
Author pov.
"Kak."
"Humm."
"Kita mau kerumah Uma, yah? "
Ari menatap sari dengan senyuman, "iya."
"Wuu, uma sama Papa emang udah sampe ya, kak? "
Ari terkekeh mendengar istrinya yang menanyakan soal kepulangan orang tuanya, padahal dari mereka berangkat Sari sudah tau bahwa mereka akan pergi menemui orangtuanya tapi masih aja tetap bertanya dan aneh nya pertanyaan yang ia lontarkan hanya itu itu saja, untung abang sabar dek!! Hahahaaaa.
Sesampainya dirumah orang tuanya Sari langsung turun dari mobil dan langsung berlari masuk ke dalam rumahnya, mengabaikan suaminya yang tertinggal dibelakangnya.
"YuuuHuuuuuu, UmAaaaa Papaaaa...." teriak Sari riang memasuki ruang tengah rumah orang tuanya, ia menghempas bokong nya ke sofa. Iyalah, kan rumah Sari di aprt nya Ari, karna sekarang Sari itu sudah sah istrinya babang Ari jadi dimanapun Ari tinggal maka disitulah rumah sari. Karna sesungguhnya rumah seorang istri adalah suami. Betul apa betul?!
"Jangan teriak." tegur Ari yang sudah berada di samping Sari. Sedangkan Sari hanya menatap suaminya dengan cengiran.
"Eh Sari, Ari!! " Sari menoleh kedepan dimana mamanya dan ayahnya ada disana berjalan dengan beriringan. Ia langsung berlari dan menghambur kepelukan mamanya meluapkan rasa rindu yang sudah bersemayam dihatinya beberapa bulan.
Setelah merasa cukup, Anni melepas pelukan purtinya,"Ihh Maa, Sari rindu loh." rengek putrinya manja.
Anni hanya tertawa kecil melihat wajah cemberut putrinya, "emang kamu gak malu apa sama suami kamu, udah besar juga masih aja suka manja."
Sari menatap mamanya dengan wajah cemberut. Kemudian beralih padah sang Ayah.
"Papi uda sehat? " Sari berjalan ke arah ayahnya, ia menyalim tangan ayah nya kemudian memeluknya. Melepas rindu yang membelenggih jiwa dan raganya.
"Iya sayang, kamu juga sehat kan." Sari hanya menganggukkan kepalanya.
"Mah, Pah. Apa kabar? " Ari menhhampiri kedua mertuanya, ia menyalim tangannya.
Anni tersenyum hangat, "baik sayang."
"Oh, sampe lupa ya. Mama ke dapur buat minum dulu ya. Ari mau minum apa nak?" Kembali Anni sersenyum hangat kepada menantunya.
Ia berterimakasih kepada tuhan katna sudah menghadirkan menantu yang bisa melindungi serta mau menjaga putrinya dengan baik. Apalagi sekarang putrinya terlihat sangat bahagia. Jauh dengan keadaan putrinya saat bersamanya, yang terlihat selalu senyum tapi menampilkan sorot mata kosong.
Dan saat ini Sari putrinya terlihat hidup, bahagia, dan tanpa duka yang ditutup tutupi. Senyumannya alami sorot matanya juga cerah, secerah mentari.
"Biar sari ajah mah." Sari langsung berdiri, "kakak mau minum apa? "
"Air putih." Sari menganggukkan kepalanya lalu tersenyum lebar. Ia terlalu bahagia hari ini, dan mudah mudahan perasaan bahagianya akan awet dan menular kehari hari berikutnya.
"Kamu gak nanya sama Papa, Sar? "
"Lupa, hehehee. Papa mau minum apa? "
"Hahahaa.., Papa becanda. Tapi boleh juga tuh kamu buatin Papa teh, soalnya Papa rindu teh buatan kamu." Sari terkekeh, ia menganggukkan kepalanya lalu pergi kedapur.
Baim tersenyum melihat putrinya, namum matanya menatap senduh, 'Maaf, karna Papa udah bohongin kamu. Tapi Papa berharap dengan kebohangan Papa ini kebahagian kamu yang sebenarnya akan muncul.'
********
Sari meletakkan 2 gelas teh dan 2 satu gelas air putih diatas nampan dan membawanya ke ruang tamu.
"Ini untuk Mama, ini untuk Papa." Sari meletakkan dua gelas teh didepan Papa dan Mamanya, "ini untuk kak Ari dan aku," lalu meletakan 2 gelas air putih didepannya dan suaminya.
"Ari! " Sari dan Ari mendongak, menatap ke arah tangga.
Disana sorang gadis yang terlihat seumuran dengan Ari berdiri dengan wajah semringan nya. Senyumnya menampakkan bahwa ia sekarang sangat bahagia.
Gadis itu tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya, "hai Ar. Apa kabar nih? "
"Baik." Ari berkata singkat.
Gadis itu bernama Sera, masih tetap mempertahankan senyumnya.
"Udah lama ya kita gak ketemu." Ari hanya berdehem sebagai respon.
Sari memajukan kepalanya untuk melihat kakak perempuannya yang sudah lama tidak bertemu dengannya itu, "Hai, kak Sera!"
