Ice Senior Is My Husband

Ice Senior Is My Husband
64



semamat membaca😇


Sari mencabik kesal, ia tengah duduk dengan bersedekap sembari melihat ke arah suaminya yang tengah berbicara dengan Sera.


"Mentang mentang harga kacang rebus murah, aku malah dikacangin. " keluhnya dengan nada cemberut entah pada siapa.


Sari kemudian berjalan pelan untuk meninggalkan kedua insan yang mengabaikannya tersebut. Ia memilih duduk kembali di meja yang jauh dari dua orang yang melupakannya tersebut.


"Cik, ini mengesalkan! " gumannya yang masih setia menatap Ari dan Sera yang berbincang bincang, bahkan sepertinya suaminya tersebut tak sadar jika Sari sudah pindah tempat duduk.


"Kita sama Sar. "


Sari langsung menoleh ke samping, mendapati Ahmad yang sedang bertopang dagu sembari menatap ke arah Ari dan Sera dengan lesuh.


"Kita sama sama diabaikan. " ucap Ahmad dengan masih setia menatap kedua makhluk yang tak menghiraukan keberadaannya dan Sari.


Sari menganggukkan kepala dengan lemah, "ini resepsi Kak Ahmad sama kan Sera tapi pasangannya serasa Kak Ari dan Kak Sera. Sedangkan aku cuma tamu yang numpang makan. "


Ahmad menoleh pada Sari, "trus aku apa? "


"Kakak seolah minyak minyak rendang yang perlu dicuci. " Sari melirik Ahmad, sekedar untuk melihat ekspresi nya.


"Jahat kamu Sar!! " dramatis Ahmad, "tapi emang bener, aku ibarat minyam rendang. Tanpa minyak dari santan bahan utama rendang, mungkin rendang bukan apa apa. Tapi anehnya setelah menikmati rendang serta menyisahkan minyak minyak yang melekat pada piring, semuanya bahkan menganggap minyak tersebut hanya noda yang perlu dibasmi. Sama sepertiku! " tambah Ahmad dengan sangat dramatis.


Sari menatap Ahmad prihatin, ia menepuk pundak pria tersebut untuk memberikan ketegaran.


"Jika kakak itu seperti minyak rendang, aku merasa seperti salak. Habis manis, sepat dibuang. " ucap Sari lirih.


"Iya, tapi kalau kamu diumpamakan salak, aku yakin salaknya ngak ada manis manis. Jadi istila yang pas buat kamu itu, salak masam seperti kehidupan. "


Bukannya marah, Sari yang mendengarnya malah terkekeh gelik.


"Ya, masam itu enak kak Ahmad. Tinggal ditaro gula, udah jadi manisan. Ditaro cabe jadi rujak, ughh.. jadi pengen makan rujak. " ucap nya dengan kekehan di akhir kalimat.


Ahmad ikut terkekeh, "bener kamu Sar! "


"Iya dong, Sari gitu loh! " Sari berujar bangga membuat Ahmad semakin tergelak tawa.


"Aiss, jadi nyesel aku! " ucap Ahmad dengan nada bercanda.


Sari terkekeh, ia melirik sebentar suaminya untuk memastikan apakah sang suami masih sibuk dengan Sera. Tapi nyatanya suami tersebut terlihat seperti lupa dunia saat berbicara dengan Sera. Dan Sari tebak, suaminya tersebut belum sadar jika Sari sudah pindah.


"Jangan dilihat lihat!!! Nanti malah sakit!! " peringat Ahmad saat menangkap jika Sari sedang mencuri pandang pada kedua makhluk yang mengabaikan pasangan mereka tersebut.


"Pernah sakit!! Tapi tak sesakit ini. " ucap Sari dengan bernyanyi.


Ahmad kembali terkekeh, ia mengambil tissu lalu melemparnya ke arah Sari, "pliss!! Suara kaleng kaleng jangan nyanyi, tamu undangan aku bisa kabur nanti. " ejeknya dengan bercanda.


Sari tertawa renyah, "aku jadi keingat sama lagu benang biru'. Wkwkwk,, itu pas banget sama keadaan kakak sekarang, hehehe.. "


"Dih, lagu apa tuh? " tanya Ahmad sok tak tahu, padahal jelas ia tahu.


Sari berhenti tertawa sebebtar, ia mengeluarkan ponselnya kemudian ia mengotak atik nya, "dengar nih! " ucapnya pada Ahmad.


