika dengan cengirannya lalu menggeser tombol hijau di hp nya, "halo, assalamualaikum, Mah. "
"Waalaikumsalam. Sari sekarang dimana? " suara dari sebrang sana.
"Ini.., aku lagi sama Tika,, lagi jalan jalan. Tapi, ini mau pulang. "
Seketika raud wajah Sari berubah jadi semringan, "yang benar Mah?? Uma sama Papa mau balik? Oke deh,, Sari langsung kesana. Tunggu Sari disana, assalamualaikum, by Mah. " Sari langsung memutuskan panghilannya, itu efek sangking senannga ia dan sangking tak sabarannya ia akan berjumpa dengan kedua orang tuanya.
Sari kemudian menatap Tika semringa. Sungguh Sari bahagia, akhirnya mama dan papanya pulang setelah dua tahun berada di negri orang. Ya,, memang dua tahun yang lalu orang tuanya pulang untuk menjenguk nya dan sekarang orang tuanya kembali pulang lagi. Yeih, Sari harap orangtuanya kembali dan tidak akan meninggalkan nya lagi.
Tika bergidik ngeri menatap Sari, "Eh, nyet. Lo kenapa? kok senyam senyum? Lo udah kayak orang gila ajah. "
"Mama--sama--Papa----pulang!!!!!!Yeiiihhh,, kamu ikut aku ke bandara ya. Yah ya ya ya yahh!! " Sari mengeluarkan jurus andalannya yaitu muka memalas dan puppy eyes nya.
Tika mendengus, "oke,, demi teman yang menyebrang kepulau sahabat gue mau ikut lo kebandara. "
***************************
"MAMA. " teriak Sari dibandara setelah melihat ibu mertuanya dari kejauhan, ia berlari dengan menyeret paksa temannya Tika tanpa memperdulikan orang orang yang menatap aneh padanya. Sari mah dont care dengan pendapat orang.
Sari dan mertuanya memang sangat akra, malah orang sering mengira mereka seperti orangtua dan putri.
"Astagfirullah! Kok lari lari sik, sayang?! " Karin menatap menantu kesayangannya dengan memperingati.
Sari terkekeh, "sangking senengnya, Mah. Heehehhe. " ia kemudian menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Karin memandang sekelilinngnya, ia sedikit risih dengan orang orang yang menatap.kearah mereka. Kemudian ia mencari tahu alasan orang orang dibandara tersebut memoerhatikan mereka. Ah, Karin baru sadar jika Sari dan Tika masih mengenakan baju kebaya, baju yang mereka kenakan tadi pas acara wisudaan.
"Kalian kenapa masih mengenakan kebaya?! " Karin terkekeh gelik sembari menatap menantunya dan sahabat menantunya dengan geli.
Pantas saja mereka jadi pusat perhatian, menantu dan sahabat menantunya terlalu mencolok di sana.
Sari kembali tercengir, "hehe,, lupa, Mah. Eh, malas juga boleh. Heehe. " ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Pantesan sedari tadi ia meresa diperhatikan, ternyata penyebabnya karna ia dan yang masih mengenakan baju kebaya. Wah wah wah, pasti sekarang orang orang pada mikir kalau mereka itu pengantin yang kabur. Haisss!!
Karin dan Alan saling bersitatap, mereka terkekeh sembari menggelengkan kepala mereka. Dasar!! Menantu dan sahabat menantu mereka benar benar kocak abis.
"Jengg Karin. " teriak seorang wanita parubaya dari kejauhan, seketika mereka menoleh serempak. Pemiluhan serempak juga boleh.
"Uma.." guman Sari pelan, senyumannya mengembang menghiasi wajah manisnya.
Anni dan Baim serta seorang gadis dibelakangnya yang tidak lain adalah sera datang menghampiri mereka. Senyum Sari yang tadinya melintang lebar diwajahnya perlahan memudar. Ouhh, bolehkah ia kecewa jika melihat Sera juga ikut pulang dengan orang tuanya?
"Jeng Karin! " Sapa Anni sembari bercipika sipiki dengan Karin. Kemudian tanpa sengaja ia menoleh pada gadis yang disampingnya. Keningnya berlipat berusaha mengenali gadis itu.
Matanya membelalak setelah menyadari gadis itu siapa. Ia langsung membawa gadis itu ke pelukannya, "ya ampuun, Sari!! Kamu cantik banget!! Mama sampe gak ngenalin Putri Mama. Duhh, Mama rindu banget sama kamu!! " satu butir air matanya jatuh, terlalu bahagia kembali bisa memeluk putri bungsunya.
Ia melepas pelukannya, ia menatap putrinya lekat lekat. Sungguh penampilan Sarinya berubah, Sarinya sekarang terlihat semakin tinggi, semakin putih, badannya sik tetap kurus tapi intinya Sarinya semakin cantik. Apalagi sekarang putrinya tengah mengenakan kebaya dan wajahnya dipoles dengan make up.
"Sari juga rindu. " Sari tersenyum bahagia, lalu terkekeh. Ia menghampiri papanya dan memeluknya melepas rindu dengan beliau, "Papa,, Sari kangennn!! "
Baim terkekeh, "hehehe, kamu ini, makin besar makin manja ajah. Papa paling kangen! " lalu mereka sama sama tertawa sampai seseorang berdehem.
"Ekhmm. " Sera berdehem, kemudian ia menatap jengkel pada Sari. Ck, orang tuanya sampe lupa padanya karna anak sialan itu.
"Oh, hai Kak Sera. " Sapa Sari walau ia tahu Sera akan mengacukannya.
Sera memutar malas bola matanya, lalu mengalihkan pandangannya pada Karin, "tante. Ari sampe yah? " tanyanya dengan nada ramah, sesekali ia melirik Sari dengan sinis.
Mendengar nama Ari, spontan membuat tubuh Sari menegang. Ia mendadak kaku mendengar penutiran Sera tadi. Itu berarti Ari juga akan pulang ke indonesia.
"Kenapa Sar?! " Tika menatap Sari dengan dahi mengernyit. Aneh saja jika Sari tiba tiba bengong.
"Ngak papa. Eih, temani aku ke toilet yah. Ini, aku kebelet. " bisik Sari pada Tika. Sebenarnya ia tidak sedang dalama keadaan kebelet, itu hanya alibi saja.
Tika mengangguk, kemudian mereka pergi ke toilet setelah sebelumnya mereka meminta izin terlebih dahulu.
Sera menatap ke arah Sari dan Tika yang sudaj menjauh dengan kesal, ia berdecak tidak suka. Ia benar benar dilupakan dan diabaikan hanya karna kedua gadis tadi.
"Eh,, adu maaf, tante sampe lupa tadi kamu nanya apa yaa? "
Sera menoleh ke arah Karin, ia memasang mimik wajah ramah kemudian tersenyum manis, "Sera cuman nanya, Ari masih belum nyampe yah Tan? "
"Oh belum, mungkin?! " Karin mengangkat bahunya acuh. Aryansyah Wijaya, putra satu satu nya itu bahkan tak mengabarinya jika ia akan pulang. Lihat saja, Karin akan membalas anak manja nya itu setelah ia pulang nanti, yah lihat saja!!
Tbc______Tekanann batin cinta.
Sekian untuk part ini.
Guys! Jangan lupa vote dan komen yah.