
'Aku tau ini sangat beresiko untuk menghindari Addison Elrick, tapi yah tidak ada yang bisa aku lakukan lagi, untuk menghindari dirinya,' ucap Gressa di dalam hatinya dengan perasaan merinding karena di perhatikan terus-menerus dari arah belakang
"Gressa, ada yang ingin aku bicarakan," panggil laki-laki yang dibelakangnya
'Aku yakin ini adalah jebakan, kalau aku menjawabnya, mungkin kakiku bisa dipatahkan olehnya mulai hari ini,'
'Walaupun aku panik dan gemetaran aku harus tetap bisa percaya diri dan berkepala dingin,' ucap Gressa di dalam hatinya untuk menenangkan dirinya yang memiliki tangan yang sudah berkeringat dingin
'Dia tidak merespon sama sekali, apa aku salah mengira, kalau dia benar-benar Gressa mungkin dia saat ini sudah bergetar, karena takut ketahuan,' ucap laki-laki itu menatap tajam perempuan itu
"Tuan Baron Elrick, sungguh kehormatan bisa bertemu dengan anda, apalagi sampai anda datang ke butik kecil milik saya ini,"
"Bagaimana kalau kita naik ke atas untuk membahas bisnis?" ucap seorang laki-laki yang merupakan pengganti dari Gressa dalam menjalankan bisnis
"Baiklah, tapi sebelum itu aku ingin bertanya," ucap Addison sambil menatap orang yang ada di depannya
"Ya tuan, apa yang ingin anda tanyakan?" tanya pemilik toko itu dengan tatapan kebingungan
"Berapa ukuran pakaian perempuan yang seperti perempuan di sana?" tanya Addison sambil menatap Gressa yang bersembunyi
'Aku pikir aku akan ketahuan, kalau aku berada di sini,' ucap Gressa di dalam hatinya dengan keringat dingin
"Ah itu mungkin seukuran dengan pakaian ini tuan Baron," ucap pemilik toko itu sambil menunjukkan pakaian yang seukuran dengan Gressa
"Baik, kalau begitu ambil semua yang satu ukuran dengan pakaian yang kamu tunjukkan dan bawa tagihannya ke kediaman Baron Elrick," ucap Addison dengan tatapan dingin
"Baiklah, tuan Baron akan kami siapkan," ucap pemilik toko itu dengan senyuman yang profesional
"Apa ada yang bisa saya bantu lagi tuan Baron sebelum membahas tujuan anda datang ke butik kami?" ucap pemilik toko itu lagi sambil tersenyum
"Tentu saja ada yang ingin aku bicarakan, tapi bisakah nanti kita bahas di atas saja," ucap Addison dengan tatapan dingin
"Tentu saja tuan, silahkan ikuti saya,"
"Saya akan mengantar anda keruangan kerja saya," ucap pemilik toko itu sambil berjalan di depan pemilik wilayah yang besar itu
'Entah dia Gressa atau bukan tapi mustahil dia tidak berbicara saat aku panggil namanya,' ucap Addison di dalam hatinya sambil memperhatikan perempuan yang masih berada di sudut sana
'Untung saja tidak ketahuan, aku tidak menyangka kalau dia akan datang tiba-tiba seperti ini,'
'Mungkin saja aku bisa ketahuan dan jika itu terjadi aku bisa mati,' ucap Gressa di dalam hatinya dengan perasaan yang suram
'Menurut novelnya, kalau Gressa adalah seorang penjahat yang sangat mahir dalam sihir mungkin saja dia bisa menggunakan sihirnya untuk menguasai dunia tapi dia sangat mencintai pemeran utama sampai dia melakukan hal yang bodoh dengan belajar menggunakan sihir terlarang demi membunuh tokoh perempuan itu,' ucap Gressa di dalam hatinya dengan tatapan yang sedikit sedih
'Sebaiknya aku pergi ke katedral sekarang, karena aku dengar hari ini mereka akan mengetes bakat setiap orang yang berasal dari rakyat biasa,' ucap Gressa di dalam hatinya sambil berjalan keluar dari butik lewat jalan belakang tentu saja dengan pakaian yang berbeda
Di depan menara putih yang memiliki lonceng besar di tengah alun-alun kota.
