
**Selamat membaca😉
Author POV**
Sari sudah menajamkan pendengarannya, supaya saat Ari menjawab pertanyaannya ia tidak melewatkan satu kata pun. Ari sudah menjanjikan padanya akan menjelaskan masalah nya dengan Sera beberapa hari lalu. Dan sekarang Sari sedang menagihnya.
"Baiklah,, jadi kau memdengar hampir semua yang kami bicarakan semalam? "
Sari hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Ari.
Lalu sari kembali menggelengkan kepalanya, "mungkin setengah, heheheh. "
"Ck, kau hanya mendengar setengah tapi sudah membuat keputusan sendiri dan menciftakan imajinasi sinting diotakmu. " galak.Ari dengan menatap Sari sambil bersedekap dan menampilkan wajah datarnya.
Yah, Ari sedikit tersulut emosi pada istri cantiknya ini yang mudah termakan omongan dan imajinasi tingkat tinggi dalam keburukan, dan dalang dari kebodohan Sari serta penghasut Sari siapa lagi kalau bukan Syaiton laknat yang bersemanyam serta rebahan cantik dalam otak Sari. Dan yang paling membuat Ari emosi adalah tingkah Sari yang kabur dari rumah dan berkeliaran dijalanan. Jika Sarinya kenapa napa, bagaimana?! Ari hanya mengkhawatirkan nya saat itu, ia bahkan tak samapai berpikir jika Sari sudah pulang dan mendengar pembicaraannya dengan Sera.
Sari menggaruk tengkuknya yangvtak gatal saat melihat ekspresi Ari yang errr....menakutkan.
"Kamu punya cinta pertama? " tanya Ari tiba tiba tanpa menatap istrinya dengan suara datarnya.
"Kakak. " Spontan Sari karna memang itu lah jawabannya. Dan saat Ari menanyakannya, Sari spontan berkata demikian karna hanya nama iti saja yang selalu mengentayanginya baik di otak maupun di hatinya.
Mendengar 0erkataan Sari tersebut membuat emosi Ari menyusut dan terganti dengan wajah yang kembali seperti sedia kala dengan raud bibir yang sedikit melengkung.
"Itu berarti kita sama. " singkat Ari.
"Hah? Tapi__"
Ari langsung mememotong kalimat Sari, "kenapa kamu percaya saja dengan omongan Sera? Memangnya Sera dukun atau cenayang yang tahu segalanya bahkan isi hati seseorang, hah. " kesal Ari dengan mengalihkan kembali wajahnya kedepan dan pura pura pokus pada film didepannya yang---------kebetulan iklan sprite, nyatanya nyegerin!!!
"Eh...."
Sari menatap Ari yang terlihat fokus ke tv, ia berdecak dan memukul mukul kepalanya pelan. Iya yah,, kenapa juga Sari harus termakan omongan Sera. Padahal ua udah tahu jelas jika Sera hanya inhin memisahkannya sengan sang suami.
Ck, kehidupannya memang sangat persis seperti sinetron. Ia mendengar sebagian dari hasil pembicaraan seseorang lalu memutuskan pergi dari sana karna merasa sudah tidak tahan dengan air mata yang terus menerus turun deras dan memutuskan sendiri dan tidak ingin mendengar penjelasan dari siapapun, bedanya Sari masih percaya dan butuh penjelasan pada suaminya.
Tapi intinya,, Sari sungguh sungguh sok dramatis. Para Readers tersayang, tampol Sari ajah yuk!!
"Te..terus kak? " Sari menatap Ari dengan mata mengerjab sebentar.
Ari mengangkat alisnya, lalu menghela napas sebelum menjelaskan semua pada istri imutz nya ini.
"Sebenarnya Sera Salah. Bukan dia cinta pertamaku, tapi mungkin tingkat kepedeannya yang overdosis yang membuatnya beranggapan demi kian. "
Sari mengedip edipkan matanya tak paham. Malahan ia gagal fokus dengan bibir Ari yang komat kamit.
'Seksi. ' batinnya.
"Dengar! " Ari sedikit meninggikan suaranya. Pasalnya istrinya sudah bengong hampir satu dua menit.
"Eh, lanjut kak. Sari mendengarkan. Hehehe..." diakhir kalimat Sari cengengesan.
Ari berdecak kemudian menceritakannya.
Flashback
*Sebuah mobil memasuki pekarangan rumah yang terlihat sederhana. Setelah mobil itu parkir dan berhenti, sepasang suami istri keluar dari sana.
Terlihat didalam mobil masih ada anak laki laki yang enggan turun dari mobil. Ia menatap malas sang ibu yang memaksanya untuk turun. Dan dengan derakan malas dan sentoloyo anak laki laki itu turun dari sana.
Anak lelaki berusia sekitar delapan tahun itu menoleh dan menatap seorang anak perempuan yang duduk diteras sambil menikmati buah rambutannya.
Anak perempuan tersebut terlihat anggun dan feminim serta cantik. Namun itu tak bisa membuat anak lelaki itu untuk betah dan berlama untuk menatap gadis kecil yang anggun itu.
Anak Lelaki itu bernama Ari, ia berdecak malas saat melihat sang anak perempuan cantik itu datang menghampirinya.
"Halo Om dan Tante. " sapa gadis kecil itu kemudian beralih ke arah Ari. Namun dengan cepat Ari membuang muka dan tak sengaja melihat gadis kecil lainnya.
"Mama kamu ada?! " ibu Ari bertanya.
