
Ucapan terima kasih yang di ucapkan Gressa, membuat Noella meninggalkan istana kerajaan tanpa ragu karena Gressa seolah-olah tau kalau Noella mungkin tidak akan berada di pihaknya itulah yang dipikiran oleh Noella.
Dan berkat itu juga Luke menjadi tau kalau penyusup itu ternyata pelayan kecil yang selalu berada di depan tunangannya, tentu saja dia hanya melihatnya pergi. Karena dia tau tidak akan semudah itu dia dilepaskan nantinya oleh orang yang berada di balik layar ini. Keesokan harinya tibalah mereka dimana saat-saat menentukan seperti apakah garis takdir yang menuntun mereka di masa depan yang tidak jauh dari tatapan mereka.
"Hari ini, hidup dan mati kita akan merebut kembali takhta,"
"Aku harap tidak seperti yang dikatakan oleh suara yang bertemu di mimpiku,"
"Karena aku yakin dia pastinya bagian dari masa depan,"
"Entahkah itu penyesalan? Atau kebahagiaan?"
"Yang aku tau bahwa masa depan sedang menungguku di depan gerbang ini," Gumam Gressa dengan senyuman yang dingin dan perasaan yang teguh yakin bahwa ini jalan yang harus diambil apapun taruhannya.
"Kakak, aku takut kalau kita benar-benar kalah dalam hal merebut kembali kerajaan ini?" ucap Dallen dengan tatapan khawatir sambil memegang erat tali kuda yang ditungganginya
"Kamu tenang saja, rencana yang direncakan ini tidaklah mustahil,"
"Percayalah dengan kemampuanmu," ucap Luke dengan tatapan dingin dan senyuman tipis
Di sisi lain perbatasan, semua pasukan musuh berkumpul di padang pasir yang luas, yang merupakan perbatasan mereka dengan kerajaan Esmeralda secara langsung. Sekelompok orang ini sangat percaya diri dan percaya bahwa mereka dapat memenangkan pertempuran ini dan mendapatkan kepala yang berharga itu, bahkan jika seluruh pasukan musuh berada di dekat mereka.
Jika ditanyakan kenapa mereka yakin dengan kemampuan mereka, tentu saja karena mereka adalah kerajaan yang memiliki militer paling kuat dan berada di posisi pertama. Jadi mana mungkin mereka takut dengan Esmeralda yang berada di urutan kedua atau berada dibawah mereka. Namun mereka sepertinya fokus sampai melupakan sebuah fakta penting.
"Yang mulia, semuanya telah sesuai dengan yang anda rencakan,"
"Pasukan kita bisa membuat mereka semua bertekuk lutut kepada anda dan menyesal telah melarikan diri dari kerjaan," ucap seorang laki-laki yang merupakan menteri yang membantu dirinya saat memberontak dengan percaya diri
"Tentu saja, jika sang raja bisa mati di tanganku maka sang putra mahkota tentu saja juga bisa mati di tanganku,"
"Setelah perang ini selesai aku akan membuatnya sadar, kalau dia tidak akan ada yang bisa menolong dirinya jika dia menolakku bahkan kabur dariku," ucap Lucius dengan tatapan dingin dan aura yang membunuh
"Apa anda yakin yang mulia ingin turun tangan berperang? Anda terlihat sangat kelelahan," tanya seorang perempuan dengan tatapan khawatir
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena aku memiliki pasukan terbaik di kerajaan ini dan juga melihat musuhku yang begitu sangat dengan siap perang seperti ini membuatku tidak tenang untuk duduk di dalam istana kerajaan,"
"Oleh karena itu aku harus serius dengan yang ingin aku lakukan," ucap Lucius dengan tatapan tajam ke arah musuh yang tiba di perbatasan
"Aku harus ingat aku tidak boleh menggunakan sihir yang berlebihan karena perang ini bukanlah perang yang sesungguhnya," Gumam Gressa yang menatap luasnya Padang pasir antar perbatasan serta banyaknya prajurit yang telah berbaris rapi untuk membunuh mereka.
