Ice Senior Is My Husband

Ice Senior Is My Husband
52



Author pov.


Sebelum kembali ke aprat, Ari menyempatkan diri untuk pergi kekantor milik keluarganya yang ada di jakarta. Yah, sebenarnya ia malas untuk kekantor. Tapi dari pada kerumah, dimana dirumahnya seseorang sudah menunggunya. Dan seseorang yang menelponnya tadi saat ia masih dirumah sahabat Sari tersebut adalah penyebabnya.


Jujur, ia tidak ingin menemuinya tapi mengingat apa yang ingin dibicarakan seseorang itu membuatnya harus mau. Karna rasa penasaran dengan topik pembicaraan yang akan mereka bahas. Bukan, bukan penasaran,, topik yang akan dibahas tidak lain adalah tentang istrinya. Dan kalau sudah menyangkut Sari, Ari tidak akan bisa diam saja. Sebenarnya semua tentang Sari sudah Ari ketahui. Tapi ia hanya ingin memastikan jika yang akan diinformasikan oleh seseorang ini bukanlah tentang hal yang buruk.


Setelah selesai berkutat dengan pekerjaannya, Ari memutuskan untuk pulang ke aprtnya. Ia sangat berharap orang yang menunggunya sudah pulang. Memang tadi ia berniat akan menemuinya tapi sekarang ia sangat lelah, ia butuh istirahat.


"Sore pak. " Sapa karyawan /i pada Ari saat ia berjalan melewati kubikal karyawannya.


Ari hanya memasang wajah datar dengan pandangan tajam menghunus kedepan mengabaikan sapaan karyawan / i nya. Mngkin ia termasuk bos yang arrogan, dingin dan kejam. Tapi ia tidak peduli karna yang ia pedulikan hanyalah istrinya Sari.


Karna Ari hanya untuk Sari. Bahkan nama mereka saja terhubung tanpan dirancanakan oleh kedua orang tua mereka. Ari ada dalam nama maupun hidup Sari, begitu juga sebaliknya. Sari membutuhkan Ari untuk melengkapi namanya maupun kehidupannya.


Ari mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Saat setelah sampai ia langsung turun dan memasuki aprtanya.


Ari menghela napas kasar saat melihat seorang wanita berdiri didepan pintu aprtanya. Sial ! Wanita itu masih menunggu, padahal ia sudah sengaja menghabiskan waktu sangat lama dikantor.


" Ari! " pekik wanita itu.


"Kamu lama banget sih. Ini kaki aku sampe keram buat nungguin kamu. " lanjut wanita tersebut dengan mengeluh.


Ari menaikkan sebelah alisnya, "maaf, saya sibuk dikantor. "


Ari membukakan pintu apartnya kemudian mempersilahkan wanita itu masuk. Bagaimanapun juga Sera adalah kakak iparnya, jadi meski kesal ia tetap harus berlaku sopan.


"Silahkan duduk, saya akan membawakan mu minum. Oh, kau mau minum apa. "


Sera tersenyum, ia yakin setelah ini Ari benar benar akan menjadi miliknya. Dan adik sialannya itu akan menderita. Hahaha, Sera benar benar tak sabar melihat kehancuran Sari.


"Jika kau tak ingin sesuatu, baik. Tapi aku haus, jadi tunggu sebentar. " Ari menatap Sera dengan kesal, wanita itu mengacanginya. Yang benar saja, selama ini ia tak perna dikacangi. Malahan ia yang sering mengacangi Sari, sang istri. Haiss, mungkin Ari sedang mendapat karma.


Ari berjalan menuju ke dapur mereka, disusul Sera yang mengikutinya dibelakang. Ari membuka kulkas mereka kemudian meminum minuman dingin yang ada disana. Setelah hausnya redah, ia kembali meletakkan botol minuman tersebut ketempat semula. Kemudian ia bersandar sembari bersedekap, menatap Sera dengan tajam


"Katakan apa yang ingin kau katakan! " ucapnya dengan tegas.


Sera menganggukkan kepalanya, kemudin ia duduk di salah satu kursi meja makan.


"Ini mengenai Sari, Ar. " Sera berucap dengan menatap Ari intens, membuat pria dihadapannya risih.


