
"Aku rasa ini sangat membosankan,"
"Karena bagaimanapun di dalam ruangan yang besar tanpa buku atau handphone,"
"Tidak ada yang bisa aku lakukan," Gumam Gressa dengan tatapan membosankan di atas kasur
"Karena telah sampai di sini, lebih baik aku keliling katedral,"
"Siapa tau nantinya aku bertemu dengan sesuatu yang menarik," Gumamnya lagi sambil berjalan ke arah pintu kemudian berjalan ke arah taman
"Kenapa perempuan seperti dirimu di tempat seperti ini? dan juga aku merasakan kalau ada kekuatan sihir dan kekuatan suci yang besar di dalam tubuhmu," ucap seorang laki-laki dengan rambut terurai panjang dan bertubuh pendek itu berjalan ke arahnya
"Siapa kamu? dan bagiamana kamu tau kalau aku memiliki kekuatan suci padahal kita baru saja bertemu," ucap Gressa dengan tatapan waspada
"Tidak perlu waspada denganku, aku adalah salah satu pendeta di sini,"
"Dan aku tidak mungkin memiliki niat jahat kepada orang yang di sayang oleh dewa," ucap Pendeta itu sambil tersenyum
"Apa kamu telah mengetahui bakat atau kemampuan apa yang kamu miliki dari kekuatan itu?" ucapnya lagi sambil menatap tajam namun lembut ke arah Gressa
"Tidak aku belum mengetahuinya karena katanya kepala Pendeta belum datang," ucap Gressa dengan tatapan kebingungan
"Bagaimana kalau kamu bertemu dengan kepala pendeta?" tanya Pendeta itu
"Tentu saja akan sangat menyenangkan jika benar-benar bisa bertemu," ucap Gressa sambil tersenyum
"Bagaimana pendapatmu kepada kepala pendeta?" Tanya lagi pendeta itu dengan tatapan penasaran
'Di novelnya hanya di ceritakan kalau katedral tidak ikut campur ke dalam politik dan hanya sedikit saja muncul,' ucap Gressa di dalam hatinya dengan kebingungan
"Aku rasa mungkin akan mirip seperti orang tua pada umumnya," ucap Gressa sambil melipat kedua tangannya
"Oh... begitu ya..." ucap Pendeta itu dengan perasaan tertusuk
"NONA GRESSA JAWAB PANGGILAN SAYA JIKA ANDA BERADA DI SINI," teriak seorang pendeta yang berjalan ke sana
"Pergilah, aku akan menyusul nanti," ucap pendeta itu sambil tersenyum dan melambaikan tangannya sedangkan Gressa berlari ke asal suara
"YA AKU DI SINI," teriak Gressa sambil berlari
"Ada apa tuan pendeta?" ucap Gressa dengan tatapan
"Makan malam telah di siapkan wakil kepala Pendeta meminta anda untuk bertemu dengannya di ruang makan dan makan bersama,"
"Tentu saja saya akan mengantarkan anda ke ruangan makan," ucap pendeta itu sambil tersenyum
Di luar katedral...
"Dimana nona muda berada? kamu bukannya orang yang ditugaskan untuk mengawal nona muda," ucap pemimpin itu dengan tatapan marah dan kesal
"Nona tadi pergi ke katedral tapi dia belum kembali dari sana sejak dia masuk ke dalam," ucap Pengawal itu dengan kepala tertunduk karena ketakutan
"Katedral katamu?" ucap Addison dengan tatapan mata yang dingin dan tajam
"Benar tuan baron, nona berada di sana," ucap Pengawal itu dengan ketakutan untuk menatap mata atasannya yang memiliki aura yang ingin membunuh itu
"Baiklah, aku mengerti,"
"Biarkan aku yang pergi ke katedral itu,"
"Tapi sebelum itu aku ingin membereskan orang yang tidak bisa menjaga seorang putri keluarga Baron karena tidak melaporkan apapun yang terjadi selama beberapa jam sekali tentang putri keluarga Baron," ucap Addison dengan tatapan dinginnya dan dengan satu gerakan tangannya pedang itu menebas leher laki-laki itu tanpa menodai pakaiannya sama sekali
"Tuan Baron selamat datang ke katedral kami,"
"Biarkan aku masuk karena ada yang harus aku bicarakan dengan pemilik katedral ini," ucap Addison dengan tatapan dingin dan aura membunuhnya
"Baik, kami mengerti," ucap Penjaga itu dengan cepat membuka pintu masuk itu karena takut kalau kepala mereka tidak akan berada di atas kepala lagi
"Wah... wah ada apa sampai tuan Baron Elrick datang ke tempat suci milikku ini?" ucap pendeta kecil itu sambil tersenyum
"Kamu tau atau pura-pura tidak tau?"
