Ice Senior Is My Husband

Ice Senior Is My Husband
44



Aryansyah pov


   Keputusan ku untuk sekolah di london, benar benar aku sesali. Ck, apalagi setiap detik, jam dan hari aku selalu di hantui oleh rasa rindu yang membara pada gadis itu, Sari.


Selama aku disini, yah dengan brengseknya aku ngak pernah hubungin atau kabarin Sari. Ego? Yah, ego ku tinggi. Padahal tangan ini selalu gatal untuk mencari kontak Sari tapi setelah ketemu dan tinggal telpon doang, aku ngak bisa. Lagi lagi ego ku ngalangin.


Ck, remaja labil banget yah aku. Sudah masuk universitas juga, masih aja kayak abg ngak jelas. Tambah lagi dengan status seorang suami, tapi semuanya ngak berguna. Semuanya ngak bisa buat aku matahin ego sendiri, semuanya ngak bisa buat aku lebih dewasa.


"Istri kamu berantem disekolah. "


Aku mendongak, kemudian menatap Mama dengan datar. Songong? Ya, aku emang songong, pantes banget buat jadi kayu api neraka. Apalagi kalau bukan karna durhaka sama orang tua dan nelantarin istri sendiri. **** emang!!


"Dia jambak jambakan. " Mami menata ku sinis.


Aku hanya mengacungkan bahu ku tak peduli. Pura pura doang, aslinya aku khawatir. Bagaimana pun juga Sari itu istri sekaligus cinta ku, jadi jelas aku khawatir. Hanya saja tampang datar yang selalu Sari ejek ejek dulu bisa menyembunyikan raut ke khawatiran ku.


Aku, Mami dan Papi sekarang tengah berada dirumah kami yang ada di London. Kita sedang nunggu kedatangan mertua sama kakak ipar , yah siapa lagi kalau bukan Sera. Cewek yang memuakkan sekali bagi ku. Rencana nya kami akan makan malam.


Ck, aku makan malam disini dan dikelilingi oleh keluarga. Sedangkan istri ku makan~ aku pastiin sendiri. Huh, kenapa jugu aku harus mikirin dia?! Cik, tak berpaedah.


Aku menoleh ke arah Mami, gue lihat dia sedang berbicara lagi di telpon dengan seseorang. Kulihat ekspresinya berubah ubah, mulai dari cemas, kesal, takut sampei kaget. Ku tebak, itu masalah Sari lagi.


Mami menutup telponnya lalu langsung menatap ku tajam. Dan lagi lagi aku akan disalahkan karna kelakuan Sari yang nakal, " Sari panggilan orang tua. Dan itu karna kamu!! "


See, aku yang disalahin bro. Tapi emang salah ku, lari dari tanggung jawab. Sari tanggung jawabku dan kenakalannya juga berarti tanggung jawab ku. Aku emang ngak becus jagain dia. Tapi tenang!! Sampai mati pun aku ngak bakalan lepasin Sari. Dia milik ku, dan selamanya akan begitu.


"Ck. " aku berdecak melihat raut matah Mami yang masih ia tunjukkan ke arah ku.


Aku selalu berusaha agar terlihat tidak peduli lagi dengan Sari. Dan sialnya Mami selalu nangkap raut kekhawatiran itu, untung gue selalu bisa ngelak. Ck, itulah ngak beruntungnya jadi anak Mami, ngak bisa boong sama Mami.


"Kamu ngak usah sok ngak peduli, yah. Mami nikahin Sari sama lelaki lain baru tahu rasa kamu. "


Aku langsung membelalak kemudian menatap mami protes. Enak ajah!! Sari hanya milik Ari, ngak ada pria lain. "Mami jangan ikut campur. " ketusku.


Jika mami ngebahas Sari lagi, bisa bisa aku akan jadi malingkundang kedua yang di kutuk jadi batu karna durhaka. Aku mengacak rambut frustasi, bisa gila aku jika Sari nikah sama pria lain. Ahhh, ngak bakalan aku biarin.


"Stress?! Rasain!! " balik mami yang berkata ketus dan sarkastik saat mami ngeliat aku mengacak rambut~ frustasi.


Tak lama keluarga mertua ku datang, setalah mami cipa cipiki ala emak emak yang ngak kalah heboh dari cewek remaja,, akhirnya kami melaksanakan makan malam kami.


Sedari tadi aku hanya diam menikmati makan malam sembari mendengar coleteh orang tua ssengan mertua ku. Sera? Aku kacangin lah. Malas ajah nanggapin dia, cerinya banyak dan semua cerinya ngak berpaedah.


"Sari panggil orang tua? "


Aku manatap Mama Anni, mertua ku. Cuma penasaran ajah dengan ekspresinya, beneran sayang ngak sama istri ku atau cuma rekayasa doang. Tapi sepertinya mama mertua sayang beneran pada Sari, terlihat dari ekspresi khawatir khas seorang ibu.


"Telpon dong! " bujuk Mama Anni kapada Mami cantik. Huh, panggilan Sari buat Mami. Ah, lagi lagi aku ke inget sama tuh bocah.


Kulihat Mami menganggukkak kepalanya dan langsung menelpon Sari. Pertanyaannya, kenapa mama Anni ajah yang nelpon? Iya kan?! Jawabannya simpel, Sera putri tersanyang mereka.


"Halo, Assalamualaikum, Ma...-" mungkin Mami sengaja menspikernya, biar bisa didengar oleh ku dan yang lainnya. Bagus!! Setidaknya mendengar suaranya bisa meredah rasa rindu ini.


"Huaaaaaaaaa....., ". " Aaaaaaaaaaa. "


Seketika wajah ku berubah panik saat mendengar teriakan Sari. Mami dan yang lainnya juga terlihat panik, minus Sera.


