
Sementara itu di suatu tempat iblis wanita berkulit ungu dengan dua tanduk hitam sedang duduk di singgasana. "Ratuku, kami sudah mengkonfirmasi bahwa semua manusia dari dunia lain yang telah membunuh Raja Lucifer telah kembali ke dunia asal mereka." Kata iblis gemuk.
"Kumpulkan semua pasukan. Kita akan pergi ke negara Bradfort dan membalaskan kematian kakakku." Kata iblis wanita berkulit ungu.
"Baik yang mulia." Iblis gemuk mengangguk.
2 Hari kemudian di negara Bradfort. "Yang mulia beberapa jam lagi pasukan iblis akan tiba di kota." Kata Romeo dengan panik.
"Rapunsel berapa banyak magic crystal yang sudah kamu dapatkan." Kata Edward.
"Saya hanya mendapatkan 5 magic crystal." Kata Rapunsel.
"Baiklah, jika begitu lakukan sihir pemanggilan." Kata Edward.
"Baik ayah." Rapunsel mengangguk kemudian menggambar lingkaran dan bintang di lantai. Setelah selesai menggambar lingkaran Rapunsel mulai membanca mantra. "Singg!!!" Gambar lingkaran kemudian bersinar.
Saat ini di bumi Steven sedang berada di kamarnya. "Sudah 1 bulan lebih setelah Arthur di panggil kembali ke dunia lain. Aku ingin tahu apakah dia baik-baik saja atau tidak."
"Singg!!!" Tubuh Steven bersinar kemudian menghilang.
Steven membuka matanya dan terkejut melihat Rapunsel yang ada di depannya. "Putri Rapunsel."
"Steven." Kata Rapunsel melihat Steven.
"Steven, sebentar lagi pasukan iblis akan tiba di kota. kami membutuhkan bantuanmu untuk mengalahkan pasukan iblis." Kata Edward.
"Bukankah kami sudah mengalahkan raja iblis." Steven terkejut.
"Raja iblis diketahui memiliki adik perempuan, namanya adalah Lilith. Saat kalian menyerang istana raja iblis, Lilith pasti tidak ada disana." Kata Edward.
"Apa yang mulia tahu level Lilith." Tanya Steven.
"Menurut kabarnya level Lilith adalah 990." Kata Edward. Ekspresi Steven menjadi buruk saat mengetahui level Lilith.
"Yang mulia saya takut bukan lawannya. Tapi saya tetap akan mencoba untuk melawannya." Kata Steven.
"Bagus Steven. Aku suka semangat bertarungmu." Edward tersenyum.
Beberapa jam kemudian. Steven melihat ratusan iblis yang menyerang kota. "Semuanya serang." Teriak Romeo.
"Serang!!" Steven berteriak dan berlari ke arah ratusan iblis. "Slasshh." Steven mengayunkan pedangnya dan membunuh iblis dengan mudah.
"Bukankah dia Steven manusia yang berasal dari dunia lain. Mengapa dia ada disini." Teriak salah satu iblis.
"Sepertinya negara Bradfort memanggil dirinya lagi ke dunia ini." Kata iblis lain.
"Jadi kamu manusia dari dunia lain yang membunuh kakakku." Iblis wanita berkulit ungu melihat Steven.
"Apakah kamu Lilith." Kata Steven melihat iblis wanita berkulit ungu.
"Benar, aku adalah Lilith." Balas iblis wanita.
"Bisakah kamu menarik kembali pasukanmu." Kata Steven melihat Iblis wanita.
"Tidak, hari ini aku akan menghancurkan negara Bradfort." Iblis wanita tersenyum.
"Jika begitu aku tidak punya pilihan lain selain bertarung denganmu." Kata Steven.
"Aku juga ingin bertarung dengan manusia yang membunuh kakakku." Kata iblis wanita.
Tidak lama kemudian Steven terbaring di tanah dengan lubang di jantungnya. "Uuhhuukk." Steven batuk darah.
"Kamu sangat lemah. Bagaimana bisa kakakku terbunuh olehmu." Kata iblis wanita melihat Steven yang akan mati.
Sementara itu di negara Volgard Arthur sedang berhubungan badan dengan Slyvia. "Sayang perlakukan diriku dengan kasar." Kata Slyvia.
"Baiklah, jika itu keinginanmu." Kata Arthur kemudian menarik rambut Slyvia.
"Ahhhh." Slyvia berteriak. "Plassshh." Arthur menampar wajah Slyvia. "Ahhh." Slyvia berteriak.
"Singg!!" Tubuh Arthur tiba-tiba bersinar kemudian menghilang.
Arthur membuka matanya dan melihat dirinya berada di sebuah ruangan. "Salam. Sebuah kehormatan dapat menyambut kalian disini." Kata pria paruh baya berambut pirang yang memakai mahkota.
Badan Arthur gemetar saat melihat pria paruh baya dan semua teman sekelasnya. "Bagaimana bisa aku kembali ke masa lalu. Steven dan yang lain sudah kembali ke bumi. Mereka seharusnya baik-baik saja saat berada di bumi." Gumam Arthur di pikirannya.
