
Sebuah bangunan yang terlihat tua dan besar saat ini berada di depan mata para siswa-siswi yang berkunjung ke bangunan itu...
"Para siswa-siswi saya harapkan kalian bisa bersikap sopan dan baik selama berada di akademi kerajaaan Lavina karena kalian adalah para siswa-siswi yang memiliki nilai terbaik di akademi jadi aku harap nilai kalian yang baik di akademi juga baik untuk perilaku kalian, jangan sampai terjadi masalah yang tidak ingin aku harapkan," ucap seorang guru pembimbing dengan tatapan dingin dan tajam ke arah seluruh siswa-siswinya
"Bukankah kamu terlalu tegas kepada para siswa-siswimu?" ucap seorang laki-laki sambil berjalan ke arah guru pembimbing itu
"Tegas katamu?" ucap guru tersebut dengan tatapan tajam
"Yah begitulah, padahal kita adalah teman lama tapi perilakumu tidak mencerminkan hal itu," ucap laki-laki itu dengan seringaian
"Jangan banyak mengada-ngada sekarang aku sedang mengajar, dan kamu di sini pastinya ada maksud tertentu bukan?" ucap guru pembimbing itu dengan tatapan serius dan tajam
"Yah ketahuan ya,"
"Tapi memang kita sudah lama bertemu jadi aku rasa tidak heran lagi jika kamu mengenalku dengan baik,"
"Aku ke sini karena Ayahku memintaku untuk ke sini dan memberikan sambutan kepada para tamu yang datang dan beliau juga memintaku untuk membawakannya beberapa siswa terbaik di akademi Richardson untuk dikenalkan kepadanya,"
"Karena beliau tertarik untuk mendidik siswa-siswi itu jika di izinkan," ucap laki-laki tersebut dengan seringaian
"Hah..."
"Karena kepala akademi Lavina tertarik, maka aku tidak ada pilihan lagi tapi, aku juga harus ikut untuk melihat dan mengawasi para siswa-siswi kami,"
"Jika tidak di izinkan ikut, maka aku juga tidak akan memberikan izin," ucap guru pembimbing itu dengan tatapan dingin
"Alasan Felix untuk mengirim dirimu aku rasa tidak lain karena kamu adalah anjing yang sangat setia,"
"Mau bagaimana lagi, karena kamu yang memaksa maka aku akan setuju," ucap laki-laki itu dengan tatapan pasrah
"Ah iya, untuk para tamu siswa-siswi dari akademi Richardson akan langsung di ajak berkeliling oleh para dewan kesiswaan akademi Lavina," ucapnya lagi sambil menatap para siswa-siswi yang berada di belakang para siswa-siswi
"Tolong sekalian bawa para dewan kesiswaan akademi Richardson karena tujuan mereka dibawa untuk mengawasi para siswa-siswi akademi," ucap guru pembimbing itu dengan dingin
"Gressa, Charlotte, Jianying, dan Shing, kalian berempat ikut aku untuk menemui kepala akademi Lavina,"
"Untuk memimpin para dewan siswa minta Dallen untuk mengurusnya karena dia adalah sekertaris dewan kesiswaan," ucap guru pembimbing itu dengan tatapan serius menatap keempat nama yang di panggil
'Entah kenapa aku merasa kalau guru pembimbing ini seperti tidak senang dengan para muridnya, tidak ada yang lembut ataupun senyum saat menatap para muridnya,'
'Semoga saja tidak ada masalah saat bertemu dengan kepala akademi ini nanti, walaupun entah kenapa sejak aku masuk ke dalam akademi ini aku merasakan hal yang aneh,' ucap Gressa di dalam hatinya dengan tatapan waspada dan khawatir
"Jadi, kamu ingin aku ke sini hanya karena masalah kamu merasakan sihir pembalik waktu,"
"Bukankah aku sudah bilang kalau aku menyerahkannya kepadamu dan aku ingin menikmati hari tua ini dengan baik," ucap seorang laki-laki paruh baya dengan tatapan kesal
"Tapi bukannya ayah tidak terlihat tua sama sekali, jadi tolong jangan bersikap seperti orang tua yang rapuh, dan juga kakek bilang kalau umur ayah diberikan sangat panjang oleh kakek,"
"Jadi tolong jangan mengada-ngada, untuk menikmati hari tua dan aku juga tau beberapa hari yang lalu ayah pergi ke istana neraka untuk minum teh dengan santai," ucap laki-laki yang berada di depannya dengan tatapan dingin
"Tok... tok... tok..." suara ketukan pintu
"Sepertinya mereka sudah datang," ucap laki-laki itu dengan seringaian berjalan ke arah pintu kemudian membuka pintu ruangan itu
"Terima kasih atas sambutannya," ucap guru pembimbing itu dengan dingin
"Silahkan masuk," ucap laki-laki itu sambil tersenyum
"Leviathan, jadi apa maksud dan tujuanmu memanggil kami ke ruanganmu?"
