
Beberapa menit kemudian Arthur melihat pelayan restoran berjalan ke arahnya. "Ini pesanan tuan dan nona." Kata pelayan restoran mengantarkan pesanan Arthur dan Erika.
"Erika ayo kita makan." Arthur melihat Erika.
"Baik." Erika mengangguk.
Arthur dan Erika kemudian mulai makan. "Bu Erika ada saus di dekat bibirmu." Arthur mengusap saus di bibir Erika dengan kain.
"Terimakasih Arthur." Erika tersenyum kepada Arthur.
Beberapa menit kemudian Arthur dan Erika telah selesai makan. Saat hendak pergi meninggalkan restoran, Arthur melihat semua teman sekelasnya masuk ke dalam restoran. "Arthur, Bu Erika. Apa kalian berdua berkencan." Kata Steven melihat Arthur dan Erika.
"Benar, kami berdua berkencan." Arthur mengangguk. Erika tersipu malu saat mendengar kata Arthur.
"Aku sudah tahu bahwa kamu dan bu Erika akan berkencan." Kata Deni melihat Arthur.
"Arthur ayo pergi dari sini." Erika tersipu malu dan keluar dari restoran.
"Arthur kejarlah bu Erika." Steven melihat Arthur. Arthur mengangguk kemudian mengejar Erika.
"Aku tidak menyangka Arthur dan bu Erika akan berkencan." Kata pria dengan gigi kelinci.
"Arthur teman-temanmu sekarang pasti berpikir aneh tentang diriku." Kata Erika melihat Arthur.
"Mengapa mereka bisa berpikir aneh." Arthur bingung.
"Itu karena aku berkencan dengan muridku sendiri." Kata Erika dengan malu.
"Ibu juga seorang wanita. Jadi wajar jika ibu berkencan dengan seorang pria." Arthur tersenyum dan memegang tangan Erika.
"Benar, aku juga seorang wanita." Erika tersenyum.
"Baiklah, ayo kita cari penginapan." Arthur tersenyum.
"Ahhh, apa kamu serius ingin melakukannya di siang hari." Erika terkejut.
Beberapa menit kemudian Arthur dan Erika berada di dalam penginapan. "Erika ayo kita mandi bersama." Kata Arthur melihat Erika.
"Baiklah." Erika mengangguk dengan malu.
Arthur dan Erika kemudian masuk ke dalam kamar mandi. "Erika biarkan aku membasuh badanmu." Kata Arthur membasuh punggung Erika.
"Erika kulitmu sungguh lembut." Kata Arthur membasuh tangan Erika. Erika tersipu malu saat mendengar kata Arthur.
"Berbaliklah, aku akan membasuh tubuh bagian depanmu." Bisik Arthur di telinga Erika.
"Baik." Erika mengangguk kemudian berbalik dan menatap wajah Arthur. Arthur dan Erika saling melihat kemudian mulai berciuman.
Beberapa jam kemudian Arthur dan Erika sedang terbaring di Kasur. "Arthur ayo kita Kembali ke istana." Kata Erika melihat matahari mulai terbenam.
"Baiklah, ayo kita kembali ke istana." Arthur mengangguk.
Beberapa menit kemudian Arthur telah kembali ke istana dan berada di kamarnya. "Aku tidak menyangka akan bertemu Lily di ibukota." Kata Arthur teringat dengan wajah Lily.
"Sial, meski aku sudah memiliki Erika. Aku tidak bisa melupakan Lily." Kata Arthur mengigit bibirnya.
Keesokan harinya Arthur dan semua teman sekelasnya berada di lapangan. "Hari ini kalian semua akan berburu goblin seperti 2 hari lalu." Kata Romeo melihat Arthur dan semua teman sekelasnya.
"Baik Captain." Balas Steven dan semua teman sekelas Arthur.
"Baiklah, ayo kita pergi." Kata Romeo berjalan pergi. "Baik." Balas Steven dan yang lain.
Beberapa jam kemudian Arthur, Romeo dan semua teman sekelasnya berada di tengah hutan. "Karena level kalian masih rendah. Kalian semua akan berburu goblin bersama." Kata Romeo.
"Baik." Deni dan semua teman sekelas Arthur mengangguk. Mereka tahu bisa mengalahkan goblin jika bertarung 1 vs1. Tapi goblin adalah monster yang suka berkelompok. Mereka semua akan kalah jika melawan puluhan goblin sendirian.
"Kalian semua bersiaplah untuk bertarung." Kata Romeo melihat puluhan goblin setinggi 1 meter yang berjalan ke arah mereka.
"Seperti biasanya Swordsman kalian serang goblin yang memakai pedang dan kapak. Mage kalian serang goblin yang memakai panah. Healer kalian sembuhkan teman kalian yang terluka." Teriak Romeo.