"Dan jangan merubah usiamu itu seperti anak-anak itu membuatku semakin ingin menebas kepala yang ada di atas itu," ucap Addison dengan tatapan dinginnya dan pedang di leher laki-laki kecil itu
"Kamu sangat kasar padahal waktu kecil kita ini adalah teman yang sangat dekat,"
"Dan kita adalah teman masa kamu menodongkan senjata kepadaku," ucap pendeta itu dengan ekspresi tersakiti
"Dekat? kamu berumur 14 tahun lebih tua dariku dan juga alasan kamu mengabdi menjadi kepala pendeta karena kamu tidak ingin bersaing dengan orang-orang yang ingin merebut takhta sejak kamu memiliki kekuatan suci,"
"Dan kamu juga yang suka mengikuti aku jadi kita tidak dekat sama sekali," ucap Addison dengan tatapan dingin dan sambil menurunkan pedangnya
"Hah... kamu tidak menyenangkan,"
"Walaupun aku lebih tua bukan berati aku bisa tua," gumam kepala pendeta itu sambil menyeringai lalu menjentikkan jarinya seketika dia menjadi sosok laki-laki yang muda dan tampan
"Jadi, apa yang kamu cari?" ucapnya lagi dengan tatapan yang lembut
"Seorang gadis yang pendek dan terlihat muda,"
"Aku dengar dari mantan pengawalnya dia berada di sini, jadi aku ke sini," ucap Addison dengan tatapan dingin
"Mantan pengawal? kamu habis melakukan pembunuhan sebelum ke sini tidakkah kamu berpikir untuk menyucikan diri dulu sebelum ke sini,"
"Betapa berdosa dirimu datang ke sini tanpa menyucikan diri," ucap pendeta itu dengan tatapan sedih
"William Carolyn Allen, jangan banyak melakukan hal yang bercanda denganku lagi jika tidak aku yang akan menodai tempat suci ini dengan darahmu," ucap Addison dengan tatapan tidak sabaran dan haus darah
"Aku dengar dari para pendeta kecilku, kalau ada seorang gadis datang dan sekarang dia berada di ruang makan untuk makan malam,"
"Bagaimana kalau kamu melihatnya dulu dan sekalian makan malam bersama? aku harap dia orang yang kamu cari," ucap William sambil tersenyum
"Kret..." suara pintu terbuka
"Kepala pendeta, akhirnya anda datang tanpa harus di tangkap terlebih dahulu,"
"Ada seorang gadis yang memiliki kekuatan suci yang sangat luar biasa tapi untuk mengetahui bakat dan kemampuan yang di milikinya anda sendiri yang harus mengeceknya,"
"Dia mungkin orang yang sangat berbakat," ucap Chris sambil tersenyum
"Aku tau itu, aku akan melihat gadis itu tapi sebelum itu perkenalan dia adalah teman lamaku," ucap William sambil menoleh ke arah sebelahnya
"Dia adalah Addison Elrick, kepala keluarga Elrick yang baru,"
"Dia bilang kalau ada seorang gadis yang merupakan adik perempuannya datang ke katedral datang ke sini,"
"Apa kamu tau dia dimana? Karena nyawaku sedang di ujung pedangnya," ucap William dengan tatapan kebingungan
'Aku sepertinya baru mendengarkan nama yang tidak asing di telingaku,' ucap Gressa di dalam hatinya kemudian menatap ke arah orang yang berbicara tentang nama itu dengan firasat buruk
Apakah yang akan dilakukan oleh Gressa? Apakah bakat atau kemampuan milik Gressa? Apa benar dia memiliki kekuatan suci? Bagaimana dengan takdirnya selanjutnya?
GRESSA'S SECOND LIFE