
Author pov
Sari tersenyum senang saat mengingat bahwa ia tidak sedang bermimpi jikaam Arinya memang benar benar sudah pulang untuknya dan berada didepannya. Sari terus memandang wajah polos nan lugu suaminya yang tertidur tepat didepan wajah Sari. Suaminya itu benar benar sangat manis saat tertidur, ekspresinya yang datar berganti menjadi ekspresi lugu yang sangat menggemaskan. Ahhhh,, ingin sekali dirinya menncubit pipi mulus suaminya itu.
"Lucunya!! Ucuk ucuk ucuk cuckucuk... " Sari akhirnya mendaratkan tangannya dipipi mulus sang suami dan mencubitnya dengan gemas gemes.
"Ahkkkkk..."
Tiba tiba Ari menjerit kesakitan membuat Sari segera melepas cubitan gemes dari pipi sang suami. O' o ouh..gatzwat man!
Ari mengusap pipinya yang terasa ...______________________tidak sakit.
Hehehee...., Ari cuma boong. Ia memang sudah tahu istrinya itu sudah hampir 15 mnt memandanginya. Sebenarnya ia sudah bangun hanya saja pura pura tidur sampai tangan istrinya itu menempel dan mencubit pipinya. Hehehehe,, ternyata Sari ini benar benar pengagum rahasianya.
Baru tahu Ari!!
"Sari! " Ari menatap tajam sang istri yang sedang menatapnya dengan merasa bersalah dan kaget.
"I..iiya, kak. Ma..maaf!! Sari tidak sengaja eh sengaja eh.. bukan!! " Sari gelagatan dengan melambai lambaikan tangan didepan wajahnya.
Dalam hati Ari tertawa geli melihat reaksi Sari. Ouh,, istrinya ini semakin hari semakin lucu saja.
"Sudalah. " ketus Ari.
Sebenarnya ia hanya pura pura ketus, ia hanya ingin mengetahui apa yang akan dilakukan Sari untuk menghadapi dirinya yang sedang kesal. Dan ia hanya ingin sedikit mengerjai belahan jiwanya tersebut.
"Kakak marah? Eh, jangan kak. Umm, yaudah deh sebagai permintaan maaf aku akan buatin Kakak makanan kesukaan Kakak. Gimanah?! " Sari memasang wajah berharap.
Moga moga suaminya mau memaafkannya, kalau tidak dimaafkan entar dirinya yang cantik ini dicap jadi istri durhaka, kan bahaya??
"Hmm. " Ari hanya berguman dan menampilkan raud dingin, tapi dalam hati ia sangat bersorak senang. Ck, Sarinya sungguh sangat menggemaskan.
"Jadi istrimu yang cantik nan imutz ini dimaafkan? " Sari lebay, mode on.
Ia mengubah posisi tidur menjadi duduk, masih dengan menatap suaminya penuh harap.
Ari menaikkan alisnya, haiss sejak kapan istrinya ini menjadi pede serta lebay?! Siapa yang mengajarinya?! Sari lucu sekali saat seperti itu.
Ari tertawa pelan, "oke oke. Baiklah suamimu yang tampan dan keren ini memaafkanmu. " ari berkata dengan menirukan gaya bahasa Sari tadi dan itu membuat sari cemberut karna malu. Ia malu karna.....__ aihhh,, ia baru menyadari jika tadi ia sungguh sangat lebay. Ingatkan Sari jika sekarang ia sudah berumur 22 tahun dan baru saja wisudah ya. Sok imut dan tampang polos tak cocok lagi ia tunjukkan.
...............
"Tara!!!! Satu mangkok soto medan dan tahuk kecap selesai. " Sari lalu meletakkan hasil masakannya diatas meja.
Ari menatap istrinya dengan senyuman, akhirnya Sari kembali menjadi sosok yang ceria dan cerewet. Kecanggungan dan kekakuhan diantara mereka akhirnya tekikis dan berganti jadi harmonis dan hangat.
Sari mengisi piring didepan Ari dengan nasi dan lauk yang sudah ia masak sendiri. Lalu ia duduk disamping suaminya.
"Selamat makan kak. " ucapnya dengan senyum yang melekat diwajahnya.
Ari hanya mengangguk lalu menyantap makanan dipiringnya. Sudah lama ia tak memakan masakan istrinya dan sekarang rasanya masakan istrinya semakin nikmat saja.
Sari dan Ari makan dalam keadaan hening dan kitmat. Ari hanya ingin merasakan sensasi luar biasa dilidahnya saat menguyah masakan istrinya, entahlah dengan istrinya yang memilih diam.
Setelah makan pagi agak ke siangan mereka, Ari memutuskan untuk bermalas malasan di ruang tv. Sedang kan istrinya mungkin sedang membereskan dapur.
Dilihatnya Sari yang berjalan ke arahnya.
Sari mendaratkan bokongnya disamping dang suami, "kak.." panghilnya.
Ari hanya menoleh lalu kembali fokus pada tv.
"Kak, aku mau izin pergi kerumah Fais dan...__"
Ari menoleh cepat dan langsung menatap tajam pada Sari yang membuat Sari menghentikan kalimatnya.
