
*Aneh walau kebanyakan gantengnya*.
"Emang kamu sayang sama kak Ari?? " kak Ari menatap ku jail. Waduhh ini setan apa sik yang ngerasukin suami ku, kok makin aneh sik.
"I.i..i..iya lah. " Jawabku gagu bin gagab. Iyalah siapa juga yang gak sayang sama suami kayak kk Ari, walau cool alias dingin tapi perhatian nya itu loh bikin hati debar.
Sebenarnya seperti apapun kak Ari aku bakalan tetap sayang sama kak Ari. Mau dia tampan, jelek, marah marah, dingin, datar, lucu, perhatian aku bakalan tetap sayang sama kak Ari. Karna bagi kak Ari adalah tempatku, rumahku, segalanya bagi. Asal dia masih kak Ari ku, kupastikan hati hanya akan selalu menyebut nama nya.
"Sama dong. Malahan cinta. " aikkk. Makin aneh ini si kakang tapi trimakasih buat setan yang ngerasukin suamiku yang membuatnya aneh namun manis.
"Cintaa...?? " kataku sok tak paham. Padahal dalam hati yah, udah sorak sorak senang. Bahagia banget, pengen loncat loncat tapi jaga image lah.
kak Ari menggeser dudukannya mendekat kearahku. Jantung kumohon jangan memutar dj lagi, jujur aku gak kuat loh terlalu berdebarrr.
Kak Ari mengubah wajahnya menjadi serius, "iya. Aku mencintai istriku sebelum dia menjadi milikku, bisa dikatakan cinta dalam diam. " aku menatap wajah seriusnya. Ini serius kak Ari cinta sama aku dari dulu.
Ingatanku memutar kekejadian di kantin sebelum kami menikah, untuk membantu pembaca kalau gak salah part awal.
Milikku!! kata kata itu terus mengelilingi otakku macam tawab aja yah. Aikkkk kok gak fokus gini sik?? Dasar pemikiran konyol pengganggu suasana.
Kak ari melanjutkan kalimatnya yang sempat terhenti tadi, "dan kamu pasti tau siapa istri dari Aryansyah Wijaya, Sari Yanti Wijaya. " aku menganggukkan kepalaku lalu ku lirik sekitarku untuk mengurangi grogi ini.
Aku terus menahan bibirku untuk tidak tersenyum. Namun semuanya musnah saat...-------
Kriuukkkkkkkkkkk!
Spontan aku menoleh ke perutku.
Kriuuuuuukkkkk
Omg, dasar pikiran sama perut gak tahu kondisi. Tadi pikiran konyol yang tiba-tiba mau tawab sekarang perut yang mendadak berbunyi. Emang aku lagi lapar tapi selapar-laparnya aku belum pernah perutku berbunyi karna lapar baru kali ini itupun disaat yang tidak tepat dan tidak tau kondisi. Gagal sudah ku merasakan adegan romantisnya.
Lagian kan ini ceritanya aku lagi baper, kok malah laper sik. Ambyarrr!!
Ku tatap kak Ari dengan cengiranku, maluuu. Kak Ari mengulas senyumnya, ia mendekat kearah ku. Ia mencium keningku walau ini bukan yang pertama lagi tapi rasanya masih tetap sama, masih ada debaran hebat di hati ini yang berujung pada rasa nyaman dan hangat.
Ia mengelus rambutku gemas dan beranjak berdiri. "Ayo, makan. "
Dan untuk pembaca, maaf. Karna lagi lagi makan yang menjadi ending dan pemecah moment moment aku sama kak Ari
'Aku mencintaimu juga, kak. ' batinku.
....................
' Kringgggggggggggggg '
Suara kebahagian berbunyi melengking. Suara yang menandakan berakhirnya untuk mengisi otak dan saatnya untuk mengisi perut. Aku, Tika, Lisa, Fais dan Ali berjalan beriringan menuju kantin.
Sesampainya di kantin kami memilih duduk di tempat paling sudut.
"Ummm Sari. Lo pesen apa biar gue pesenin. "
Aku berpikir sebentar sebelum menjawab Tika, "pesen bakso pentol ajah. "
"Minumnya, jus jeruk ajah. " tambah ku.
"Oke. "
Setelah itu Tika pergi untuk memesan makanan.
Tidak lama menunggu Tika akhirnya datang juga dengan makanan yang dipesan nya. Uhhh, perutku sudah tidak sabar dan makanan datanglah pada ibumu ini nak!!
Kusambar langsung bakso pentolku. Ku kunyah perlahan. Ughhh, nikmatnyaa tiada tara. Baksonya kenyal tapi lembut daging manuk alias ayam nya berasa bumbu pelengkapnya uh nyami. Oh saos dan sambalnya membuatku pengeng lagi.
"Lebay amat buk makannya. " aku menoleh ke sumber suara, kuhentikan sejenak aksi makanku.
Aku hanya terkekeh menanggapi Fais. Memang pemuda satu ini senang sekali mengganggu ku jika ada kesempatan yang memperbolehkan.
Lisa memutar bolanya malas, "Ihh jijik, sok imut lu. "
Bukanya marah mendengar perkataan Lisa yang menahan jengkel aku malah terkekeh gelik. Apa dia cemburu pada ku ?
Senyum jailku terbit pertanda ide gila menghampiri otakku, "Aikkk si eneng cemburu kah? "
"Ciee, ada yang cemburu. " tambah Ali tertawa gelik yang mengundang aku dan Tika untuk tertawa juga.
"Cieeee, cemburu sama yang udah punya. " aku berhenti tertawa da menautkan alisku bingung dengan perkataan Tika.
Kutatap Tika dengan mimik wajah bertanya, "maksudnya? "
Bukanya menjawab Tika malah tertawa di dunianya sendiri, sumpah garing, "hahaha, gak ada yang ngerti kah? Hahaha."
Tika memegangi perutnya yang kram mungkin karna tertawa padahal gak ada yang lucu, "maksudku Lisa cemburu sama lo. " tunjuk Tika ke arahku. Ya emang Lisa emang cemburu pada ku trus apa hubungannya dengan yang punya? Aneh.
Aku masih menatap nya penuh kebingungan, "padalkan lo uda punya sua eh maksud ku pacar yang tampannya mengalahkan Fais. Yaa mana mungkin lo masih mau sama Fais. Hehehe.."
To be continued
Maaf atas segala typo yang hobbynya tebar pesona dan perusak konsentrasi membaca.
See you para pembaca di part lainnya.