
Baby terbangun ketika tanpa sengaja Ara menjatuhkan mainannya sehingga menghasilkan bunyi dentuman yang keras. Dia melepaskan earphone, menegakkan posisi duduk, merentangkan tangan dan menguap lebar lebar.
Adry melihatnya, dengan mata kepalanya sendiri, menyaksikan satu satunya perempuan terjorok yang pernah dia lihat.
"Jam berapa?" Tanya Baby dengan suara serak
Tidak ada yang menyahut, kecuali bunyi Ara yang sibuk bermain rubik.
"Jam berapa sih?" Tanya Baby dengan suara menaik
"Kamu punya hp kenapa gak dicek sendiri" ujar Adry ganas sambil menatap dokumennya.
"Ou iya lupa" Baby nyengir, melihat ponselnya yang menunjukan pukul tiga sore.
Banyak panggilan dari Ken, Rindu, Baskara maupun Vio. Mereka adalah kumpulan orang orang yang selalu mencari kemana pun Baby pergi, heran.
Baby membuka history Chat antara dirinya dan Vio, mengirim lokasi dimana dia berada pada sahabat yang sudah dia kenal dari SMP itu.
Baby
Gue lagi di perusahaan Sila
Vio tidak langsung membaca, karena saat mata Baby menatap Ara yang sibuk dengan permainan, Vio baru membuka pesan itu.
Vio
Ngapain? Pemotretan? Bonyok Lo nyariin, Ken sampe ke kelas, geledah isi kelas nyari elo. Toa toa sekolahan juga manggilin elo.
Baby
Bodo ah, gue minggat dari rumah
Vio
😒 Kadal, enak bener hidup elo main minggat minggatan
Baby
Salah siapa, gue disuruh homeschooling
Vio
Ha? Seriusan elo bener di suruh homeschooling?
Baby
Kalau bukan karena homeschooling gue gak bakalan kabur
Vio
Lewat mana elo kaburnya. Cctv gak nangkep elo lompat pager
Baby
Menghilang
Adry menutup berkasnya, menghampiri Ara yang masih bermain dengan permainan.
"Udah sore, pulang yuk" ajak Adry.
Mendengar kata pulang. Baby bergegas merapikan barangnya, ikut berdiri dan mendekati Adry.
"Saya mau pulang. Kamu naik taksi pulang kerumahmu " usir Adry
Baby menggeleng "ijinin gue nginep dirumah Om semalam aja ya" pinta Baby memelas
Rasanya sehari ini yang didengar Adry hanyalah keluh kesah dari orang aneh dibelakangnya. Dari menyetrika baju, membuat susu sampai tumpangan tidur
"Saya bukan tempat penampungan orang, kamu pergi cari hotel " kata Adry merapikan mainan Ara.
Baby murung, hingga bibirnya membentuk garis lurus. Ara melihatnya, melihat mata Baby yang seolah basah, dan anak kecil umur tujuh tahun itu tidak tega
"Papa biarin Tante Bunda nginap dirumah kita" kali ini tangan mungil Ara menggapai tangan kekar Adry
Lelaki yang hampir berkepala lima itu menoleh, dengan wajah marah sekaligus bingung.
"Sayang Ara, Tante Bunda kan punya rumah. Biar dia pulang, nanti kalau di cari mama sama papa nya gimana?" Kata Adry menyakinkan Ara agar tidak memintanya untuk menerima Baby menginap dirumah
"Tapi Ra, nanti kalau tante bunda pulang kerumah. Tante Bunda pasti dimarahin Mama sama papanya Tante Bunda" Baby sengaja menampilkan wajah memelas nya. Jauh memelas ketika dia tengah kelaparan atau sedang kesakitan.
Ara menatap Baby dengan wajah polosnya, khas anak anak yang mudah sekali tertipu.
"Papa, kasihan Tante Bunda" Ara menatap papanya. Menatap wajah Adry dengan penuh harap yang tulus.
"Sayang __" Adry memegang pundak Ara.
"Kan dirumah kita, cuman ada kamu sama papa, jadi nanti kalau tante bunda nginep di rumah kita, nanti di marah Tuhan" Adry kehabisan kata kata untuk mengatakan bahwa tidak seharusnya duda seperti Adry membawa gadis seperti Baby.
Ara menatap wajah Adry dengan bingung.
"Kenapa Tuhan marah? Kata papa Tuhan seneng kalau kita menolong orang yang kesusahan"
"Tante itu gak butuh pertolongan sayang" ujar Adry dengan nada halus kebapak bapakan.
"Tante Bunda butuh pertolongan kok" Baby ikut berjongkok. Menatap wajah Ara dengan memelas. "Boleh ya Tante Bunda nginap dirumah Ara semalam aja"
Ara mengangguk "boleh Tante Bunda. Tapi nanti tidur sama Ara ya"
Adry kehabisan kata kata sampai dia meletakkan wajahnya pada lengan nya sendiri. Memejamkan mata dan bingung untuk menolak permintaan anaknya yang polos dengan bentuk seperti apa.
