
Selamat membaca😇
Sari menatap ke sekeliling nya, kemudian ia menghela nafas. Sari seharusnya sekarang berada dirumah untuk menyelesaikan permasalahannya dengan Ari. Tapi ini ia malah lari dan sekarang berada ditaman. Kalau dipikir pikir, Sari memang pantas di cap ke kanak kanakan oleh Ari.
"Huuh, " Sari menghela nafas. Ia kembali melihat sekelilingnya yang sudah sepih.
Ya, hari sudah magrib jadi penghuni taman tersebut mungkin sudah pada pulang.
Sari berdiri dari tempatnya, ia harus pulang. Bukan begini cara nya menyelesaikan masalah, ia sudah dewasa. Lari hanya akan memperkeruh keadaan, bukan menyelesaikan.
Sari berjalan dengan gontai, rumah nya dan taman memang tidak jauh. Tapi rasanya ia begitu malas untuk melangkahkan kakinya untuk pulang. Mungkin mood nya akan semakin rusak jika harus melihat wajah suaminya nanti.
Bugh'
Sari mengelus bahu nya yang tak sengaja di tabrak seorang. Ia menghela nafas agar mulutnya yang sudah gatal tidak mengeluarkan cacian pada orang yang menabraknya. Mood Sari benar benar hancur, apalagi setelah bahunya disenggol.
"Maaf, nak! "
Sari menoleh kebelakang, menemukan seorang wanita parubaya yang wajah nya terlihat tak asing.
"Tidak apa apa buk. " ucap Sari seraya melempar senyum. Aneh nya setelah ia melihat wanita didepannya tersebut, mood nya yang buruk tadi langsung hilang.
Sari mengeryit saat melihat wanita tersebut malah bengong sembari menatap nya.
"Ka.. kamu... "
Sari semakin mengeryit bingung saat wanita didepannya tersebut malah memeluknya sembari menangis.
"Kamu pasti putri ku. Yah, kamu putri ku! " ujar wanita tersebut dengan menyentuh wajah Sari, seolah wanita itu sedang memastikan jika perempuan didepannya tersebut adalah nyata.
Sari termenung, pengakuan wanita didepannya sangat mengejutkan nya.
"Putri ku! " wanita itu kembali memeluk Sari, "kamu ikut ibu yah. " pinta nya kemudian.
Sari yang bengong hanya bisa pasrah saat wanita didepannya tersebut membawanya. Dulu ia berpikir jika ia akan biasa biasa saja saat bertemu dengan ibu kandung nya, tapi sekarang!! Ia benar benar shock, terharu, sesak, bahagaia. Padahal belum jelas juga jika wanita ini ibunya.
.....................
Sari duduk dengan kaku, ia menatap orang orang disana yang juga sedang menatapnya. Rasa kebahagian saat bertemu sang ibu sekarang sudah berganti dengan rasa canggung yang teramat.
"Maaf! Ta.. tapi aku tidak bisa begitu saja percaya dengan kalian. Ak.. aku... - "
"Tidak apa apa, nak. Ibu sama kakak kamu bisa maklum. " potong wanita yang mengaku sebagai ibu kandung Sari tersebut.
Sari menganggukkan kepalanya lalu melayangkan senyum canggung. Jujur! Sekarang Sari benar benar merasa canggung sekaligus gugup. Apalagi setelah pria berwajah tampan yang sedari tadi menatapnya dengan senyum. Ya, grogi didekat cogan itu emang Sari banget,, jadi harap maklum saja.
Tapi jangan salah paham! Dari pengakuan ibu Sari, pria itu faktanya adalah kakak Sari.
Meski sedikit nyesek memiliki kakak tampan, tapi keuntungannya setidaknya Sari benar benar memiliki saudara kandung.
"Nama kakak ini siapa, bu? " tanya Sari dengan melirik sebentar pada pria yang duduk disampingnya.
Pria itu terkekeh membuat Sari menoleh padanya, "Aris Alvian, marga Regar. " diakhir kalimat pria itu mengedipkan matanya pada Sari.
