
"Lo gak bisa asal gunain kekuasaan elo sebagai anak pemilik sekolah dong Ken" gerutu Baby ketika kelas benar benar kosong
"Dari mama" Ken menyodorkan kotak bekal yang berisi roti selai kacang kesukaan Baby.
"Tidur dimana semalam?" Kata Ken bernada seperti kakak sesungguhnya.
Baby setengah terkejut mendengar nada bicara Ken yang melirih dan tidak marah marah ataupun menyebalkan seperti biasa.
"Apa? Mau ngaduin ke mama, gue nginap dimana?" Bukannya menjawab pertanyaan Ken, Baby malah mengeraskan suaranya.
"Mending elo balik aja deh Beb" saran Ken ikut duduk disebelah Baby.
"Gak mau, sampe papa ngebatalin homeschooling ngin gue"
"Homeschooling itu enak Beb, elo bisa buat peraturan sendiri" kata Ken membujuk
"Gak sesimple itu Ken, gue ngerasa papa sama Mama itu ngepaksa gue buat jadi anak introver, buat jadi anak anti sosial" kata Baby
"Siapa sih yang bakalan mikir kayak gitu? Gak ada, elo masih bisa ketemu teman teman elo"
Baby cemberut, berdiri tegak "udah sana pergi, ganggu jam belajar kelas gue aja Lo" usir Baby.
Ken berdiri melangkahkan kaki pergi tapi berhenti saat suara parau dari Baby terdengar.
"Bilangin papa. Gue gak bakalan pulang sampe papa ngebatalin homeschooling ngin gue" ucap Baby melemah
Ken menarik nafas, putar balik dan merogoh saku celananya
"Buat elo" katanya langsung pergi
Kepergian Ken menimbulkan sudut bibir Baby terangkat, emang enak sih kalau punya Kakak model Ken yang mudah ditipu dengan tampang memelas dari Baby.
"Lumayan dapet lima ratus ribu, emang gue ini ditakdirin gak bisa miskin" kata Baby menciumi uang yang diberikan Ken barusan.
Vio masuk kedalam kelas diikuti teman sekelasnya yang lain.
"Apa yang dibilang Ken?" Tanya Vio yang sudah mati matian menahan rasa penasaran
"Cuman nyuruh gue balik kerumah"
"Gimana sih Beb ceritanya? Gue masih gak paham sampe sekarang?" Kata Vio menjelaskan rasa penasarannya.
"Jadi bonyok gue tahu tentang kelakuan gue disekolahan, dan bonyok gue mutusin buat homeschooling ngin gue mulai semester depan"
"Ha? Homeschooling nya mulai Minggu depan?" Tanya Vio dengan raut wajah cengo khasnya
Baby mengangguk
"Busyet beb, rencana kapan marahnya kapan"
"Lo gimana sih Vio, kalau gue gak protes sekarang yang ada pas hari H gue beneran di homeschooling ngin, bonyok gue gak pernah main main sama kata katanya " cerocos Baby panjang kali lebar.
"Yaudah yaudah, terus gimana ceritanya kemarin elo bisa kabur?"
"Kemarin itu gue ketemu Adry didepan ruang UKS, dia mau balikin dompet gue yang ketinggalan di rumahnya, sekalian aja lah gue ikut dia"
"Bentar" Vio menghentikan cerita Baby dengan lima jari yang di kibaskan di depan wajah Baby.
"Kenapa si Adry dengan mudah nya ngasih tumpangan ke elo?"
"Mudah dari Hongkong, eh asal Lo tahu ya, tu orang susah banget di bujuk sampe gue ngacam dia" Baby meletakkan dagu diatas meja "yang jelas semalam gue nginep dirumah Adry" Baby langsung menyingkat ceritanya
"Beb, Lo gak takut sama Adry? Maksud gue dia kan duda gitu, dan pasti dia punya hormon yang tertahan untuk menyalurkan seks ke lawan jenis" ujar Vio ngaco
"Lo kebanyakan nonton film porno ya" Baby menepuk dahi Vio dengan kasar "denger ya, sejauh ini dia masih aman ke gue. Anak nya juga keliatannya suka sama gue, jadi gampang lah di manfaatin"
"Hati hati Lo beb, biasanya kalau anaknya suka tar gak lama gitu bapaknya juga ikutan suka" nasihat Vio
"Amit amit" Baby memukul kepalanya berulang ulang.
**
Duduk di kursi kantin dengan letak duduk yang sama, mangkuk mangkuk yang berserakan di atas meja, gelas gelas yang tertumpuk di bak pencucian. Aroma soto, bakso, mie ayam dan beberapa jajanan khas kantin sekolahan tercium menggoda.
