Gressa's Second Life

Gressa's Second Life
Bab 37 William Carolyn Allen



"Kamu Nona Gressa bukan?" ucap seorang perempuan dari kejauhan menghampiri mereka berdua


"Iya aku Gressa,"


"Ada perlu apa?" ucap Gressa dengan tatapan kebingungan karena tidak mengenal ataupun mengetahui siapa perempuan itu


"Kepala akademi ingin menemui anda untuk mengurus masalah pelajaran pribadi anda,"


"Jadi beliau meminta saya untuk mencari anda dan menyampaikan langsung kepada anda," ucap perempuan itu sambil tersenyum


"Baiklah, saya mengerti,"


"Terimakasih telah berusaha payah untuk mencari saya,"


"Tapi..."


"Bolehkah aku meminta tolong?" ucap Gressa dengan senyuman kaku


"Kalau boleh tau meminta bantuan untuk apa?" tanya perempuan itu dengan tatapan kebingungan


"Mungkin ini sedikit merepotkan tapi..."


"Itu..."


"Saya masih kurang hafal tentang denah di akademi, bisakah membantu saya dengan menemani berjalan ke ruangan kepala akademi?" ucap Gressa dengan kepala tertunduk dengan malu


"Aku pikir minta tolong apa,"


"Tentu saja, wajar bagi seorang siswa baru untuk kebingungan dan buta arah di akademi,"


"Kalau begitu kita pergi sekarang bagaimana?" ucap perempuan itu dengan senyuman tipis


"Baiklah," ucap Gressa sambil menganggukkan kepalanya


"Gressa, kamu belum menjelaskan maksud dari perkataan yang kamu katakan barusan," ucap Luke dengan tatapan dingin


"Aku rasa tidak perlu di jelaskan,"


"Anda akan mengetahuinya,"


"Karena seperti angin yang mengetahui sesuatu dalam diam aku yakin kamu juga akan mengetahuinya dalam diam," ucap Gressa sambil berjalan tanpa berbalik atau menghentikan langkahnya


"Kamu sepertinya sangat akrab dengan putra mahkota, apakah kamu juga memiliki perasaan seperti para gadis umumnya?" tanya perempuan itu untuk membuat sebuah suasana


"Hanya sebuah tampang muka yang tampan,"


"Kenapa aku harus memiliki perasaan?"


"Di tambah lagi sifatnya yang seperti balok es itu, membuat siapapun akan merasa kalau dia adalah sebuah benda mati karena tidak pernah tersenyum ataupun bersikap dengan lembut," ucap Gressa dengan tatapan yang dingin


"Memang ada benarnya tapi kamu percaya atau tidak,"


"Putra mahkota dulunya adalah orang tidak seperti sekarang,"


"Dulu beliau adalah orang yang begitu baik, lembut dan bisa tersenyum namun waktu mengubah dirinya,"


"Seperti yang sekarang kamu lihat,"


"Untuk seorang pewaris tahta kerajaan tidak ada hari yang damai dan untuk bersantai-santai oleh sebab itu dia seperti itu,"


"Banyaknya rakyat yang akan menantikan pekerjaannya di masa depan membuat dirinya harus dewasa lebih muda,"


"Aku pikir kalian adalah teman yang dekat dan aku juga pikir kalau kamu mungkin bisa membantu dirinya ke arah yang baik, nona Gressa," ucap perempuan itu dengan senyuman dan pandangan yang sendu


"Aku mengerti hal itu,"


"Tapi kenapa aku merasa kalau anda sendiri adalah orang yang sangat-sangat dekat dan mengenal putra mahkota dengan baik,"


"Apakah anda memiliki hubungan dengannya?" ucap Gressa dengan tatapan penasaran


"Padahal orang biasanya akan menganggap yang aku katakan ini hanya sekedar rumor yang tersebar tapi nona Gressa malah menganggap kalau saya memiliki hubungan yang dekat dengan seorang pewaris tahta,"


"Jadi apa boleh saya tau apa yang menyebabkan anda menganggapnya seperti itu?" ucap Perempuan itu dengan senyuman pahit


"Karena caramu berbicara dan tatapanmu begitu menyedihkan seolah-olah kamu benar-benar memiliki sebuah hubungan yang sangat-sangat dekat dengan keluarga tersebut,"


"Jadi aku menebaknya mungkin kamu juga memiliki hubungan bukan sekedar hubungan bisnis antar keluarga atau sebagiannya," ucap Gressa dengan kedua tangan yang terlipat


"Aku adalah selir ke tujuh dari raja terdahulu dan aku di usir dari istana kemudian kembali ke keluargaku,"


