
"Teng... teng... teng..." suara lonceng berdentang di tengah ramainya alun-alun kota kerajaan Lavina
'Kalau di lihat-lihat kota ini tidak jauh berbeda dengan kota kerajaan pada umumnya,' ucap Gressa di dalam hatinya sambil menatap sekeliling kota yang baru pertama kali di kunjungi olehnya
"SERAHKAN UANGMU KEPADAKU!!"
"KAMU TAU BUKAN SEMUA UANG YANG ADA DI KAMU HARUS DIBERIKAN KEPADAKU," teriak seorang laki-laki kepada seorang perempuan yang berada di tempat yang tidak jauh dari Gressa
"Ini adalah uang yang aku miliki, aku tidak mungkin menyerahkan kepadamu," ucap perempuan itu dengan tatapan ketakutan namun dengan perasaan yang kukuh kalau dia harus mempertahankan miliknya
"Oh jadi kamu tidak ingin menyerahkannya,"
"Kalau begitu matilah kamu perempuan ja*ang," ucap laki-laki itu sambil menghunuskan belati itu ke arah perempuan itu
"Tidak..."
"Sing..."
"Apa kamu baik-baik saja nona? Jika kamu baik-baik saja tolong lari dari sini," ucap Gressa tanpa membalikkan badannya karena menangkis belati itu di jawab oleh anggukan oleh perempuan itu
"Menghadapi seorang laki-laki memang perempuan seperti dirimu, suka berkeliaran seperti itu ya?" ucap seorang laki-laki berambut perak sambil memukul pingsan laki-laki yang berada di depan Gressa
"Terima kasih, karena menyelamatkan aku,"
"Tapi apakah kita pernah bertemu, tuan?" tanya Gressa dengan tatapan kebingungan setelah mendengarkan ucapan yang di katakan oleh laki-laki itu
'Aku lupa, kalau aku sedang menyamar,' ucap laki-laki di dalam hati dengan kaku
"Tidak, tapi aku hanya pernah melihatmu saat berada di ibukota kerajaan sebelah, jadi rasanya tidak terasa asing,"
"Oh begitu, sekali lagi terima kasih telah membantuku," ucap Gressa dengan anggukan pelannya
"Tidak perlu berterima kasih, menolong adalah hal yang wajar dilakukan oleh siapapun,"
"Bukankah kamu juga begitu nona?" ucap laki-laki itu dengan tatapan dinginnya
"Memang benar, tapi biasanya walaupun orang-orang melewati jalan ini mereka tidak peduli orang yang berada dalam bahaya itu, karena menurut mereka jika mereka terlibat mereka juga tidak akan bisa menyelamatkan diri mereka,"
"Oleh karena itu kebanyakan orang tidak akan peduli dengan situasi ini, tapi anda malah membantu,"
"Terima kasih, kamu adalah orang yang baik," ucap Gressa dengan senyuman lembut
"Kalau begitu, aku pergi duluan," ucap laki-laki itu sambil berbalik untuk meninggalkan Gressa
"Tunggu," ucap Gressa sambil menarik pakaian laki-laki itu
"Apakah ada yang ingin dibicarakan lagi?" tanya laki-laki itu dengan tatapan kebingungan
"Humm..."
"Biasakah saya membalas anda untuk makan siang bersama?" tanya Gressa dengan tatapan serius
"Ak-"
"Hah..."
