Ice Senior Is My Husband

Ice Senior Is My Husband
40



Author pov


      Sudah jam 11 malam, namun Ari belum pulang membuat Sari menjadi khawatir. Dan sudah sejak dari tadi Sari selalu pontang panting bolak balik diruang tengahnya karna gelisah. Entah apa yang membuat Arinya Sari tidak pulang, apakah ia marah pada Sari atau memang karna ada urusan?? Jika ada urusana penting mengapa ia tidak mengabari Sari?


Sari melirik jam dinding, jam nya bahkan bergerak begitu cepat untuk menemui sang kepekatan malam, namun suaminya masih belum datang. Sesekali juga Sari memandang pintu apart-nya berharap suaminya muncul dari sana namun harapannya pupus. Lelah pontang panting gelisah, akhirnya Sari mendudukkan dirinya disofa, ia membuang napas kasar.  Disandarkannya punggungnya ke sofa kemudian segera ia raih hp nya, berusaha kembali menghubungi suaminya .


1 mnt


2mnt


6mnt


9mnt.


Sari menyerah, ia melempar asal hp nya. Ia menggarut dan mengacak rambut kepalanya frustasi, "aaakkkkhhhhh. " teriaknya frustasi.


***********


          Karin menatap senduh putranya yang masih duduk dengan pandangan tampa arah diruang keluarganya.ia menghampirinya dan duduk disamping putranya.


"Nak!! " Ari menatap ibunya,"kenapa gak pulang?! udah malam loh!! Mama bukannya ngusir kamu yaa,, tapi sekarang kamu udah punya istri. Pasti istri kamu lagi cemas, apalagi kamu belom kabari Sari kan kalau kamu disini. " Ari membuang asal mukanya.


Ari berdehem, "hmm. "


"Kalau punya masalah cerita aja sama Mama, daripada kamu diam kayak gini. Dari awal kamu datang kamu cuman bengong ajah." Bujuk Karin untuk kesekian kalinya pada putranya. Ia tidak habis pikir dengan sikap putranya ini datang kerumahnya tanpa mengabari istrinya. Yang paling parah putranya ini melarang semua yang dirumahnya untuk mengabari Sari.


Ari menatap mama nya sendu, dari matanya sangat terlihat bahwa sekarang ia sedang terluka, hatinya sedang tidak baik baik saja.


"Ari gak ada masalah, Mah. " ia menampilkan senyum kecutnya lalu memalingkan wajahnya kedepan. Sungguh ia tidak tahan bertatap muka dengan Mama nya saat ini. Jujur saja jika Ari sebenarnya adalah seorang lelaki yang cengen, apalagi jika sudah bertatap muka dengan sang ibu, matanya bisa bisa menangis tanpa tercegah.


"Kalau gak papa, kenapa kamu diam aja?! Trus kenapa Mama gak boleh kabari sari kalau kamu disini?! Nanti Sarinya cemas gimana? " Karin sedikit menaikkan volume suaranya, bukan maksud membentak putranya hanya saja ia perlu manyadarkan anaknya ini bahwa sekarang ia sudah punya tanggung jawab lain.


"Papa dimana mah?? " Ari mengalihkan pembicaraannya. Tak suka saja jika sang ibu menyebut nama istrinya.


Karin hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya, " kamu jangan ngalihin penbicaraan ya!! Kamu dari tadi nanya Papamu mulu kalau mama nyuruh kamu pulang. Kamu kenapa sih?! Bicara dong sama Mama,, Mama jadi frustasi liat kamu kalau gini. " Karan memarahi Ari dengan membentaknya.


Ari mendongak ke atas, ia mengedip edipkan matanya. Hampir saja tadi air matanya jatuh, bukan karna mamanya memarahinya tapi karna rasa sakit yang kian membara di hatinya apalagi saat memingingat pemicu rasa sakit dihatinya.


Ia tertawa miris, sungguh dirinya cengeng bagaikan anak perempuan, "aku mau lanjut kuliah diluar negri, Mah. "


Karin langsung berdiri, ia menatap ananknya horor, "jangan gilak kamu ya!! Sari mau kamu kemanain?! Mama gak setuju!! " ia melipat tangannya dibawah dada sembari menatap putranya marah.


Ari berdiri dan menatap datar mamanya, "aku cuma mau bilang, bukan minta persetujuan, Mah. "


Katin meneguk salivanya, dilihatnya putranya yang sedang menatapnya datar namun dari matanya terpancar emosi. Jika sudah begini Karin tidak bisa berbuat apa apa.


"Trus,, Sari gimana kalau kamu kuliah diluar negri?! " Karin mengulangi kembali pertanyaannya.


"Terserah dia, jika dia mau ikut ya ikut. " setelah mengatakan itu, Ari melangkah keluar.


