
Tidak lama kemudian Arthur, Eleanor dan Slyvia berada di ruang makan. "Arthur buka mulutmu." Kata Eleanor. Arthur kemudian membuka mulutnya. Eleanor kemudian menyuapi Arthur.
"Aku bisa makan sendiri. Kamu tidak perlu menyuapiku." Kata Arthur mengunyah makanan.
"Baiklah." Balas Eleanor.
Beberapa jam telah berlalu, saat ini Arthur dan Eleanor sedang berciuman di kasur. "Arthur ayo kita tidur." Kata Eleanor melihat Arthur.
"Baik." Balas Arthur meremas dada Slyvia. "Emmm." Slyvia mengerang.
30 hari telah berlalu, saat ini Arthur sedang berdiri di panggung bersama Eleanor. "Pengantin pria Arthur, apa kau bersedia menjadikan Eleanor sebagai istrimu selama hidupmu. Apa kau bersedia mengabdikan dirimu dengan setulus hati." Kata pria berpakaian hitam.
"Iya aku bersedia." Balas Arthur.
"Kau boleh mencium pengantin wanita sekarang." Kata pria berpakaian hitam. "Eleanor." Arthur menatap Eleanor. "Arthur." Arthur dan Eleanor saling menatap kemudian mulai berciuman.
"Selamat yang mulia." "Selamat tuan Arthur." Semua penduduk bersorak melihat Arthur dan Eleanor. Sementara Slyvia mengigit bibirnya melihat Arthur dan Eleanor menikah.
Beberapa jam kemudian Arthur dan Eleanor berada di dalam kamar. "Arthur apa aku perlu mandi terlebih dulu." Kata Eleanor melihat Arthur.
"Tidak perlu, aku suka dengan bau keringatmu." Balas Arthur mencium bibir Eleanor dan meremas dadanya. "Emmm." Eleanor memejamkan matanya dan memeluk Arthur.
Arthur membaringkan Eleanor ke kasur kemudian melepas pakaiannya. "Apa kamu siap." Kata Arthur melihat Eleanor.
"Aku sudah siap." Eleanor mengangguk dengan malu. Arthur tersenyum kemudian menusuk pussy Eleanor. "Ahhhh." Eleanor berteriak saat Arthur menusuk miliknya.
Beberapa jam kemudian Arthur dan Eleanor sedang terbaring di kasur dengan telanjang. "Arthur, aku tidak menyangka akan menikah denganmu. Karena kamu manusia dari dunia lain dan usiaku juga 10 tahun lebih tua darimu." Kata Eleanor berbaring di dada Arthur.
"Perbedaan usia tidak terlalu penting bagiku. Dan kamu juga terlihat seperti perempuan berusia 20 tahun." Kata Arthur. Eleanor tersenyum mendengar Arthur memuji dirinya.
"Arthur, jika suatu saat kamu ingin kembali ke duniamu. Aku ingin ikut pergi ke duniamu." Kata Eleanor.
"Jika kamu meninggalkan dunia ini. Siapa yang akan memimpin negara Volgrad." Tanya Arthur.
"Aku akan mencari seseorang yang layak untuk menggantikanku sebagai pemimpin negara ini." Kata Eleanor.
Keesokan harinya Arthur terbangun dan melihat Eleanor yang berada di sampingnya. "Selamat pagi Arthur." Eleanor tersenyum.
"Selamat pagi Eleanor." Balas Arthur kemudian mencium bibir Eleanor. "Emmm." Eleanor memejamkan matanya saat Arthur mencium bibirnya.
"Ayo kita mandi Bersama." Kata Arthur melihat Eleanor.
"Baik." Eleanor mengangguk dengan malu.
Beberapa menit kemudian Arthur dan Eleanor telah selesai mandi. "Aku akan pergi ke ruang makan terlebih dulu." kata Arthur melihat Eleanor.
"Baiklah." Eleanor mengangguk. Arthur kemudian keluar dari kamarnya.
"Selamat pagi tuan." Slyvia tersenyum melihat Arthur keluar dari kamarnya.
"Selamat pagi Slyvia." Arthur tersenyum. "Ueekk." Arthur melihat Slyvia menutup mulutnya.
"Slyvia apa kamu baik-baik saja." Tanya Arthur memegang pundak Slyvia.
"Aku hanya mual tuan. Aku baik-baik saja." Slyvia tersenyum.
"Mual." Gumam Arthur di pikirannya.
"Slyvia kamu tunggulah di kamarmu, aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu." Kata Arthur berjalan pergi.
Beberapa menit kemudian Arthur kembali dengan seorang wanita. "Ayo masuk ke dalam dok." Kata Arthur masuk ke dalam kamar Slyvia.
"Baik." Wanita mengangguk kemudian masuk ke dalam kamar.
"Nona Slyvia saya akan memeriksa anda." Kata wanita melihat Slyvia yang berbaring di kasur.
"Baik." Slyvia mengangguk.
"Nona Slyvia mual yang anda rasakan setiap pagi di karenakan anda sedang hamil." Kata wanita melihat Slyvia.
"Ahhhh." Slyvia terkejut mendengar dirinya hamil.
"Seperti yang aku duga, Slyvia sedang hamil." Gumam Arthur.
Tidak lama kemudian wanita keluar dari kamar. meninggalkan Arthur dan Slyvia sendirian. "Tuan Arthur apa aku harus menggugurkan bayi ini." Kata Slyvia.