Sari hanya tersenyum kaku, dalam hati ia bersyukur. Setidaknya marga nya sama dengan keluarga kandung nya.
"Nama ibuk Aminah Harahap. " Wanita itu memperkenalkan dirinya tanpa di minta oleh Sari. Ia kemudian menyekat air mata nya, ia begitu bahagia saat yang kuasa akhirnya mempertemukannya dengan putri kandung nya.
Sari menundukkan kepalanya, tiba tiba saja rasa ingin tahu menyelimuti dirinya. Ia ingin tahu kenapa ibunya bisa membuang nya dan sekarang malah ingin mengakuinya.
"Bu, a.. um.. aku mau nanya. Du.. dulu kalian kenapa buang aku? "
Aminah menatap Sari senduh, ia kembali mengeluarkan air mata. Hatinya terasa hancur saat Sari menanyakan hal tersebut. Kenangan nya benar benar buruk tentang hal itu. Ia tang ingin mengungkitnya, tapi mau bagaimanapun Sari harus tahu agar putrinya tersebut tidak salah paham padanya.
"Ibu tak pernah membuangmu. " ucap Aris tiba tiba dengan datar membuat Sari mengeryit bingung, padahal pria itu tadi selalu menunjukkan sikap manis pada Sari. Tapi sekarang pria itu terlihat dingin meski sorot matanya memancarkan luka.
"Terus kalau tidak membuangku lalu apa? Setidaknya jika kalian tidak mau aku salah paham, kalian beri alasan kenapa aku pisah dengan kalian. " ucap Sari yang mulai tersulut.
"Maafkan ibu nak, ibu... " Aminah tak melanjutkan perkataannya saat rasa sesak kian bertambah.
"Pliss,, kasi aku alasan! " lirih Sari yang mulai menangis.
Aminah menyekat air mata nya lalu menatap Sari datar, "baik. "
Flash back
*Gunung tua- Paluta- Sumatera Utara.
"Bang, bawa motornya jangan terlalu cepat. Kita bawa anak anak ini. " tegur Aminah pada sang suami.
Suaminya tersebut menoleh sebentar, lalu kembali menghadap jalanan, "maaf inah, tapi abang takut ibu nangkep kita. Aku ngak mau kalau putri kita jadi korban. "
"Masalahnya kita bisa kecelakaan kalau abang kecepatan bawa motor. " tegur Aminah kembali. "Kasian nih Aris sama Aries. Lagian ibu ngak tahu kalau kita kabur. "
"Iya, iya. "
Kemudian Mahmud, suami aminah memelankan laju motor nya. Namun naas, meski laju motor telah ia turunkan kecelakaan yang mereka hindari tetap saja terjadi. Sepeda motor yang di kendarai oleh Mahmud serta anak istrinya tersebut harus terjatuh akibat tertabrak oleh mobil yang sedang melaju kencang dari arah depan.
Tahu maut sedang memantau, Amina segera mendekap putri dan putra nya dengan erat. Begitu juga dengan Mahmud yang langsung melepas setir untuk memeluk putranya yang ada didepan.
Kecelakaan itu benar benar tak terelakkan, karna kecelakaan tersebut berlangsung begitu saja.
Aminah yang tak berdaya karna harus terguling dan hampir terjatuh dalam got disekitar pinggir jalan. Kesadarannya yang menipis tidak membuatnya lupa akan putrinya yang sudah hilang dari pelukannya.
"Aries.." gumannya lemah dengan mata tertutup dan nafas yang sudah tersendak. Namun setelah kerumunan datang, kesadarannya hilang begitu saja*.
"Karna kecelakaan itu ayah mu meninggal dan kamu..... " Aminah berhenti sesaat, ia mengarjap beberapa kali agar air matanya tak keluar.
Sari yang mendengarnya langsung menangis, seburuk itukah takdirnya sehingga ia harua kehilangaan ayah nya disaat ia bahkan belum bisa mengingat. Sari menggigit bibir bawa nya untuk menahan isakan, padahal Sari sudah berharap bisa bertemu dengan kedua orang tuanya setelah pertemuannya dengan Aminah. Namun tuhan berkata lain, ayah nya sudah dipanggil yang kuasa.
