
"Tuan saya mengenai kaki kanannya." Kata Slyvia.
"Panah kaki kirinya." kata Arthur.
"Baik tuan." Slyvia mengangguk kemudian mulai memanah manusia serigala. "Wuusshh." "Ceeppp."
"Ahhh." Manusia serigala berteriak saat panah menancap di kaki kirinya.
"Arthur apa aku akan mati." Kata Eleanor melihat Arthur.
"Kamu tidak akan mati yang mulia." kata Arthur menyentuh jantung Eleanor dan berkata. "Heal."
"Singg!!!" cahaya hijau menyinari tubuh Eleanor.
Beberapa detik kemudian Arthur melihat luka di jantung Eleanor telah sembuh. Serta luka di semua tubuhnya menghilang. "Yang mulia, aku sudah menyembuhkanmu. Anda tidak akan mati." Kata Arthur melihat Eleanor.
"Arthur, negara Volgrad." Eleanor menangis. Arthur mengigit bibirnya saat mendengar kata Eleanor.
"Yang mulia sebaiknya anda berhenti menangis terlebih dulu. Ada serigala yang harus kita bunuh." Kata Arthur melihat Eleanor. Mendengar kata Arthur, Eleanor menghapus air matanya.
"Yang mulia, izinkan saya menggendong anda. Saya akan melompat dari jendela." Kata Arthur melihat Eleanor.
"Baiklah." Eleanor mengangguk.
Arthur menggendong Eleanor kemudian melompat dari jendela. "Ahhh." Eleanor berteriak.
"Bagaimana kamu masih hidup dan tidak terluka. Aku sudah menusuk jantungmu." Kata manusia serigala.
"Aku memiliki sihir penyembuh. Jadi aku bisa menyembuhkan luka ratu Eleanor." Kata Arthur. Manusia serigala terkejut saat mendengar kata Arthur.
"Arthur bunuh dia." Kata Eleanor melihat Arthur.
"Baik yang mulia." Arthur mengangguk kemudian berkata. "Fire ball." "Wuusshh." Bola api muncul di tangan Arthur.
"Mati." Kata Arthur melemparkan bola api ke tubuh manusia serigala. "Wuusshh." "Ahhhh." Manusia serigala berteriak saat tubuhnya terbakar.
"Arthur ayo kita kembali ke negara Volgrad." Kata Eleanor melihat Arthur.
"Slyvia carilah kuda di istana ini." Kata Arthur melihat Slyvia.
"Baik tuan." Slyvia mengangguk.
"Arthur apa dia seorang elf." Tanya Eleanor.
"Benar tuan, Slyvia seorang elf."
"Jangan bilang kamu di panggil ke wilayah ras elf." Eleanor melihat Arthur.
"Tidak yang mulia, lebih tepatnya saya di panggil di negara Sturgart. Negara yang 1 benua dengan wilayah ras elf." Kata Arthur.
"Oohh. Apa kamu di panggil oleh kerajaan manusia di negara Sturgart." Tanya Eleanor.
"Tidak yang mulia. Aku di panggil oleh penyihir acak." Kata Arthur.
"Kamu sungguh tidak beruntung Arthur." Eleanor tertawa.
"Saya beruntung yang mulia. Jika saya tidak di panggil ke dunia ini lagi. Saya tidak akan bisa menyelamatkan yang mulia." Kata Arthur.
Mendengar kata Arthur, ekspresi Eleanor berubah. "Terimakasih Arthur, jika tidak ada kamu. Mungkin tidak lama lagi aku akan mati." Eleanor tersenyum.
"Arthur sebelum kemari apa kamu dari istana." Tanya Eleanor.
"Benar yang mulia, saya dari istana." Arthur mengangguk.
"Apakah Luis dan Fiona selamat." Tanya Eleanor. Arthur menggeleng. Mendengar kata Arthur Eleanor mulai menangis.
"Yang mulia izinkan saya memeluk anda." Kata Arthur memeluk Eleanor. "Hiks." "Hiks." Setelah di peluk oleh Arthur Eleanor semakin menangis dengan kencang.
Beberapa menit kemudian Arthur melihat Eleanor berhenti menangis. "Terimakasih Arthur. Sekarang aku sudah lebih baik." Kata Eleanor menghapus air matanya.
"Saya senang jika anda merasa lebih baik yang mulia." Balas Arthur.
"Tuan, saya menemukan 2 kuda." Arthur melihat Slyvia Kembali dengan dua kuda. Arthur kemudian menaiki kuda bewarna hitam.
"Yang mulia naiklah." Kata Arthur mengulurkan tangannya.
"Baik." Eleanor mengangguk kemudian menaiki kuda bersama Arthur.
"Slyvia ayo kita pergi." Kata Arthur melihat Slyvia yang menaiki kuda.
"Baik tuan." Slyvia mengangguk. "Hiyyaaa." Arthur, Eleanor dan Slyvia kemudian pergi meninggalkan negara Kaunas.
Beberapa jam kemudian Arthur, Eleanor dan Slyvia telah kembali ke negara Volgrad. "Aku tidak menyangka negara Volgrad akan hancur di tanganku." Eleanor mengigit bibirnya melihat seluruh kota yang hancur.
"Benar ini aku." Kata Eleanor turun dari kuda.