"Slyvia apa yang kamu bicarakan." Arthur kaget dengan perkataan Slyvia.
"Ratu Eleanor tidak memperbolehkan anda berhubungan badan denganku. Sudah pasti Ratu Eleanor tidak ingin saya melahirkan anak dari tuan." Kata Slyvia. Arthur terkejut saat mendengar Perkataan Slyvia.
"Aku akan bicara dengan Eleanor." Kata Arthur.
"Kreekk." Arthur melihat Eleanor masuk ke dalam kamar.
"Aku mendengar obrolan kalian." Kata Eleanor melihat Slyvia yang berbaring di kasur.
"Aku pikir diriku telah egois selama ini." Kata Eleanor melihat Slyvia.
"Arthur, aku tidak masalah kamu berhubungan badan kembali dengan Slyvia." Kata Eleanor melihat Arthur.
"Aku harap kamu tidak menyesali keputusanmu." Kata Arthur.
"Aku tidak akan menyesal." Balas Eleanor kemudian keluar dari kamar.
Melihat Eleanor yang keluar dari kamar, Arthur berjalan ke arah Slyvia dan menyentuh bahunya. "Heal." "Singgg!!" Cahaya hijau menyinari tubuh Slyvia.
"Apa kamu sudah tidak mual lagi." Tanya Arthur.
"Tidak tuan, saya sudah tidak merasa mual lagi." Slyvia tersenyum.
Arthur dan Slyvia saling menatap kemudian mulai berciuman. "Tuan, Saya sangat menyukai anda." Kata Slyvia memeluk Arthur.
"Aku juga menyukaimu Slyvia." Balas Arthur memeluk Slyvia.
Beberapa jam kemudian Arthur keluar dari kamar Slyvia. "Apa kamu senang bisa berhubungan badan dengan Slyvia." Kata Eleanor melihat Arthur.
"Biasa saja. Aku lebih senang saat berhubungan badan denganmu." Kata Arthur memeluk Eleanor dan mencium bibirnya.
"Arthur, Slyvia mengandung anakmu. Apa kamu akan menikahi Slyvia juga." Tanya Eleanor.
"Apakah tidak masalah jika aku menikahi Slyvia." Tanya Arthur.
"Tentu saja tidak masalah." Balas Eleanor.
"Kamu adalah yang terbaik Eleanor." Arthur tersenyum kemudian mencium bibir Eleanor.
7 hari telah berlalu, saat ini Arthur sedang berdiri di panggung bersama Slyvia. "Pengantin pria Arthur, apa kau bersedia menjadikan Slyvia sebagai istri keduamu. Apa kau bersedia mengabdikan dirimu dengan setulus hati." Kata pria berpakaian hitam.
"Iya aku bersedia." Balas Arthur.
"Kau boleh mencium pengantin wanita sekarang." Kata pria berpakaian hitam.
"Slyvia." Arthur menatap Slyvia. "Tuan." Slyvia menangis melihat Arthur.
"Mengapa kamu masih memanggilku tuan. Saat ini aku sudah menjadi suamimu." Kata Arthur menghapus air mata Slyvia.
"Arthur." Slyvia tersenyum. Arthur dan Slyvia saling menatap kemudian mulai berciuman.
"Selamat tuan Arthur." "Selamat nona Slyvia." Semua penduduk bersorak melihat Arthur dan Slyvia.
Beberapa jam kemudian Arthur dan Slyvia berada di dalam kamar. "Aku tidak menyangka bisa menikah dengan Tuan." Slyvia tersenyum.
"Panggil aku Arthur Slyvia." Kata Arthur.
"Maaf, aku sudah terbiasa memanggilmu tuan." Kata Slyvia.
"Kamu tidak perlu meminta maaf." Arthur tersenyum dan mencium kening Slyvia. Slyvia tersenyum saat Arthur mencium keningnya.
"Arthur apa kamu tidak ingin mencoba hal baru." Kata Slyvia melihat Arthur.
"Maksudmu." Arthur bingung."
"Aku ingin kamu masuk ke dalam assku juga." Kata Slyvia dengan malu.
"Apa kamu serius." Arthur terkejut.
"Aku serius." Slyvia mengangguk dengan malu.
"Baiklah, aku juga ingin mencoba hal baru." Arthur tersenyum.
Slyvia kemudian melepaskan pakaiannya. "Apa kamu sudah siap." Arthur melihat Slyvia.
"Aku siap." Slyvia mengangguk.
Arthur kemudian menusuk pantat Slyvia dengan miliknya. "Ahhhh." Slyvia berteriak saat milik Arthur masuk ke dalam assnya.
Beberapa jam kemudian Arthur dan Slyvia berbaring di kasur dengan telanjang. "Arthur, aku ingin kamu bermain kasar denganku." Kata Slyvia dengan malu.
"Apa kamu serius." Tanya Arthur.
"Aku serius, sudah lama aku ingin melakukan hal yang baru denganmu." Kata Slyvia dengan malu.
"Saat masih menjadi budakmu. Aku takut untuk mengatakan hal ini. Karena aku takut kamu akan meninggalkan diriku." Kata Slyvia dengan malu.
"Seharusnya kamu mengatakan dari dulu Slyvia. Aku tidak akan meninggalkanmu." Arthur memeluk Slyvia.
"Arthur aku sangat mencintaimu." Slyvia memeluk Arthur dengan erat.
"Aku juga mencintaimu Slyvia." Balas Arthur.