
Tidak lama kemudian Arthur melihat pelayan restoran berjalan ke arahnya. "Ini pesanan anda tuan." Kata pelayan mengantar pesanan Arthur.
"Ayo kita makan." Kata Arthur melihat Slyvia.
"Baik." Slyvia mengangguk kemudian mulai makan.
Beberapa menit kemudian Arthur dan Slyvia telah selesai makan. "Ayo pergi." Kaa Arthur melihat Slyvia.
"Baik." Slyvia mengangguk. Arthur kemudian keluar restoran di ikuti Slyvia.
Tidak lama kemudian Arthur masuk ke dalam penginapan. "Berapa harga kamar terbaik di penginapan ini." Tanya Arthur.
"Harga kamar terbaik di penginapan ini adalah 500 coin perak tuan." Balas pelayan penginapan.
"Aku ingin menginap selama 2 hari." Kata Arthur memberikan 1 coin emas kepada pelayan penginapan.
"Baik tuan, silakan ikuti saya." Kata pelayan penginapan. Arthur dan Slyvia kemudian mengikuti pelayan penginapan.
"Ini kamar anda tuan." Pelayan penginapan membuka pintu kamar.
"Ayo masuk." Kata Arthur melihat Slyvia.
"Baik." Slyvie mengangguk kemudian masuk ke dalam kamar. Arthur masuk ke dalam kamar kemudian menutup pintu.
"Duduklah di Kasur." Kata Arthur melihat Slyvia.
"Baik tuan." Slyvia mengangguk kemudian duduk di Kasur.
Arthur memegang Pundak Slyvia dan berkata. "Heal." "Singg!!" cahaya hijau menyinari tubuh Slyvia.
Slyvia terkejut melihat cahaya hijau menyinari tubuhnya. "Aku sudah menyembuhkan semua luka yang kamu miliki." Kata Arthur melihat Slyvia. Slyvia terkejut melihat semua luka di tubuhnya sembuh.
"Terimakasih tuan, anda sudah menyembuhkanku." Slyvia berterimakasih.
Arthur mengangguk dan berkata. "Mandilah dan bersihkan tubuhmu."
"Baik tuan." Slyvia mengangguk kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Beberapa menit kemudian Arthur melihat Slyvia keluar dari kamar mandi. "Setelah aku menyembuhkan semua luka di kulitnya. Dia terlihat cukup cantik." Gumam Arthur melihat kulit putih bersih Slyvia.
"Duduklah di sampingku." Kata Arthur melihat Slyvia.
"Baik tuan." Slyvia mengangguk kemudian duduk di samping Arthur.
"Berapa usiamu." Tanya Arthur meski sudah tahu jawabannya.
"Usia saya saat ini adalah 38 tuan." Balas Slyvia.
"Kamu lebih tua 20 tahun dariku." Balas Arthur.
"Mengapa kamu bisa menjadi budak." Tanya Arthur.
"Saya di jebak oleh teman saya." Kata Slyvia kemudian menceritakan dirinya di jebak oleh temannya dan berakhir di jual sebagai budak.
"Apa aku orang pertama yang membelimu." Tanya Arthur.
"Tidak, tuan adalah yang kedua membeli saya." Balas Slyvia.
"Mengapa tubuhmu penuh luka dan sangat kurus. Apa kamu di siksa oleh orang pertama yang membelimu." Tanya Arthur. Slyvia mengangguk.
"Sepertinya orang yang membeli Slyvia menyukainya bdsm." Gumam Arthur di pikirannya.
"Apa orang yang membelimu adalah pria." Tanya Arthur.
"Tidak tuan, orang yang membeli saya adalah wanita." Balas Slyvia.
"Oohhh." Arthur terkejut dengan jawaban Slyvia.
"Mengapa dia menjualmu." Tanya Arthur.
"Dia meninggal tuan." Kata Slyvia.
"Apa kamu membunuhnya." Tanya Arthur.
"Tidak tuan, dia di bunuh oleh assassin." Slyvia menggeleng.
"Oohh. Lalu bagaimana ceritanya kamu berakhir di jual di pasar budak lagi." Tanya Arthur.
"Saya menyerahkan diri ke nona Malefin pemilik gedung tempat anda membeli saya." Balas Slyvia.
"Oohh." Arthur terkejut dengan jawaban Slyvia.
"Jika saya melarikan diri. Saya akan di tuduh sebagai pembunuh wanita yang membeli saya. Jika saya menjadi tersangka pembunuhan. Hukuman yang saya dapatkan adalah kematian. Dan saya masih tidak ingin mati." Kata Slyvia mengigit bibirnya. Arthur terdiam mendengar kata Slyvia.
"Tuan, apakah anda akan menyiksa saya." Slyvia menatap Arthur.
"Jika aku ingin menyiksamu. Buat apa aku menyembuhkanmu." Balas Arthur. Slyvia tersenyum saat mendengar kata Arthur.
"Baik tuan." Slyvia mengangguk kemudian berbaring di samping Slyvia.
Keesokan harinya Arthur terbangun dan melihat Slyvia berbaring di sampingnya. "Selamat pagi tuan." Slyvia tersenyum.
"Selamat pagi juga." Balas Arthur. "Sepertinya yang dikatakannya adalah benar. Yang membunuh majikan pertamannya adalah assassin." Gumam Arthur.