Rahang Ari mengeras menandakan amarahnya sudah di ubun ubun, "apa kata mu?! " ia menatap istrinya tajam.
Yang benar saja?! Istrinya ini mau pergi ke rumah Fais. Oh, ingatkan Ari jika Fais adalah orang yang dulu pernah mengungkapkan perasaan pada Sarinya, dengan kata lain pernah ingin merebut Sari darinya. Sehingga membuat nya murkah dan memilih meninggalkan istrinya.
Sari menegug kasar salivanya, ia bukan gadis polos lagi yang tidak mengetahui kondisi suaminya sekarang. Ia tahu jika Ari marah dan ia bisa tebak jika pemicunya adalah karna ia yang berniat kerumah Faiz.
"Aku...pergi denga..n.. "
Ari langsung memoton kalimatnya, "jangan pergi! "
"Tapi kak, ini penting. Sekarang, pasti Fais sudah menunggu..__"
Braggggghh'
Ari menendang meja didepannya dengan kuat, membuat meja tersebut terpental ke dindin disebelah tv mereka. Dan hal itu membuat Sari membulatkan matanya kaget serta shock. Sari membekap kupingnya kuat kuat, ia sungguh kaget, sangat kaget. Ia juga merasa takut, takut melihat suaminya yang ada di depannya sekarang.
Ada apa dengan suaminya ini?? Apa salah nya?? Kenapa Ari terlihat marah sangat sekali?
"KAU INGIN PERGI?! PERGILAH, AKU TIDAK PEDULI. PERGIIIII !!! " Ari berkata dengan intonasi tinggi, ia membentak kasar Sari.
Sari terkegelonjak kaget, rasa takutnya spontan membuat air matanya jatuh dengan sendirinya.
Ari membentaknya?! kenapa?!
Air mata sari terus mengalir, ia sangat takut dan shock dengan perlakuan Ari barusan. Sekarang ia bingung harus berbuat apa.
Ia sungguh takut, ia sangat takut. Bibirnya kelu untuk bertanya, kakinya gemetar untuk berdiri saja.
Sari menghapus air matanya kasar. Ia berdiri lalu menatap senduh suaminya. Ia tak habis pikir, setelah sekian lama penantian nya pada suaminya, hampir 5 tahun lebih tapi ia hanya bentakan.
Ari mengusap wajahnya kasar, kemudian ia menghela nafas kasar. Sungguh ia tak bermaksud untuk membentak Sari. Tapi masalahnya ia benar benar tak tahu caranya untuk mengendalikan emosinya.
Ari mengejar Sari kemudian mencekal tangannya lalu menarik gadis yang sudah sah menjadi istrinya tersebut kedalam pelukannya.
"Maaf. " ucapnya tulus dengan nada lembut serta suara serak.
"Aku tidak bermaksud. " Lanjutnya.
Ari membawa Sari keruang tengah dan mendudukkan istrinya di sofa, masih dengan posisi memeluknya.
"Aku hanya takut kau berpaling dariku."
Sari berhenti menangis, ia mendongak dengan menatap suaminya bingung, "ber..ber paling?! " Sari berkata dengan suara parau, karna ia habis menangis.
Ari melepas pelukannya, ia menatap serius ke arah Ari, "aku tidak suka jika kamu dekat dengan pria bernama Fais itu. Aku takut dia merebutmu dariku. "
"Kenapa? Apa salah Fais pada mu?! " Sari menatap Ari bingung, yah untuk apa dia membenci Fais, kan Fais baik.
Kembali emosi Ari tersulut, tapi sekuat tenaga ia menahannya agar tidak kembali membentak istrinya.
"Karna dia ingin merebutmu dariku!!
" ucap Ari dengan nada tegas, namun tersirat amarah dalam setiap kata yang ia ucapkan.
Sari mengerutkan keningnya, "Merebutku?! Oh,, tidak mungkin lah kak. Untuk apa ia merebutku darimu?ia tidak menyukai ku ia juga tau bahwa aku sangat....__" Sari menggantung kalimatnya.
Sebenarnya ia masih tersinggung dan marah pada suaminya, tapi sepertinya ada salah paham antara suaminya dengan Fais yang harus ia selesaikan.
Haruskah Sari mengatakannya sekarang?! Mungkin iya, toh suaminya juga sudah mengatakannya.
"Sangat.....,, mencintaimu. Jadi tidak mungkin ia ingin merebutku darimu, lagi pula ia juga memiliki seseorang yang ia cintai fan mencintainya. " lenjutnya dengan raud kesal, kesal dengan Ari yang suka marah marah dan membentaknya dan kesal untuk menutupi kegugupannya karna mengungkapkan perasaannya pada sang suami.
Ari melongo, apa tadi?! Istrinya bilang ia sangat mencintainya, benarkah?!
Entah kenapa saat mendengar itu, membuat hati Ari menghangat sekaligus berbunga bunga. Yeh, walau pria tidak begitu menyukai bunga tapi hanya perumpamaan yah!! Ye ngak mungkin kan hati yang ber mobil mobilan atau batman atau powerengeran.