Lagi lagi. Adry hanya bisa pasrah menerima gadis SMA yang super menyebalkan itu menginap dirumahnya. Mereka pulang bersama bagaimana papa dan anak.
Baby duduk di kursi belakang, bersama dengan Ara.
"Tante Bunda bisa gambar?" Disela sela padatnya jalan Ara menoleh kearah Baby yang sibuk bermain ponsel
"Dulu " Baby melirik keatap mobil "pernah juara satu lomba menggambar" ceritanya
"Sekarang masih bisa?" Ara tampak antusias bahkan merapatkan duduknya hanya untuk mendengarkan cerita Baby.
"Gak tahu, udah lama gue gak gambar"
"Nanti, sampe rumah tunjukin ke Ara ya gambaran Tante Bunda" pinta Ara
"Gampang" Baby tidak ambil pusing dengan permintaan Ara, toh juga hanya menggambar.
Dulu, sewaktu Baby masih SD Baby sering menggambar, memenuhi semua buku catatannya dengan gambaran gambaran yang selalu menjadi masalah. Buku catatan Matematika, Bahasa Indonesia bahkan IPA pun berisi gambar gambar.
Baskara dan Rindu tidak banyak mengapreasi gambaran Baby. Bagi mereka gambaran Baby hanyalah bentuk iseng ketika dia tengah jenuh belajar. Dan itu memang sepenuhnya benar.
Mereka sampai dirumah sekitar pukul lima tiga puluh. Baby menggendong tasnya, lalu berhenti ketika hendak masuk kerumah.
"Lah om, kan gue gak punya baju, nanti gue pakek baju siapa dong?" Tanya Baby ketika berada diambang pintu
"Bukan urusan saya" Adry hendak masuk tapi berhenti saat tahu Baby tidak melangkah kaki selangkah pun.
Ara lebih dulu masuk rumah, mencari kucing peliharaannya yang dia tinggalkan seharian.
"Kenapa? Mau masuk gak?" Tanya Adry
"Anterin gue beli baju. Masak gue pakek baju ginian terus sih" rengek Baby manja.
Adry geleng geleng, kemudian berpamitan pada Ara dan meninggalkan Ara dengan bi Kartini dirumah.
Mereka menuju mall yang dekat dengan rumah Adry, karena Adry benar benar tidak mood untuk jalan jalan, Hanya terpaksa.
"Cepetan" kaya Adry begitu mereka menginjakan kaki di mall
"Busyet baru masuk udah di suruh cepet cepet, sabar woy" Baby melangkah lebih cepat
Dia berhenti pada busana busana santai, memilih beberapa pakaian yang nyaman digunakan untuk dirumah. Beberapa kaos berlengan pendek, celana pendek, serta juga cealan panjang dan baju panjang.
Saat akan berhenti di bagian celana dalam, Baby berhenti melangkah, membuat Adry juga berhenti dibelakangnya.
"Om jangan ngikutin terus dong, kita kan cuman di satu toko. Om tunggu didepan kasir aja" usir Baby nyengir
"Suka suka saya dong, saya juga mau lihat lihat desain baju terbaru musim ini"
"Duhhh, tapi jangan ikutin gue" Baby menghentakkan kaki
"Saya gak ngikuti kamu, tapi kamu yang selalu ngikuti saya"
Baby berdecak kesal, berdehem dan menarik nafas "gue mau beli BH sama Sempak Om. Kalau Om ngikutin gue, gue malu" ucapnya dalam sekali helaan nafas sambil menutup mata.
"Hemm" Adry berdehem lalu putar balik dan mengikuti apa yang di anjurkan Baby.
Baby memilih beberapa set pakaian dalam, membawanya ke kasir yang disana berdiri oom oom gila.
Baby menyodorkan kartu kredit, saat kasir menggeser kartu itu, gagal
"Ada kartu lain mbak. Kartunya udah diblokir" ujar mbak mbak kasir.
Baby menaikan alis "salah kali. Kemarin masih gue pakek baik baik aja kok"
"Maaf mbak, kami sudah mengeceknya berkali kali"
Baby menyodorkan kartu ATM yang menjadi kartu terakhirnya.
"Ada kartu lagi" kata mbak kasir menyerahkan kartu ATM milik Baby
"Kenapa? Di blokir juga?" Tanya Baby panik.
"Sepertinya begitu mbak"
Baby menghela nafas. Ingin menangis rasanya. Tetapi Adry tidak tinggal diam, dia merogoh saku celananya, mengeluarkan kartu kredit
"Pakek punya saya aja mbak"
Begitu kartu kredit milik Adry digesek, semuanya beres tidak ada masalah satu apapun. Dan itu jelas semakin membuat dada Baby tertikam
"Papa kejam banget sih, blokir kartu Baby" rengeknya lirih yang bisa didengar oleh Adry.