
Keesokan harinya Arthur sedang berada di dalam kelas. "Hari ini kita akan belajar tehnik berpedang." Kata pria botak berotot melihat Arthur dan semua murid di dalam kelas.
"Kalian semua ikuti aku ke lapangan." Kata pria berotot keluar dari kelas.
"Baik." Balas semua murid kemudian keluar dari kelas. Arthur menghela nafas dan mengikuti semua murid.
Tidak lama kemudian Arthur, pria botak berotot dan semua murid berada di lapangan akademi. "Kalian semua ambil pedang kayu." Kata pria berotot melihat Arthur dan semua murid.
"Baik." Semua murid kemudian mengambil pedang kayu yang sudah disediakan. Begitu juga dengan Arthur yang ikut mengambil pedang kayu.
"Baiklah, kalian semua ikuti gerakanku." Kata pria botak berotot mulai mengayunkan pedangnya.
"Baik." Jawab semua murid kemudian mengikuti gerakan pria botak berotot. Begitu juga dengan Arthur yang mengikuti gerakan pria berotot.
Bebrapa jam telah berlalu. Saat ini Arthur masih berada di lapangan bersama semua murid. "Baiklah, hari ini sudah cukup sampai disini." Kata pria berotot meninggalkan lapangan akademi.
"Arthur ayo kita makan bersama." Kata perempuan berambut coklat panjang.
"Baiklah, makan setelah beraktivitas bukanlah hal yang buruk." Kata Arthur. Arthur dan perempuan berambut coklat meninggalkan lapangan akademi dan pergi ke cafetaria.
Tidak lama kemudian Arthur dan perempuan berambut coklat berada di cafetaria. "Aku ingin makan daging ayam." Kata Arthur melihat penjaga cafetaria.
"Aku juga sama dengannya." Kata perempuan berambut coklat.
Penjaga cafetaria kemudian memberikan 2 porsi ayam kepada Arthur dan perempuan berambut coklat. Arthur dan perempuan berambut coklat kemudian duduk di meja kosong. "Baiklah, ayo kita makan." Kata Arthur melihat perempuan berambut coklat.
"Baik." Balas perempuan berambut coklat. Arthur dan perempuan berambut coklat kemudian mulai makan.
Beberapa menit kemudian Arthur dan perempuan berambut coklat telah selesai makan. "Arthur ceritakan seperti apa dunia tempatmu berasal." Perempuan berambut coklat menatap Arthur.
Arthur kemudian mulai menceritakan sedikit tentang dunianya kepada perempuan berambut coklat.
"Aku tidak menyangka di dunia tempatmu berasal. Hanya ada ras manusia." Perempuan berambut coklat terkejut. "Arthur apa hari ini kamu sibuk." Perempuan berambut coklat melihat Arthur.
"Memangnya kenapa." Balas Arthur. "Ayo ikut denganku ke suatu tempat." Kata perempuan berambut coklat.
"Baiklah." Balas Arthur.
"Bagus." Perempuan berambut coklat tersenyum saat Arthur setuju ikut dengannya.
Beberapa menit kemudian Arthur dan perempuan berambut coklat meninggalkan akademi. "Kita akan kemana." Tanya Arthur.
"Gereja." Balas perempuan. Arthur terkejut saat perempuan berambut coklat mengajaknya ke gereja.
Tidak lama kemudian Arthur dan perempuan berambut coklat tiba di gereja. "Ayo masuk." Kata perempuan berambut coklat melihat Arthur.
"Arthur mengangguk kemudian masuk ke dalam gereja mengikuti perempuan berambut coklat.
"Kak Elvie." Kata perempuan berambut coklat melihat wanita berusia 30 an yang memakai kerudung putih.
"Eva." Kata wanita berusia 30 an yang di panggil Elvie.
"Arthur dia adalah kakakku Elvie." Kata Eva mengenalkan Arthur kepada Elvie.
"Aku tidak menyangka Eva adalah adik Elvie teman Lily." Gumam Arthur.
"Kak Elvie Arthur adalah manusia dari dunia lain." Kata Eva.
"Ahhh." Elvie terkejut dengan kata Eva. Eva kemudian menceritakan tentang Arthur yang tidak memiliki job.
"Arthur jangan patah semangat meski kamu tidak memiliki job. Jika kamu terus berlatih tehnik pedang dan sihir. Suatu saat kamu akan mendapatkan job swordsman atau mage." Elvie menyemangati Arthur.
"Tenang saja, aku bukan pria yang mudah patah semangat." Arthur tersenyum. Arthur, Elvie dan Eva kemudian mulai mengobrol.
"Eva aku akan Kembali ke akademi." Kata Arthur melihat Eva.
"Kak Elvie aku akan pergi." Eva melihat Elvie.
"Baiklah." Elvie mengangguk. Arthur dan Eva kemudian meninggalkan gereja.