"Sari, kamu kenapa? " ucap Mami panik namun tak ada sahutan dari sana.


"Halo, Sar. "


Aku mengepalkan tangan ku, sekarang khawatir dan panik menyelimuti diri ini.


"A...it. "


"Ap' a?! Lo u .......nyet. .......tadi teriak teriak?! "


"...ca!! Wajah ........... serem ...u! "


"Hehehee sori gess. Oh, ...............................setengah bidadari gue. Tapi itu.....sih .......engah, ......................................... yang sebenarnya. "


"Capcus, Sar. ......... masuk! "


"Hueh, ............................................ lagi?! "


Ck, suaranya benar benar tidak jelas. Sebenarnya Sariku kenapa?! Dia lagi sedang apa?! Ck, aku sungguh khawatir tapi ngak bisa berbuat apa apa. Aku benar benar terlihat seperti pecundang yang brengsek.


Beberapa menit setelah suaranya yang gak jelas. Suara Sari kembali terdengar.


"Ha..halo Mami!! "


Dan kembali mendengar suaranya yang jelas, membuatku seketika merasa legah.


"Astaga!! Kamu ngak papa kan?! Mami tadi dengar kamu teriak habis itu suara kamu ngak jelas lagi. " Mami berujar panik, kemudian Mami menatap ke arah aku dengan mendelik.


Aku mengabaikan ekspresi Mami dengan pura pura fokus pada makananku.


"Maaf Mah, Sari ngak maksud buat Mami panik. Itu tadi Sari teriak cuma karna kaget ajah. Umm, Sari baik baik ajah Mih. "


Tanpa sadar aku tersenyum, ah, suaranya benar benar indah ditelingaku.


"Syukurlah! " lagi lagi Mami melirik ke arahku. Ck, entah apa maksud mami.


"Sari!! " bentak Mami.  "Kamu kenapa bisa panghil orang tua, hmm?! "  lanjut Mami lagi, kali ini dengan nada mengomeli.


Padahal aku juga pengen marahin itu bocah. Tapi lagi lagi ego ku yang tinggi menggagalkan semuanya.


"Itu..itu Mih. Umm..gara gara aku yang jambak jambakan itu Mih. "


"Oalahh,, kenapa tadi kamu ngak kasih tahu?! Mami kira kamu ada masalah lain selain jambak jambakan di sekolah. "


Aku menatap kedua orang tua Sari sebentar, alasannya seperti tadi. Aku mau lihat ekspresi mereka gimana?! Dan hasilnya ngak mengecewakan, mereka terlihat mencemaskan Sari.


"Trus kamu gimana?! Mami Karin sama Papi Alan kan masih di London. Mami Anni sama Papi Baim juga ada disini. Trus Sari besok panggilannya sama siapa? "


"Tenang ajah Mih. Sari ada saran dari teman kok buat ngatasin panggilan itu. "


"Saran dari teman?! Saran apa toh, jangan yang aneh aneh yah! " 


"Katanya besok aku suruh ajah tukang ojek buat jadi orang tua eh maksudnya wali aku untuk panggilan nya Mih. Trus aku cuma buat skenario kalau tukang ojek nya itu paman atau keluarga dari desa yang jagain aku disini selama Mami sama Papi ada di luar negri. "


"Ya tuhan!! Teman kamu kasih ajaran sesat itu Sar. "  mami terkekeh sebentar kemudian melanjutkan pembicaraannya, "Kamu mau bicara ngak sama Mama atau Papa kamu. Mumpung mereka lagi disini. "


"Mama sama Papa lagi ngumpul sama Mami?! "


"Iya sayang. Mama sama Papa kamu ada disini, kita lagi ngumpul makan malem bareng. Ari sama Sera juga ada disini, atau kamu mau ngomong sama Ari. "


Aku langsung menatap Mami dengan datar. Sedangkan Mami malah tersenyum mengolok ke arahku


'Uhuk' uhuk' .


Shit! Sari batuk. Ck, jangan jangan dia sekarang sedang demam. Yah, kemungkinan! Apalagi sedari tadi aku dengar suaranya juga kurang vit. Aku kembali mengepalkan tangan, lagi lagi aku ngak bisa berbuat apa apa. Pengecut Sekali!!


"Kamu kenapa?! Kamu batuk karna demam?! "


"Ngak Mah. Sari batuk cuma karna itu..nyamuk masuk kemulut Sari. Tapi tenang, nyamuknya udah Sari telan kok Mih. Dan Sari pastiin nyamuknya udah mati, kebakar di lambung. "


Alibi.


Cih, gadis itu selalu menggunakan alibi yang konyol. Tapi syukurlah Sari ngak beneran sakit.


Mami, Papi serta mertuaku terkekeh, minus aku dan Sera. Tapi dalam hati gue terkekeh, Sari sungguh menggemaskan dan lucu. Ah, aku jadi semakin merindukannya.


"Kamu ada ada ajah. Eh, tapi kamu mau ngomong ngak nih sama Mama, Papa, Papi, Ari atau Sera. "


"Enggak deh. Eh iya aku solat asar dulu sama Lisa. By by Mami, Assalamualaikum. "


Gue betdecak marah, gadis itu ingin menghindar. Aku mengepalkan tangan menahan emosi yang seakan membakar seluruh tubuh.


Aku langsung beranjak dari sana, mungkin tanpa sadar sebelum pergi gue menghentakkan sendok yang gue pake dengan keras ke piring. Mungkin piringnya sudah pecah, but i dont care!!


"Sial. " umpatku setelah sampai ke kamar.


""""


oke, guys. Jan lupa like, vote, dan komen yahhh!!😁