
Setiap orang punya caranya masing-masing untuk memilih seperti apa masa depan yang ingin mereka miliki. Namun tidak dengan keluarga kerajaan, mereka tidak bisa memilih-milih apa yang mereka inginkan seperti memilih kue. Setiap langkah yang mereka lakukan akan berpengaruh kepada setiap orang yang ingin mengikuti atau mendukungnya dalam menguasai wilayah kerajaan. Mereka akan mendukung setiap keluarga kerajaan yang menurut mereka cukup untuk mereka kendalikan dari belakang.
Sebuah ruangan yang terlihat sangat mewah namun mencekik jiwa dan raga seseorang layaknya sebuah sangkar yang mewah. Melihat seorang wanita paruh baya yang terbaring lemah didampingi oleh seorang anak kecil yang menatap dengan gelisah dan cemas ke arah perempuan itu.
"Luke, kamu harus tau kalau kita adalah keluarga kerajaan, dan kamu juga sekarang adalah calon dari pewaris takhta kerajaan,"
"Sebagai seorang ibu aku ingin berpesan atau memberikan nasehat yang terakhir kepadamu,"
"Kamu harus kuat dan teguh pendirian terhadap yang kamu yakni, jangan biarkan orang-orang itu menjadikan dirimu boneka tanpa hati jangan biarkan dirimu tergoda dengan godaan ucapan yang dikatakan oleh orang-orang itu,"
"Kamu harus menjadi orang yang tidak meneteskan air mata ataupun lemah karena mereka pasti akan menggunakan itu sebagai ancaman tidak langsung,"
"Ibu tidak berharap kamu sepenuhnya menjadi seorang yang duduk di kursi dengan mahkota,"
"Pilihlah jalan yang kamu inginkan,"
Setelah ucapan terakhir dari perempuan paruh baya itu, sang anak kecil menangis dan berteriak di ikuti hujan yang turut berdukacita atas kematian sang ratu itu. Setelah kematian ibunya semua orang berdarah biru menatapnya seperti seekor mangsa yang cocok untuk di jadikan target boneka hidup. Namun karena dirinya yang sejak kecil tegas dan dingin setelah kematian ibunya, maka semua ucapan dan bujukan manis para darah biru dengan terang-terangan di tolak oleh anak kecil itu. Bertahun-tahun kemudian banyak para darah biru yang mengirimkan para pembunuh guna, untuk mengingatkan kalau sang boneka harusnya patuh dengan yang dinginkan oleh mereka bukan melawan. Tetapi semuanya tentu saja gagal dan malah sebaliknya merekalah yang mendapatkan peringatan paling keras karena masalah itu. Sampai sekarang anak kecil itu terus berusaha supaya para darah biru tidak menekan dirinya. Begitulah kisah dari seorang pangeran yang mungkin terdengar
'Apa yang aku lihat barusan? Kenapa anak kecil itu mirip dengan batu es yang baru saja aku tampar? Tapi itu tidak mungkin, karena dia anak kecil,' ucap Gressa di dalam hatinya dengan tatapan kebingungan
"Kamu baru saja melihat masa lalu,"
"Dan itu akan terjadi sewaktu-waktu, kalau kamu tidak bisa mengendalikannya,"
"Kamu bisa menjadi gila,"
"Tetapi jika kamu bisa menggunakannya mungkin itu akan menjadi sebuah berkah untuk dirimu,"
"Kutukan dan berkah sekaligus terdapat dalam bakat dan kemampuan yang kamu miliki, Gressa," suara yang tiba-tiba muncul entah dari mana
'Itu suara dari mana? Bagaimana pak wakil kepala akademi tau kalau bakat dan kemampuanku aktif?' ucap Gressa di dalam hatinya dengan waspada memperhatikan sekitarnya namun di sekitarnya tidak ada seorang pun yang lewat atau mengawasinya kecuali laki-laki yang berada di sampingnya
"Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak berniat juga untuk mengawasi dirimu 24 jam penuh tapi aku merasakan ada benang emas yang baru saja bergerak yang artinya sihir waktu digunakan oleh seseorang,"
"Dan aku berbicara di dalam kepalamu jadi aku bisa membaca pikiran yang sedang kamu katakan sekarang,"
