Gressa's Second Life

Gressa's Second Life
Bab 43 bodoh atau tidak peka?



Beberapa hari telah berlalu sejak terakhir kali Gressa dan Lucius mendengarkan ucapan yang dikatakan oleh Dallen di taman kepada tunangan putra makhota...


'Walaupun diminta untuk berpura-pura tidak mendengarnya tetap saja ini adalah hal yang membuatku tidak tenang,'


'Karena di kehidupanku sebelumnya banyak sekali orang yang melakukan hal yang begitu kotor sama persis dilakukan orang yang berada di dunia gelap,'


'Aku harus tetap berusaha melupakan masalah itu karena tujuan hidupku adalah hidup tenang dan menjauh dari masalah dunia kalangan atas,' ucap Gressa di dalam hatinya dengan helaan nafas yang panjang


"Gressa, kenapa kamu menghela nafas? Dan kenapa kamu begitu lelah? Apakah ujian yang diberikan oleh kepala sekolah langsung itu sangat sulit?" tanya seorang perempuan yang berada di sebelahnya


"Eh? Walaupun ujian yang diberikan oleh kepala sekolah berbeda dengan siswa lainnya, tapi kamu tenang saja, soal yang diberikan masih sesuai dengan pelajaran yang aku terima langsung dari beliau," ucap Gress dengan senyuman tipis


"Sebentar lagi ujian selesai dan akhir pekan juga tiba, kamu ada rencana kemana Gressa?" tanya Charlotte dengan penasaran


"Aku berencana berjalan-jalan dengan Lucius," ucap Gressa sambil mengingat-ingat janjinya


"Kalian sudah menjadi pasangan kekasih? Dan kamu tidak memberitahu kepadaku?" ucap Charlotte dengan tatapan tajam dan dingin


"Apa yang kamu katakan ini Charlotte? Dapat darimana kamu kesimpulan seperti itu? Aku sama sekali hanya memiliki hubungan pertemanan dengan Lucius,"


"Dia mengajakku untuk berjalan-jalan dan juga sekalian untuk membeli kebutuhan untuk keperluan pergi ke kerajaan Lavina, karena lusa nanti kita akan langsung berangkat,"


"Kamu yakin dia mengajak dirimu tidak ada maksud tertentu? Kamu serius dia hanya mengajak dirimu untuk berjalan-jalan? Apakah kamu yakin kalau dia hanya mengajak dirimu jalan-jalan dan membeli perlengkapan untuk keperluan lusa?" tanya Charlotte dengan tatapan tajam menginterogasi


'Apakah aku seorang tahanan? kenapa pertanyaan begitu detail dan berulang-ulang?' ucap Gressa di dalam hatinya dengan tatapan kebingungan


"Memang benar hanya itu, bukankah itu hal yang biasa?"


"Kenapa kamu begitu curiga Charlotte?" ucap Gressa dengan tatapan kebingungan


"Karena entah kenapa aku merasakan kalau dia mencurigakan, dia tidak mungkin hanya mengajak dirimu tanpa maksud tertentu,"


"Jika dia hanya ingin membeli barang seperti itu bukankah dia lebih baik meminta orang dari keluarga untuk membelikannya tanpa harus bersusah payah untuk mengajak dirimu jalan-jalan,"


"Dan juga sejak pertama kali bertemu aku merasakan kalau pandangannya berbeda kepadamu ditambah lagi, dia sering datang ke villa kita mengantarkan banyak hal dan datang dengan tujuan tidak jelas,"


"Siapapun akan curiga Gressa, aku heran kenapa kamu tidak bisa sedikit curiga kepada dirinya," ucap Charlotte dengan tatapan yang curiga


"Mungkin saja dia ingin mencari suasana baru karena bagaimanapun juga, seseorang akan bosan jika hanya berdiam diri di asrama atau rumah,"


"Lebih baik jalan-jalan, bukankah begitu?" ucap Gressa dengan tatapan yang datar dan pikiran positif


"Kamu tidak salah juga, tapi kenapa dia tidak mengajakku dalam jalan-jalan itu?"