Ahmad mengerudkan keningnya menunggu lagu tersebut diputar.


"Kalau hanya untuk mengejar laki laki.....--- "


Sari dan Ahmad spontan bernyanyi bersama. Dan saat lagu tersebut berhenti dan diganti musik dj, mereka dengan bersaman menggoyangkan tangan serta tubuh mereka~ masih dalam ke adaan duduk.


Lalu saat mereka bersitatap, entah karna ada yang lucu tapi keduanya malah tertawa terbahak bahak. Dan hal tersebut mengundang para undang disana untuk menoleh ke arah mereka, termasuk Ari dan Sari.


"Kalau hanya untuk mengejar laki laki lain, buat apa sih benang biru kau sulam menjadi kelambu. " lantun mereka kembali mengikuti alunan musik yang diputar dari hp Sari.


"Gimana? Sama kan dengan keadaan kakak sekarang?! " ejek Sari disela sela goyangan tangannya.


Ahmad tertawa hambar, "pas! Gila, aku baru nyadar Sar. Hahahaha.. " diakhir kalimat Ahmad kembali tertawa.


Ahmad mematikan musik di hp Sari, "denger nih,, lagu para anak tok tok! " ucap nya dengan menyetel lagu yang katanya kegemaran anak tik tok.


"Sungguku terpuruk dalam lamunan, seakan raga ku hangus terbarkar. Begitu besar api...,, tak akan mampu kusirami. "


Lagi lagi Sari dan Ahmad kembalu bernyanyi secara bersamaan.


"Kau yang slalu ku puja puja aaaaa.. hahahaa. Nama mu terikur indah,, "


Sari dan Ahmad bahkan tak sadar jika sekarang mereka sudah menjadi pusat perhatian karna aksi dangdutan dadakan mereka tersebut.


Sari menggelengkan kepalanya seiringan dengan musik sembari telunjuk yang ia anggat didepan jidatnya. Begitu juga dengan Ahmad yang bergoyang dengan gerakan yang hampir sama dengan Sari.


"Kalau lagu ini mah aku tahu!! " tutur Sari bangga disela sela jogetannya.


"Ekhmm,, boleh gabung tidak! "


Ahmad dan Sari spontan menoleh, mereka menatap bingung ibu ibu yang ada didepan mereka.


"Gabung joget!! " ibu tersebut memperjelas seolah mengerti kebingungan Ahmad dan Sari.


"Ouh,, boleh boleh! " ucap Ahmad dengan kikuk.


"Musik!! " teriak ibuk tersebut dengan sedikit lantang.


Ahmad dan Sari spontan bersitatap karna tak paham, namun semuanya terasa jelas saat mereka mendengar dentuman musik yang cukup nyaring dari arah musik pengiring acara resepsi tersebut.


"Resepsi elegant kayak gini harus hancur karna ulah ku. " batin Sari mulai panik saat terlihat orang malah berbondong bondong ke arah mereka untuk berjoget ria.


"Ini tidak benar!!! " batin Sari kembali yang melihat kekacauan di sekitarnya.


"Dan paling tidak kalau aku ngak menikmati kekacauan ini. " gumannya dengan senyum lebar lalu ikut bergabung dengan para tamu undangan untuk dangdutan.


"Punya pacar, punya yayang, cantik beginiii..."


Bahkan Ahmad juga sudah ikut bergabung, dan lagi lagi mereka kembali bernyanyi bersama. Bedanya kali ini ada ibu ibu serta beberapa tamu undangan yang ikut menimbruk.


Ari mengeratkan rahangnya dengan menatap Sari marah, "sialan!! " geramnya.


Dengan langkah besar ia menghampiri Sari. Dan tanpa mengatakan apa apa ia langsung menyeret Sari dari Sana.


Setelah sampai di parkiran Ari melepas genggamannya pada Sari, "masuk!! " bentak nya yang sudah diliputi amarah.


Sari yang dibentak tergelonjak, ia menegug salivahnya kasar kemudian masuk dalam mobil.


...............


Ari menghentak Sari ke kasur, ia menatap tajam istrinya tersebut. Menurutnya hari ini Sari sudah sangat keterlaluan dan benar benar membuat Ari geram.


"Begitukah sikap mu dipesta saudarimu sendiri!! " geram Ari mulai memarahi Sari.