Perang pun dimulai kedua belah pihak saling bertarung dengan cara mereka dan semangat mereka dalam menaklukkan atau memenangkan tanah milik mereka. Sampailah pada saat malam tiba dan perang masih terus berlanjut tidak peduli apa yang akan terjadi, mereka akan tetap saling menyerang satu sama lain untuk menunjukkan kekuatan. Tetapi di sisi lain para perebut takhta telah merencanakan hal yang kecil ke dalam istana kerajaan yang sepi, entah apa yang terjadi kepada orang-orang yang menyelinap itu namun peperangan dimenangkan oleh pihak musuh mereka. Dan tentu saja karena hal ini sang mantan putra mahkota kerajaan di penjara untuk di eksekusi mati di depan rakyat, sedangkan tunangannya menjadi tahanan di sangkar yang indah dan mewah yaitu posisi putri mahkota kerajaan yang baru.
"Gressa, mulai hari ini kamu adalah calon istriku dan kita akan menikah saat kamu menyaksikan kematian mantan tunanganmu besok,"
"Dan pada saat yang bersamaan malam ini adalah pesta kemenangan dan merupakan penobatan aku di takhta kerajaan di sanalah aku akan mengumumkan pertunangan kita," ucap Lucius dengan tatapan yang lembut namun kosong seperti orang yang telah terobsesi dengan sesuatu
"Aku tidak peduli, karena aku akan memiliki dirimu jadi aku harap kamu siap tidak siap harus menerimanya Gressa," ucap Lucius sambil memegang dagu perempuan yang menatapnya dengan dingin dan sinis itu kemudian meninggalkan Gressa sendirian di ruangan itu tentu saja, dengan kaki yang diborgol sihir supaya dirinya hanya menikmati waktunya di dalam sangkar emas itu.
'Entah seperti apa yang akan terjadi nantinya, aku harap mereka berhasil dan bisa melakukan pembayaran yang sebenarnya terhadap kekalahan dua kali mereka,' ucap Gressa di dalam hatinya dengan dingin
"Tok... tok... tok..." Suara ketukan pintu
"Nona, saya membawakan teh," ucap seorang pelayan dengan wajah yang tidak asing masuk ke dalam ruangan itu
"Alesya, kenapa kamu bisa ada di sini? Dan kenapa kamu datang membawa teh?" tanya Gressa dengan tatapan kebingungan melihat teman lamanya yang sudah lama tidak terlihat muncul dengan pakaian pelayan
"Tentu saja aku menyelinap susah payah untuk datang ke sini," ucap Alesya dengan senyuman yang lembut dan bangga karena berhasil mengelabui para penjaga yang begitu ketat
"Aku dengar-dengar kalau kamu berada di sini dan kerajaan ini berhasil direbut tanpa ampun oleh Lucius,"
"Aku mendengar berita itu terkejut, tapi barusan aku dengar kalau stempel kerajaan hilang entah kemana,"
"Dan semua orang sedang di interogasi karena Lucius gagal naik takhta tanpa benda berharga itu,"
"Yang artinya kalian belum bisa bertunangan dan mantan putra makhota kerjaan ini tidak jadi di penggal di depan semua orang," ucap Alesya dengan tatapan serius
"Aku penasaran kenapa kamu datang ke sini hanya untuk bercerita yang baru-baru ini terjadi?" ucap Gressa dengan tatapan kebingungan
"Karena aku sudah lama tidak bertemu denganmu dan Charlotte jadi aku pikir, jika tidak di izinkan masuk dengan resmi maka menyelinap," ucap Alesya dengan tatapan dan senyuman yang pahit
"Gressa, selamat atas keberhasilan mu atas mendapatkan posisi yang sekarang calon ratu,"
"Begitu dicintai banyak orang sejak kamu berada di antara mereka, tanpa kekurangan sedikitpun,"
"Jadi biarkan aku memberikan dirimu sedikit hadiah," ucap Alesya lagi namun kali ini dengan seringai kemenangan dan aura membunuh saat melihat Gressa meminum teh yang di seduh
'Apa yang dibicarakan oleh Alesya?'
"UHUK..."
"KENAPA DADAKU SESAK?"
"apakah aku akan mati lagi?"
Apa yang terjadi kepada Gressa? Mungkinkah dia akan mati? Apakah yang akan terjadi selanjutnya?
Gressa's second life