Gressa's Second Life

Gressa's Second Life
Bab 72 Gressa Marlon Elrick End



Ruangan besar dan mewah seperti sangkar emas ternyata membawa seorang korban...


"Hah..."


"Ternyata begitu mudah untuk membunuhnya hanya dengan sebuah kepercayaan,"


"Banyak perempuan yang menyukai Lucius, tentu saja yang akan disalahkan bukan aku pastinya,"


"Dan juga salahnya karena membuat perang besar ini terjadi, kalau bukan karena dirinya,"


"Saatnya pergi," ucap perempuan itu kemudian pergi dengan sihir teleportasinya meninggalkan seorang gadis yang tergeletak tak bernyawa


Di ruangan pesta perayaaan kemenangan perang besar itu...


"Woah yang mulia, anda hebat sekali bisa membunuh tiran itu dan juga memenangkan perang mengalahkan anak dari sang tiran,"


"Dengan ini anda bisa membuat negeri ini menjadi lebih baik dibandingkan keluarga tiran itu," ucap A dengan tatapan yang senang


"Anda sangat hebat, hingga membuat para orang jahat itu masuk ke dalam penjara,"


"Tapi ini kataku sedikit keterlaluan, seorang Baron Elrick memberontak memberikan tangannya kepada sang tiran dan juga ternyata dia bukan kakak kandung sang perempuan haram itu,"


"Entah apa identitas perempuan haram itu," ucap B dengan orang yang berada di sebelahnya dan terdengar ke telinga Lucius yang kemudian di tamparnya orang yang membicarakan keburukan tentang Gressa dengan mudah


Pada saat yang bersamaan pemberontakan tahap dua dimulai karena secara tidak langsung, mereka telah merencanakan dengan sangat pasti dan matang.


"Semua telah direncanakan sesuai dengan yang kita inginkan,"


"Para penjaga benar-benar telah menurunkan pengawasannya kakak," ucap Dallen dengan tatapan mata berbinar-binar


"Tentu saja, karena mereka menganggap kamu bukanlah ancaman bahkan mereka lupa kalau masih ada pangeran kedua di kerajaan mereka,"


"Oleh karena itu kakak meminta dirimu untuk yang menyelesaikan masalah ini," ucap Luke dengan tatapan yakin


"Yang mulia, saya harus melihat adik perempuan saya yang di kurung di dalam istana jadi anda silahkan melanjutkannya," ucap Addison dengan tatapan hormat kemudian pergi meninggalkan kedua orang itu


"Gressa, seharusnya baik-baik saja karena bagaimanapun dia adalah orang yang sangat di sayangi dan di lindungi oleh Lucius,"


"Jadi kakak tidak perlu terlihat begitu menyedihkan," ucap Dallen dengan menepuk pundak kakaknya yang terlihat khawatir


"aku tidak menyedihkan dan juga aku tidak mengkhawatirkan dirinya karena dia adalah perempuan yang bisa menjaga dirinya sendiri," ucap Luke dengan tatapan kesal ke arah saudaranya


"Bukankah tidak ada salahnya sekali-kali ju-"


"Lebih baik kamu diam," ucap Luke yang menyeret saudaranya itu


"BRAK..."


"Woah... woah..."


"Pestanya besar dan meriah sekali ya,"


"Apakah kami berdua ketinggalan? Kamu tidak mungkin lupa bukan aku masih salah satu dari tetua kerajaan ini yang belum sama sekali memberikan persetujuan untukmu naik takhta ditambah lagi aku adalah asli darah murni kerajaan,"


"Bukankah tidak baik melangkahkan diriku, Lucius Shroud?" ucap Dallen sambil memasuki ruangan yang dipenuhi para bangsawan yang sedang bersukacita atas kemenangan Lucius dengan tatapan kebingungan, karena mereka tidak menyangka kalau mereka bisa bertemu dengan pangeran kedua.


"Schild," ucap Dallen sambil mengetuk tongkat panjang yang entah muncul darimana membuat orang-orang yang tidak tau apa-apa terlindung perisai hingga tersisa mereka berdua yang berhadapan, sedangkan Luke menatap dari atas balkon karena belum saatnya dia bertindak menurutnya.


"Dallen, kamu bukannya tidak ada niat atau tertarik dengan takhta kerajaan? Jadi otomatis kamu menyerahkannya kepadaku,"


"Aku tidak pernah bilang kalau aku akan memundurkan posisiku," ucap Dallen dengan tatapan tajamnya dengan seringaian


"Kalau kamu tidak mau maka aku akan memaksamu untuk turun dari posisi itu," ucap Lucius dengan pedang yang telah di selimuti aura gelap yang pekat ke arah Dallen


"Hah... kamu ingin bertarung denganku dengan pedang gelap yang kotor itu," ucap Dallen dengan gelengan kepala yang kemudian dengan cepat muncul di belakang Lucius dengan pedang panjang


"Menyerahkan dengan sukarela," ucap Dallen dengan tatapan dingin


"Kamu pikir aku akan dengan mudah membiarkan punggung, dan menyerah?"