"Aku juga ingin mencari suasana baru dan menenangkan pikiran,"


"Aku yakin dia memiliki perasaan kepada dirimu, tapi kamu tidak menyadarinya," ucap Charlotte dengan tatapan tajamnya


"Itu mustahil Charlotte, karena dia sangat dekat dengan Alesya dibandingkan denganku, jadi tidak mungkin jika aku adalah orang yang special di dalam hidup dirinya itu," ucap Gressa dengan senyuman tipis


'Aku bingung dia adalah perempuan yang bodoh atau tidak peka? Kalau dibilang bodoh dia mendapatkan nilai terbaik di seluruh mata pelajaran akademi dan mendapatkan nilai sempurna dalam praktek yang seharusnya tidak ada nilai sempurna,' ucap Charlotte di dalam hatinya dengan menahan rasa kekesalannya


"Baiklah, mungkin saja memang seperti itu," ucap Charlotte dengan senyuman yang profesional karena sudah lelah dengan pembicaraan yang dilakukan kepada Gressa


"Apa yang kalian berdua bicarakan? Kalian berdua terlihat asik sepanjang berjalan di koridor," ucap seorang laki-laki yang berjalan ke arah mereka berdua


"Lucius, bagaimana dengan ujianmu? Apakah lancar?" tanya Gressa yang menghentikan langkahnya di ikuti dengan langkah Charlotte


"Ada beberapa yang tidak aku pahami tapi semuanya berjalan dengan baik," ucap Gressa sambil tersenyum


"Kamu tidak menanyakannya sesuatu kepadaku?" ucap Charlotte dengan tatapan datar


"Itu karena kamu adalah perempuan yang berbakat sejak kecil, jadi tidak perlu aku menanyakan hal seperti ujian lancar atau tidak," ucap Lucius dengan menyeringai yang membuat Charlotte terdiam


"Lucius, kacamata monocle itu sangat cocok untuk dirimu,"


"Tapi ini pertama kalinya aku melihat dirimu menggunakan kacamata," ucap Gressa sambil menatap kacamata itu


"Benarkah? Terima kasih,"


"Apakah kamu ingin mencobanya?" tanya Lucius sambil tersenyum


"Apakah boleh?" tanya Gressa dengan tatapan penasaran


"Tentu saja boleh, karena aku yang mengizinkannya," ucap Lucius dengan senyuman tipis dan melepaskan kacamatanya


"Biar aku yang memasangkan kacamata ini kepadamu," ucap Lucius sambil menyentuh rambut-rambut Gressa yang terurai untuk memasang kacamata tersebut


'Bagaimana bisa bibirnya itu terlihat lembut?' ucap Lucius di dalam hati sambil memasangkan kacamata monocle itu ke mata Gressa dengan jarak wajah mereka yang tidak sampai 15 cm


'Dilihat dari dekat orang yang tampan itu memang berbeda, tapi bukankah ini terlalu dekat?' ucap Gressa di dalam hatinya dengan wajah yang sedikit merona


"Baiklah, apakah kalian berdua telah selesai asik berbicara tanpaku?" ucap Charlotte menyadarkan suasana yang membuat dirinya terabaikan dengan tatapan kesal


"Charlotte, kamu marah karena masalah ini?" ledek Lucius dengan menyeringai


'Entah kenapa aku ingin membunuh dirinya? Karena selalu membuatku kesal sejak dulu,' ucap Charlotte di dalam hatinya dengan tatapan dingin


"Aku tidak marah, hanya saja aku kecewa kalian sedang asik berbicara berdua dengan tatapan cinta," ucap Charlotte dengan tatapan dingin


"Charlotte, kami hanya teman jangan mengatakan yang tidak-tidak," ucap Gressa dengan senyuman tipis


"Aku dengar nantinya saat kita belajar di akademi Lavina, kita diminta untuk berkelompok,"


"Satu kelompok diminta untuk berisikan 6 orang, jadi kita harus memiliki 6 orang,"


"Kita tinggal mencari 3 orang saja," ucap Lucius yang berusaha mengalihkan pembicaraan


"Ah iya itu benar, kita harus mencari siapa lagi?" ucap Charlotte dengan berpikir serius


"Bagaimana kalau mengajak aku ke dalamnya?" ucap seorang laki-laki yang entah muncul darimana


"Dallen, kenapa kamu ada dimana-mana?" ucap Charlotte dengan dingin


"Yah, karena aku kebetulan lewat dan juga bukankah ini juga saat yang tepat untuk mengajakku bergabung karena aku belum memiliki kelompok sama sekali," ucap Dallen dengan bangga


"Baiklah, kalau begitu aku rasa tidak masalah, tapi kita tetap masih kekurangan dua orang lagi," ucap Gressa dengan tatapan serius


"Bagaimana kalau mengajak Luke dan Elina? Bukankah dengan begitu kelompok ini menjadi pas 6 orang?" ucap Dallen sambil tersenyum


Apakah Gressa dan yang lainnya akan setuju? Apakah benar jika Lucius tidak memiliki perasaan kepada Gressa? Apakah yang akan terjadi selanjutnya?


Gressa's second life