
"Negara Volgrad dan negara Kaunas telah berperang sejak lama. Dan kedua orang tuaku meninggal karena di bunuh human beast." Kata Eleanor.
"Jika kamu tidak menyelamatkanku, mungkin aku juga akan mati di tangan human beast." Eleanor melihat Arthur.
"Aku tiba-tiba sangat mengantuk." Kata Arthur mengalihkan pembicarannya. Arthur berbaring di kasur dan memejamkan matanya. Eleanor tersenyum kemudian tidur di samping Arthur.
"Arthur." Kata Eleanor.
"Apa." Balas Arthur.
"Apa kamu benar-benar menyukaiku. Saat Luis memanggilmu ke dunia ini. Kamu selalu bersikap dingin kepadaku." Kata Eleanor.
"Jika anda tiba-tiba di panggil ke dunia lain. Apakah anda tidak akan kesal." Tanya Arthur.
"Tentu saja aku akan kesal." Balas Eleanor.
"Begitu juga denganku. Aku kesal kepada anda dan Luis. Karena telah memanggilku kembali ke dunia ini." Kata Arthur. Eleanor terdiam saat mendengar kata Arthur.
"Tapi setelah Luis mengirim kembali diriku dan teman-temanku. Aku tidak kesal lagi kepada anda." Kata Arthur. Eleanor tersenyum mendengar Arthur sudah tidak kesal lagi kepadanya.
"Baiklah, ayo kita tidur." Kata Arthur.
"Arthur kamu belum menjawab pertanyaanku. Apa kamu benar-benar menyukaiku atau tidak." Kata Eleanor.
"Saya menyukai anda yang mulia." Kata Arthur.
"Jika kamu menyukaiku, mengapa kamu tidak memanggilku namaku." Balas Eleanor.
"Saya menyukaimu Eleanor." Kata Arthur. Eleanor tersenyum saat mendengar Arthur menyukainya.
"Jika kamu bicara lagi. Aku akan menciummu." Kata Arthur melihat Arthur.
"Aku ingin melihat apakah kamu berani menciumku." Kata Eleanor. Mendengar kata Eleanor Arthur kemudian mencium bibir Eleanor.
Eleanor terkejut saat Arthur tiba-tiba mencium dirinya. "Aawww." Arthur berteriak saat Eleanor mengigit lidahnya.
"Bukankah kamu mengatakan tidak akan melakukan hal yang aneh." Kata Eleanor dengan wajah merah.
"Jika kamu tidak memprovasiku, aku tidak akan menciummu. Terlebih lagi mengapa kamu sangat marah, hanya karena aku menciummu." Kata Arthur.
"Tentu saja aku sangat marah. Kamu tiba-tiba menciumku." Kata Eleanor dengan wajah merah.
"Apakah tadi ciuman pertamamu." Kata Arthur melihat Eleanor.
"Baiklah, ayo kita tidur." Eleanor tersipu malu dan berbaring di kasur. Arthur tersenyum kemudian berbaring di samping Eleanor.
"Apa aku boleh memelukmu." Bisik Arthur.
"Jika hanya pelukan tidak masalah." Kata Eleanor. Arthur tersenyum kemudian memeluk Eleanor. Wajah Eleanor menjadi merah saat Arthur memeluk dirinya.
Tidak lama kemudian Arthur tertidur dengan memeluk Eleanor. "Arthur apa kamu sudah tidur." Tanya Eleanor.
Melihat tidak ada jawaban dari Arthur, Eleanor kemudian berbalik. Eleanor melihat wajah Arthur dan bergumam. "Dia sangat tampan. Wajar jika banyak wanita yang suka kepadanya." Gumam Eleanor melihat Arthur.
Keesokan harinya Arthur terbangun dan melihat Eleanor tidak ada di sampingnya. "Kreekk." Eleanor keluar dari kamar mandi. "Kamu sudah bangun." Kata Eleanor.
"Aku baru saja bangun." Arthur mengangguk.
"Nanti malam apa kamu ingin tidur denganku lagi." Tanya Eleanor.
"Apa kamu suka tidur denganku." Balas Arthur.
"Tidak, aku hanya bertanya." Balas Eleanor dengan wajah merah.
"Tidak, nanti malam aku akan tidur dengan Slyvia." Balas Arthur.
"Jika kamu berhenti berhubungan badan dengan Elf itu. Aku memperbolehkanmu menciumku." Kata Eleanor dengan wajah merah. Arthur berjalan ke arah Eleanor kemudian memegang wajahnya.
"Arthur apa yang kamu lakukan." Eleanor menatap Arthur. Arthur kemudian mencium bibir Eleanor. "Emmm." Eleanor terkejut tiba-tiba Arthur mencium bibirnya.
"Aku pikir kamu akan mengigit lidahku lagi." Kata Arthur melihat Eleanor.
"Jika kamu mengigit lidahku lagi. Aku tidak akan pernah menciummu." Kata Arthur.
"Kamu." Sebelum menyelesaikan perkataannya. Arthur mencium bibir Eleanor sekali lagi. "Emmm."
"Bibirmu sangat manis." Kata Arthur melihat Eleanor. Eleanor tersipu malu saat mendengar kata Arthur.
