
"Slyvia ayo kita makan." Kata Arthur melihat Slyvia.
"Baik tuan." Slyvia mengangguk. Arthur dan Slyvia kemudian masuk ke dalam restoran.
"Duduklah, aku akan membuat makanan untuk kalian." Kata wanita paruh baya berjalan ke dapur.
Beberapa menit kemudian Arthur melihat wanita paruh baya kembali dengan membawa makanan. "Apa ini daging beruang yang kemarin aku bunuh." Tanya Arthur.
"Benar, itu daging beruang yang kamu bunuh." Wanita paruh baya mengangguk. Arthur kemudian memakan daging beruang.
"Bagaimana rasanya." Tanya wanita paruh baya.
"Enak." Balas Arthur. Wanita paruh baya tersenyum saat mendengar kata Arthur.
"Arthur kamu mengingatkanku kepada anakku." Kata wanita paruh baya.
"Dimana anakmu sekarang." Tanya Arthur.
"Anakku sekarang sudah mati." Balas wanita paruh baya.
"Maaf, aku sudah bertanya." Kata Arthur meminta maaf.
"Kamu tidak perlu meminta maaf." Wanita paruh baya tersenyum.
"Kalian berdua makanlah, aku akan kembali ke dapur." Kata wanita paruh baya berjalan ke dapur.
Beberapa menit kemudian Arthur dan Slyvia telah selesai makan. "Bibi May aku akan pergi. Terimakasih atas makanannya." Kata Arthur.
"Jika kalian berdua ingin makan. Datang saja kesini." Kata wanita paruh baya.
"Baiklah, aku tidak akan menolak tawaranmu." Kata Arthur keluar dari restoran.
Beberapa menit kemudian Arthur dan Slyvia berada di dalam kamar penginapan. "Buka status." Kata Arthur kemudian layar status muncul di depannya.
Nama : Arthur Benedict
Usia : 19 tahun
Level : 990
Job : Archer
Ras : Manusia
Strength : 995
Agility : 995
Vitality : 995
Stamina : 995
Magic : 995
Poin : 5
Poin Skill : 84
Skill : Observation (S) Copy (S) Doube Exp (S) Summoning Magic (S) Sihir Air (S) Sihir Api (S) Sihir Angin (S) Sihir Tanah (S) Sihir Penyembuh (S) Tehnik Pedang (S) Menghilang (S) Memanah (S)
Melihat 5 poin yang dia miliki, Arthur menambahkan 5 poin kepada Magic. "Singg!!!" cahaya putih menyinari tubuh Arthur.
"Dengan begini magicku mencapai 1000 poin." Kata Arthur.
"Dengan uang yang aku miliki saat ini. Seharusnya aku bisa pergi ke negara Volgrad." Kata Arthur melihat 5 magic crystal dan 100 lebih coin emas yang ada di dalam kantong kain.
"Tapi sebelum pergi ke negara Volgrad. Aku akan pergi ke negara Helmond." Gumam Arthur.
Keesokan harinya Arthur dan Slyvia keluar dari penginapan. "Tuan, apa kita hari ini akan berburu lagi." Tanya Slyvia.
"Tidak, hari ini kita akan pergi ke negara Helmond." Balas Arthur.
"Tuan, apa anda serius ingin pergi ke negara Helmond. Saya tidak masalah meski tidak bisa membalaskan dendam saya." Kata Slyvia.
"Kamu tidak perlu khawatir. Saat ini aku sudah level 990." Arthur tersenyum.
14 hari telah berlalu saat ini Arthur dan Slyvia berada di dalam hutan. "Tuan, sebentar lagi kita akan memasuki negara Helmond, wilayah para elf." Kata Slyvia.
"Slyvia siapa nama anak raja elf yang menjebakmu." Tanya Arthur.
"Namanya adalah Flory tuan." Balas Slyvia.
"Tuan, apa anda akan baik-baik jika pergi sendiri." Slyvia khawatir.
"Kamu tidak perlu khawatir." Balas Arthur kemudian bergumam. "Menghilang." Tubuh Arthur kemudian menghilang.
"Ahhh." Slyvia terkejut melihat Arthur yang tiba-tiba menghilang.
"Slyvia aku pergi." Kata Arthur.
"Baik tuan." Slyvia mengangguk.
Beberapa jam kemudian Arthur berada di dalam wilayah elf. "Tempat tinggal elf sangat menarik." Kata Arthur melihat ratusan rumah yang berada di atas pohon.
"Sepertinya akan butuh waktu lama untuk menemukan elf bernama Flory." Gumam Arthur.
Beberapa jam telah berlalu. Saat ini Arthur masuk ke dalam salah satu rumah yang berada di atas pohon. "Dia sangat jelek." Kata Arthur melihat elf yang sedang berias di kamarnya.
"Putri Flory, yang mulia ingin bertemu dengan anda." Kata elf wanita paruh baya.
