
Hari bahagia kembarannya tiba pada hari ini, Rindu dan Baskara begitu takjup melihat Ken berdiri gagah dengan ketampanannya.
"Salah satu aset berharga papa udah papa turunin ke kamu" kata Baskara menepuk jas putranya
"Aset?" Ken menaikan alis, seingat KenĀ Baskara sama sekali belum membagi warisan, perusahannya di warisi oleh Baby, bagaimana Baskara bisa menyebut kalau dia mewarisi aset pada Ken?
"Iya, aset ketampanan papa" Baskara tertawa terbahak bahak di ujung kalimat
"Ck" Baby berdecak , mendengar gurauan Baskara yang terdengar garing "pa, kasih Ken wejengan gitu sebelum dia nikah bukannya dipuji" Baby mengoceh
"Papa yakin kok kalau Ken bisa ngurus rumah tangganya" Baskara menepuk bahu putranya,
"Kalian luar biasa" Rindu mengenggam tangan Ken dan Baby "Mama bangga sekali punya anak seperti kalian" imbuhnya
Ken tersenyum dengan tulus begitupun dengan Baby. Binar kebahagiaan tak lepas dari wajah Ken.
"Habis ini elo kan" Ken menyenggol bahu adiknya
Baby membentuk tanda oke di jari lalu tersenyum "tenang aja, gue bakalan cepet" Baby menaikan alisnya
"Balapan punya anak yok, yang duluan berarti dia yang paling subur" Ken menggoda adiknya
"Brengsek Lo, mana tahu kalo elo udah nyicil duluan sama istri elo" Baby langsung berjalan meninggalkan ruangan pengantin.
Dia berjalan menuju kerumunan para tamu, sebenarnya ini bukan ijab Kabul pernikahan Ken, ijab mereka sudah dilakukan dua minggu kemarin, tetapi hari ini adalah resepsi, kebanyakan tamu undangan Ken adalah jaksa, hakim juga beberapa pengacara.
Baby mengadarkan pandangan mencari seseorang yang mengirimi pesan padanya. Baby membelah para tamu, pada saat dia menemukan orang yang dicari disaat itulah dia juga bertemu dengan Adry. Tubuh Baby terpaku, dengan kaku dia mengangkat tangan.
"Hai" sapa Baby dengan canggung
Adry tersenyum, lelaki itu masih sama gagah seperti terkahir kali meski sudah berkepala lima, lesung pipinya juga masih sama manisnya sejak terakhir kali.
"Apa kabar?" Tanya adry
"Baik"
Rasanya orang orang di ruangan ini hanyalah fatamorgana untuk Baby maupun Adry. Mereka berdua berdiri berhadapan, seperti tengah menatap tayangan mengenai hubungan mereka di masa lalu.
"Papa" suara anak kecil terdengar di belakanga Adry. Gadis dengan gaun warna biru dan minuman ditangan kanannya langsung memeluk lengan Adry. Itu adalah perempuan yang ditemui Baby kemarin disaat dia mengantarkan undangan Ken.
"Tante bunda?" Senyuman di wajah gadis berambut panjang begitu cerah saat menatap wajah Baby.
Tante bunda, panggilan itu begitu tidak asing untuknya. Itu panggilan favorit yang selalu dirindukan Baby selama enam tahun.
"Ara, omg" Baby berdecak begitu melihat Ara tumbuh sangat cantik "You are beautiful" puji Baby tulus
Ara langsung memeluk Baby hingga melupakan gelas yang dia penggang tadi. Pelukan itu berubah menjadi isak tangis, Ara memeluk Baby seperti merindukan ibunya.
"Ara kangen sama Tante" kata Ara.
"Tante juga sayang" Baby menerima pelukan itu.
Ara menjauhkan pelukannya menatap wajah Baby yang terlihat dewasa, dengan potongan rambut sebahu, juga gaun putih.
"Tante bunda kayak malaikat tau gak sih" puji Ara tulus
"Kamu udah gede, dulu kamu itu kecil banget" Baby mencubit pipi Ara
Baby menatap Adry dengan senyuman, ada rasa bangga pada Adry karena lelaki itu mampu membesarkan Ara sebaik ini meskipun sendirian. Tatapan mereka bertahan sangat lama.
"Tante kita ngobrol di sana yuk" Ara menunjuk ke arah depan, dimana disana didekat kolam renang, ada kursi yang sudah di hias. Juga beberapa tamu yang duduk duduk disana.