"Ini adalah salah satu sihir tingkat tinggi yaitu telepati," ucap Zeit dengan nada yang terdengar serius
"Kakakku memintaku untuk memberi tau dirimu kalau sihirmu aktif jadi dia memintaku untuk melakukan telepati langsung," ucap Zeit di kepala Gressa
'Baik, terima kasih atas nasehatnya wakil kepala akademi,' ucap Gressa di dalam hatinya dengan perasaan lega
"Gressa, ada apa? kamu serius baik-baik saja tanpa bercerita?" tanya laki-laki yang berada di sampingnya
"Tidak apa-apa, tenang saja,"
"Bisa dikatakan kalau kamu memiliki perasaan kepada gadis itu, mungkin kamu tidak mengetahui tapi bagi para perempuan hal semacam ini adalah hal yang penting, jadi aku tidak akan melakukannya,"
"Karena aku kesihan kepada para perempuan yang mengejar dir-"
"Aku tau dan aku dengan senang hati rela menanggung beban yang kamu rasakan atau semua masalah yang kamu alami,"
"Gressa, itu karena aku menyukai dirimu," sela Lucius dengan tatapan serius namun lembut ke arah tatapan mata Gressa membuat suasana yang terjadi di sekitar mereka menjadi lengang sejenak
Disisi lain, Dallen yang sedang mencari gadis yang memiliki kemampuan mengobati itu tiba-tiba berhenti ketika melihat gadis yang dia cari sedang berbicara dengan penuh senyuman kepada seorang laki-laki yang entah siapa orang itu. Membuat dirinya mengepalkan tangan dan berjalan dengan sedikit emosi karena gadis itu hampir tidak pernah tersenyum begitu indah di hadapannya.
"Apa sudah selesai bicaramu dengan laki-laki itu, Charlotte?" tanya Dallen dengan dingin menatap ke arah laki-laki itu
"Kenapa kamu datang-datang dengan raut wajah seperti itu? Dan kenapa kamu mengatakan orang ini laki-laki itu?" ucap Charlotte dengan dahi yang terlipat dan tatapan tidak senang
"Karena ada orang yang perlu kamu obati dan masalah ini harus segera kamu obati," ucap Dallen dengan dingin
"Dallen, kamu selalu saja begitu serius,"
"Aku ke sini hanya untuk menanyakan bakat dan kemampuan berubah wujudku," ucap suara yang tidak asing keluar dari laki-laki yang berada di depan Charlotte
"Oh, ternyata kamu wakil ketua dewan,"
"Kebetulan aku ingin memberikan laporan kepada anda, kalau jadwalku untuk patroli telah selesai,"
"Jadi saya pergi dulu dan saya juga akan membawa Charlotte,"
"Sampai jumpa nanti," ucap Dallen dengan dingin pergi sambil menarik tangan Charlotte sedangkan gadis yang ditarik tidak mengetahui apa pun alasan Dallen yang begitu dingin padahal biasanya dia adalah laki-laki yang sangat ceria
"Memangnya bagaimana keadaan pasien yang ingin di obati itu?" tanya Charlotte yang berusaha menyeimbangkan langkah yang cepat dari Dallen
"Parah hingga dia bisa membuat orang itu bisa menjadi perbincangan satu akademi, oleh karena itu cepatlah," ucap Dallen tanpa menatap perempuan yang ada di depannya tidak lama dari itu mereka sampai di taman tempat Luke dan bawahannya menjaga kakaknya itu.
"Luke, ini pertama kalinya aku melihat wajahmu habis di tampar oleh seseorang,"
"Dallen, bisakah kamu memberi tau aku siapa orang yang menamparnya, karena harus menjabat tangannya,"
"Dia pasti orang yang sangat hebat, sampai berani melakukannya kepada putra mahkota yang terkadang menyebalkan ini," ucap Charlotte dengan tatapan antusias menatap luka yang berada di pipi itu
"Dibandingkan itu, lebih baik kamu obati lebih dulu pipinya," ucap Dallen dengan tatapan datar karena dirinya ternyata khawatir terlalu berlebihan kepada gadis itu
Apa jawaban dari Gressa atas perkataan dari Lucius? Akankan Charlotte menjabat tangan Gressa karena keberaniannya? Apakah yang akan terjadi selanjutnya?
Gressa's Second Life