
Happy reading😉😇
"Ala mak! Kak Ari!! " pekik Sari dengan membelalak.
Aminah dan Aris saling bersitatap kemudian mereka secara bersamaan menatap ke arah Sari dengan raud wajah bingung.
"Kak Ari? Siapa tuh? " Aris menatap Sari dengan dahi mengerut.
Sari menoleh pada Aris kemudian ia mengerjap beberapa kali, "hah? " ucap nya yang bingung untyk mengatakan apa.
"Itu Kak Ari... - "
Sari spontan terhenti berbicara saat bel rumah berbunyi.
"Biar aku yang buka. " ucap Aris kemudian pergi untuk membukakan pintu.
Tak lama Aris datang dengan seorang wanita yang sudah terlihat tua. Sari menatap wanita tersebut dengan menganalisa. Sedangkan Aminah yang melihat kedatangan wanita tersebut hanya tersenyum canggung.
"Jadi benar kalau putri mu sudah ketemu? " ucap wanita tua tersebut tanpa basa basi.
"Iya buk. Ibu silahkan duduk, ibu mau ikut sarapan? " Amina berujar sopan.
Wanita itu meninghikan dagunya sembari menatap Aminah angkuh, "humm. Trus putri kamu yang udah ketemu itu sekarang dimana?
"Ekhm, hai eyang! " sapa Sari memberanikan diri setelah ia dilirik oleh sang ibu.
Wanita tua itu menaikkan alis nya, "kamu? Kamu putri nya Aminah yang hilang itu? "
Sari menganggukan kepala sembari tersenyum manis.
"Cantik juga. Baiklah, aku pergi. Nanti malam aku datang lagi. " wanita tersebut berdiri kemudian ia pergi dengan di antar oleh Aris.
Sari langsung menoleh pada sang ibu, "Mah, nenek nenek tadi siapa? Wajahnya antagonis amat sik! "
Aminah tersenyum gelik, merasa lucu dengan ekspresi Sari saat mengatakan mertuanya tersebut berwajah antagonis.
"Dia nenek kamu dari mendiang Ayah kamu, Sar. "
Sari membelalak terkejut, "yang mau jual aku?! "
Aminah tersenyum kakuh sembari menganggukan kepalanya.
Sari menatap ibunya tak percaya, "trus Mama kok masih baikin dia?! Eh, tapi kok dia bisa di jakarta juga. Bukannya dia di gunung tua? "
"Kita harus saling memaafkan, Sar. Lagian nenek kamu udah minta maaf sama Mama. Trus dia juga bantu nyari kamu. " jelas Aminah dengan bijak.
Sari memicingkan matanya, "trus si nenek bisa disinj juga itu karna apa? "
"Uda kamu tinggal disini jadi nenek kamu ngikut juga. Katanya buat cari kamu, tapi mama bgak tahu pasti. "
Sari mengeryit bingung, "uda? "
"Iya, paman. Dasar, itu saja kamu ngak tahu!! "
Sari melayangkan cengirannya, "hehehe.. aku pikir uda itu abang. Hehehe.. "
"Itu kalau di padang, Sar! Kita kan daerah Paluta, bukan padang. Jadi uda itu sama dengan paman. " jelas Aminah.
Sari menganggukkan kepalanya, maklum Sari kelamaan di pulau orang. Jadi ia lupa sama bahasa daerah sendiri.
...........
Ari mengacak rambut nya frustasi, ia benar benar kehilangan akal karna sampai saat ini istrinya belum pulang.
Ari sudah mencari dan menghubungi Sari, tapi sampai saat ini Sari belum ada kabar. Meski Sari menghilang satu hari, tetap saja Ari cemas dan hampir gila dibuat nya.
"Kok bisa sih mantu mama hilang? " tanya Karin sembari menatap sang putra marah.
Ari bersecak, "mana aku tahu. " kesal nya entah pada siapa.
"Kamu suaminya loh Ar!! " ucap Karin geram.
Ari menghela nafas, kemudian ia menatap sang ibu lelah,, "aku benar benar tidak tahu mah. "
Karin memegang keningnya yang terasa nyut nyutan, "kamu sama Sari berantam kan? "
Ari langsung menoleh pada sang ibu, ia menatap ragu sang ibu kemudian ia menganggukkan kepalanya.
Karin langsung berkacak pinggang sembari menatap Ari tak percaya, "astagfirullah, nak!!! Kamu tahu kan kalau istri kamu itu lagi hamil!! "
Ari menghela nafas frustasi, "aku khilaf! " ucap nya ketus.