"Aryan!! Heh,, Mama belum selesai bicara ya. Ar_ "Teriak atika yang sama sekali tidak di gupris anaknya.


"Dasar!! Punyak anak kok gini amat sik?! Tadi disuruh pulang gak mau pas udah mau bicara langsung pergi. Helehelehh. " Karin memghela napas lelah, ia memijit pelipisnya. Baru punya satu putra saja sudah membuatnya frustasi.


Bagaimana tidak frustasi, putra nya susah di prediksi, keras kepala, tidak suka dibantah, dingin, bicaranya hemat pulak.


***********


    Sari kembali menatap jam, matanya membulat sempurna. Sudah jam 00:30 tapi suaminya belum pulang bahkan jangkrik saja sudah dialam mimpi, ayam saja sudah latihan berkokok untuk pagi hari. Tapi,, dirinya masih setia dengan mata yang sudah minta terpajam hanya untuk menunggu suaminya yang entah dimana, bahkan Mama mertuanya tidak tau dimana keberadaan nya. Apakah perlu ia ke dukun untuk mencari keberadaan suaminya, bisa jadi kan suaminya disembunyikan kunti kesepian. Ah, jangan bahas kunti dan kawan kawan hantunya deh, Sari kan lagi sendiri di aprat.


Sari menidurkan dirinya disofa, tidak butuh waktu lama dirinya sudah tertidur. Mungkin dirinya sudah lelah yah dia lelah menunggu sesuatu hal yang tak terprediksi. Humm, kalian juga pasti sama dengan Sari, berpendapat bahwa menunggu adalah hal yang paling melelahkan.


****


     Sari terbangun dari tidurnya, ia mengerjap beberapa kali kemudian ia menatap sekelilingnya.


"Uahhhhh.." Sari menutup mulutnya dengan punggung tangannya karna menguap. Ia turun dari kasur lalu memeriksa jam di nakasnya. Hum, ternyata sudah jam 05:45. Oh apakah suaminya sudah pulang?! kan tadi malam suaminya gak pulang sampe sampe ia harus menunggu suaminya hingga jam 00:30 bahkan sampe ketiduran di sofa.


Sari menghentikan tangannya yang tengah memutar knop pintu, ia membulatkan matanya saat menyadari sesuatu. Sungguh ia baru ingat dan sadar sekarang ini ia tidur di dalam kamarnya, padahal semalam ia tertidur di atas sofa. Segera ia berlari ke ruang tv mungkin saja suaminya disana dan yang memindahkannya ke kamar adalah suaminya.


Sari kembali kekamarnya, ia memandangi kasurnya dari pintu kamarnya di mana sebagian rapi dan sebagian sedikit berantakan, menandakan hanya satu orang saja yang tidur disana yang tidak lain adalah Sari.


Oh, ingatkan Sari bahwa semalam ia sempat membahas kunti dan teman teman hantu kunti lainnya. Sari meneguk salivanya kasar ia mengusap tengkuknya karna merinding. Perlahan ia berjalan mundur kemudian menoleh ke arah pintu keluar yang entah perasaannya atau tidak tapi pintunya terlihat begitu jauh. Tanpa berpikir banyak lagi Sari berlari menghampiri pintu keluar, ia membukanya dengan tergesa gesa lalu menutupnya dengan kasar dan segera berlari keluar dari kawasan aprat nya.


Sesampainya diluar kawasan aprat, Sari berhenti dan menghembus napas legah tidak pedilu dengan pandangan aneh orang padanya. Sangking takutnya ia sampe keringatan.


"Huuuuuh, kok bisa ya ada hantu di apart?! padahal mewah gitu. " Ia meletakkan tangannya di tengah tengah dadanya merasakan detak jantungnya yang berpacu sangat cepat, bahkan melebihi kecapan detak jantung yang jatuh cinta. Kemudian ia menatap bangunan apartemen mereka dengan dahi mengerut.


"Trus sekarang aku harus gimana?! Mana Kak Ari belum pulang, gak tau istrinya udah cemas setegah mati lagi. Hp ketinggalan diatas, duit gak ada, ck dasar kunti sialan!! " ia berkacak pinggang. Sungguh sial dirinya, suami tak pulang, para hantu beraksi memindahkan dirinya ke kamar dan sekarang ia tak tau mau kemana. Uang saja tak punya semuanya tinggal di apart nya.


"Loh, Sar. Lo ngapain disini?! " dengan cepat Sari menoleh karna kaget mungkin saja kan hantunya ngikut.


Sari menghela nafas legah, ternyata Fais toh. Sari memperhatikan penampilan Fais dan ia tebak sekarang cowok itu sedang atau habis jogging,  "kamu ngapain disini?! " bukannya menjawab pertanyaan ia malah balik bertanya.