"Jangan bilang Steven dan yang lain di panggil lagi ke dunia ini dan akhirnya terbunuh." Gumam Arthur di pikirannya.
"Uhukk. Kalian semua tolong ikuti aku." Kata pria tua berambut putih panjang yang memegang tongkat.
"Arthur mengapa kamu diam saja. Ayo kita ikuti pria tua itu." Kata Deni menepuk bahu Arthur.
"Aku tahu." Balas Arthur mengikuti pria tua berambut putih panjang.
Arthur melihat Steven dan berkata. "Aktifkan skill copy salin job hero Steven."
"Level Skill terlalu rendah tidak bisa menyalin Job." Notifikasi muncul di depan Arthur.
"Jangan bilang skill copyku kembali menjadi level E lagi." Arthur terkejut melihat dirinya gagal menyalin Job Steven.
"Buka status." Kata Arthur kemudian layar status muncul di depannya.
Nama : Arthur Benedict
Usia : 18 tahun
Level : 0 Next Level Membutuhkan 1 Exp
Job : -
Ras : Manusia
Agility : 7
Vitality : 8
Stamina : 8
Magic : 0
Poin : 0
Poin Skill : 0
Skill : Observation (E) Copy (E)
"Sial, bahkan skill Observation turun menjadi level E." Kata Arthur melihat statusnya.
"Arthur sekarang giliranmu." Kata Deni melihat Arthur.
Arthur berjalan ke depan dan menyentuh bola kristal.
Nama : Arthur Benedict
Usia : 18 tahun
Level : 0
Job : -
Ras : Manusia
Agility : 7
Vitality : 8
Stamina : 8
Magic : 0
Skill : Observation (E) Copy (E)
"Ahhh. Arthur tidak memiliki job." Kata perempuan berambut coklat.
"Baiklah, kalian semua ikuti aku." Kata pria tua berambut putih panjang melihat Arthur dan semua teman sekelasnya. Arthur dan semua teman sekelasnya kemudian mengikuti pria tua berambut putih panjang.
"Yang mulia. Saya telah melihat status dan job mereka semua." Kata pria tua berambut putih panjang kemudian mengobrol dengan pria paruh baya yang memakai mahkota.
"Rapunsel antarkan mereka semua ke kamar." Pria paruh baya melihat perempuan berambut pirang.
"Baik." Perempuan berambut pirang mengangguk.
"Semuanya tolong ikuti aku." Kata perempuan berambut pirang melihat Arthur dan semua teman sekelasnya. Arthur dan semua teman sekelasnya kemudian mengikuti perempuan berambut pirang.
Tidak lama kemudian Arthur berada di dalam kamar. "Sebentar lagi seorang prajurit akan mengetuk pintu kamarku." Kata Arthur duduk di kasur.
"Tok." "Tok." Arthur membuka pintu dan melihat seorang prajurit. "Yang mulia ingin berbicara kepada anda." Kata Prajurit melihat Arthur.
"Antar aku menemui rajamu." Kata Arthur.
Tidak lama kemudian Arthur berada di ruangan dan melihat pria paruh baya berambut pirang yang duduk di singgasana. "Aku dengar kamu tidak memiliki job." Kata pria paruh baya melihat Arthur.
"Benar. Saya tidak memiliki Job." Arthur mengangguk.
"Karena kamu tidak memiliki job. Kamu tidak ada bedanya dengan manusia biasa di dunia ini." Pria paruh baya melihat Arthur.
"Saya tahu." Arthur mengangguk.
"Aku akan memberimu 2 pilihan. Pilihan pertama kamu akan masuk ke dalam sebuah akademi dan belajar tehnik berpedang serta sihir disana. Pilihan kedua kamu akan ku berikan uang dan tempat tinggal di sebuah desa." Kata pria paruh baya.
"Saya pilih yang kedua." Balas Arthur.
"Aku hargai pilihanmu." Kata pria paruh baya.
"Kamu bisa kembali ke kamarmu. Besok pagi kamu akan di antar ke desa." Kata pria paruh baya.
"Baik." Arthur mengangguk dan keluar dari ruangan.
Beberapa jam telah berlalu. Saat ini Arthur sedang berada di ruang makan bersama teman sekelasnya.
"Arthur aku dengar dari yang mulia kamu memilih tinggal di sebuah desa." Kata Deni melihat Arthur.
"Benar, aku tidak memiliki job seperti kalian. Jadi tinggal di desa adalah keputusan terbaik." Kata Arthur. Deni dan yang lain terdiam saat mendengar kata Arthur.
"Apa kalian suka dengan makanan yang kami berikan." Arthur melihat Rapunsel masuk ke dalam ruang makan.
"Kami sangat menyukai makanan yang anda berikan tuan putri." Deni tersenyum.
"Tuan putri terimakasih sudah memberikan kami kamar yang bagus dan makanan yang lezat." Erika berterimakasih kepada Rapunsel.