"Nona kecil, sudah lama tidak bertemu denganmu," ucap seorang penjaga di sana
"Ah iya, aku sedang ada masalah untuk berkunjung ke sini, oleh karena itu aku tidak pergi untuk waktu yang lumanyan lama dan hari ini aku berkunjung untuk berdoa," ucap Gressa dengan senyuman yang manis
"Nona kecil, apakah kamu telah mengetes kemampuan atau bakat yang kamu miliki?" ucap penjaga itu sambil menatap Gressa yang berada di depannya
"Kemampuan bakat? Apa itu?" ucap Gressa dengan tatapan yang berpura-pura tidak tau
"Itu adalah kemampuan yang kamu miliki sejak kamu lahir dan diberikan oleh para dewa untukmu,"
"Apa kamu ingin mencobanya?" ucap penjaga itu sambil tersenyum
"Apakah aku boleh? Aku hanya seorang gadis yang berasal dari rakyat biasa bukan seorang bangsawan takutnya nanti aku di usir oleh katedral," ucap Gressa dengan raut wajah yang sedih
"Siapa yang mengatakan hal yang seperti itu kepada nona? Ini adalah tempat suci, tiap satu tahun sekali semua kalangan baik dari rakyat biasa maupun bangsawan datang ke sini untuk mengetes bakat yang mereka miliki karena semua nya adalah berkat yang diturunkan oleh dewa yang tidak memandang dari mana dirimu berasal, jadi tenang saja,"
"Anda pasti akan mengetahui kemampuan yang anda miliki,"
"Aku tidak bisa menemani nona masuk ke dalam ruangan aula tapi tenang saja nantinya ada seorang pendeta yang berada di dalam ruangan itu dia yang akan membantu dirimu dalam mengetes bakat dan kemampuan yang kamu miliki," ucap penjaga itu sambil membuka pintu masuk katedral
"Baiklah terima kasih," ucap Gressa sambil berjalan masuk ke dalam katedral itu
"Nona kecil, ada perlu apa anda mengunjungi katedral?"
"Apa kamu juga ingin mengetes bakat dan kemampuan?" ucap seorang pendeta yang menjaga di depan pintu
"Aku ingin berdoa untuk orang tuaku yang telah meninggalkan dunia ini, mereka meninggalkan aku di usia yang cukup muda, jadi aku ingin berdoa kepada dewa untuk membahagiakan mereka di sana,"
"Aku dengan dari kakak-kakak penjaga gerbang di luar kalau semua orang bisa mengetes kemampuan dan bakat mereka, apa aku boleh ikut mencobanya?" ucap Gressa dengan tatapan yang sedih
"Kamu anak yang sangat berbakti kepada orang tua ya, bahkan ketika orang tuamu telah tidak ada kamu berdoa kepada para dewa, sungguh mulia perbuatan yang kamu lakukan,"
"Dewa pasti akan memberikan bakat dan kemampuan yang luar biasa kepada orang seperti dirimu,"
"Kalau begitu mari kita langsung masuk dan mengetesnya,"
"Kamu masuk saja nanti akan ada seorang kepala pendeta yang akan membantu dirimu," ucap pendeta dengan senyuman yang ramah sambil membuka pintu ruangan aula doa
"Terima kasih," ucap Gressa sambil tersenyum seperti anak-anak yang terhibur dan berjalan masuk kedalam ruangan
'Kenapa ruangan Aula doa ini sepi?' ucap Gressa di dalam hatinya dengan tatapan kebingungan
"Kamu pasti bingung karena ruangan ini sepi kan?"
"Ruangan ini memang harus sepi karena bakat dan kemampuan tes adalah bersifat rahasia,"
"Kamu ingin mengetes bakat dan kemampuan?" ucap seorang laki-laki yang berjalan ke arah Gressa
"Iya, aku ingin mengetesnya," ucap Gressa sambil menoleh ke asal suara
'Bagaimana bisa ada laki-laki yang sangat tampan di sini?'
'Ketampanan adalah anugrah dewa sungguh luar biasa novel ini,' ucap Gressa di dalam hatinya dengan tatapan berbunga-bunga
"Silahkan letakkan tanganmu ke atas bola itu," ucap orang yang dimaksud kepala pendeta itu
"Baik," ucap Gressa sambil meletakkan tangannya ke atas bola itu
Tiba-tiba setelah dia meletakkan tangannya di atas bola itu, bola itu bersinar sangat terang memenuhi satu ruangan dan membuat bola itu pecah.
'Gawat kenapa bola itu bisa pecah, aku akan mati di sini,' ucap Gressa di dalam hatinya dengan tatapan panik
Apakah Gressa akan mati karena memecahkan barang milik Katedral? Apakah cahaya yang memenuhi ruangan itu? Apakah yang akan terjadi selanjutnya kepada Gressa?
GRESSA'S SECOND LIFE