"Oh lewat aja. " jawap Fais seadanya.


Sari meletakkan telunjuknya di dagunya, "trus kamu... " Sari menatap Fais dengan memicing sembari kembali memperhatikan penampilan lelaki didepannya.


Fais meneliti penampilannya sendiri, "oh lagi lari lari pagi. Mau ikut ngak?!"


"Tunggu! Tapi lo ngapain disini?! emang lo tinggal disini ya bukannya lo tinggal di komlek seraya yah. "


"Oh..eh..aik..ya..sama,, lagi..lari lari pagi, hehehe..." cengir Sari berbohong. Gak mungkin kan ia jujur bahwa ia tinggal disini dan mengatakan sudah menikah dengan Ari, bisa bisa kelar semuanya.


Fais menatap Sari dari atas sampai bawah lalu ia tertawa, "hahaha, lo,, lo lari lari pagi pake baju tidur gambar spongebob ya.."


Spontan Sari juga meneliti penampilannya, "hehehe, lagi malas pake baju kaos. "


"Trus lo tadi ngapain bengong disini?! "


Sari sedikit berpikir mencari alasan, " umm..yaa..lari lari pagi sekalian cari apart buat aku. Kan sebentar lagi Mama sama Papa mau pergi lagi ke jepang. " tutur Sari, kali ini ia tak bberbohong sepenuhnya. Karna memang benar orang tuanya akan pergi kejepang lagi mungkin akan menetap disana selama beberapa tahun karna mau tinggal bersama Sera disana.


"Oh gitu ya. Yodah, kita jogging bareng ajah, ditaman komplek sana ada Lisa, Tika sama Ali. " ajak Fais, ia tersenyum pada Sari.


"Loh, kalian lari pagi gak ngajak ngajak yaa.." omel Sari mengingat para sahabatnya tak mengatakan apapun padanya.


"Kita chet kok, tapi cuma centang dua warna abu abu ajah. Kita juga telpin lo, tapi lo sibuk nelpon kayaknya. " Fais menatap Sari dengan alis tertaut, berharap mendapat penjelasan dari gadis itu.


"Iya kah.." ujar Sari sembari mengingat ingat apa yang ia lakukan tadi malam. Oh jelas hpnya sibuk,, kan ia sedang sibuk juga menghubungi suaminya yang tak pulang pulang sampai sekarang. Memikirkannya membuat sari kembali jadi cemas.


"Gimana nih, jadi ikut ngak?! "


Sari menggelengkan kepalanya sembari menatap Fais tak enak, "duluan aja, Is. Aku mau lihat lihat unit dulu. " alibinya.


Fais mengangguk, lalu berlalu dari sana. Ia melambaikan tangannya saat sudah jauh dari Sari yang dibalas okeh gadis itu dengan lambaian juga.


Sari sedikit terkekeh, memingat ia tadi berbohong pada Fais dan lelaki itu percaya ajah. Heloo!! seorang Sari Yanti Wijaya Siregar lari lari pagi,, big no!! Lagi pula rumah Sari dan apart ini kan jaraknya cukup jauh jadi tidak mungkin lah ia lari lari pagi sampai kesini. Tapi untung Fais tidak menanyakan soal kakinya yang tidak memakai sandal.


Sari kembali memandangi gedung apart nya dengan berkacak pinggang, kalau dilihat lihat gedungnya gak ada seram serem nya,, bahkan terkesan mewah dan elegan bangunannya juga masih terlihat baru, tapi kok ada hantu nya ya?! yang paling ngeri hantunya suka mindahin orang lagi.


Sari tergelonjak kaget saat seseorang menepuk bahunya, ia memegang tengkuknya yang kembali merinding, kakinya saja sudah gemetaran. Sari menegug salivanya kasar, sungguh hantu tersebut tak tahu tempat untuk menakutit nakuti.


Sari menoleh perlaha dan dengan gerakan kaku, "Aaahh.., ouh Ka..Kak Ari, kirain siapa?! " Sari mengelus dada, lalu bernafas legah.


"Ngapain disini?! " Sari menatap suaminya, kata katanya mulai datar dan dingin kembali seperti semula.


"Umm...ak.." belum sempat Sari nenyelesaikan kalimatnya, Ari sudah melangkahkan kakinya meninggalkan Sari.


"Eh Kakak tunggu!!  " Sari berteriak dan segera menyusul suaminya dengan berlari.


**************


Masih pertanyaan yang sama, seandainya author buat cerita baru itu enaknya genre apa yah?😔😕


ayo!! para readers akgohh komen.


jan lupa vote, suka dan cinta yahh. acieee canda kalau cintanya. Readers cukup vote dan sukai ajah, cinta nya kasih ke author ajah. Wkwkwkwk