
"Apa kamu ingin pergi ke negara Bradfort." Tanya Eleanor.
"Benar, saya akan pergi ke negara Bradfort. Dengan magic crystal sebanyak ini saya dan teman-teman saya bisa kembali ke bumi." Balas Arthur.
"Apa kamu ingin pergi seorang diri ke negara Bradfort." Tanya Eleanor.
"Benar, saya akan pergi sendiri." Balas Arthur.
Eleanor kemudian memberikan sebuah kantong kain kepada Arthur. "Di dalamnya ada 500 coin emas. Biaya menaiki kapal setiap orang adalah 10 coin emas. Seharusnya uang itu cukup untuk biaya perjalananmu ke Bradfort dan kembali ke negara Volgrad." Kata Eleanor.
"Terimakasih." kata Arthur menyimpan kantong kain ke dalam saku pakaiannya.
"Saat saya pergi, saya berharap anda bisa menjaga semua crystal ini dengan baik." Kata Arthur melihat 90 magic crystal di atas meja.
"Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan menjaga semua magic crystal dengan baik." Balas Eleanor.
"Baiklah, jika begitu saya pergi." Kata Arthur berjalan keluar dari ruangan.
"Apa anda membutuhkan kuda." Tanya Luis.
"Aku membutuhkan kereta kuda." Balas Arthur.
"Jika begitu, saya akan menyiapkan kereta kuda untuk anda." Balas Luis.
"Baiklah." Arthur mengangguk.
Beberapa menit kemudian Arthur melihat Luis berjalan ke arahnya. "Kereta kudanya sudah siap." Kata Luis. Arthur mengangguk kemudian berjalan keluar dari istana.
Tidak lama kemudian Arthur keluar dari istana dan masuk ke dalam kereta kuda. "Ayo pergi." Kata Arthur melihat supir kereta.
"Baik." Supir kereta mengangguk kemudian mencambuk kuda. "Nggiikk." Kuda berlari dan menarik kereta.
"Berhenti di perpustakaan. Aku akan mengambil peta." Kata Arthur melihat supir kereta.
"Baik tuan." Supir kereta mengangguk.
"Tuan, kita sudah berada di depan perpustakaan." Kata supir kereta. Arthur turun dari kereta kemudian masuk kedalam perpustakaan. Arthur kemudian mulai menggambar lingkaran dan bintang di lantai. Arthur menyentuh lingkaran di lantai dan berteriak. "Summon."
Saat ini di suatu tempat Deni dan semua teman sekelas Arthur sedang makan di restoran. "Makanan di sini tidak seenak di istana." Kata Deni mengigit daging.
"Singg!!!" tubuh Deni bercahaya kemudian menghilang. "Ahhh. Deni menghilang." Melody dan yang lain terkejut saat melihat Deni yang menghilang.
"Mungkin Arthur memanggil Deni." Kata Steven.
Saat ini Arthur melihat Deni tiba-tiba muncul di depannya. "Arthur." Deni terkejut melihat Arthur tiba-tiba berada di depannya.
"Setelah beberapa hari tidak bertemu. Kamu semakin gemuk." Arthur tersenyum.
"Berengsek." Deni tersenyum. Arthur dan Deni kemudian berjabat tangan.
"Apa kamu memanggilku ke negara Volgrad." Tanya Deni.
"Benar, aku memanggilmu ke negara Volgrad." Arthur mengangguk.
"Arthur kapan kamu mempelajari sihir pemanggilan." Deni melihat Arthur.
"Aku mempelajari sihir pemanggilan sebelum kita melawan raja iblis." Balas Arthur berbohong.
"Bagaimana kabar Steven dan yang lain." Arthur melihat Deni.
"Kabar mereka baik-baik saja." Balas Deni. "Mungkin kamu tidak tahu. Aku, Steven dan semuanya sedang menuju ke negara Volgrad." Kata Deni.
"Oohh." Arthur terkejut dengan kata Deni.
"Jika begitu, ayo kita pergi ke pelabuhan dan menunggu yang lain." Kata Arthur.
"Baiklah." Deni mengangguk. Arthur mengambil peta kemudian keluar dari perpustakaan.
"Ayo naik." Kata Arthur masuk ke dalam kereta. Deni mengangguk kemudian naik ke dalam kereta.
"Ayo pergi." Kata Arthur melihat supir kereta.
"Baik tuan." Supir kereta mengangguk kemudian mencambuk kuda. "Nggiikk." Kuda berlari dan menarik kereta.
7 hari telah berlalu. Saat ini Arthur dan Deni berada di pelabuhan. "Ayo kita makan." Kata Arthur melihat Deni.
"Baik." Deni mengangguk. Arthur dan Deni kemudian berjalan ke arah restoran.
Saat masuk ke dalam restoran tatapan Arthur terfokus kepada wanita berusia 30 tahun yang memiliki kulit putih dan rambut hitam panjang. "Selamat datang apa yang ingin anda pesan." Pelayan restoran tersenyum kepada Arthur dan Deni.
"Aku pesan kepiting, dan cumi." Kata Arthur.
"Aku pesan makanan yang sama dengannya." Kata Deni.
"Baik, silakan tunggu pesanan anda." Pelayan mengangguk dan masuk ke dalam dapur.