"Naif," ucap Lucius dengan seringainya membuat Dallen terkejut dan tidak sempat menghindar sosok bayangan gelap yang telah menarik dirinya ke bawah kegelapan itu, dengan berusaha tenang dirinya berusaha secepat mungkin menggunakan sihir namun nihil tidak ada sihir yang bisa menghilangkan kegelapan itu


"Heiliges Licht," ucap seseorang dari atas balkon membuat semua orang terkejut sosok yang seharusnya berada di penjara sekarang berada di atas balkon dengan pakaian rapi dan membuat kegelapan yang menangkap sosok laki-laki itu tiba-tiba terlepas


"Kamu masih saja, tidak berpikir dua kali kedepan Dallen,"


"Menyerahkan diri lebih baik Lucius, aku telah memegang semua kendalinya dari sini," ucap Luke dengan tatapan dinginnya dan menodongkan senjatanya dari jauh


"TIK... TIK... TIK..." suara dentingan jam yang tiba-tiba dan memperlihatkan roda-roda waktu dan pasir waktu yang mengalir di depan semua orang yang berada di dalam ruangan


"Apa yang terjadi?" ucap Dallen dengan tatapan kebingungan


"Roda-roda waktu dan jam pasir itu muncul karena mereka sedang berduka,"


"Karena anak dari dewa telah meninggal dunia dan juga dia mengucapkan selamat kepada kalian karena telah berhasil membuat jalan takdir yang baru,"


"Yang mulia, Luke Carolyn Elmaric," ucap seorang laki-laki dengan tatapan dinginnya ke arah ketiga orang itu


"Kalian berdua bukannya kepala akademi Lavina? Bagaimana kalian tau arti dari jam yang tiba-tiba muncul?" tanya Luke dengan tatapan dingin dan waspada


"Tidak ada yang perlu begitu waspada, aku tidak tertarik dengan kerjaan kalian," ucap Leviathan dengan tatapan dingin


"Kami hanya datang karena merasa ada jam pasir yang telah berhenti menurunkan pasirnya,"


"Ternyata Gressa Elrick telah meninggal dunia, dan juga dia telah meninggalkan kemampuannya kepada dirimu yang mulia Luke Carolyn Elmaric," ucap Zeit dengan tatapan serius


"Bagaimana mungkin kalau Gressa telah meninggal dunia?" ucap Lucius dengan suara serak dan lemas


"Aku tidak tau tapi itulah kenapa para dewa yang memberikan dirinya kemampuan membalikkan waktu menunjukkan kemampuannya di depan kalian supaya kalian sadar kalau perang harus selesai dan karena itu bisa menyebabkan lebih banyak lagi orang seperti Gressa," ucap Leviathan dengan tatapan dingin ke arah kedua orang yang tidak percaya itu


Gressa dianggap sebagai pahlawan yang membantu memenangkan kembali takhta kerajaan walaupun dia mati di racuni dan orang yang meracuni dirinya tidak lain adalah Elina yang memiliki kemampuan mengubah wajah, semuanya selesai begitu saja.


Luke memutuskan untuk turun takhta dan diberikan kepada saudaranya, karena dia memilih untuk menjadi pendeta yang membantu banyak orang. Serta dia memutuskan untuk menjaga dengan baik jam pasir dan kekuatan pembalik waktu karena pengorbanan Gressa. Sedangkan Lucius diberikan kesempatan kedua oleh Dallen sebagai bawahan yang bekerja di dunia bawah.


Dallen dan Alesya menjadi dekat dan kemudian menikah mereka berdua menyatukan kedua negara. Dan berbagai hal lain terjadi setelah kematian Gressa, walaupun sebentar semuanya merasa seperti kehilangan.


Disaat-saat itu Keluarga Elrick menulis biografi tenang seorang saint yang berkorban secara tidak langsung dari perebutan takhta itu, untuk mengenang adiknya. Karena itu orang-orang jadi menganggapnya sebagai pahlawan yang tidak akan terlupakan. Entah masa depan seperti apa yang terjadi kedepannya, mereka yakin kalau mereka bisa mendapatkan orang sehebat Gressa Marlon Elrick.


~Gressa's second life End~


Terima kasih atas dukungannya dan supportnya sampai saat ini. Saya berterima kasih karena telah ingin membaca novel yang saya tulis ini


sampai berjumpa di novel terbaru saya dan coba kunjungi novel Reinkarnasi Reina dulu yuk yang belum baca dan nantikan novel terbaru segera.


Dengan judul Ciel The Guide Of Destiny