"Tunggu sebentar, aku masih berias." Balas elf wanita yang di panggil Flory.
"Baik tuan putri." Balas elf wanita paruh baya.
"Sepertinya dia elf yang menjebak Slyvia." Gumam Arthur. Arthur mendekat ke Flory kemudian memukul leher belakangnya. "Buuukk." "Uuuhh." Elf pingsan setelah terkena pukulan Arthur. Arthur menggendong elf kemudian keluar dari kamar.
1 Jam telah berlalu. Di sebuah ruangan elf pria paruh baya dengan rambut putih sedang duduk di singgasana. "Dimana Flory. Bukankah aku menyuruhnya untuk menemuiku." Kata elf paruh baya.
"Yang mulia, saya akan memanggil tuan putri lagi." Kata elf wanita paruh baya.
"Tuan putri, apa anda sudah selesai berias. Yang mulia sudah menunggu anda sejak tadi." Kata elf wanita paruh baya.
Mendengar tidak ada jawaban, elf wanita paruh baya membuka pintu. "Sepertinya tuan putri pergi lagi." Kata elf wanita paruh baya melihat kamar yang kosong.
Saat ini Arthur sedang berlari dengan menggendong elf wanita. "Uuuhh." Elf wanita tersadar dan membuka matanya. "Siapa kamu." Teriak elf wanita melihat Arthur yang menggendongnya.
"Buuuukk." Arthur memukul leher belakang elf wanita. "Uuuhh." Elf pingsan setelah terkena pukulan Arthur.
Di tempat lain elf pria paruh baya melihat elf wanita paruh baya masuk ke dalam ruangan. "Dimana Flory." Kata elf pria paruh baya melihat elf wanita paruh baya.
"Yang mulia, putri Flory tidak ada di kamarnya." Balas elf wanita.
"Cari dia." Perintah elf pria paruh baya.
"Baik tuan." Elf wanita paruh baya mengangguk.
Beberapa jam kemudian Arthur telah keluar dari wilayah para elf. "Tuan." Arthur melihat Slyvia berlari ke arahnya.
"Slyvia apa dia elf yang menjebakmu." Kata Arthur melempar elf wanita yang tidak sadarkan diri ke tanah.
Ekspresi Slyvia menjadi buruk saat melihat elf wanita yang tidak sadarkan diri. "Benar tuan, dia yang menjebakku dan menjualku ke pasar budak." Kata Slyvia mencengkram tinjunya.
"Apa yang akan kamu lakukan padanya." Kata Arthur melihat Slyvia. Slyvia terdiam saat mendengar kata Arthur.
"Karena dia menjualmu ke pasar budak. Mengapa kamu tidak menjualnya juga ke pasar budak. Tapi melihat dari wajahnya, sepertinya tidak ada siapa pun yang ingin membelinya." Kata Arthur melihat wajah elf wanita.
"Uuuhhh." Arthur melihat elf wanita tersadar. "Slyvia apakah ini kamu." Elf wanita terkejut melihat Slyvia.
"Lama tidak berjumpa tuan putri." Slyvia tersenyum dan mencengkram tangannya.
"Apakah tuan putri masih ingat saat menjebakku, kemudian menjualku ke pasar budak." Kata Slyvia melihat elf wanita.
"Tentu saja aku masih ingat. Aku masih ingat saat kamu menangis dan meminta untuk tidak di jual sebagai budak." Elf wanita tersenyum.
"Bukan hanya wajahnya yang jelek. Hatinya juga busuk." Kata Arthur mendengar kata elf wanita.
Slyvia tidak bisa menahan diri dan akhirnya menampar elf wanita. "Plasshh." "Ahhh." Elf wanita berteriak saat Slyvia menamparnya.
"Slyvia beraninya kamu menampar wajahku." Teriak elf wanita. "Ikat." Elf wanita berteriak kemudian akar tumbuhan muncul dari bawah tanah dan mengikat Slyvia.
"Sihir tumbuhan." Arthur terkejut melihat akar tanaman yang mengikat Slyvia.
"Buuukkk." Arthur memukul leher belakang elf wanita. 'Uuuuhh." Elf wanita pingsan setelah terkena pukulan Arthur. Arthur kemudian melepaskan Slyvia dari akar tanaman yang mengikat dirinya.
"Maafkan saya tuan. Saya lupa bahwa dirinya adalah seorang mage." kata Slyvia meminta maaf.
"Kamu tidak perlu minta maaf." Arthur tersenyum dan mengelus kepala Slyvia. Slyvia tersenyum saat Arthur mengelus kepalanya.
Melihat kulit Slyvia yang merah akibat akar tanaman yang mengikat dirinya Arthur berkata. "Heal." "Singg!!" cahaya hijau menyinari tubuh Slyvia.
"Terimakasih tuan." Slyvia tersenyum melihat Arthur menyembuhkan dirinya.