Sari menatap Aminah dengan senduh dan air mata yang terus mengalir. Sedangkan Aminah masih belum sanggup untuk menatap putrinya, rasanya ia benar benar sakit saat mengingat peristiwa itu.
Aminah me- lap air matanya lalu kembali menatap kedua anaknya, "ibu harus kehilangan kamu dan ayah kamu karna kecelakaan itu. "
"Ibu bahkan hampir kehilangan kakak kamu... hick. " Aminah kembali menangis.
Dengan sigap Aris langsung pindah ke sangping ibunya, ia langsung memeluk sang ibu untuk memberikan kekuatan.
"I.. ibu ngak usah lanjut cerita lagi. Apapun alasannya, yang penting ibu udah ketemu sama aku. " ucap Sari tak tega melihat ibu nya harus kembali mengingat peristiwa kelam tersebut.
"Ngak nak. Ibu harus cerita sama kamu, ibu ngak mau kamu salah paham sama ibu. Ibu ngak mau kehilangan kamu lagi, ibu ngak mau. "
"Tenang, Bu! Tenang, Sari tidak akan meninggalkan kita lagi. " ucap Aris sembari menepuk nepuk punggung ibunya pelan.
Sari tanpa sadar menganggukkan kepalanya dengan semangat, "ya,, aku tidak akan meninggalkan ibu. " ucapnya mantap.
"Tapi kamu harus tahu. Ibu ngak pernah buang kamu, karna kecelakaan itu ibu harus koma selama satu bulan. Dan selama satu bulan tersebut, tidak ada satupun keluarga ibu yang sadar jika kamu hilang. "
"Setelah sembuh dan tahu kamu hilang, ibu langsung cari kamu. Ibu kembali ke tempat kecelakaan tersebut, ibu nanya sama masyarakat disana entah ada yang menemukan mu. Satu minggu ibu nyari kamu ketempat itu, tapi mereka bilang tidak pernah nemuin bayi saat kecelakaan itu. Hingga ada seorang ibu ibu yang bilang kalau ada seorang wanita yang nemuin bayi. "
"Setelah tahu informasi tersebut ibu langsung mendatangi wanita yang menemukan kamu itu, tapi sayang nya mereka sudah pindah ke sidimpuan. Dan saat ibu datangi mereka kesidimpuan keluarganya sudah pindah ke jakarta. "
"Ibu yang mendengar nama jakarta langsung putus asah, Sar. Karna keadaan ekonomi kita dulu tidak seperti yang sekarang. Dulu ibu benar benar susah, karna kecelakaan itu ibu terpaksa harus menjual tanah, kebun serta sawah untuk biaya pengobatan ibu dan Aris. "
"Ibu baru bisa ke sini setelah kakak kamu kerja. Dan samapi disini ibu ngak pernah lelah untuk mencarimu, ibu beberapa kali berkunjung kerumah keluarga angkat kamu. 3 kali ibu kesana tapi rumah itu selalu tak berpenghuni. Hingga akhirnya kita dipertemukan oleh yang kuasa. " Aminah menatap haru pada sang putri yang sangat ia rindukan itu.
Sari berjalan menghampiri Aminah kemudian ia memeluknya dengan erat, "ibu.....hick, hick. " tangis Sari pecah dalam pelukan sang ibu.
Rasanya haru, legah dan bahagia saat mengetahui jika ia masih memiliki keluarga.
.............
Sari, Aris dan Aminah sekarang tengah sarapan pagi. Aris tak henti hentinya melayangkan candaan yang membuat Sari tertawa gelik, sedangkan Aminah hanya menatap kedua anaknya tersebut dengan senyum hangat.
Aminah benar benar bahagia, putri yang selama ini ia cari akhirnya kembali. Meski suaminya tak ada, tapi hal yang berasal dari suaminya bersamanya. Putra dan putrinya akan menjadi penguat bagi Aminah untuk menjalani kehidupan nya tanpa suami yang mendampinginya.