"Arthur, kamu sudah menciumku dua kali. Jadi kamu harus berhenti berhubungan badan dengan Slyvia." Kata Eleanor.
"Ahhh. Apa kamu serius ingin menciumku setiap menit." Eleanor terkejut.
"Tidak, aku hanya bercanda." Arthur tersenyum.
"Ayo kita makan." Kata Arthur melihat Eleanor.
"Baik." Balas Eleanor. Arthur dan Eleanor kemudian keluar dari kamar.
"Selamat pagi tuan." Slyvia tersenyum melihat Arthur.
"Selamat pagi Slyvia." Balas Arthur.
"Slyvia ayo kita makan." Kata Arthur berjalan ke ruang makan.
"Baik tuan." Slyvia mengangguk dan mengikuti Arthur.
Tidak lama kemudian Arthur, Eleanor dan Slyvia berada di ruang makan. "Tuan, apa anda ingin aku suapin." Tanya Slyvia.
"Tidak perlu, biar aku saja yang menyuapin Arthur." Kata Eleanor.
"Arthur buka mulutmu." Kata Eleanor. Arthur kemudian membuka mulutnya. Eleanor kemudian menyuapi Arthur.
Beberapa menit telah berlalu. Saat ini Arthur telah selesai makan dan berada di dalam kamarnya. "Kreeekk." Arthur melihat Slyvia masuk ke dalam kamarnya.
"Tuan, apa anda sudah mandi. Jika belum mandi, ayo kita mandi bersama." Kata Slyvia tersipu malu.
"Kreekk." Arthur melihat Eleanor masuk ke dalam kamarnya. "Arthur ayo ikut denganku." Kata Eleanor melihat Arthur.
"Slyvia hari ini kamu bisa mandi sendiri." Kata Arthur keluar dari kamarnya.
"Apakah kamu cemburu kepada Slyvia." Kata Arthur melihat Eleanor.
"Mengapa kamu masih bertanya. Tentu saja aku cemburu kepadanya. Tidak ada perempuan yang ingin melihat pria yang disukainya bersama perempuan lain." Kata Eleanor.
Arthur tersenyum saat mendengar kata Eleanor. Arthur memeluk Eleanor kemudian mencium bibirnya. "Emmm." Eleanor terkejut melihat Arthur tiba-tiba menciumnya.
"Arthur jika kamu ingin menciumku. Lakukanlah saat kita berada di dalam kamar." Kata Eleanor tersipu malu.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita ke kamar." Kata Arthur menarik tangan Eleanor. Arthur dan Eleanor kemudian masuk ke dalam kamar.
"Ahhh." Arthur membaringkan Eleanor ke kasur kemudian mencium bibirnya. "Emmmm." Eleanor memejamkan matanya saat Arthur mencium dirinya.
"Eleanor apa aku boleh bermain dengan dadamu. Aku tidak puas jika cuma berciuman." Kata Arthur menatap Eleanor.
"Baiklah, kamu bisa bermain dengan dadaku." Kata Eleanor dengan malu.
"Bagus." Arthur tersenyum kemudian membuka pakaian Eleanor.
"Arthur mengapa kamu membuka pakaianku." Eleanor terkejut.
"Bukankah kamu mengatakan jika aku bisa bermain dengan dadamu." Balas Arthur.
"Eleanor kamu memiliki dada yang indah." Kata Arthur melihat dada bulat Eleanor kemudian menjilatinya. "Ahhh." Eleanor mengerang saat Arthur menjilati dadanya.
Beberapa menit telah berlalu, Saat ini Arthur dan Eleanor sedang berciuman di kasur. "Arthur ayo kita lanjutkan nanti malam. Aku ingin berkeliling kota dan melihat penduduk yang membangun rumah mereka." Kata Eleanor melihat Arthur.
"Baiklah, kita akan melanjutkannya nanti malam." Kata Arthur meremas dada Eleanor. "Ahhh." Eleanor mengerang saat Arthur meremas dadanya.
Beberapa menit kemudian Arthur dan Eleanor keluar dari istana. "Yang mulia." "Yang mulia." Semua penduduk membungkuk saat melihat Eleanor.
"Yang mulia anda sangat cocok dengan Tuan Arthur. Mengapa yang mulia dan tuan Arthur tidak menikah." Kata seorang anak kecil. Wajah Eleanor menjadi merah saat mendengar kata anak kecil.
"Siapa namamu." Kata Arthur melihat anak kecil.
"Nama saya Alexa tuan Arthur." Balas anak kecil.
"Jika di masa depan kamu membutuhkan pekerjaan. Kamu bisa bekerja sebagai pelayan istana." Kata Arthur.
"Ahh, bisakah saya bekerja di istana yang mulia." Tanya anak kecil.
"Saat berusia 15 tahun. Kamu bisa bekerja sebagai pelayan di istana." Kata Eleanor.
"Terimakasih yang mulia. Saat berusia 15 tahun, saya akan bekerja sebagai pelayan di istana." Kata anak kecil dengan senang.
Beberapa jam kemudian Arthur dan Eleanor telah kembali ke istana. "Tuan, saya sudah menyiapkan makan siang untuk anda." Kata Slyvia melihat Arthur.
"Bagus, kalau begitu ayo kita makan." Arthur berjalan ke ruang makan di ikuti Eleanor dan Slyvia.