"Bolehkah kita duduk disini." Arthur tersenyum kepada Veronica.
Arthur tersenyum kemudian duduk di depan Veronica. "Perkenalkan nama saya Arthur." Kata Arthur mengulurkan tangannya.
"Nama saya Veronica." Veronica menjabat tangan Arthur.
"Deni." Kata Deni juga mengulurkan tangannya.
"Veronica." Veronica menjabat tangan Deni.
"Tunggu sebentar. Saya pernah mendengar nama Arthur di suatu tempat." Kata Veronica melihat Arthur.
"Ahhh. Apakah kamu Arthur dari negara Volgrad." Veronica menatap Arthur.
"Benar, aku Arthur dari negara Volgrad." Arthur mengangguk.
"Ahhhh." Veronica terkejut dengan jawaban Arthur. "Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan pahlawan Volgrad." Veronica tersenyum.
"Veronica mengapa kamu ada disini." Kata Arthur melihat Veronica.
"Saya ingin pergi ke negara Bradfort." Veronica tersenyum. "Oohh." Deni terkejut mendengar Veronica ingin pergi ke negara Bradfort.
"Mengapa kamu ingin pergi ke negara Bradfort." Tanya Arthur.
"Saya ingin memulai kehidupan baru disana." Veronica tersenyum.
"Ini pesanan anda." Arthur melihat pelayan restoran mengantarkan pesanan makanan miliknya dan Deni.
"Ayo kita makan. Kita bisa mengobrol setelah selesai makan." Kata Deni melihat Arthur dan Veronica.
"Baiklah." Arthur mengangguk. Arthur, Deni dan Veronica kemudian mulai makan.
Beberapa menit kemudian Arthur, Deni dan Veronica telah selesai makan. "Aku ingin pergi minum, apa nona Veronica ingin ikut." Arthur melihat Veronica.
"Aku ikut." Veronica tersenyum.
"Deni apa kamu ingin minum." Arthur melihat Deni.
"Aku ingin minum. Saat di bumi aku tidak pernah minum alkohol." Deni mengangguk. Arthur, Deni dan Veronica kemudian keluar dari restoran.
Beberapa menit kemudian Arthur, Deni dan Veronica masuk ke dalam bar. "Pelayan kami pesan 3 botol alkohol." Kata Arthur melihat pelayan Bar.
"Baik." Pelayan bar mengangguk kemudian memberikan 3 botol alkohol kepada Arthur. Arthur membuka botol kemudian menuangkan alkohol ke gelas.
"Ayo kita minum." Kata Arthur melihat Deni dan Veronica. Deni dan Veronica mengangguk kemudian meminum alkohol.
"Ahhhh. Aku tidak tahu bahwa alcohol rasanya seperti ini." Kata Veronica.
"Alkohol tidak seenak yang aku pikirkan." Kata Deni.
"Apa kalian berdua masih ingin minum." Arthur melihat Deni dan Veronica.
"Aku masih ingin minum." Veronica mengangguk.
"Aku tidak ingin minum." Balas Deni. "Pelayan aku pesan minuman yang tidak beralkohol." Kata Deni melihat pelayan bar.
"Baik." Pelayan bar mengangguk kemudian memberikan sebuah botol minuman kepada Deni.
Beberapa menit telah berlalu. Saat ini Arthur melihat Veronica sedang mabuk. "Arthur tolong antar aku kembali ke penginapan." Kata Veronica memegang tangan Arthur.
"Deni aku akan mengantarnya ke penginapan." Kata Arthur melihat Deni.
"Baiklah, aku akan menunggumu disini." Balas Deni.
Arthur keluar bar dengan merangkul Veronica. "Dimana penginapanmu." Kata Arthur melihat Veronica.
Veronica kemudian menunjuk sebuah penginapan. Arthur kemudian berjalan ke penginapan.
"Ada dimana kamarmu." Tanya Arthur saat masuk ke dalam penginapan.
"Kamarku ada di lantai 2." Balas Veronica. Arthur kemudian naik ke lantai dua.
"Itu kamarku." Kata Veronica menunjuk sebuah kamar. Arthur membuka pintu kemudian masuk ke dalam kamar bersama Veronica.
"Arthur tutup pintunya." Kata Veronica melihat Arthur. Arthur kemudian menutup pintu.
"Arthur bagaimana aku menurutmu." Veronica melihat Arthur.
"Kamu sangat cantik untuk wanita seusiamu." Balas Arthur melihat wajah Veronica dan bibirnya yang merah. Veronica tersenyum saat Arthur memujinya cantik.
"Arthur apa kamu tertarik dengan wanita yang lebih dewasa denganmu." Veronica melihat Arthur.
"Jika itu kamu, aku tertarik." Balas Arthur. Arthur mengulangi perkataannya dulu saat bersama Veronica.
Veronica tersenyum kemudian berkata. "Arthur cium aku." Arthur membaringkan Veronica ke kasur kemudian mencium bibirnya.
Veronica melepas pakaiannya dan berkata. "Arthur hisap dadaku." Arthur mengangguk kemudian menjilati dada Veronica. "Emmm." Veronica mengerang saat Arthur menjilati dadanya.