"Aku bisa, baiklah," ucap laki-laki itu yang tidak tega menolak setelah melihat ekspresi Gressa yang begitu menantikan
"Kalau begitu, aku dengar-dengar tidak jauh dari sini ada restoran kecil yang menyediakan makanan yang enak,"
"Silahkan ikut aku tuan," ucap Gressa dengan bersemangat sedangkan laki-laki itu mengikuti
'Kenapa aku tidak bisa menolak perempuan ini? Padahal dia bukan berasal dari keluarga yang murni berdarah biru, dan juga dia tidak bersikap seperti perempuan bangsawan umumnya,'
'Tapi entah kenapa juga aku khawatir dengan keadaannya yang berkeliaran seperti ini sendirian,' ucap laki-laki itu di dalam hatinya dengan tatapan kebingungan
"Tuan, apakah boleh aku mengetahui namamu?" tanya Gressa dengan penasaran sambil menuntun jalan
"Carolyn, namaku," ucap Carolyn dengan singkat
"Tidak mudah terpengaruh. rajin, dan penolong sesuai sekali dengan anda tuan,"
"Orang tua anda pasti adalah orang yang sangat menyayangi anda," ucap Gressa sambil memahami makna nama tersebut
"Mungkin saja, bagaimana dengan namamu?" ucap laki-laki itu dengan dingin
"Namaku Gressa, tidak ada yang spesial arti dari namaku," ucap Gressa dengan senyuman pahit dan tatapan sendu
"Tidak mungkin tidak seorangpun orang tua yang memberikan nama kepada anaknya yang tidak memiliki arti yang sepesial," ucap Carolyn untuk menghibur Gressa
"namaku hanya berarti simpati, aku yakin orang tuaku memberikan aku nama seperti itu,"
"Hanya karena aku anak haram dan simpati kepadaku, jadi aku tidak pernah banyak mengharapkan banyak hal mengenai makna dari namaku karena memang tidak ada yang istimewa," ucap Gressa dengan senyuman pahitnya membuat Carolyn terdiam
"Tuan tenang saja, tidak perlu bersikap seperti itu kepadaku, aku tidak suka orang merasa kasihan kepadaku,"
"Hanya karena masalah kecil ini jadi tolong jangan terlalu di pikiran," ucap Gressa sambil tersenyum menoleh ke arah Carolyn
'Walaupun aku tidak menyukainya aku tidak menyangka kalau dia adalah perempuan yang begitu lembut dan baik kepada orang yang baru di kenalnya,'
'Tapi seharusnya seorang bangsawan yang merupakan bukan anak kandung itu bersikap seperti orang yang egois dan tidak tau tata Krama,'
'Tapi dia malah menganggap semuanya bukan miliknya, dan dimatanya semuanya hanya sementara,' ucap Carolyn di dalam hatinya sambil memandangi Gressa yang begitu tegar
"Kita sudah sampai tuan," ucap Gressa sambil menunjuk ke arah restoran kecil itu
"Tidak perlu sampai memanggilku dengan tuan, bukankah kamu sudah mengetahui namaku jadi tolong panggil aku dengan namaku nona,"
"Dan aku juga tidak keberatan jika nona ingin menganggap saya sebagai seorang teman," ucap Carolyn dengan dingin
"Terima kasih ya, dan juga kamu boleh memanggilku dengan nama," ucap Gressa sambil tersenyum kemudian membuka pintu dari restoran kecil itu
"Selamat datang, silahkan ikuti kami untuk menuju ke kursi kosong," ucap pelayan restoran itu dengan ramah
"Silahkan duduk," ucap pelayan itu dengan lembut sambil menunjukkan kursinya
"Carolyn, kamu ingin memesan apa?" tanya Gressa dengan tatapan kebingungan
"Aku ikut dengan apa yang kamu pesan saja, karena ini pertama kalinya aku makan di sini jadi aku tidak tau pesan apa," ucap Carolyn dengan tatapan serius
"Humm... baiklah kalau begitu, tolong di samakan ya," ucap Gressa sambil menatap pelayan itu
"Baik nona," ucap pelayan itu sambil membungkuk hormat kemudian pergi meninggalkan kedua orang itu
"Apakah aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Gressa dengan tatapan penasaran
"Silahkan bertanya selama aku masih bisa menjawab semua pertanyaan yang kamu lontarkan," ucap Carolyn dengan dingin
"Apa kamu seorang pengelana?" tanya Gressa dengan tatapan penasaran
'Aku tidak mungkin memberi tau dia identitasku jadi lebih baik aku menyetujuinya saja, dibandingkan itu dia terlihat sangat berbeda ketika bertemu denganku,'
'Sosoknya ini lebih tenang dan terlihat man-' ucap Carolyn di dalam hatinya yang kemudian sadar
'Apa yang aku pikirkan? Ingat kalau aku tidak boleh memiliki perasaan kepada siapapun,' ucap Carolyn di dalam hatinya lagi untuk menyadarkan diri
"Iya, aku seorang pengelana," jawab Carolyn dengan singkat
"Itu luar biasa," ucap Gressa dengan tatapan berbinar-binar
"Ah..."
"Maafkan aku jika sikapku kekanak-kanakan, karena aku selalu iri dengan yang bisa dilakukan oleh orang lain," ucap Gressa dengan kepala tertunduk dan senyuman pahit
Kenapa Gressa iri kepada orang lain? Kenapa Carolyn tidak ingin memiliki perasaan kepada siapapun? Apakah yang akan terjadi selanjutnya?
Gressa's second life