"Oh iya Mah, Mama bilang um.. anu itu.. saat itu Mama sama Ayah sedang kabur. I.. itu maksudnya apa? " tanya Sari penuh dengan kehati hatian, takut saja jika ibu nya tersinggung.
Bukannya tersengginggung atau menampilkan raud sedih, Aminah malah tersenyum. Seperti yang Aminah katakan, putra dan putrinya akan menjadi penguat baginya.
"Ib.. maksudnya Mama sama ayah kamu kabur. Nenek, ibu dari ayah kamu sebenarnya tidak suka dengan pernikahan Mama sama Ayah kamu. Dan saat kamu ada, ia semakin benci sama ibu. Nenek kamu berniat jual kamu, maka dari itu Mama sama ayah kabur. "
Sari mengepalkan tangannya dibawah meja, ia menundukkan kepalanya lesuh. Sungguh ia merasa takdir memang tak menyukainya, bahkan kelahirannya saja menjadi mala petaka bagi keluarganya.
Pletak"
"Auww!! " ringis Sari saat kepalanya mendapat pukulan yang cukup sakit.
Sari kemudian menatap Aris, pelaku pukulan dikepalanya dengan mata merah berair.
"Astagfirullah,, Aris!! " bentak Aminah membuat Sari tergelonjak kaget, namun saat ia melihat sang kakak bahkan pria itu terlihat biasa biasa saja.
"Maaf! Dia sih sok sedih, lagian aku mukulnya pelan doang. " ucap Aris sembari menggaruk pelipisnya.
"Pelan, pelan,, kalau pelan adik kamu ngak bakalan kesakitan. " galak Aminah lagi dengan suara toa nya yang menggelegar di ruang makan tersebut.
Sari bahkan menegug salivahnya karna sedikit takut serta cemas jika mama nya dan abang nya akan bertengkar hebat.
"Pelan kok bu eh maksudnya Mah. " ucap Aris dengan merelalat panghilan bu pada sang ibu.
Sesuai permintaan Sari yaitu memanggil ibu mereka dengan sebutan Mama, jadi Aris harus belajar terbiasa.
"Kamu itu cowok, tenaga cowok sama cewek besaran cewek lah. " galak Aminah lahi lagi dengan berteriak.
Sedangkan Sari yang melihatnya hanya bisa melogo tanpa berkata apa apa. Sumpah!! Ia bingung untuk berbuat apa.
"Maklum aja Sar. Orang Sumatera Utara suaranya emang kuat, apalagi kalau marah. " ucap Aris saat melihat raud tegang Sari.
Sari menoleh sebentar pada Aris kemudian melayangkan senyum kikuk di wajahnya. Ia kan juga berasal dari Sumut, tapi jujur Sari baru lihat yang beginian.
"Sari, kamu takut sama mami yah? " tanya Aminah dengan mimik panik.
Gara gara anak sulung nya tersebut, ia sampai harus mengamuk dan mengeluarkan sifat bar bar, khas batak.
"Hehehe.. enggak. Tapi itu..emm itu Mama marah atau mau pereng, i.. itu suaranya... "
"Nah dengar, Mah! Suara Mama kekencenga. " potong Aris cepat dengan mengomentari suara ibu nya.
"Hahahaha.. maklum Sar. Mama kan asli batak angkola. "
Sari hanya menganggukkan kepalanya kaku. Bahkan tertawa saja ibu nya terlihat bar bar, sisi keanggunan ibu nya benar benar hangus. Padahal pertama kali melihat sang ibu, Sari sempat berpikir jika ibu nya tersebut seorang wanita yang anggun. Tapi kenyataannya ibunya barbar seperti ibu mertuanya saja.
Cik, Sari jadi rindu dengan sang ibu mertua.
Tiba tiba Sari membulatkan matanya saat mengingat sesuatu.
"Ala mak!! Kak Ari!! "
_____________________Vote Like Comen________