
Arthur membuka matanya dan melihat dirinya berada di sebuah ruangan. "Krekk." Arthur melihat Slyvia masuk ke dalam kamar.
"Tuan, anda sudah sadar." Slyvia menangis saat melihat Arthur.
"Slyvia." Kata Arthur melihat Slyvia.
"Benar tuan, ini saya Slyvia." Slyvia tersenyum.
"Slyvia ada dimana aku sekarang." Tanya Arthur.
"Anda saat ini ada di istana negara Bradfort. Anda jatuh koma selama 7 hari setelah raja iblis Lucifer membakar anda dengan api hitam." Kata Slyvia. Arthur terkejut mendengar kata Slyvia.
"Dimana Steven dan yang lain." Tanya Arthur. Semua teman-teman anda pergi ke negara Deventer.
"Saya mengatakan kepada mereka. Bahwa di negara Deventer mereka bisa menambang magic crystal." Kata Slyvia.
Arthur ingat bahwa negara Deventer di huni oleh ras Dragon. "Buka Status" Kata Arthur kemudian layar status muncul di depannya.
Nama : Arthur Benedict
Usia : 18 tahun
Level : 710 Next Level 711 Exp
Job : Hero
Ras : Manusia
Strength : 705
Agility : 705
Vitality : 705
Stamina : 705
Magic : 710
Poin : 50
Poin Skill : 57
Skill : Observation (S) Copy (S) Doube Exp (S) Sihir Air (S) Sihir Api (S) Sihir Angin (S) Sihir Tanah (S) Sihir Penyembuh (S) Tehnik Pedang (S) Memanah (S)
"Saat ini levelku 710." Kata Arthur melihat statusnya.
"Aku akan menambahkan 10 poin pada Strength, 10 poin pada Agilty, 10 poin pada Vitality, 10 poin pada stamina dan 10 poin pada Magic." Kata Arthur meningkatkan statusnya.
"Singg!!." Cahaya putih menyinari tubuh Arthur.
Arthur melepas pakaiannya kemudian berdiri di depan cermin. "Tidak ada satupun luka bakar di tubuhku." Kata Arthur.
"Teman anda yang memiliki sihir penyembuh menyembuhkan anda. Setelah anda terbakar oleh serangan raja iblis." Kata Slyvia.
"Slyvia ayo kita pergi dari sini." Kata Arthur memakai pakaiannya.
"Baik tuan." Slyvia mengangguk. Arthur kemudian keluar dari kamar di ikuti Slyvia.
"Arthur kamu sudah sadar." Rapunsel terkejut melihat Arthur yang keluar dari kamar.
"Benar tuan putri. Saya baru saja terbangun." Balas Arthur.
"Tuan putri. Saya akan meninggalkan kerajaan ini." Kata Arthur melihat Rapunsel.
"Apa kamu ingin menyusul teman-temanmu." Tanya Rapunsel.
"Benar, saya ingin menyusul Steven dan yang lain." Balas Arthur berbohong.
"Arthur ayo temui ayahku terlebih dulu." Balas Rapunsel.
"Baik." Arthur mengangguk.
Tidak lama kemudian Arthur dan Rapunsel masuk ke dalam ruangan. "Arthur kamu sudah sadar." Edward terkejut saat melihat Arthur.
"Saya baru saja terbangun yang mulia." Balas Arthur.
"Ayah Arthur ingin pergi menyusul Steven dan yang lain." Kata Rapunsel.
Mendengar kata Rapunsel Edward kemudian memberikan kantong kain kepada Arthur. "Di dalamnya ada 200 coin emas. Seharusnya uang itu cukup untuk biaya perjalananmu ke negara Deventer." Kata Edward.
"Yang mulia, bisakah anda memberi saya dua kuda." Kata Arthur.
"Kamu bisa mengambil kuda di kandang." Balas Edward.
"Terimakasih yang mulia." Balas Arthur.
Beberapa menit kemudian Arthur, Rapunsel dan Slyvia berada di kandang kuda. "Tuan putri saya akan pergi" kata Arthur melihat Rapunsel.
"Baiklah, jaga dirimu baik-baik Arthur. Jangan sampai kamu terluka lagi." Kata Rapunsel. Arthur mengangguk kemudian menaiki kuda.
Beberapa menit telah berlalu. Saat ini Arthur dan Slyvia sedang menaiki kuda. "Tuan Arthur. Negara Deventer berada di utara." Kata Slyvia melihat Arthur.