"Iya, selrla panggil yah. " ucap gadis itu dengan nada cadel nya. Kemudian gadis kecil bernama Sera itu masuk untuk memanggil ibunya.
Ari menatap gadis kecil itu jijik saat sang gadis kecil membuka kulit ramvutan dengan mulutnya. Bukan larna gadis itu membuka kulit ramvutan dengan mulutnya tapi karna tangan gadis itu yang kotor terkena lumpur.
Gadis kecil itu tiba tiba menoleh pada Ari. Ia menatap Adi dengan dahi ekspresi konyol namun tak lama tangannya terulur dan menyodorkan rambutan dari tangannya yang terkena lumpur dan juga rambutan yang merupakan bekas gigitannya.
"Mau? "
Meski tak memdengarkan perkataan gadis kecil itu karna jarak mereka yang sedikit berjauhan, tapi Ari tahu jika gadis itu menawarkan rambutan bekas gigitannya itu pada Ari.
Ari menatap horor gadis kecil itu. Ia dengan cepat menggelengkan kepalanya kemudian menatap jijik pada gadis itu.
Bukannya tersinggung gadis kecil itu malah terlihat tertawa, kemudian memakan rambutan yang ia tawarkan tadi lalu melempar bijinya ke arah Ari.
Ari shock saat biji rambutan tersebut mendarat di rambutnya yang cetar itu. Ia mengambil biji tersebut dan cepat cepat membuangnya, takut saja air liur gadis itu masih menempel disana.
"Karin. "
Ari langsung menoleh kedepan saat mendengar seseorang memanggil ibunya. Ia bisa melihat jika ibunya sedang berpelukan dengan seorang wanita yang terlihat sebaya dengan ibunya. Sedangkan ayahnya bersalaman dengan seorang pria yang terlihat sebayah dengan ayahnya juga.
"Silahkan masuk, jeng Karin. "
Ari bisa melihat mereka semua masuk tapi beda dengannya yang masih terdiam ditempatnya. Karna ia masih penasaran dengan gadis kecil yang jorok itu.
Disana, Ari bisa melihat gadis itu sedang bermain kapal kapalan dari kulit rambutan dan juga daunan kering.
"Loh Ar, Ayo masuk! " ajak sang ibu.
Ari meboleh sebentar pada sang ibu kemydian menatap gadis yang masih asyik bermain genangan air tersebut. Ibunya Ari bahkan wanita temannya ibunya juga ikut menoleh ke arah gadis itu.
"Astaga!! Sari!! " pekik wanita teman ibunya Ari tersebut.
'Namanya Sari. ' batin Ari kecil.
"Iya mah. " gadis itu menghampiri mereka.
"Duh sayang,, kamu kenapa main lumpur?! Kan jorok!! "
Ah, ternyata wanita itu adalah ibu dari gadis kecil jorok itu.
"Tapi asyik mah. " gadis itu terseyum lebar membuat gigi nya yang kecil itu terlihat.
"Ck, ck, ck, sekarang kamu mandi yahh. " pinta ibu dari gadis jorok tersebut dan sang gadis jorok itu hanya menganggukkan kepalanya kemudian berlalu dari sana.
Dan setelah itu Ari tak pernah melihatnya lagi sampai mereka pulang.
Setelah pulang dari sana Ari bahkan masih memikirkan gadis kecil yang jorok itu. Dan tepat di ulang tahunnya yang ke sembilan tahun ia meminta orangtuanya untuk membirakannya kado berupa foto foto gadis kecil yang jorok tersebut serta meminta orangtuanya untuk menjadikan Sari pengantinnya suatu saat nanti.
Saat itu Ari berpikir lambat laun rasa tertariknya akan pudar pada Sari kecil. Dan hal itu memang benar, semakin hari bertambah dan semakin usianya beranjak semakin ia melupakan tentang Sari juga. Hingga ulang tahunnya yang ke 17 tahun tiba tiba ia meminta orangtuanya agar Sari sekolah di SMA milik Ari. Tujuannya agar Ari bisa bertemu dengan Sari yang remaja dan agar perasaannya pada gadis itu tak hilang.
Dan benar saja, saat melihat Sari yang sudah besar dan remaja ketertarukan Ari pada gadis itu kembali dan malah semakin bertambah*.
Flashback on
"Dan setelah kamu sekolah di sana, aku slalu mendesak mama dan papa untuk segera menikah denganmu. Tentu saja aku sudah tahu semua tentangmu termasuk statusmu di keluarga Siregar. Karna Aku selalu mengawasimu dari jauh Dan mencari tau semua tentangmu. " jelas Ari panjang lebar.
Sari menganga mendengarnya. What?? Ari sudah tahu? bahkan semua tentangnya?benarkah?! Tapi jika benar, maka Ari benar benar gilakkkk!
Jadi acara nangis Sari waktu itu sia sia saja dong?! Hellouu,, OMG!!!bodohhh kali kau Sar!!!
Sari menatap Ari dengan perasaan yang sangat bersalah karna tindakan bodohnya saat itu, "maaf kak. Karna sempat salah paham sama kakak dan lari membuat kakak khawatir. "
"Hum, baiklah. " Arii menarik istrinya dalam dekapannya lalu mengelus sayang kepalanya.
Andai Ari menjelaskannya cepat, maka kesalah pahaman Sari padanya tak akan pernah ada.
Jadi, disini Ari juga salah.
.........
Kambek lagi nihhh. Jan lupa like dan vote yahh. Kolom komentar juga jangan lupa diramaikan duhai para kakanda dan adinda😂😂😂.