"Lalu. "


"Dengar, Ar! Sebenarnya Ari bukanlah wanita baik baik. Dia itu wanita ular dan licik. Dan dia ngak pantas untuk mu. "


Ari menaikkan alisnya, "trus, yang pantas untuk ku itu kamu?! "


Sera yang mendengarnya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Ia jelas tahu Ari mudah dipengaruhi olehnya dan Ari sangat tak suka dengan wanita yang tak jelas. Kali ini, ia sangat yakin seratus persen jika Sari akan out dari kehidupan Ari.


Ari ikut tersenyum saat Sera tersenyum, bukan senyum tulus ataupun senyum ramah. Tapi melainkan senyum licik dan jahat.


"To the point!! " lanjutnya.


Sera menganggukkan kepalanya,, "Sebenarnya Sari bukan...__ "


.......................


Sari berjalan loyo dengan menundukkan kepalanya menuju apratnya. Saat ia mengangkat kepalanya, ia mengernyit bingung.


'Kok pintu aprt nya kebuka. ' batin Sari.


Tak ambil pusing, ia melangkahkan kakinya ke dalam aprtnya. Haiss, ia lupa jika bukan ia saja yang tinggal di sini, mungkin saja Ari sudah pulang atau sedang dirumah lalu lupa menutup pintunya. Atau.........________


Tiba tiba Sari menegug Salivahnya kasar, ia menatap sekelilingnya dengan perasaan was was. Ia mengusap tengkuknya yang meremang karna merinding.


'Mungkin saja hantu. ' batinnya dengan kembali menelan kasar salivah nya.


'Mamas tuampan akgoh yang membahana dan melegendaris kan pawang hantu. Wkwkwk..." batin Sari saat otaknya mulai memunculkan tanda tanda ke erroran.


Namun langkah nya harus terhenti saat mendengar suara percakapan dari arah dapur mereka. Dengan rasa penasaran dan sedikit kegundahan Sari melangkahkan kakinya mendekati sumber suara tersebut.


Saat ia sudah ada di balik dinding pembatas, Sari mengintip ke dapur, "astatang!! Sera dan Kak Ari. Ngapain njirrr!! Wah, tiba tiba setan memenuhi dan berbisik busuk diotak mungil aku. " gumannya pelan sembari menggeleng tak percaya.


Sari menyudahi aksi mengintipnya, tapi ia masih enggan pergi dari sana.


"Syaiton yang tekutuk berbisik 'Sari, berdiamlah. Dan dengarkan pembicaraan mereka. ' Karna aku bukan pengikut ajaran sesat sang Syaiton yang bersemayam diotakku, maka aku Sari Yanti Wijaya yang bermarga Siregar akakn tetap disini dan menguping. Hahahaha.." diakhir kalimat Sari tertawa jahat dengan pelan, bahkan sangat pelan.


Haiss, Sari kumat pada waktu yang tak tepat.


"Sebenarnya Sari bukan adik kandungku. "


Seketika mata Sari membola saat mendengar perkataan Sera. Kesantaiannya tadi langsung lenyap dan tergantikan dengan perasaan was was serta ketakutan yang mendalam.


"Dia hanya anak pungut. Ia hanya beruntung ditemukan orangtuaku di selokan depan rumah kami saat ia masih bayi. " Sera melanjitkan perkataannya dengan suara yang menggema di ruangan itu.


Ari masih menatap datar kearah Sera. Sedangkan ditempat lain, Sari menegang dengan tubuh yang sudah bergetar.


"Dia anak pembawa sial, dia sudah merebut kasih sayang nenek, kakek, saudara saudara aku, bahkan orang tuaku. Fan sekarang bahkan ia sudah merebutmu dari ku. "


Sari yang mendengarnya tentu merasa sakit dan tak terima. Benarkah?! Benarkah Sari merebutnya? Ck, pada kenyataannya takdir memang tak adil dan semena mena dan itu yang dirasakan Sari sekarang.


"Dia itu adik aku dan aku menganggapnya adik. Aku menyayanginya tapi dulu, saat sebelum aku tahu jika ia hanyalah wanita licik dan kejam yang teganya merebut semua keluargaku dari ku. Bahkan ia dengan teganya merebutmu dariku, padahal ia tahu kalau aku sangat menyukai mu bahkan mencintaimu. Dan asal kamu tahu, ia tak pernah mencintaimu. Ia mau menikah denganmu agar ia bisa melihat lehancuranku, ia ingin balas dendam padaku melalui mu. "


Dalam hati, Sari geram serta marah saat tuduhan yang Sera memberika padanya dan memfitnahnya didepan suaminya sendiri. Tapi hatinya lebih dominan kecewa dan terluka, sebegitu bencinya Sera padanya sampai sampai Sera memfitnahnya.


