
Author pov
Sari sekarang berada dirumah Tika, ia di sana bersama dengan Lisa dan sang pemilik rumah itu sendiri. Sebelumnya Sari sudah meminta izin pada suaminya, dan Ari mengizinkannya.
Sari menegug minuman yang Tika sediakan untuk mereka. Ia menatap kedua sahabatnya dengan senduh, "aku mulai ceritanya ya?! " Lisa dan tika mengangguk antusias.
"Kak Sera sudah pulang." Sari berkata lirih sembari menundukkan kepalanya.
"Kak Sera masih sama, bahkan sekarang ia semakin ketus sama aku. Padahal kalau bicara sama kak Ari dia gak ketus bahkan terkesan bahagia, senang, seru atau apalah. Aku juga gak tau sik kapan kak Ari sama kak Sera kenal. Tapi sepertinya mereka sudsh akrab." ia mengembuskan napas kemudian mendongak dan menatap kedua sahabatnya yang masih terlihat sangat serius.
"Aku kira setelah kami gak ketemu selama beberapa tahun, kak Sera bakalan berubah. Kak Sera bakalan mau nerima aku. Huh, tapi kenyataannya ngak!! Aku jadi heran, kak Sera itu sebenci apa sik sama aku." Sari mengedip edipkan matanya agar air matanya tidak jatuh.
"Dan sekarang, kak Sera mati matian buat ngajak kak Ari kuliah di luar negri. Dia tuh pengen banget aku sama kak Ari pisah." Air mata Sari jatuh melintasi pipi mulusnya, dan dengan cepat ia menghapus air matanya.
Sari menatap kedua sahabatnya yang juga menatapnya dengan mata berkaca kaca.
"Dia juga bilang kalau aku hanya menjadi penghalang bagi kak Ari. Aku hanya menyusahkan kak Ari, aku alasan kak Ari merelakan mimpinya untuk kuliah di luar negri."
Sari menundukkan kepalanya,"hick hick hick hick..-" ia menutup mulutnya agar isakannya tidak keluar.
Lisa dan Tika yang melihat sahabatnya seperti itu ikut menitihkan air mata. Selama ini Sari selalu menutupi dan berusaha agar ia tidak pernah terlihat sedih dan menangis didepan siapapun. Ia selalu melempar senyum dan seceria mungkin, agar orang tidak tahu tentang luka di hatinya. Dan sekarang Tika maupun Lisa bisa merasakan dan menyaksikan kepiluan dari sahanatnya itu.
"Kalau jujur aku gak rela banget kak Ari kuliah di luar negri." Sari mendongak ke atas menetralkan rasa sakit dihatinya.
"Aku ngak pernah sebahagia sekarang sebelum bersama kak Ari. Yang ada disetiap harinya aku selalu tertekan karna kak Sera yang selalu menyalahiku, menuduhku dan...-" Sari menggigit bibirnya, menahan diri agar ia tidak menangis lagi.
"Dan menghinaku. Tapi setelah bersama kak Ari, aku seperti hidup kembali. Aku bisa ketawa dimana ajah, mau disekolah ataupun dirumah. Aku merasa benar benar disayangi karna memang rasa sayang bukan rasa ibah. Yang ngak aku dapat di keluarga, aku dapat di kak Ari. Dia perhatiin aku, dia peduli, dia bentak aku kalo salah...-" Air matanya jatuh mengingat betapa Ari sangat mengurusnya.
"Dia marahain aku kalo nakal..-" tangisan gadis itu semakin menjadi jadi dan dengan sigap kedua sahabatnya menenangkan ia.
Sari menarik nafas panjang, "dan aku ngak dapat itu di keluarga aku. Mereka emang sayang sama aku tapi bukan sayang yang begitu yang aku mau. Aku pengen Mama sama Papa bentak aku saat nakal, marahin aku saat salah. Aku pengen tahu rasanya menjadi seorang anak yang sesungguhnya. Aku pengen ngerasain apa yang kalian, kak Ari, kak Sera, dan anak lainnya rasakan."
"Seorang anak pasti pernah dimarahin oleh orang tuanya. Tapi aku malah enggak pernah. Dan itu emang pantas karna..."
Lisa dan Tika langsung memeluk sahabatnya itu,"ngak usah dilanjut kalo ngak kuat, Sar."