"Kau mencintaiku?! " Ari menatap Sari dengan kebahagiaan yang kentara diwajahnya.
Sari berdecak, apa Ari meragukan perasaannya?! Yang benar saja?! Tidak tahukah dirinya bagaimana saat Ari meninggalkan Sari dulu?!
Oke, Sari benar benar tak ingin merasakan perasaan itu lagi. Karna rasanya benar benar sakit.
"Kakak meragukan perasaanku ya? " sari menundukkan kepalanya. Ternyata cinta memang penuh segala rasa. Ada kalanya hangat, bahagia, kesal, marah, egois, sedih, sakit dan kecewa. Dan sekarang Sari merasakan kecewa, diragukan itu sangat tak enak sekali.
Ari menghela napas berat, bukan maksudnya meragukan perasaan Sari. Ia hanya ingin meyakinkan dirinya bahwa ia tidak salah dengar, itu saja.
"Trus jika kamu mencintaiku kenapa kamu mau menjadi kekasih nya saat 4 tahun lalu?! "
Sari mendongak, ia mengernyit bingung menatap kearah sang suami.
"Waktu itu kamu ditaman bersama dengannya. Dia mengungkapkan perasaannya padamu dan dengan semangatnya kamu mengangguk bahkan kamu sangat senang waktu itu. " jelas amAri seakan tahu kebingungan Sari.
Sari berusaha mengingatnya, oh apa maksud suaminya saat ia membantu Fais yang berniat menembak eh maksudnya mengungkapkan perasaan pada Lisa. Ouh, pasti itu!!
"Kakak melihatnya? " Ari mengangguk.
"Apa Fais menggenggam tanganku, trus mengatakan jika ia sudah suka padaku lama?! "
Ari langsung menatap Sari dengan tajam. Lihatlah! Sari bahkan tidak lupa kata kata yang diucapkan oleh Fais si sialan itu.
Emosi Ari seketika menyelimuti seluruh tubuhnya. Emosi Ari memang mudah terpancing dan salahkan Sari yang sudah memancing emosinya.
"Eh, Kakak jangan marah dulu dong!! Kan Sari belum jelasin. " Setelah mengatakan itu, Sari tersenyum kemudian menatap Ari dengan geli.
Benarkah karna kejadian itu?! Hehehe..salah paham benar dirimu bang!! Untung adek manis mu ini penyabar.
"Huh, Kakak Kakak!!! Jelas banget kalau Kakak salah paham. Ungkapan Fais itu tuh sebenarnya bukan buat Sari. Aku hanya sebagai pelatih maksudnya sebelum. Fais mengungkapkan perasaannya pada Lisa, ia latihan dulu sama aku biar lancar. " jelasnya membuat Ari membelalak terkejut.
Haruskah sekarang Ari mengumumkan jika ia adalah pria terbodoh di dunia ini?!
Ari menatap sari congang, "Jadi dia bukan suka padamu dan kamu juga hanya sebagai latihan."
Sari menganggukkan kepalanya. Lalu tersenyum kecut, jangan katakan jika dulu alasan Ari meninggalkannya karna kesalah pahaman itu. Jika ia, maka sekarang Sari benar benra tak ragu untuk melayangkan pukulan pada Ari karna sudah bertingkah bodoh.
Ari terdiam sejenak. Rasanya sekarang ia benar benar malu dan merasa bodoh. Selama ini ia hanya salah paham. Dan lalu dia meninggalkan Sarinya karna itu, karna Sarinya menerima pria lain di hatinya padahal hanya latihan mengungkapkan perasaan doang. Hah,, gila!! Ini benar benar gila!!
Andai Ari bisa bertemu dengan sosok Ari yang masih remaja tersebut, yang memutuskan meninggalkan Sari hanya karna cemburu buta saja. Andau ia bertemu dengan sosok itu, Ari akan memukuli habis wajah pecundang itu. Ck, kelabilannya dulu menghancurkannya dirinya sekarang.
Sebenarnya niatnya kuliah di negri orang dulu agar Sari bisa merasa bebas, bebas dari pernikahan yang mengekangnya, bebas dari pernikahan yang membuatnya tidak menikmati masa remajanya. Ia pikir dengan begitu maka Sari akan konsisten hanya kepadanya jika sudah meninggalkannya. Dengan meninggalkan Sari, ia berharap dapat menekan gadis itu dan menyadari perasaannya pada Ari.
Tapi jika tahu kalau Sari tak pernah menginginkan kebebasan itu, Ari tak akan meninggalkannya.
'Ini gila. Aku benar benar bodoh. Ck, kuharap Sari tak akan mengetahui jika dulu aku meninggalkannya karna masalah ini. Yah, kuharap!! ' batin Ari yang masih terhantut dalam pikirannya.
T ___________________________Tekanan B____________________Batin
C_________Cinta
Awas ada typo!!! Prikitiuuuu.
Wkwkwkwwk...😂😂.
Oke, jan lupa Vote dan komen yahhh.