"Arthur terimakasih sudah mau menemaniku bertemu kakakku." Eva tersenyum.
"Apa kamu hanya berterimakasih." Balas Arthur.
"Ahh, apa kamu ingin suatu imbalan." Eva terkejut.
"Tentu saja, aku sudah meluangkan waktuku untuk menemanimu. Jadi kamu harus memberiku imbalan." Balas Arthur.
"Aku tidak menyangka sifatmu seperti ini." Eva tersenyum kecut. "Imbalan apa yang kamu mau." Eva melihat Arthur.
"Cium aku." Arthur tersenyum.
"Ahhh." Eva terkejut dengan kata Arthur. "Arthur apa kamu serius." Eva melihat Arthur.
"Aku serius. Imbalan yang aku inginkan adalah kamu memberiku ciuman." Arthur tersenyum. Wajah Eva menjadi merah saat mendengar kata Arthur.
"Dia sungguh lucu." Arthur tersenyum dan berjalan ke arah akademi.
Saat ini Eva telah kembali ke asrama dan berada di kamarnya. "Aku mencium seorang pria." Kata Eva dengan wajah merah.
"Arthur ingin aku mencium dirinya. Apakah Arthur menyukaiku." Kata Eva dengan wajah merah.
Saat ini Arthur telah kembali ke asrama dan berada di dalam kamarnya. "Aku akan istirahat sebentar. Setelah itu aku akan pergi ke hutan dan berburu slime." Kata Arthur berbaring di kasur dan memejamkan matanya.
Beberapa jam telah berlalu. Saat ini Arthur berjalan pergi dari akademi. "Arthur." Arthur mendengar teriakan dan melihat Cecilia.
"Arthur apa kamu ingin berburu slime lagi." Cecilia melihat Arthur.
"Benar, aku ingin berburu slime." Arthur mengangguk.
"Jika begitu, aku akan ikut denganmu." Kata Cecilia.
"Baiklah." Arthur mengangguk. Arthur dan Cecilia kemudian berjalan ke arah hutan yang terletak di dekat kota.
Beberapa jam telah berlalu. Saat ini Arthur dan Cecilia berada di dalam hutan. "Arthur ayo kita kembali ke asrama." Cecilia melihat Arthur.
"Tunggu sebentar lagi. Setelah aku membunuh beberapa slime." Balas Arthur.
"Baiklah." Cecilia mengangguk.
Beberapa menit kemudian. Arthur memegang slime kemudian merobek slime menjadi dua.
"Exp + 2." "Level Up" "Anda mendapatkan 5 poin." "Anda mendapatkan 1 poin skill." Notifikasi muncul di depan Arthur.
"Baiklah, ayo kita kembali ke akademi." Kata Arthur melihat Cecilia.
"Apa kamu baru saja level up." Tanya Cecilia.
"Benar, aku baru saja level up." Balas Arthur.
"Level berapa kamu sekarang." Tanya Cecilia.
"Rahasia." Arthur tersenyum. Cecilia tersenyum kecut saat mendengar jawaban Arthur.
Beberapa menit kemudian Arthur telah kembali ke akademi. Arthur masuk ke dalam kamarnya dan duduk di kasur. "Buka status." Kata Arthur kemudian layar status muncul di depannya.
Nama : Arthur Benedict
Usia : 18 tahun
Level : 20 Next Level Membutuhkan 21 Exp
Job : Hero
Ras : Manusia
Strength : 15
Agility : 15
Vitality : 15
Stamina : 15
Magic : 20
Poin : 50
Poin Skill : 2
Skill : Observation (S) Copy (S) Doube Exp (S) Sihir Air (C) Sihir Api (C) Sihir Angin (C) Sihir Tanah (C) Sihir Penyembuh (C) Tehnik Pedang (C)
"Hari ini seharusnya Erika dan yang lainnya mulai berburu slime. Aku penasaran level berapa Erika sekarang." Kata Arthur teringat saat berburu slime bersama Erika.
Arthur melihat statusnya kemudian mulai menambahkan 10 poin Pada Magic, 10 poin pada Strength, 10 poin pada Agilty, 10 poin pada Vitality, dan 10 poin pada stamina. "Singg!!." Cahaya putih menyinari tubuh Arthur.
Keesokan harinya Arthur masuk ke dalam kelas. "Selamat pagi Eva." Kata Arthur melihat Eva.
"Selamat pagi juga Arthur." Balas Eva dengan wajah merah.
Arthur tersenyum kemudian duduk di sebelah Eva. "Hari ini bapak akan menjelaskan tentang sihir elemen." Kata pria berkacamata melihat Arthur dan semua murid.
Beberapa jam kemudian. "Pelajaran hari ini cukup sampai disini." Kata pria berkacamata meninggalkan ruangan.
"Eva ayo kita makan bersama." Arthur melihat Eva.
"Baik." Eva mengangguk dengan malu.