Karin menatap Ari tajam, "kalau mantu mama kenapa napa, awas aja kamu!! Dan satu lagi, besok Sari harus sudah pulang. "
"Humm, Ari usahain Mah. " ucap Ari lemah.
"Kita pulang, pah! " Karin kemudian menarik suaminya serta meninggalkan rumah putranya tersebut.
Ari menatap kepergian orang tuanya dengan senduh. Ia lagi lagi menghela nafas, "kau dimana, Sar!! " gumannya lirih.
.......................
"Sari sudah ketemu ngak Ar? " tanya Anni yang baru sampai dirumah putri dan menantunya.
Ari menggeleng kepalanya lesuh, "belum! "
"Astaga!! Kalau Sari kenapa napa gimana? Sari kan tengah hamil! " panik Anni dengan menatap suaminya Baim dengan mata yang sudah berair.
Baim merangkul sang istri, "tenang mah. Percala saja, Sari kita akan baik baik saja. "
Sera menatap orang tuanya serta Ari bergantiaan, "ini semua salah aku. " ucap nya lirih.
Ari langsung menoleh pada Sera, namun ia tak mengatakan apapun.
"Sari pasti salah paham sama aku kan Ar?! "
Ari tak menanggapi, ia hanya diam sambil termenung.
Ahmad merangkul sang istri, ia sekarang paham alasan Sari tiba tiba menghilang. Ia sangat yakin jika insiden di pesta resepsi nya tersebut lah yang menjadi penyebab nya.
"Maaf Ar. Karna hal itu kau dan Sari jadi bertengkar. Sungguh saat itu aku dan hanya ingin menghibur diri. Kau tahu lah bagaimana sakitnya' melihat pasangan kita asik dengan orang lain sedangkan kita malah tak dianggap. " ucap Ahmad tak sepenuhnya merasa menjadi penyebab hilangnya Sari. Ia juga sengaja menekan kata 'sakitnya' untuk meperingati Ari.
"Sudah! Kalian jangan saling menyalahkan diri begini. Sekarang yang perlu kita lakukan adalah mencari Sari. " ucap Baim dengan tegas.
Baik Ari maun yang lainnya menganggukkan kepala mereka.
"Ari, kamu sudah perna hubungi Sari? " tanya Anni yang masih terlihat cemas.
"Hp nya tertinggal disini mah. " Ari berkata dengan nada lesuh. Hal yang membuat nya kesulitan untuk mencari istrinya adalah salah satunya karna faktor tersebut.
"Baiklah, kita cari cara lain. " tutur Baim~ juga terlihat panik.
Lagi lagi mereka kembali menganggukkan kepala.
.................
"Jadi kamu sama putri kamu ini bertemu dimana? " tanya Maryam, nenek Sari tersebut.
Sesuai perkataannya, jika Maryam akan datang lagi kerumah Aminah setelah malam. Dan sekarang Maryam serta putra nya Rijal serta istri dan anak dari putranya tersebut sudah disana.
"Kami bertemu saat aku pulang dari minimarket didekat komplek perumahan, Bu. " jawab Aminah.
"Nama kamu Sari yah? " tanya Maryam pada Sari. Sedangkan Sari hanya menganggukkan kepala seraya tersenyum canggung.
"Orang tua angkat kamu dari keluarga kalangan apa, atas, menengah atau rendah? " Maryam menatap Sari angkuh.
Sari lagi lagi tersenyum canggung, andai saja Maryam bukan wanita yang telah melahirkan ayahanya mungkin Sari sudah meledakkan bom panci tepat di wajah songong Maryam.
"Intinya orang tua angkat aku baik, Eyang. " ucap Sari sesopan mungkin.
Maryam menaikkan alisnya, dapat ia simpulkan jika keluarga yang membesarkan cucunya yang hilang tersebut adalah orang dari kalangan menengah ke bawah.
"Baik, tidak masalah. Yang penting sekarang kamu sudah ketemu. "
Sari hanya menganggukkan kepalanya.
"Mohon maaf, bu. Kalau boleh tahu selain untuk melihat Sari, ibu kesini untuk apa? " tanya Aminah baik baik dengan nada sopan.
Maryam langsung memukul meja, lalu menatap Aminah marah, "bilang saja kalau kamu tidak suka kalau saya disini. " galaknya.