"Ahhh. Bukankah dia tuan Arthur." Kata beberapa penduduk melihat Arthur.
"Benar, aku adalah Arthur." Arthur mengangguk.
"Aku sudah membalaskan dendam kalian semua. Aku baru saja menghancurkan negara Kaunas dan membunuh pemimpin mereka." Kata Arthur melihat semua penduduk. Mendengar kata Arthur semua penduduk mulai menangis.
"Hidup tuan Arthur." "Hidup tuan Arthur." Arthur melihat semua penduduk meneriaki namanya.
"Yang mulia ayo kita ke istana." Kata Arthur melihat Eleanor.
"Baik." Eleanor mengangguk. Arthur, Eleanor dan Slyvia berjalan ke arah istana.
Tidak lama kemudian Arthur, Eleanor dan Slyvia berada di istana. "Aku mengubur mayat Fiona dan Luis di halaman belakang istana." Kata Arthur. Mendengar kata Arthur, Eleanor berjalan ke halaman belakang istana.
Tidak lama kemudian Arthur, Eleanor dan Slyvia berada di halaman belakang istana. "Luis, Fiona maafkan aku." Eleanor menangis.
"Arthur apa kamu akan pergi lagi." Eleanor melihat Arthur.
"Tentu saja yang mulia, karena Luis telah meninggal aku akan pergi ke negara Bradfort." Kata Arthur. Eleanor mengigit bibirnya saat mendengar Arthur akan pergi.
"Tapi saya akan tinggal di negara ini selama beberapa hari. Saya akan membantu anda membangun kembali negara ini." Kata Arthur.
"Terimakasih Arthur." Eleanor tersenyum.
Beberapa menit kemudian Arthur, Eleanor dan Slyvia berada di dalam sebuah ruangan. "Arthur, semua uang di dalam brankas telah di ambil oleh negara Kaunas." Kata Eleanor melihat tidak ada uang yang tersisa sama sekali di dalam brankas.
"Jika begitu aku akan pergi ke negara Kaunas. Dan mengambil semua uang yang negara mereka miliki." Kata Arthur.
"Arthur, kita baru saja kembali dari negara Kaunas. Bersitirahatlah dulu, kamu bisa ke negara Kaunas besok." Kata Eleanor.
"Baik, aku akan pergi ke negara Kaunas besok." Arthur mengangguk. Eleanor tersenyum mendengar jawaban Arthur.
"Slyvia saya sangat berterimakasih kepadamu. Jika kamu tidak memanah wolfer. Wolfer pasti akan melarikan diri." Eleanor melihat Slyvia.
"Anda tidak perlu berterimakasih yang mulia. Sudah kewajiban saya menjalankan perintah tuan Arthur." Slyvia tersenyum.
"Kruukk." Arthur mendengar suara. "Maaf Arthur. Aku belum makan sama sekali dari kemarin." Eleanor tersipu malu.
"Apa di dapur ada bahan makanan." Tanya Arthur.
"Aku tidak tahu." Eleanor menggeleng. Arthur kemudian keluar ruangan dan berjalan ke arah dapur.
Tidak lama kemudian Arthur, Eleanor dan Slyvia berada di dapur. "Slyvia ayo bantu aku memasak." Kata Arthur melihat berbagai bahan makanan.
"Baik tuan." Slyvia mengangguk.
"Arthur aku akan membantu memasak juga." Kata Eleanor. "Baiklah." Arthur mengangguk.
"Awww." Eleanor melukai jarinya saat memotong sayuran. "Seharusnya anda berhanti-hati saat memotong sayuran." Kata Arthur memegang tangan Eleanor kemudian menghisap jari Eleanor yang terluka.
Eleanor tersipu malu saat Arthur menghisap jarinya yang terluka. "Apa anda terganggu karena saya menghisap jari anda." Kata Arthur melihat Eleanor.
"Tidak." Eleanor menggeleng.
"Di duniaku, kami terbiasa menghisap luka saat terkena pisau." Kata Arthur.
"Duniamu memiliki kebiasaan yang aneh." Kata Eleanor.
"Baiklah, darahnya sudah berhenti keluar." Kata Arthur melihat Eleanor.
"Terimakasih Arthur." Eleanor tersenyum. Arthur tersenyum kemudian lanjut memotong daging.
Beberapa menit telah berlalu. Saat ini Arthur, Eleanor dan Slyvia telah selesai memasak. "Ayo kita makan." Kata Arthur melihat Eleanor dan Slyvia.
"Baik." Eleanor dan Slyvia mengangguk kemudian mulai makan.
"Arthur ada saus di dekat bibirmu." Kata Eleanor mengusap saus di dekat bibir Arthur.
"Terimakasih yang mulia." Kata Arthur melihat Eleanor. Eleanor mengangguk dan tersenyum.
Beberapa menit kemudian Arthur, Eleanor dan Slyvia telah selesai makan. "Arthur, jika kamu ingin istirahat. Kamu bisa istirahat di kamarmu yang dulu." Kata Eleanor.
"Baik yang mulia." Arthur mengangguk.
Beberapa menit kemudian Arthur dan Slyvia masuk ke dalam sebuah ruangan. "Aku tidak menyangka akan tidur di kamar ini lagi." Kata Arthur berbaring di kasur.
"Slyvia kamu mandilah terlebih dulu." kata Arthur melihat Slyvia.