Baby masih saja sibuk memainkan sendok garbunya tanpa berniat menyantap bakso yang sudah di pesan Vio.
"Bulan depan, Gue pemotretan di Bali" cerita Baby pada Vio yang langsung membuat Vio tersedak
"Kok tiba tiba?"
"Sekolah elo gimana?" Tanya Vio
Baby menggeleng "kalau gue batalin kontrak sama Sila. Gue bakal kena denda, dan bisa bisa gue diamuk sama bonyok gue"
"Kalau elo bolos, Elo bisa dibunuh bonyok elo" timpal Vio.
Kursi disisi kanan terdengar ricuh Dengan bisik bisik dari siswi, membuat Baby juga Vio langsung menoleh. Tiga orang mahasiswa menggunakan almamater berwarna kuning duduk di meja yang tidak jauh dari meja Baby.
Baby memandangi Vio, memberi gestur bertanya "siapa?" Yang dibalas dengan angkatan bahu dari vio.
"Dono Dono" Vio berteriak kepada teman sekelasnya yang mengenakan kacamata bulat serta rambut sebahu.
Sebanarnya namanya Dina hanya saja oleh Baby dan Vio nama itu dipanggil Dono karena Dina anaknya dungu, plinplan dan lelet.
"I-iya" Dina membenarkan letak kaca matanya yang merosot jatuh
"Siapa mereka?" Tanya Vio pada Dina yang tempat duduk nya berada disebelah mahasiswa
"Mahasiswa US, katanya mau ada sosialisasi disekolahan" Dina menunduk, tidak berani menatap wajah Baby maupun Vio.
"Oh" kata Vio menanggapi "ada ketua BEM nya gak?"
Dina mengangguk berulang ulang "denger denger ada, itu mahasiswa dari BEM, presidennya juga ikut" jelas Dina
"Yaudah sana Lo boleh pergi" usir Vio
Baby menatap wajah Vio yang seolah baru saja mendapatkan informasi terbaik dari jagad raya.
"Apa sih? US, BEM ? Apaan?" Tanya Baby tidak paham
US itu adalah Universitas Sevit yang tingkat kepopulerannya lebih tinggi daripada Universitas Araba, Universitas milik keluarga Baskara. US sudah internasional bahkan sudah negri, dengan fasilitas baik dan juga biaya kuliah yang bukan main harganya.
"Mereka mahasiswa US mau sosialisasi, kayaknya ada pacarnya si Lydia deh"
Uhuk
Mendengar nama musuhnya yang sok kecantikan itu disebut kontan membuat Baby tersedak. Vio hanya tertawa karena begitulah Baby ketika nama Lydia disebutkan disela sela Makan.
"Sensitif banget kalau soal Lydia" komentar Vio.
"Yang mana pacar Lydia?" Tanya Baby buru buru mengambil tisu dan mengelap bibirnya
Vio mengangkat bahu tanda tidak tahu, Baby menyisir rambutnya , memoles dengan liptin tipis supaya masih terlihat natural. Dia bangkit lalu berjalan kearah meja dimana mahasiswa US tengah berkumpul.
"Hay kak" sapa Baby dibuat selembut mungkin
Kumpulan mahasiswa itu mengangkat wajah. Tersenyum ramah dengan pancaran mata terpesona yang tidak bisa ditutupi
"Aku ketarik banget buat kuliah di US, kalau boleh tahu ada presiden BEM nya gak?" Tanya Baby masih berdiri anggun
"Ada tuh si Manik" tunjuk salah satu mahasiswa US pada lelaki yang tengah menatap ponselnya.
Lelaki dengan rambut hitam kecoklatan itu mendongak begitu mendengar namanya di sebut.
"Kak Manik? " Tanya Baby
Manik mengangguk "ada apa ya?" Tanyanya
"Jadi gini kak, aku pengen banget kuliah di US. Tapi gak tahu caranya, boleh gak kalau tanya tanya seputar kuliah" kata Baby sambil menyembunyikan rambut kecil dibelakang telinga.
"Boleh" kata Manik menatap lekat kearah Baby.
Baby tersenyum, senyum yang dibuat dengan menyipitkan kelopak matanya. Kata nya sih cowok akan tergoda ketika melihat senyum lebar seorang cewek.
"Minta wa nya kak" kata Baby menyodorkan ponsel kearah Manik
Manik menulis di papan telpon berapa nomornya. Lalu ponsel itu dikembalikan kepada yang punya.
"Nama kakak siapa?" Tanya Baby dengan suara masih dibuat semenggoda mungkin
"Atlas Manik Prayoga, dipanggilnya Manik"
Baby manggut manggut "udah aku ping kak ya" kata Baby
"Namamu siapa?" Tanya Manik gantian
"Baby Arya Kaylovi. Biasanya dipanggil Baby"