"Ayo kita mandi Bersama." Kata Arthur melihat Slyvia.
"Ahhh, baik tuan." Slyvia mengangguk dengan malu.
Arthur dan Slyvia kemudian masuk ke dalam kamar mandi. "Basuh badanku." Kata Arthur melihat Slyvia.
"Baik tuan." Sylvia tersipu malu kemudian membasuh badan Arthur.
"Tuan, apakah saya perlu membasuh milik anda." Slyvia tersipu malu melihat milik Arthur yang berdiri.
"Kamu bisa membasuhnya." Balas Arthur. Slyvia mengangguk dengan malu kemudian mengelus milik Arthur.
"Jadi seperti ini milik pria." Kata Slyvia.
"Oohh. Apa ini pertama kali kamu melihat milik pria." Kata Arthur melihat Slyvia.
"Benar tuan, ini pertama kali saya memegang milik pria." Slyvia menjawab dengan malu.
Arthur terkejut dengan jawaban Slyvia. "Jangan bilang dia masih virgin untuk wanita berusia 38 tahun." Gumam Arthur di pikirannya.
"Slyvia aku akan membasuh tubuhmu." Kata Arthur melihat Slyvia. Slyvia tersipu malu saat mendengar Arthur akan membasuh tubuhnya. Arthur kemudian mulai membasuh dada kecil Slyvia. "Emmm." Slyvia mengerang saat Arthur membasuh dadanya.
"Jika dia tidak kurus, mungkin dia sangat cantik." Gumam Arthur melihat wajah Slyvia yang merah. Arthur melihat bibir merah Slyvia kemudian mencium bibirnya. "Emmm." Slyvia terkejut saat Arthur tiba-tiba menciumnya.
"Bibirmu sungguh manis." Kata Arthur melihat Slyvia. Slyvia tersipu malu saat mendengar kata Arthur. "Ahhh." Arthur menggendong Slyvia dan keluar dari kamar mandi.
Arthur membaringkan Slyvia ke kasur kemudian mencium bibirnya. "Emmm." Slyvia memejamkan matanya saat Arthur mencium bibirnya.
Setelah puas mencium bibir Slyvia, Arthur kemudian menghisap dada kecil Slyvia. "Ahhhh." Slyvia mengerang saat Arthur menghisap dadanya.
Setelah puas bermain dengan dada Slyvia, Arthur kemudian menusuk milik Slyvia. "Ahhhh." Slyvia berteriak saat Arthur menusuk miliknya.
"Dia masih virgin." Arthur terkejut melihat darah yang mengalir dari milik Slyvia.
"Aku tidak menyangka ini pertama kalinya bagimu." Kata Arthur melihat Slyvia.
"Tuan, bisakah anda melakukannya dengan pelan." Kata Slyvia meneteskan air mata.
"Baik, aku akan melakukan dengan pelan." Arthur mengangguk kemudian mencium bibir Slyvia.
1 Jam kemudian Arthur dan Slyvia sedang berbaring di kasur dengan telanjang. "Maaf, jika aku tahu kamu masih virgin. Aku tidak akan melakukannya denganmu." Kata Arthur melihat Slyvia.
"Anda tidak perlu meminta maaf tuan. Saya juga tidak keberatan anda adalah yang pertama kali bagi saya." Slyvia tersenyum. Arthur dan Slyvia saling menatap kemudian mulai berciuman.
1 Jam kemudian Arthur dan Slyvia berada di restoran. "Slyvia apa kamu tidak ada rencana untuk membalas dendam terhadap temanmu." Tanya Arthur.
"Tidak tuan." Slyvia menggeleng.
"Kamu tidak perlu takut, aku akan membantumu untuk balas dendam." Balas Arthur.
"Saya tidak ingin tuan berada dalam bahaya." Slyvia menggeleng.
"Kamu tidak perlu khawatir. levelku sangat tinggi." Arthur tersenyum.
"Mungkin tuan tidak tahu. Elf yang menjebakku adalah anak raja elf." Kata Slyvia. Arthur terkejut mendengar kata Slyvia.
"Saya tidak ingin tuan menyinggung raja elf dan menjadi musuh negara Helmond." Kata Slyvia.
"Apa kamu tahu berapa level raja elf." Tanya Arthur.
"Level raja elf adalah max tuan." Balas Slyvia. Arthur terkejut saat mendengar kata Slyvia.
"Sepertinya kita harus meningkatkan level terlebih dulu sebelum pergi ke wilayah ras Elf." Kata Arthur.
"Tuan, jika saya boleh tahu. Anda level berapa saat ini." Tanya Slyvia.
"Levelku saat ini 970." Kata Arthur.
"Ahhh." Slyvia terkejut saat mendengar level Arthur 970.
"Tuan, Level anda sangat tinggi." Kata Slyvia.
"Tapi level raja elf lebih tinggi dariku." Balas Arthur.
"Raja elf telah hidup selama 100 tahun. Jadi wajar jika dirinya memiliki level tinggi." Kata Slyvia.
"Tuan ini pesanan anda." Arthur melihat pelayan restoran mengantarkan pesanan makanannya.
"Baiklah, ayo kita makan terlebih dulu." Kata Arthur melihat Slyvia. "Baik tuan." Slyvia mengangguk.