
Setelah jam sekolah berakhir, Baby langsung berlari mencari taksi dan pergi ke kantor Adry. Dasar Om Om buta teknologi, apa di jaman dia dulu tidak ada yang namanya WhatsApp, kenapa dia begitu sulit membalas pesannya.
Sampai di kantor Adry, Baby buru buru berlarian menuju ruangan Adry. Dia menaiki lift, berjalan cepat dan membuka pintu tanpa mengetuk nya terlebih dahulu, juga Sinta sekretaris Adry yang tidak lagi banyak tanya soal kedatangan dan apakah Baby sudah membuat janji. Dia tampak cuek.
"Ooommm" teriak Baby dari ambang pintu yang membuat Adry mengalihkan arah pandang dari laptop.
Adry mengerjapkan mata sekilas, menatap Baby yang tengah berjalan kearahnya.
"Om, Om itu kenapa sih gak pernah bales chat gue, padahal gue ngespam chat dari tadi" cerocos Baby membuat Adry hanya mampu menarik nafas.
Adry tersenyum, benar benar senyum yang begitu lebar.
"Tulisan saya jelek" godanya sambil tersenyum di akhri kata
"Serius !!!!!! "
"Saya gak ada pulsa" lanjut Adry bersidekap sambil tertawa melihat reaksi kesal dari Baby.
"Jual aja perusahan ini, gak ada gunanya Om punya perusahan gede kalau gak mampu beli pulsa" cerocos Baby sambil berjalan kearah sofa.
Adry menatap tas Baby yang bergoyang dari belakang. Dia menunduk sambil berusaha menyembunyikan tawanya, ah menggemaskannya melihat Baby mencak mencak seperti itu
"Apa susahnya coba ngebalas pesan gue, kan tinggal di bales" Baby masih terus mengoceh bahkan ketika dia sudah duduk di sofa
Adry membuat jembatan dari jari jemari dan menompangkan dagunya di sana, dia benar benar tertawa puas telah berhasil menggoda Baby.
"Ya, saya balas" kata Adry meraih ponsel dan membalas pesan terkahir Baby.
Drttt
Bunyi getaran dari ponsel Baby membuat gadis itu mengeluarkan ponsel dari dalam tas, lalu kembali berdecak dan melirik Adry tajam. Adry benar benar membalas pesan terkahir yang dikirimkan Baby.
"Gak sekarang maksudnya" teriak Baby seperti kesurupan.
Adry semakin tertawa menjadi jadi, bahkan dia mengeluarkan air mata sangking lucunya melihat ekspresi kesal dari Baby. Gadis itu memang selalu pandai menghibur Adry.
"Katanya di suruh balas" jawab Adry setelah dia berhasil mengatur tawanya
"Maksudnya nanti pas gue udah pulang kerumah" Baby bersungut kesal
"Iya nanti saya balas pesana mu" ucap Adry yang terdengar seperti "saya tidak akan mengirimu pesan"
Baby kesal dan membaringkan tubuhnya diatas sofa, tas ransel gadis itu sudah di letakkan di meja. Tidak ada percakapan lagi di ruangan itu, Baby sibuk dengan ponselnya juga Adry yang kembali dengan kerjaannya. Karena merasakan bosan, Baby berdiri, dia menatap wajah Adry yang begitu serius dengan layarnya.
"Ck" Baby berdecak tapi tetap tidak membuat Adry mengarahkan arah fokus, bagi Adry waktu adalah uang
"Kapan oom oom ini jadi meleleh, dingin banget, udah bisa bekuin orang se kantor" Baby berjalan kearah meja Adry, dan tanpa sopan dia duduk diatas meja Adry.
Disebelah laptop yang tengah di tatap Adry, namun lelaki berumur itu tidak menolaknya, dia terus menatap laptop tanpa mengalihkan kearah Baby.
"Om, Om kenal Lydia gak anaknya Om Alan?" Tanya Baby sambil membaca sekilas laporan yang ada di meja Adry.
"Hm" Adry berdehem sebagai tanda dia mengenal Lydia
"Masak ya Om, sia Lydia itu nyebelin banget. Dia nuduh gue liburan sama cowoknya si Manik itu, padahal kan gue kemarin ke Bali buat kerja bukan buat liburan" cerita Baby
Adry hanya mengangguk sebagai tanda dia mendengarkan, namun tangannya sibuk menari di keyboard dan clusor.
"Belum lagi nih Om dia ngancam gue. Katanya mau telanjangin gue kalau gue bukan anak temen bapaknya" Baby geleng geleng saat ingat kejadian siang tadi "Ya gue gak terima dong Om"
Baby menatap Adry yang tanpa reaksi, dia terus terfokus kearah layar laptop. Sebenarnya lelaki ini mendengarkan Baby bercerita tidak sih, kenapa wajahnya datar begitu
"Om, Om dengerin gue cerita gak sih?" Baby memekik
Baby gugup seketika, apalagi mata elang milik Adry menatap Baby seteduh itu.