Sari mengelus dada karna kaget, beda dengan Aris yang terlihat biasa saja. Sedangkan Aminah hanya bisa tersenyum pahit.
"Jangan karna sekarang kamh kaya kamu sombong sama saya. Ingat yah! Kesuksesan kalian ini berkat doa saya. " Maryam berkata dengan nada galak dan penuh peringatan.
Sari yang mendengarnya menatap Maryam sinis, "apaan?!! Nih nenek nenek pedean banget! " pikirnya.
"Maaf, bu. Bukan maksud saya begitu, maaf bu. " ucap Aminah merasa bersalah.
'Ini lagi Mama, bukannya di tumbuk malah minta maaf. '
Sari menatap ibunya malas lalu menatap sekitarnya dengan malas juga. Ia kemudian melirim jam yang menggantung di dinding, ia sedikit tergelonjak karna jam menunjukkan pukul 11 malam.
Astaga!! Padahal kalau di rumah nya dan Ari, mungkin sekarang ia sudah tidur nyenyak dalam pelukan hangat sang suami. Ahh, Sari jadi rindu dengan Ari.
"Humm,, baik. Saya datang kesini memang bukan sekedar untuk melihat Sari, tapi juga berniat menjodohkannya dengan anak Budi, pengusaha kaya itu. " ucap Maryam membuat rasa kantuk Sari langsung menghilang.
Sari membelalak sembari menatap Maryam protes, "ngak bisa gitu nek! " ucapnya sengan menggati panggilannya pada Maryam.
Maryam langsung menatap Sari tajam, "apa? Kamu ngak suka?! "
"Iya lah, siapa sih yang suka dijodohin!! " kesal Sari~ tak peduli lagi jika semua orang disekelilingnya adalah hl baru untuk nya.
"Ini demi kebaikan kamu! "
"Aku dalam ke adaan baik baik, jadi istilah demi kebaikan kamu' ngak berlaku. " elak Sari dengan berkata ketus.
"Jaga sopan santun kamu!! Kamu ini masih baru disini jadi ngak usah sok soan melawan. " bentak Maryam.
Sari mulai tersulut, "emangnya kalau aku ini masih baru mengenal kalian, jadi kalian bisa seenaknya memperlakukan aku, gitu?! "
"Hei!!! "
"Heii!! "
Ucap Sari dan Maryam sembari mengangkat telunjuk masing masing.
Aminah langsung menarik Sari dan menenangkannya, "istigfar, anak ku! " peringatnya.
Sari melunak, ia mengucap istigfar kemudian menghela nafas untuk mengatur emosinya.
Sedangkan Maryam masih menatap Sari nyalang, "saya tidak peduli kamu menolak atau tidak, yang penting perjodohanmu dengan anak pak Budi akan tetap terlaksana. "
Maryam berdiri, "saya pamit!! " ucap nya tak bersahabat kemudian melenggang pergi dari sana. Rijal serta anak dan istrinya ikut melenggang pergi.
Sedangkan Sari menatap kesal pada wanita tua tersebut, "uda tua juga!! Bukannya memperbanyak zikir ini malah menabung dosa. Aku doain mati tahu rasa lu nek. " gumannya kesal.
"Astagfirullah, Sar. Mulut kamu mau Mama cabein, hah?! " peringat Aminah dengan menatap putrinya galak.
Sedangkan Aris hanya terkekeh sembari menatap ibu dan adik nya tersebut, "Sar, kalau mau doain nenek tadi mati,, jangan lupa ajak aku yah. Biar kita doainnya secara berjamaah. "
"Aris!! " peringat Aminah pada putranya, sedangkan Aris dan Sari malah ber tos ria.
"Mah, aku ngak mau dijodohin! " pekik Sari tiba tiba dengan mata yang sudah memerah.
"Iya mama tahu. Nanti mama bicarain baik baik dengan nenek kamu. " Aminah merangkul putrinya.
"Elleh, manusia bau tanah begitu jugul (keras kepala) nya minta ampun mah. " Aris berkata santai.
Aminah langsung menghadiahi putra nya tersebut dengan pukulan, "diam dan jangan asal bicara. Dia nenek kamu! " galak nya.
"Nenek apaan, mau jual cucuk sendiri! "
"Aris!! " peringat Aminah membuat Aris memilih diam saja.
Sari menggoyang lengan Aminah, "pokoknya aku ngak mau di jodohin! Lagian aku udah nikah, Mah. " pekik nya lagi.
"Apa!! "
___________vote like coment____________