
"*Itu ..ka..itu ..ya..yang buat onar si si Tika, Sari, Lisa dan teman sebarisnya kak." dan sudah kuduga, si Tina simulut sampah pasti buka suara. Dan suara yang ia keluarkan semuanya tidak lain adalah kebohongan, dasar. Itu anak minta dihajar kayaknya, awas aja*.
"Jangann fitnah dong, Situ juga ribut. Teriak - teriak kaya orang kesurupan " Balasku tak terima,urusan sama kak ari simuka datar nanti ajah yang penting sitina tina gak ngomong seenaknya,pake ngundang si fitnah lagi.
"Wuuuu..., sadar diri njirr. Yang menjerit ngundang setan tadi siapa kalau bukan lo." Alia salah satu teman sebarisku ikut menimpali, tak terima fitnahan dari Tina Mujulike.
"Ehhh emang benar kali. Lo dan kawan lo yang selalu ngerusuh dan memberontak di kelas ini." ini mulut apa tong sampah sik, kok semua yang keluar sampah busuk semua sik .
"Diam!! " Kali ini kak ari membentak kami.
Seketika kelas kembali hening.
Aduhh, bisa berabe nih urusannya di rumah nanti. Si Tina emang selalu suka buat masalah. Dan sekarang, kalian bisa baca seberapa resenya Tina dalam cerita aku.
Kak Ari kembali mengarahkan tatapan tajam nan menusuk ke arahku, sedangkan aku hanya bisa meneguk saliva ku kasar.
Kak Ari memalingkan wajahnya ke arah kak Aldi. Kak Aldi membuang napas kasar " kami datang kesini perwakilan dari osis ingin mengumumkan bahwa sekolah kita akan mengadakan perpisahan dengan kelas 12, tiga minggu lagi. Jadi untuk itu kepada setiap kelas agar mempersiapkan persembahan untuk acara perpisahan nanti boleh tarian, nanyian, drama, pidato, puisi. Initinya setiap kelas harus ada penampilannya. Untuk lebih jelas bisa ditanyakan ke ruang osis nanti pada jam istirahat, Sekian." di akhir kalimat kak Aldi membungkukkan badannya. Sopan juga ternyata kak Aldi, dari sikapnya kirain bocah.
"Cik, sok caperr! " ucapku pelan pada Tika, ia menganggukkan kepalanya dan menatap jijik ke arah Tina.
"Eh lo bilang apa tadi, gue tuh nanya bukan caper. Lo yang sok caper ya sok imut sok baik lah. Padahal kayak preman kampung." pedas dan nusuk kata kata si tuna tina coii. Tadi kukira dia gak degar eh tau - tau kupingnya punya indra keenam.
"Gak dengerrrrr gak dengerrr la..lala.lala.lala." Balasku tanpa menatap wajahnya sambil bersenandung. Soal kak Ari mah peduli setan.
"Yang di belakang kenapa ribut ? " teriak kak Renra meng intruksi. Aku memilih aman lah, baik diam. Tapi banyak berbuat.
"Oke untuk pertanyaan tadi, dance Juga boleh." Kata kak Ari dengan nada datar dengan mempertahankan gaya cool nya.
"Ouhh gitu ya kak. Maksih. " Kulihat Tina tersenyum, kecentilan tahu ngak. Aku memutar bola mataku malas. Genit banget yah jadi cewek, cih jijik aku dengernya. Dan hawa dikelas ini tiba tiba jadi gerah, sesuai dengan suasana hatiku yang panas membara.
"Memang berapa orang yang akan tampil ngedance di kelas ini ? Jika orangnya sudah ada biar sekalian didaftar aja sekarang " Tanya kak Renra ramah tak seperti temannya si suami tembok. Mungkin semangat kak Renra mulai meninggi untuk menyampaikan amanah alias imformasinya, amarah yang bersemanyam di raganya juga sudah mulai meredah.
Jan lupa like like, vote dan comennya yah😉
Salam LYSE👋👋👋