"Aku di usir sejak sang ratu meninggal dan kemudian digantikan oleh ratu baru,"


"Yang mengatakan kalau semua orang yang memiliki hubungan dengan sang ratu terdahulu harus di musnahkan atau di buat jauh dari istana karena bisa saja membawa kesialan dalam keluarga kerajaan,"


"Oleh sebab itu aku sangat mengenal putra mahkota,"


"Oh begitu,"


"Maafkan aku membuat anda sampai menceritakan hal yang sudah lama berlalu," ucap Gressa sambil menganggukkan kepalanya kemudian menunduk karena merasa sedikit bersalah


"Tidak, ini tidak masalah bercerita tentang masalah ini," ucap perempuan itu dengan gelengan Pelan yang kemudian sampailah mereka ke sebuah ujung dari ruangan itu


"Jadi kita telah sampai di ruangan kepala akademi,"


"Jadi silahkan masuk," ucap perempuan itu sambil membuka pintu besar itu


"Gressa, sekali lagi selamat datang di akademi Richardson,"


"Aku sangat senang mendengar jika salah satu siswi yang memiliki moralitas seperti dirimu berhasil masuk ke akademi ini,"


"Aku harap kedepannya juga akan tetap seperti itu," ucap laki-laki itu sambil menghentikan tangan yang sedang menari di atas kertas dengan senyuman ramah


"Silahkan duduk di kursi," ucap Felix sambil beranjak dari kursinya dan menunjukkan kursi ke arah Gressa


"Saya juga ingin berterima kasih karena kepala akademi ingin menerima saya sebagai siswa akademi ini,"


"Walaupun saya membuat keributan dan berperilaku tidak sopan kepada bangsawan yang memiliki gelar lebih tinggi,"


"Dan..."


"Bagi saya bisa di terima di akademi ini adalah suatu kehormatan yang besar," ucap Gressa dengan tatapan tegas dan serius


"Baiklah, mungkin kamu kebingungan kenapa kamu langsung dipanggil olehku untuk mengurus pendidikan pribadimu padahal prosedur untuk mendapatkan pendidikan pribadi melalui administrasi,"


"Bukan melalui kepala akademi,"


"Tapi sebelum aku menjelaskan alasannya,"


"Aku tidak ingin membiarkan orang-orang luar mendengarkan pembicaraan kita,"


"Jadi Rubia tolong buat ruangan ini kedap suara," ucap Felix sambil menatap perempuan yang tidak jauh darinya


"Baik, pak kepala," ucap Rubia yang kemudian membuat ruangan itu kedap suara tanpa merubah ruangan


"Baiklah sekarang aku akan menjelaskannya,"


"Aku akan turun tangan langsung dalam membimbing pendidikan yang akan kamu terima nantinya,"


"Karena hanya aku yang di beri tau mengenai dirimu secara khusus mengenai bakat dan kemampuan yang kamu miliki,"


"Demi mencegah dirimu digunakan oleh orang-orang yang jahat,"


"Atau mencegah dirimu menjadi boneka orang-orang yang haus kekuasaan dan kekayaan,"


"Aku akan turun tangan langsung untuk melatih dan memberikan pendidikan kepadamu," ucap Felix dengan tatapan yang serius


"Aku menjelaskan mengenai alasannya sampai disini,"


"Karena pembahasan yang akan aku bahas selanjutnya mengenai dirimu,"


"Jadi apakah ada pertanyaan?" ucapnya dengan tatapan serius


"Aku ingin tau siapa orang yang memberi tau anda mengenai bakat dan kemampuan saya?"


"Karena saya yakin kakak saya tidak akan membicarakan tentang bakat dan kemampuan saya kepada siapapun," ucap Gressa dengan tatapan kebingungan


"Orang tua anda tentunya,"


"William Carolyn Allen, teman lamaku sekaligus seorang kepala pendeta katedral,"


"Dia mempercayakan kamu kepadaku,"


"Aku jadi merasa kalau ini artinya tidak bisa aku serahkan kepada para guru di akademi ini,"


"Jadi Gressa kamu akan menjadi satu-satunya muridku,"


"Apa kamu bersedia di bimbing olehku?" ucap Felix dengan tatapan serius


'Aku tidak akan heran lagi kalau orang tua itu yang berbicara, tapi dibimbing oleh kepala akademi itu...'


Apakah Gressa akan menerima tawaran itu? Apakah yang membuat Luke berubah? Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Mungkinkah takdir Gressa akan berubah ke arah yang lebih baik?


Gressa's second life