Sudut bibir Baby bergerak sedikit demi sedikit. Mata Adry mengerjap, Baby bisa melihat beberapa jenggot yang dicukur Adry, kumis tipis yang membuat senyumnya begitu manis. Tangan kekar Adry naik keatas, mengelus pipi Baby hingga gadis ini bersemu merah.
"Iya, saya dengerin" kata Adry menenangkan "jadi Lydia nuduh kamu selingkuh sama Manik ?" Tanya Adry seperti dia memperlakukan Baby sebagai anaknya.
Baby menatap Adry dengan tersenyum, saat tangan Adry menyembunyikan rambut ke belakang telinga Baby. Gadis bermata sipit ke coklatnya itu menarik tangan Adry dan digenggamnya.
"Iya, kan gue kesel" ucapnya akhirnya dengan lirih
Baby mengamati tangan Adry yang kekar, juga fokus mata Adry mengikuti fokus Baby, dimana Baby selalu mengelus tangan Adry dengan lembut.
"Om" nada baby sudah kembali seperti semula "Beli bomba yuk?" Baby mengayunkan tangan Adry.
"Bomba?" Ulang Adry
"Itu minuman di mall"
Adry tersenyum sekilas, lalu menggeser kursinya kebelakang, dia berdiri merapikan jas.
"Ayo" katanya sudah berlalu pergi.
Baby selalu berjalan dibelakang Adry dengan penuh cerita. Dia selalu bersuara, meski Baby berjalan dan selalu berusaha menyamakan langkah mereka, sedangkan Adry lelaki itu berjalan dengan mendengarkan, menyapa beberapa karyawan bahkan tanpa mengindahkan bahwa Baby sedang menyamakan langkah keduanya. Tidak!, jangan harap lelaki seperti Adry akan peka terhadap hal sekecil itu.
Baby dan Adry sudah berada di dalam mobil, membawa mobilnya melaju dengan kecepatan sedang.
"Om tahu gak apa cita cita gue?" Tanya Baby menoleh kearah Adry
Lelaki itu berdehem sambil fokus menyetir.
"Di bucinin sama orang yang gue bucinin" kata Baby tersenyum.
Mendengar itu Adry pun juga melakukan hal yang sama tersenyum menatap Baby. Adry sebenarnya tidak tahu minuman apa yang akan dibeli Baby, Hanya saja begitu mendengar ajakan Baby, Adry tergerak untuk menurutinya. Padahal kalau dipikir fikir pekerjannya sendiri belum selesai juga melakukan hal seperti ini terasa sia sia saja .
"Jangan bercita cita seperti itu" kata Adry lirih sambil tangannya mengekus puncak kepala Baby dan kembali menyetir lagi "Bercita Vita menjadi wanita pintar , juga memiliki sopan santun" lanjut Adry membuat Baby cemberut karena kalimat Adry terdengar menyindirnya.
**
Setelah dirasa sore dan jam kantor hampir selesai, Baby keluar dari ruangan Adry. Lelaki itu tidak ikut, katanya dia ada janji bertemu seseorang, jadi Baby turun lift sendiri. Para pekerja juga sedikit demi sedikit sudah pulang, menuju rumah mereka untuk beristirahat
Ketika di lobi, Baby bertemu dengan Rike. Perempuan itu juga sama terkejutnya melihat keberadaan Baby, lalu kedua nya sama sama berjalan mendekat.
"Ngapain lo disini?" Tanya Rike
Baby merubah ekspresi wajahnya menjadi masam. Mengapa Rike disini ?,apa janji temu dengan seseorang itu adalah Rike? . Ada apa Rike ingin menemui Adry? , kenapa juga lelaki itu tidak jujur dengan Baby ?. ,
"Lo sendiri ngapain disini?" Baby balik bertanya dengan Rike
"Gue mau nemuin calon suami gue, elo?"
Saat mendengar kata calon suami, demi Tuhan Baby berniat merobek mulut Rike saat ini juga. Baby tidak menjawab, dia sudah berniat pergi tapi tangannya dicekal Rike dengan kuat
"Gue pernah bilang kan sama elo buat jauhi Adry" Rike semakin menekan tangan Baby dengan kuat
Mata Baby dan Rike sama sama beradu dengan tajam, mereka tengah melakukan peperangan melalui tatapan mata, hanya dari tatapan mata saja, mungkin jika secara langsung keduanya bisa mati bersama.
"Sekali lagi elo nemuin Adry, gue gak segan segan ngebuat hidup elo menderita" ancam Rike dan melepaskan cekalan tangannya dengan kasar.
Perempuan gila itu berjalan dengan congkak menuju lift, bahkan saat pintu lift terbuka, mulut Rike berkata "ingat itu" dengan nada lirih.
Baby kesal sendiri saat dirinya tidak bisa menjawab apapun, terlebih kesal terhadap Adry yang dingin kepadanya.