"Kita tidak akan pergi ke negara Deventer. Melainkan pergi ke negara Volgrad." Balas Arthur.
7 hari telah berlalu. Saat ini Arthur dan Slyvia berada di Pelabuhan. "Kami berdua ingin pergi ke negara Volgrad." Kata Arthur melihat pria berotot.
"40 coin emas." Balas pria berotot. Arthur kemudian memberikan 40 coin emas ke pria berotot.
"Naiklah ke kapal. Tidak lama lagi kita akan berlayar." Kata pria berotot. Arthur mengangguk kemudian menaiki kapal bersama Slyvia.
14 hari telah berlalu. Saat ini Arthur melihat kapal mulai berlabuh di dermaga. "Ayo turun." Kata Arthur turun dari kapal.
"Baik." Slyvia mengangguk dan mengikuti Arthur turun dari kapal.
"Ayo kita makan." Kata Arthur berjalan ke arah restoran.
"Baik tuan." Slyvia mengangguk. Arthur dan Slyvia kemduian berjalan ke arah restoran.
Saat masuk ke dalam restoran tatapan Arthur tertuju pada seorang wanita. "Aku sudah menduganya bahwa dia ada disini." Gumam Arthur melihat Veronica.
"Apa yang ingin anda pesan." Arthur melihat pelayan restoran berjalan ke arahnya.
"Aku pesan cumi, lobster dan sebotol anggur." Kata Arthur.
"Aku pesan 1 porsi salad." Kata Slyvia.
"Baik, silakan tunggu pesanan anda." Kata pelayan restoran berjalan ke arah dapur.
Arthur berjalan ke arah Veronica dan berkata. "Bolehkah kami berdua bergabung denganmu."
Veronica melihat Arthur dan berkata. "Boleh."
Arthur kemudian duduk di depan Veronica. "Namaku Arthur." Kata Arthur melihat Veronica.
"Namaku Slyvia." Kata Slyvia.
"Apa kamu ingin pergi ke negara Bradfort." Tanya Arthur.
"Bagaimana kamu bisa tahu. Bahwa aku akan pergi ke negara Bradfort." Veronica terkejut.
"Aku hanya menebak." Balas Arthur.
"Ini pesanan anda." Arthur melihat pelayan restoran mengantarkan pesanannya.
"Veronica ayo kita makan terlebih dulu. Kita bisa mengobrol setelah selesai makan." Kata Arthur melihat Veronica.
"Baik." Veronica mengangguk.
Beberapa menit kemudian Arthur, Slyvia dan Veronica telah selesai makan. "Apa kamu mempunyai masalah dengan suamimu." Kata Arthur melihat Veronica.
"Bagaimana kamu bisa tahu." Veronica sekali lagi terkejut dengan kata Arthur.
"Aku hanya menebak." Arthur tersenyum. Veronica menatap curiga kepada Arthur.
"Slyvia ayo kita pergi." Kata Arthur berjalan keluar restoran.
"Baik tuan." Slyvia mengangguk dan mengikuti Arthur.
"Tunggu, kalian ingin pergi kemana." Veronica mengejar Arthur.
"Aku ingin pergi minum di bar. Apa kamu ingin ikut." Kata Arthur melihat Veronica.
"Aku ikut." Veronica mengangguk. Arthur, Slyvia dan Veronica kemudian berjalan ke arah bar.
Beberapa menit kemudian Arthur, Slyvia dan Veronica masuk ke dalam bar. "Apa kalian berdua ingin minum alkohol." Arthur melihat Slyvia dan Veronica.
"Saya ingin minum alcohol tuan." Slyvia mengangguk.
"Aku juga ingin minum alcohol." Veronica mengangguk.
"Kami pesan 3 botol alkohol." Kata Arthur melihat pelayan Bar.
"Baik." Pelayan bar mengangguk kemudian memberikan 3 botol alcohol kepada Arthur. Arthur membuka botol kemudian menuangkan alcohol ke gelas.
"Minumlah." Kata Arthur melihat Slyvia dan Veronica.
"Baik." Slyvia dan Veronica mengangguk kemudian meminum alcohol.
"Ahhhh. Aku tidak tahu bahwa alcohol rasanya seperti ini." Kata Veronica.
Beberapa menit telah berlalu. Saat ini Arthur melihat Slyvia dan Veronica yang sedang mabuk. Arthur merangkul Slyvia dan Veronica kemudian berjalan keluar dari bar.