Sari menggelengkan kepalanya lemah, "kak Ari udah seperti rumah bagi aku Tik, Lis. Kak Ari itu..hick.. tempat aku pulang, tempan aku menumpahkan segala perasaan yang aku rasain. Kak Ari hick...segalanya buat Sari, kak Ari itu harta berharganya Sari. Dan...,, dan kalau kak Ari beneran pergi itu artinya Sari bakalan jadi gelandangan karna rumah Sari bakalan ngak ada kalau kak Ari pergi."
Lisa dan Tika semakin mempererat pelukan mereka terhadap sahabat mereka itu. Sedangkan Sari, terdiam namun air matanya terus ngelair.
"Sar,, gue sama Lisa masih ada yang siap jadi rumah bagi lo. Dan kita ngak akan ninggalin lo."
"Seandainya pun semua jauhin lo ninggalin lo, kita ngak bakalan ninggalin lo. Karna kita sahabat lo Sar, dan sahabat ngak bakalan ninggalin. Karna sahabat selalu ada di setiap rasa."
Sari menatap kedua sahabatnya bergantian, disaat air matanya jatuh dengan cepat ia menyekatnya. Gadis itu tersenyum haru mendengar perkataan kedua sahabatnya itu. Sari langsung memeluk kedua sahabatnya dengan erat. Baik Sari, Lisa maupun Tika mereka sama sama menangis.
"Jika rumah mewah loh pergi ninggalin lo kita siap kok jadi rumah kontrakan buat lo."
Sari menatap Tika bingung, ia menghapus air matanya, " kok kontrakan, berarti sementara dong, Tik?! " bingungnya masih dengan suara paraunya.
"Jangan salah paham, Sar. Gue umpamain kontrakan karna emang kita bakalan jadi rumah sementara buat lo, selama rumah mewah lo belum pulang. Karna kita yakin rumah mewah lo bakalan kembali." Tika tersenyum, Sari kembali meneteskan air matanya. Ia langsung memeluk sahabatnya itu.
"Kalian bukan rumah, kalian itu bayangan aku. Karna kalian selalu ada buat aku, kalian Sahabat Sari dan Sari sayang sama kalian."
Tika dan Lisa sama sama tersenyum saat mendengar penuturan dari Sari.
"Sar, lo jangan nagis lagi yah." Sari menganggukan kepala, ia tersenyum haru. Karna setidaknya masih ada sahabat yang selalu bersamanya.
"Ihh ini ingus siapa??! " Lisa menjerit sembari menatap bajunya ngeri.
Tika dan Sari saling melempar pandang kemudian mereka tertawa bersama.
"Ini ingus kamu yah Sar." Lisa menatap Sari garang. Sebenarnya ingus itu miliknya sendiri, ia begitu hanya agar Sari sahabatnya tidak menangis lagi dan kembali tertawa.
Jika terlihat konyol, bodoh dan ****** bisa membuat seorang sahabat yang menangis bisa tertawa maka itu adalah hal yang gampak untuk dilakukan. Karna sebenarnya yang sulit itu adalah menghilangkan sakit dihatinya.
"Eih..ingus aku kan warnanya bening gak ada ijo ijonya gitu." Protes Sari sambil bersedekap.
"Bukan ingus gue yahh, karna warna ingus gue itu kuning, hijau dilangit yang biru." Ucap Tika cepat saat Lisa akan menoleh ke arahnya.
Sari menatap Lisa gelik, " itu ingus kamu kali."
Lisa melotot sok ingin protes tapi kemudian ia tertawa, " hahahahaa..iya ini ingus Lisa. Tapi masalanya sekarang ingusnya udah nyebar ke baju lo."
Sari langsung memeriksa bajunya, dan benar saja, "ya ampun Lisa!!! " teriaknya, namun yang duteriaki malah tertawa.
Kemudian mereka berakhir dengan kejar kejaran dan diiringi dengan tawa yang tak menyimpan luka lagi.
Bersama sahabat memang seperti itu. Kadang menangis bersama, kadang tertawa bersama dan kadang menangis serta tertawa secara bersamaan.
.......
mewek but lebay!!😂😂😂
oke jan lupa vote dan comen yahh. Gak banyak vote dan comen, author jadi malas buat up😔😔
ok, machi cayang q😍