Senyum Sera yang awalnya berkobar bak kebakara seketika meredup bak diguyur badai. Ia menatap Sari kesal.
"juga." Ketusnya membuang muka.
Sari hanya tersenyum kecut, ia pikir setelah lama tidak bertemu dengan Sera ia akan bisa akrab dengan kakaknya tersebut. Tapi nyatanya semua itu hanya pikirannya saja karna Sera masih saja bersikap ketus dan tidak suka padanya. Ia tahu alasan mengapa Sera tidak suka padanya, ia juga mengerti apa yang Sera rasakan.
Tapi apakah disini Sari lah yang salah, dan Sari lah yang menginginkan semua itu terjadi?!
Jika bisa merobah takdir, Sari juga tidak mau ditakdirkan seperti sekarang. Ia tidak akan sudi serperti sebelumnya dimana dirinya terlihat selalu ceria, terlihat bahagia dan baik baik saja. Dimana dirinya selalu bersikap kekanak kanakan padahal ia menyimpan beban dihatinya, menyimpan luka tanpa orang disekitarnya sadari.
Sari tersenyum kaku pada Sera, "apa kabar, kak?"
Sera berdecak kesal, "Ck. Lo liat kan gue sekarang gimana?! Jadi gak usah sok akrab, basi!! "
"Oke oke." Sari melayangkan cengiran pada Sera sedangkan Sera sudah menatapnya jijik. Seperti biasa, Sari akan terlihat biasa saja dan baik baik saja dan seolah olah hatinya kebal saat diperlakukan seperti tadi oleh kakak nya tersebut. Namun sebenarnya dalam hati, ia merasa sakit. Ekspresi, mulut dan tubuh mungkin bisa berbohong tapi hati dan mata tak akan berbohong.
Hati terbuat dari hal yang rapuh jadi hati juga tidak sekebal itu, tak perasakan apapun saat ada yang merendahkan, menghina, kasar serta menyakitinya.
Sera menatap Ari dan mengabaikan Sari yang berada di samping Ari, "rencana mau kuliah dimana, Ar?"
"Belum tahu." Bukan tidak peka, Ari tahu kalau istrinya itu merasa tertekan dan sedih karna perlakuan Sera yang ketus padanya. Ia diam bukan karna suka dan senang istrinya diperlakukan seperti itu, hanya saja ia masih menghargai orang tua dari gadis itu, mertuanya.
"Gimana kalau kita kuliah bareng aja. Gimana kalau kita kuliah nya di Amrik, kanada atau di Belanda." antusias Sera. Beda saat berbicara dengan Sari, ia tak se antusias ini malahan malas.
"Oh iya nak Ari rencana kuliah nya mau dimana? " Anni ikut mencampuri.
"Belum tahu Mah, tapi rencana kuliahnya di sekitar jakarta ajah. Karna sekarang Ari sudah menikah dan Sari juga masih sekolah jadi tidak mungkin kuliah di luar negri." Jelas Ari, sesekali ia melirik istrinya yang hanya diam.
"Mama sih terserah kamu, Ar. Tapi Mama sangat setuju sama perkataan kamu tadi." Anni tersenyum senang, ia bisa melihat bahaimana Ari yang begitu bertanggung jawab pada putrinya, Sari.
"Ih, apaan sik mah. Ari itu kan pintar, cerdas dan kreatif, jadi cocoknya itu kuliah di universitas ternama seperti di luar negri. Lagi pula kan cita citanya Ari itu bisa kuliah diluar negri. Jadi mama dukung dong. Itu lagi istri kok kayak penghalang." Sera memprotes, ia tidak akan membiarkan Ari untuk kuliah di sini.
Sudah sejak lama ia ingin bersama Ari dan ini adalah kesempatannya dengan kuliah bersama Ari. Ya, sudah lama ia menaru hati pada Ari, namun kenyataannya adik yang tidak diharapkannya lah yang sekarang ini berdampingan dengan pujaan hatinya. Ia membenci kenyataan bahwa adik sialnya itulah yang menikah dengan Ari.
Yang paling ia benci adalah kebenaran bahwa Arinya mencitai Sari dan ia tidak terima kenyataan itu. Kenapa hanya dan selalu Sari yang dicintai kanapa bukan dirinya.
Dan kenapa juga gadis bernama Sari itu muncul dikehidupannya.
"Sera!! Jaga ucapan mu. Sari itu adik kamu." bentak Baim dengan suara meninggi.
Sera hanya bersedekap dan memalingkan wajahnya, ia mnyandarkan punggungnya Ke sofa. Inilah Salah satu yang membuat nya benci pada Sari, ayahnya yang selalu membela Sari dan selalu menyalahkannya.
"Assalamualaikum."
Semua yang di ruang tengah berdiri dan menoleh ke arah pintu," waalaikum salam."
"Udah pada ngumpul ajah." Karin berkata sembari bergabung keruang tengah.
Ari langsung menghampiri orang tuanya, ia menyalim kemudian memeluknya bergantian. Begitu juga dengan Sari.
jangan lupa Vote dan coment yah guys. 😍😍