Sari menghapus air matanya saat sebulir kristal bening itu jatuh. Ia hanya kecewa pada Sera, ia tak pernah melakukan hal yang Sera tuduhkan padanya.


Untuk perihal Sari bukanlah anak kandung, ia sudah mengetahui hal tersebut jauh jauh hari. Namun masalahnya ia tak pernah memberitahu kepada siapapun tentang perihal itu, bahkan kepada sahabatnya maupun pada suaminya. Dan sekarang ia takut tentang tanggapan Ari padanya sekarang.


"Aku tahu kau yang mengingin kan pernikahan ini dengan Sari bahkan kau yang mengirimkan kedua orang tua ku ke jepang dengan alasan sakit entah apalah, padahal waktu itu ayah sehat sehat saja. Kau menikahi Sari karna kau mengira dia cinta pertamamu, kan?! "


Jantung Sari semakin berdetak kencang saat ia mendengar Sera terdiam sejenak, seolah wanita itu sengaja terdiam.


"Tapi sayangnya dia bukan orang yang pernah menjadi cinta pertamu itu. Karna akulah orang yang menjadi cinta pertamamu. Kamu hanya salah mengira nya dan Sari memanfaatkan ketidak tahuanmu itu. Sari memang licik dan berbahaya, dan aku sebagai korban kelicikannya. "


Sari mengaga ditempatnya, tak peduli ia mengerti atau tidak tapi yang ia tangkap adalah Ari mengira ia adalah cinta pertama pria itu makanya Ari bersekukuh menikahinya. Dari depenisi Sari itu membuktikan jika Ari sangat mencintai cinta pertamanya tersebut sampai sampai merencanakan pernikahan diusia dini serta membuat skenario yang benar benar matang. Dan jika bukan Sari lah yang menjadi cinta pertama Ari, maka tak diragukan lagi jika Ari bisa mencampakkannya. Alasannya hanya satu, Sari menjadi istri Ari karna dikira cinta pertama oleh pria itu dan jika Sari bukan cinta pertamanya maka Ari akan melepasnya untuk bersama cinta pertama Ari yang ternyata adalah Sera.


Defenisi itu berasal dari otak Sari yang benar benar buntu dan sebagian dari bantuan Syaiton yang semakin meranja lela menabur bisikan busuk dikepalanya.


Sekarang Sari bukan merasa kecewa saja, ia juga sekarang merasa takut. Ia takut Ari benar benar akan melepasnya demi bersatu dengan Sera, sang cinta pertama pria itu.


"Aku tahu kamu kaget mendengar fakta tentang Sari. Tapi itulah kenyataannya. Aku juga tahu kamu seorang pria yang membenci ketidak jelasan serta ketidak sempurnaan. "


"Sari tidak jelas, orang tuanya sampai sekarang belum diketahui. Bisa saja kan ia berasal dari orang tua yang tidak baik baik. Dengan ketidak jelasan asal usulnya, jelas Sari bukanlah suatu hal yang sempurna. Dari fakta tersebut, kamu tidak ada alasan lagi untuk mempertahanlannya. "


Yah, benar saja! Ari tidak ada alasan lagi untuk mempertahankan Sari. Perkataan Sera benar, Sari tidak jelas, Sari tak sempurna dan tak pantas bersanding dengan Ari.


Sari bergegas dari sana, ia sudah yak sanggup lagi mendengar hinaan Sera dan tuduhan Sera padanya. Ia memilih meninggalkan apartnya, tenang saja!! Sari bukan berniat kabur dalam artian yang sebenarnya. Ia hanya lelah, ia butuh penennang. Dan mungkin dengan keluar dan menggelandang di malam ini, bisa membuat pikiran dan hatinya bekerja dengan normal.


Mungkin juga malam ini ia akan memutuskan apakah ia akan bertahan dengan Ari atau malah memilih mundur teratur, merelakan Ari untuk Sera. Yah, kalau dipikir pikir Ari memang lebih cocok dengan Sera.


T------------------------------------------Tekanan.


B------------------------------------Batin.


C-------------------------Cinta.


Vote vote vote!!!!!!!!!