Ara tidak membutuhkan persetujuan karena gadis itu menarik lengan Baby dan Adry untuk mengikutinya. Disana Ara duduk ditengah sedangkan Baby dan Adry duduk disebelahnya, Ara menceritakan apapun yang terlewatkan untuk Baby
"Jadi, selama tiga tahun Ara ikut Papa ke Kanada, Ara gak suka disana Tante, Ara gak punya temen" cerita Ara dengan begitu semangat
"Tante denger kabar tentang itu" Baby mengusap rambut Ara sehingga gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Baby.
"Habis itu papa ngajak tinggal di Jakarta lagi, tapi cuman setahun karena setelah nya papa mutusin buat pensiun" Ara menatap bintang yang berpijar dengan cerah "Ara kira Tante bunda kuliah di Jakarta, ternyata waktu Ara tanya sama Om Baskara, Tante Bunda kuliah di Belanda" Ara menegakkan kepalanya
"Gimana Belanda Tante?" Tanya Ara
Baby tersenyum "Belanda romantis, Tante nemuin takdir Tante disana" cerita Baby
"Duh, Tante, Ara pengen pipis, Ara tinggal ya" gadis itu tidak menunggu jawaban Baby karena dia sudah berlarian, mungkin tidak tahan
Kecanggungan mengisi selanjutnya, bintang bintang memberikan pijar cahaya seolah mereka tengah menertawakan Baby dan Adry yang sama sama bungkam tanpa suara.
"Hm" Baby berdehem "Araba sama Sila udah bekerja sama lagi sekarang" kata Baby memberitahu
"Saya sudah dengar berita itu" suara Adry bahkan masih sama gagah nya seperti terkahir kali merak berbicara.
"Om apa kabar?" Tanya Baby tulus meskipun mata mereka tidak beradu
Adry dengan tulus pula menarik sudut bibir "kabar saya baik"
Baby menoleh meski Adry tidak menolehnya, Adry menatap arah depan dengan senyuman.
"Saya dengar perusahaan kamu semakin berkembang berkat ide ide kamu" lanjut Adry
Baby mengangguk dan menatap arah depan "Perusahaan semakin meluas om, bahkan tahun ini perusahaan akan menyumbang untuk Afrika sebanyak dua miliar"
"Saya ikut bangga atas keberhasilan kamu" Adry tersenyum senang.
"Saya dengar kamu akan segera menikah?" Tanya Adry akhirnya menatap wajah Baby, mata mereka sempat beradu tapi Baby memilih tersenyum terlebih dahulu dan menatap arah lurus
"Iya, mungkin bulan depan, setelah resepsi Ken" kata Baby
"Saya ikut senang" Adry tersenyum kembali, tersenyum dengan tulus karena matanya berkata seperti itu
Baby menoleh kearah senyum Adry yang masih mengembang bahkan terlihat bersinar. Sedekat ini meskipun tidak memiliki hubungan seperti dahulu, lebih baik dari pada memiliki hubungan. Baby maupun Adry sepenuhnya sadar bahwa yang namanya cinta tidak bisa selalu dipaksakan.
Sebesar apapun cinta mereka, keadaan tidak akan memungkinkan mereka bersama. Mungkin ada takdir takdir lain yang lebih baik untuk keduanya. Baby menatap arah laki laki yang tersenyum di dekat kolam, orang itu yang menjadi takdirnya dipertemukan ditengah kisah cinta Baby dan Adry.
"Pa, di cariin Om Baskara" tukas Ara dari arah dalam
Adry berdiri sambil tersenyum, dia mengulurkan tangan, Baby berdiri menerima uluran tangan itu dan tersenyum, mereka berjabat seperti kedua rekan kerja dan memulai segalanya dari awal.
"Semoga kamu bisa membawa perusahaan Araba dan Elena semakin melambung tinggi" tukas Adry "dan selamat atas pernikahanmu"
Baby mengangguk sambil tersenyum "Terimakasih Om, saya juga berharap Om menikmati masa tua Om bersama dengan Ara"
Jabatan itu harus terlepas, Adry mengancingkan jasnya dan putar badan sambil tersenyum menatap Putri kecilnya. Begitupun Baby, gadis berambut pendek itu juga putar badan dan berjalan kearah Manik. Iya Manik, lelaki yang sudah bertunangan dengan Baby, takdir memang selucu itu.
Baby tersenyum sambil menggandeng tangan Manik, begitupun Adry yang menerima gandengan putrinya.
Kisah mereka harus ditutup dalam keadaan bahagia ditengah pesta meriah, kabar baiknya, Lydia sekarang sudah menjadi artis ibukota yang terkenal, dia juga memiliki adik perempuan, sedangkan Pandu dia menjabat sebagai ketua kejaksaan republik Indonesia.
Adry bergabung dengan keempat temannya, mereka tertawa tanpa beban, dan Baby bersama Manik menikmati obrolan santai bersama Ken juga istrinya.