Tidak lama kemudian Arthur masuk ke dalam penginapan. "Aku pesan 3 kamar untuk 1 hari." Kata Arthur memberikan 3 coin emas kepada pelayan penginapan.
"Tuan, apakah anda membutuhkan bantuan saya untuk membawa mereka berdua." Kata pelayan penginapan yang seorang perempuan.
Arthur mengangguk kemudian memberikan Veronica ke pelayan penginapan. "Ikuti saya tuan. saya akan menunjukan kamar anda." Kata pelayan penginapan merangkul Veronica yang tidak sadarkan diri. Arthur mengangguk kemudian mengikuti pelayan penginapan.
"Terimakasih atas bantuannya." Kata Arthur melihat pelayan penginapan.
"Saya senang dapat membantu anda." Pelayan penginapan tersenyum.
"Ambilah, ini sebagai imbalan karena kamu sudah membantuku." Kata Arthur memberikan 1 coin emas kepada pelayan penginapan.
"Terimakasih tuan." Pelayan penginapan tersenyum. Arthur mengangguk kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Arthur berbaring di kasur dan berkata. "Iblis. Tunggu saja pembalasanku. Aku akan membunuhmu dengan cara yang kejam." Arthur mencengkram tinjunya saat mengingat dirinya di bunuh oleh iblis.
Keesokan harinya Arthur berada di luar penginapan bersama Slyvia. "Tuan Arthur, apa kemarin saya mabuk." Slyvia melihat Arthur.
"Benar, kemarin kamu mabuk." Balas Arthur.
"Maafkan saya tuan. Saya telah merepotkan anda." Kata Slyvia.
"Kamu tidak perlu meminta maaf." Balas Arthur.
"Arthur." Arthur melihat Veronica berlari ke arahnya.
"Ada apa." Kata Arthur melihat Veronica.
"Terimakasih sudah membawaku ke penginapan saat aku mabuk." Veronica tersenyum.
Arthur mengangguk dan berjalan ke arah pria yang duduk di atas kereta kuda. "Kami ingin pergi ke negara Volgrad." Kata Arthur melihat pria.
"100 coin emas. Jarak dari sini ke negara Volgrad sangat jauh." Balas pria.
Arthur kemudian memberikan 100 coin emas kepada pria. "Slyvia ayo naik." Kata Arthur naik ke dalam kereta kuda.
"Baik tuan." Slyvia mengangguk dan naik ke dalam kereta kuda.
"Veronica jaga dirimu dengan baik." Kata Arthur melihat Veronica.
"Kamu juga Arthur." Veronica mengangguk.
"Ayo kita berangkat." Kata Arthur melihat pria.
"Baik." pria mengangguk kemudian mencambuk kuda. "Ngggiikk." Kuda berlari dan menarik kereta.
7 hari telah berlalu. Saat ini Arthur melihat kereta kuda tiba-tiba berhenti. Arthur turun dari kereta dan melihat ras manusia sedang berperang dengan ras Beast human. "Tuan, cepat naik ke dalam kereta." Pria berteriak panik melihat 15 beast human yang berlari ke arahnya.
"Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan mengalahkan mereka semua." Kata Arthur melihat 15 beast human yang berlari ke arahnya.
"Wind arrow." Kata Arthur kemudian 15 panah angin muncul di udara.
"Mati." Kata Arthur menembakan panah angin ke arah 15 beast human. "Ceepp." "Ceepp." Panah angin menembus kepala 15 beast human.
"Exp +300." "Exp +400." "Level Up." "Anda mendapatkan 5 poin." Notifikasi muncul di depan Arthur.
"Slyvia turunlah dari kereta." Kata Arthur. "Baik tuan." Balas Slyvia kemudian turun dari kereta.
"Ayo kita bunuh semua beast human." Kata Arthur berjalan ke medan perang.
"Baik tuan." Slyvia mengangguk.
"Manusia mati." Teriak manusia katak menyerang Arthur. "Wind arrow." Kata Arthur kemudian panah angin muncul di udara.
"Mati." Kata Arthur menembakan panah angin ke arah manusia katak. "Buusshh." Panah angin menembus kepala manusia katak.
"Exp +400." Notifikasi muncul di depan Arthur.
"Wind arrow." Kata Arthur kemudian ratusan panah angin muncul di udara.
"Mati." Arthur berteriak kemudian ratusan panah angin melesat ke arah ratusan beast human. "Ceepp." "Ceeppp." Semua prajurit manusia terkejut melihat ratusan panah angin yang menembus di tubuh beast human.