"Baik captain." Teriak Steven dan yang lain.
"Wuusshh." Arthur, dan semua teman sekelasnya kemudian menyerang goblin. "Mati." Kata Arthur menebas goblin. "Slassshh." Tubuh goblin terbelah menjadi dua.
"Terimakasih peringatannya. Tapi aku sudah tahu jika ada goblin yang ingin menyerangku dari belakang." Kata Arthur melihat Lisa.
Beberapa menit kemudian Arthur melihat mayat puluhan goblin yang tergeletak di tanah. "Tingkatkan status kalian. Setelah itu kita akan lanjut berburu." Kata Romeo melihat Arthur dan semua teman sekelasnya.
"Baik." Lisa dan semua teman sekelas Arthur mengangguk.
"Semuanya bersiap bertarung." Arthur berteriak saat melihat goblin dengan tinggi 150 cm muncul dari balik pohon. Semua teman sekelas Arthur terkejut saat melihat 20 goblin yang muncul dari balik pohon.
"Apa cuma perasaanku saja, mereka semua bertambah tinggi." Kata Steven melihat goblin dengan tinggi 150 cm.
"Goblin yang kalian lawan sebelumnya belum dewasa. Dan goblin di depan kalian saat ini termasuk dalam kategori dewasa." Kata Romeo.
"Ahhh." Lisa dan semua teman sekelas Arthur terkejut dengan penjelasan Romeo.
"Waaaa." 20 goblin berteriak dan berlari ke arah Arthur dan teman-temannya. "Cari mati." Kata Arthur melesat ke arah goblin. "Crasshh." Arthur memotong salah satu kepala goblin.
"Semuanya ayo kita bantu Arthur." Teriak Deni berlari ke arah goblin. Semua teman sekelas Arthur kemudian mulai menyerang goblin.
Beberapa menit kemudian Arthur dan semua teman sekelasnya berhasil mengalahkan 20 goblin. "Aku tidak menyangka jika goblin dewasa sangat kuat." Kata Deni mengusap keringat di dahinya.
"Goblin dewasa memiliki level 20. Wajar jika kalian semua kesulitan membunuh mereka." Kata Arthur melihat Deni dan semua teman sekelasnya.
"Apa yang dikatakan Arthur benar. Level goblin dewasa lebih tinggi dari level kalian." Kata Romeo
"Tapi aku kagum dengan kalian semua, karena bisa mengalahkan goblin yang memiliki level lebih tinggi dari kalian." Kata Romeo melihat Arthur dan semua teman-temannya. Mendengar kata Romeo semua teman sekelas Arthur tersenyum bahagia.
"Kita akan istirahat sebentar disini untuk memulihkan stamina kalian, setelah stamina kalian pulih. Kita akan lanjut berburu." Kata Romeo.
"Baik Captain." Balas Steven dan semua teman sekelas Arthur.
Beberapa jam telah berlalu saat ini Arthur dan semua teman sekelasnya sedang beristirahat di tepi sungai. "Langit sudah mulai gelap. Ayo kita kembali ke istana." Kata Romeo melihat matahari mulai terbenam.
"Baik Captain." Kata Steven dan semua teman sekelas Arthur.
Beberapa jam kemudian Arthur dan semua teman sekelasnya telah kembali ke ibukota, "Captain apa besok kita akan berburu goblin lagi." Tanya Steven.
"Tidak, besok kalian akan istirahat." Balas Romeo.
"Yess." Semua teman sekelas Arthur senang saat mendengar kata Steven.
Tidak lama kemudian Arthur telah kembali ke istana dan berada di kamarnya. Arthur berbaring di kasur dan berkata. "Buka status." Layar status kemudian muncul di depan Arthur.
Nama : Arthur Benedict
Usia : 18 tahun
Level : 40 Next Level Membutuhkan 41 Exp
Job : Hero
Ras : Manusia
Strength : 35
Agility : 35
Vitality : 35
Stamina : 35
Magic : 40
Poin : 50
Poin Skill : 4
Skill : Observation (S) Copy (S) Doube Exp (S) Tehnik Pedang (S) Sihir Air (C) Sihir Api (C) Sihir Angin (C) Sihir Tanah (C) Sihir Penyembuh (C)
"Saat di hutan aku tidak meningkatkan statusku sama sekali." Kata Arthur melihat 50 poin yang dia miliki.
"Aku akan menambahkan menambahkan 10 poin pada Magic, 10 poin pada Strength, 10 poin pada Agilty, 10 poin pada Vitality, dan 10 poin pada stamina." "Singg!!." Cahaya putih menyinari tubuh Arthur.