
"Tidak ada gunanya membunuh semut sepertimu." Kata Graham. Arthur tersenyum kecut mendengar dirinya di sebut semut oleh Graham.
Saat hendak berbicara, Arthur melihat lubang hitam yang muncul di belakangnya.
"Lubang apa itu." Kata Arthur melihat lubang hitam yang muncul di belakangnya.
"Violet, ayo kita masuk ke dalam lubang itu." Kata Graham penasaran.
"Baik." Wanita berambut ungu yang di panggil Violet mengangguk.
Arthur kemudian melihat Graham dan wanita berambut ungu masuk ke dalam lubang hitam. "Apa aku harus masuk ke dalam lubang itu juga." Arthur bingung.
Arthur terdiam beberapa detik dan berkata. "Tidak ada salahnya aku masuk ke dalam lubang hitam itu." Arthur kemudian masuk ke dalam lubang hitam.
Saat masuk ke dalam lubang hitam Arthur melihat dirinya berada di sebuah hutan. "Bruaakk." "Sepertinya aku berada di dunia lain." Kata Arthur melihat ogre bewarna merah setinggi 10 meter yang berjalan ke arahnya.
"Mati!!" Arthur berteriak dan melompat ke arah ogre. "Buukk." Ogre memukul Arthur. "Uuuhh." "Booomm!!" Arthur melesat sejauh 10 meter dan menghantam pepohonan.
"Bagaimana bisa ogre sekuat ini." Arthur batuk darah dan memegangi perutnya.
"Manusia kamu sangat lemah." Kata Ogre bewarna merah melihat Arthur.
"Dia bisa berbicara." Arthur terkejut mendengar ogre berbicara.
"Manusia apa kamu punya kata-kata terakhir." Kata ogre bewarna merah.
"Yang akan mati disini bukan aku. Melainkan dirimu." Teriak Arthur kemudian berkata. "Fire ball." "Water arrow." "Wind blade." "Stone spear." Ratusan bola api, panah air, pisau angin dan tombak batu muncul di udara.
"Mati." Teriak Arthur menembakan ratusan bola api, panah air, pisau angin dan tombak batu ke arah ogre bewarna merah. "Booomm!!." "Booomm!!." Ledakan besar terjadi. "Exp +1.000."
"Level Up." "Anda mendapatkan 5 poin." "Jika aku mendapatkan 1.000 Exp berarti dia level 1000." Kata Arthur terkejut melihat notifikasi yang muncul.
"Bruaakk." Arthur kemudian melihat 2 ogre bewarna merah yang muncul dari balik pohon dan berjalan ke arahnya. "Sial, sepertinya aku akan mati lagi." Arthur mengutuk.
"Crasshh." Ogre mengayunkan kapaknya dan memotong kepala Arthur.
Arthur membuka matanya dan melihat dirinya berada di ruangan putih. "Aku tidak menyangka akan mati di bunuh ogre." Arthur tersenyum kecut saat mengingat dia mati di bunuh oleh ogre bewarna merah.
"Singg!!" Arthur melihat layar hologram muncul di depannya. "Jika aku mati lagi. Mungkin aku tidak bisa hidup lagi." kata Arthur melihat gambar dirinya saat berhunbungan badan dengan Slyvia.
Arthur kemudian menyentuh gambar dirinya dirinya saat berhunbungan badan dengan Slyvia. "Singg!!" Tubuh Arthur bersinar kemudian menghilang.
Arthur membuka matanya dan melihat dirinya sedang berhubungan badan dengan Slyvia. "Sayang perlakukan diriku dengan kasar." Kata Slyvia.
"Baiklah, jika itu keinginanmu." Kata Arthur kemudian menarik rambut Slyvia. "Ahhhh." Slyvia berteriak. "Plassshh." Arthur menampar wajah Slyvia. "Ahhh." Slyvia berteriak.
Beberapa jam kemudian Arthur sedang berada di kamar mandi. "Di kehidupanku saat ini, aku menikah dengan Eleanor dan Slyvia." Kata Arthur.
"Aku tidak tahu bagaimana bisa kembali lagi ke masa lalu." Kata Arthur teringat dirinya kembali lagi ke masa lalu.
"Di kehidupanku saat ini. Aku tidak berencana kembali ke bumi. Aku akan menikmati kehidupanku di dunia ini. Sampai aku mati." Kata Arthur.
"Buka status." Kata Arthur kemudian layar status muncul di depannya.
Nama : Arthur Benedict
Usia : 19 tahun
Level : 999
Job : Mage
Ras : Manusia
Strength : 1005
Agility : 1005
Vitality : 1005
Stamina : 1005
Magic : 1005
Poin : 0
Poin Skill : 84
Arthur melihat skill Summoning Magic dan berkata. "Jika teman-temanku ada di dunia ini. Seharusnya aku bisa memanggil mereka ke mari." Arthur memakai handuk dan keluar dari kamar mandi.