Sari mendongak, "ak.. aku...--"


"Kau memalukan!! " sarkastik Ari membuat Sari terdiam.


Sari mengerjapkannya beberapa kali, matanya seketika basah karna mendengar kata kata pedas yang Ari lontarkan barusan. Hatinya benar benar tertohok serta nyeri saat lagi lagi suaminya dengan terang terangan membela Sera.


"Oke,, aku salah! " ucap Sari pasrah, meski tak rela. Bukan apa apa, Sari hanya menghindari pertengkaran yang mungkin akan terjadi antara ia dan Ari.


"Ya, kau memang salah! " bentak Ari lagi.


Sari mengepelkan tangannya, mudah bagi Ari menyalahkannya. Lalu bagaimana dengan suaminya sendiri, jika bukan karna gabut dikacangi oleh Ari mungkin tadi Sari tak akan samapi kelepasan.


"Ya,, aku salah dan kamu selalu benar!! " ketus Sari.


Ari mengeratkan rahangnya, "berhenti bersikap kekanak kanakan!! "


"Aku tidak bisa!! Tapi kamu bisa berhenti menjadi suamiku kalau kamu ngak suka sama sikap kekanak kanakanku. " Sari berdiri, ia berkata dengan marah sembari menatap Ari kecewe.


"SARI!!! " bentak Ari memperingati tepat didepan wajah Sari.


Sari menutup mata sebentar kemudian kembali manatap Ari. Ia menatap suaminya tersebut dengan mata yang tergenang air serta memperlihatkan sorot terluka.


"Padahal aku sudah ngaku salah!! " lirih nya bersamaan dengan sebulir air mata yang jatuh.


Ari memijit kening nya kemudian menatap sang istri dengan sisa sisah kemarahannya, "sudahlah!! Kau memang payah. "


Glek'


Sari langsung menelan ludah yang terasa begitu pahit. Ia menatap Ari tak percaya serta kaget. Kali ini Ari sudah melampaui batas, sejak tadi Sari menahan diri dan kali ini ia kesabarannya sudah habis.


"Kalau sudah tahu payah,, kenapa kamu malah nikahin aku?! " ucap Sari dingin dengan menatap Ari tajam.


"Jangan mulai lagi!! " peringat Ari dengan datar.


"Sadar ngak,, dipesta tadi kakak itu ngabai in aku?! "


Ari spontan menoleh ke arah Sari.


"Sadar ngak, kalau semenjak kita disana kakak asikan ngobrol sama Sera. " Sari menyekat air matanya dengan kasar, "sadar ngak kalau selama kalian ngobrol aku disana, kalian ngobrol tanpa nganggap aku ada. Bukan hanya aku, kak Ahmad juga kalian abaikan. "


"Kalian asik dengan dunia kalian, sampe lupa sama pasangan masing masing. Kalian ngak nganggap kita ada!! "


"Sangking asik nya, kalian bahkan ngak sadar kalau aku sama kak Ahmad sampe pindah meja biar kalian ngak merasa terganggu dengan dunia kalian. "


"Tahu ngak?! Aku sama kak Ahmad miris lihat kalian berdua. Jujur!! Aku sama kak Ahmad ngak suka liat kedekatan kalian. Tapi tetap kita ngak ganggu kalian sama sekali, aku sama kak Ahmad cuam diem sambil liat kalian yang udah seperti punya acara. "


Ari menatap Sari dengan pandangan bersalah.


"Tapi kenapa pas aku sama kak Ahmad bisa asik asikan, kakak malah datang gangguin?! Emangnya tadi pas kamu sama Sera asik ngoprol, aku ganggu kalian, hah?! "


Sari kembali me- lap air matanya, ia menatap Ari dengan raud kecewa yang begitu kentara.


"Sar, aku dan Se...- "


"Alaahh,, muak!! " potong Sari cepat, lalu ia dengan sengaja menubruk Ari saat ia berlalu dari sana.


"Sari! "


Brak'


Ari mengacak rambutnya dengan frustasi, ia kemudian meninju dinding berapa kali untuk melampiaskan amrahnya.


Ck, lagi lagi Ari kembali membuat kesalahan. Harusnya Ari lebih peka pada istrinya, harusnya Sari adalah prioritasnya tapi tadi ia malah mengabaikan istrinya tersebut.


"Arggg. " geram Ari.