"Aku yakin kamu pasti tidak mungkin hanya ingin memberikan kata sambutan kepada kami, jadi jelaskan," ucap guru pembimbing itu dengan tatapan tajam
"Theo, kenapa kamu tidak mirip seperti Felix?" ucap laki-laki paruh baya itu dengan tatapan penasaran
"Aku hanya anak angkat jadi jangan samakan aku dengan orang tua itu dan kenapa ayahmu ada di sini," ucap Theodor dengan tatapan dingin dan sinis
"Baiklah, kita saatnya berbicara serius," ucap Leviathan dengan senyuman dingin sambil menjentikkan jarinya yang membuat seluruh ruangannya kedap suara
"Aku ingin bertanya siapa diantara empat orang ini yang memiliki sihir pembalik waktu atau sihir pengontrol waktu?" ucap Leviathan dengan tatapan serius
"Kenapa kamu bertanya tentang sihir waktu dan memangnya ada yang seperti itu?" tanya Theodor dengan tatapan kebingungan dan dingin
"Tentu saja ada, kalau tidak mana mungkin aku bisa merasakan sihirnya,"
"Tenang saja aku tidak berniat buruk walaupun kalian memilikinya,"
"Aku yakin ucapan yang aku katakan ini memang tidak bisa di percaya karena orang jahat sekalipun juga mengatakan hal yang sama," ucap Leviathan dengan tatapan dingin
"Kami akan memberikan fasilitas kepada kalian para siswa-siswi berprestasi dari akademi Richardson, terutama melatih kalian secara langsung,"
"Mungkin terkesan seperti orang yang memiliki maksud tertentu tapi sayangnya kami hanya melakukannya karena pekerjaan kami sebagai tenaga pendidik," ucap laki-laki paruh baya itu dengan tatapan yang dingin
"Hah..."
"Jadi alasanmu itu memangnya bisa di percaya begitu saja?" tanya Theodor dengan dingin
"Kalau kami tidak bisa di percaya maka para pendeta katedral yang berada di posisi netral bisa di percaya bukan?" ucap Leviathan dengan tatapan tajam ke arah orang yang berada di depannya
"Jadi ini alasannya kamu mengundangku, kamu licik sekali Dalbert," ucap seorang laki-laki tidak asing untuk mereka
"Bukan aku yang mengundangmu karena sejak dulu aku tidak suka dengan katedral dan putraku yang lebih tepatnya mengundang dirimu ke sini," ucap Dalbert dengan tatapan dingin
"Kalaupun memang ada sihir pembalik waktu itu, apa yang ingin kamu lakukan Leviathan?" tanya pendeta itu dengan dingin dan serius
"Apa yang ingin aku lakukan ya, kalau begitu pertama-tama tanda tangan di kertas ini maka aku akan mengatakannya," ucap Leviathan dengan serius
"Kakak, aku tidak mungkin kamu suruh buat perjanjian di atas kertas lagi kan?" tanya laki-laki itu dengan tatapan datar
"Tentu saja tidak lagipula kamu memiliki posisi yang sama," ucap Leviathan dengan tatapan datar
Kenapa Leviathan begitu penasaran dengan pemilik sihir pembalik waktu? Apa yang akan dia lakukan setelah mengetahuinya? Apakah yang akan terjadi selanjutnya?
Gressa's second life