"Sayang kamu sudah selesai mandi." Slyvia melihat Arthur yang kelaur dari kamar mandi.
"Aku sudah selesai mandi." Arthur mengangguk kemudian menggambar lingkaran dan bintang di lantai.
"Sayang apa yang kamu gambar." Tanya Slyvia.
"Formarsi teleportasi." Balas Arthur.
"Ahhh. Sayang kamu menguasai sihir pemanggilan." Slyvia terkejut.
Arthur menyentuh lingkaran di lantai dan berteriak. "Summon."
Beberapa detik telah berlalu. Arthur melihat tidak ada siapapun yang muncul di dalam lingkaran. "Sepertinya aku harus memanggil Rapunsel. Karena dia yang menguasai sihir pemanggilan." Kata Arthur kemudian berteriak "Summon."
Saat ini di negara Bradfort Rapunsel sedang berbaring di lantai. "Apa kamu memiliki kata-kata terakhir." Kata iblis wanita berkulit ungu melihat Rapunsel.
"Jika yang aku panggil ke dunia ini adalah Arthur. Kamu pasti akan mati." Kata Rapunsel melihat iblis wanita berkulit ungu. Rapunsel tahu bahwa Arthur yang terkuat dari semua teman-temannya.
"Hahaha, sayangnya bukan dia yang kamu panggil kembali ke dunia ini." Iblis wanita berkulit ungu tertawa. "Singg!!!" Tubuh Rapunsel bercahaya kemudian menghilang.
Saat ini Arthur melihat Rapunsel tiba-tiba muncul di depannya. "Arthur." Rapunsel terkejut melihat Arthur tiba-tiba berada di depannya.
"Putri Rapunsel apa yang terjadi padamu." Tanya Arthur melihat Rapunsel yang terluka.
"Adik raja iblis menyerang negara Bradfort." Kata Rapunsel kemudian jatuh pingsan.
"Sayang, apa dia meninggal." Slyvia terkejut melihat Rapunsel yang tiba-tiba jatuh pingsan.
Arthur memeriksa Rapunsel dan berkata. "Dia hanya pingsan."
Arthur menyentuh tangan Rapunsel dan berkata. "Heal." "Singg!!!" Cahaya hijau menyinari tubuh Rapunsel.
Tidak lama kemudian luka di tubuh Rapunsel sembuh. "Uuuhh." Rapunsel membuka matanya. "Arthur, ayahku meninggal." Rapunsel tiba-tiba menangis.
"Ceritakan apa yang terjadi." Kata Arthur melihat Rapunsel.
Rapunsel kemudian menceritakan tentang dirinya memanggil Steven saat pasukan iblis menyerang negara Bradfort. Steven dan ayahnya Edward kemudian di bunuh oleh Lilith adik raja iblis Lucifer.
"Jadi alasanku kembali ke masa lalu, karena Steven mati." Gumam Arthur.
"Aku juga baru sadar bahwa saat aku kembali ke masa lalu kedua kalinya. Adalah saat Steven di bunuh raja iblis." Gumam Arthur.
"Fiona." Arthur berteriak.
"Ada apa yang mulia." Fiona masuk ke dalam kamar. Rapunsel terkejut saat seorang perempuan memanggil Arthur yang mulia.
"Antarkan Rapunsel ke dalam kamar. Dia adalah putri raja dari negara Bradfort." Kata Arthur melihat Fiona.
"Ahhh, baik yang mulia." Fiona mengangguk.
"Rapunsel ikutilah Fiona." Kata Arthur.
"Baik." Rapunsel mengangguk kemudian mengikuti Fiona.
Melihat Rapunsel keluar dari kamar Arthur kemudian menyentuh formasi teleportasi. "Semoga Lily baik-baik saja." Gumam Arthur kemudian berteriak. "Summon."
Saat ini di tempat lain Lily sedang di kejar puluhan iblis. "Buukk." "Ahhh." Lily tersandung dan terjatuh. "God ampuni segala dosaku." Lily menangis.
"Singg!!" tubuh Lily bersinar kemudian menghilang.
Lily membuka matanya dan melihat dirinya berada di dalam kamar. "Mengapa aku berada disini." Lily bingung.
"Ahhh, bukankah anda tuan Arthur." Lily terkejut melihat Arthur di depannya.
"Benar, aku adalah Arthur." Arthur mengangguk. Arthur kemudian mengarang cerita tentang dirinya yang memanggil manusia dari negara Bradfort secara acak. "God sepertinya tidak ingin diriku mati." Lily menangis mendengar cerita Arthur.
"Tuan Arthur. Apakah anda bisa memanggil manusia yang tinggal di negara Bradfort. Saat ini pasukan iblis menyerang negara Bradfort." Kata Lily.
"Aku akan mencoba memanggil satu manusia lagi yang ada di negara Bradfort." Balas Arthur mengingat Eva yang meninggal saat pasukan iblis menyerang negara Bradfort.
Arthur menyentuh formasi teleportasi dan berteriak. "Summon."