First Love Duda

First Love Duda
Go to Bali



Baby mempacking seluruh pakaian yang menurutnya bagus, dari baju pantai yang dia beli kemarin, sepatu dan beberapa barang lainnya.


"Mau kemana lo?" Tanya Ken yang berdiri bersidekap diambang pintu


Baby melirik Ken sekilas lalu memasukan pakaiannya.


"Singapura"


"Singapura kok bawa baju pantai, Lo mau ke Singapur atau mau pergi mantai?" Tanya Ken curiga


Mendengar itu Baby langsung gugup, meski begitu dia mengatur nafas sebisanya, agar Ken tidak menaruh curiga. Bisa gawat kalau Ken tahu kemana Baby akan pergi.


"Yah siapa tahu nanti kita bakalan pergi ke pantai"


"Setahu gue, rumah nenek Oci itu di kota, mana ada pantai coba" kata Ken


"Ih, Lo ganggu orang lagi packing aja sih" teriak Baby "sana pergi" usirnya


"Aneh banget sih Lo, mau ke Singapur tapi pakaiannya gak sesuai" komentar Ken yang semakin membuat wajah Baby pucat


"Brengsek" umpat Baby "terserah gue dong mau pakek baju pantai kek, mau pakek gamis kek, gak ada urusannya sama elo" teriak Baby


"Kenapa Lo marah? Gue kan cuman ngomentarin pakaian elo doang" Ken masih bersandar dengan gagah di pintu.


"Yah elo resek, pakek ngomentari pakaian gue segala" kata Baby menatap Ken bengis


"Liburan kemana sih elo sebenarnya?" Tanya Ken yang tetap curiga pada kepergian Baby


"Ke rumah neneknya Oci" Baby berdecak lalu mendorong tubuh Ken untuk keluar kamarnya


"Pergi Lo dari kamar gue" teriak Baby


Brak


Baby menutup pintu dengan keras. Kalau Baby tetap membiarkan Ken di kamarnya bisa bisa dia memberikan pertanyaan yang menjebak Baby.


Baby melanjutkan kembali mempacking pakaian, untunglah kepergian Oci dan jadwal berangkatnya ke Bali bersamaan, jadi membuat Baby tidak perlu was was.


Selesai packing, Baby langsung bersiap siap dengan pakaian santai, dia berjalan keluar kamar sambil menarik koper. Rindu dan Baskara juga tengah menunggu Baby.


"Baby berangkat yah pa ma" Baby menyalami Baskara dan Rindu yang diangguki bersamaan.


"Woy kembaran, gue berangkat, jangan sedih" kata Baby melambaikan tangan kearah Ken.


Ken tidak menggubris masih sibuk dengan game di ponselnya.


"Papa anterin" kata Baskara sudah menarik koper Baby.


"Pa pa pa" Baby berteriak spontan "gak usah, Baby berangkat sendiri aja, lagian kan papa juga mau berangkat kerja" kata Baby sambil tersenyum agar Baskara maupun Rindu tidak curiga


"Kan searah sama kantor papa" ucap Baskara


"Tapi Baby mau kerumah Vio bentar" Baby tersenyum terpaksa "mau minjem sepatu" katanya


Baskara dan Rindu saling pandang, lalu Rindu mendekati Baby dengan tatapan mata aneh


"Kamu kenapa minjem minjem sepatu orang? , Kenapa gak beli sendiri?" Tanya Rindu


"Soalnya sepatu Vio limited edition ma, dia dibeliin papanya kemarin dari Jepang" ujar Baby asal asalan.


Rindu dan Baskara saling terdiam sejenak lalu Baskara berdehem.


"Yaudah tapi hati hati ya" ujar Baskara dan langsung berpamitan dengan Rindu dan anak anaknya.


Baby menghela nafas lega ketika dirinya juga sudah berada di taksi, melambaikan tangan pada Ken dan juga rindu. Saat taksi melaju membawanya pergi dari pekarangan rumah, Baby merasa bersalah karena sudah membohongi kedua orang tuanya.


"Maafin Baby ma, pa, Baby harus bohong" gumam Baby lirih


***


Sekitar pukul sepuluhan Baby sampai di Bali, dia juga sudah berada di penginapan yang disediakan oleh Sila, esok dia akan mulai pemotretan. Untungnya kali ini Sila menyediakan kamar untuk masing masing model jadi tidak bergabung, Thea belum tiba di Bali katanya dia harus ke Jogja dulu untuk melakukan pemotretan dengan perusahaan kosmetik.


Baby keluar ruangan berjalan jalan sebentar di pantai, menatap air yang bergelombang, angin yang menerpa wajahnya.


"Udah lama gue gak liburan" kata Baby


"Itu Manik kan?" Ujar Baby kepada dirinya sendiri


Baby berjalan mendekati dimana lelaki itu berdiri sambil menikmati jus lemon ditangannya, menatap dan berdiri seorang diri.


"Kak Manik" panggil Baby


Orang yang dipanggil menoleh, dan tersenyum. Benar itu Manik pacar Lydia.


"Baby, kok disini?" Tanya Manik


"Ini ada pemotretan di sini" kata Baby sudah berdiri disebelah Manik.


"Oh dari perusahaan Sila ya?" Tanya Manik menatap wajah Baby yang terkena sinar matahari.


Baby mengangguk lalu menyembunyikan rambut dibelakang telinga. Manik tetap menatapnya sambil tersenyum cerah, secerah matahari yang tengah menyinari keduanya.


"Sendirian disini?" Tanya Baby


Manik gelagapan begitu Baby menatap matanya, merasa tertangkap basah karena diam diam memandangi wajah cantik Baby. Manik berjalan lebih dulu sambil merentangkan tangan guna mengusir rasa malu


"Mau makan, ikut gak?" Tanyanya


Baby masih terdiam, anak-anak rambutnya diterpa angin, baju pantainya pun bergoyang-goyang.


"Makan apa?" Teriak Baby setelah Manik berjalan jauh.


Manik berhenti dan berbalik, menatap kembali iris mata cantik Baby, melihat betapa cantiknya dia diterpa angin pantai. Manik mengerjap sangking terpikatnya oleh kecantikan Baby.


"Restoran dekat sini" kata Manik


Baby mengikut Manik, berlarian kecil hingga berjalan di sampingnya. Mereka sama sama terdiam, Manik melangkah dengan menendang pasir pasir yang menempel di kakinya, juga menatap turis yang berlalu lalang.


"Bdw Lo kesini sama siapa?" Tanya Baby


"Kakak gue" mereka berbelok ke luar area pantai, tanpa sengaja Manik menggandeng tangan baby untuk berjalan lebih cepat.


Sampai di restoran yang tidak jauh dari pantai, Baby dan Manik memesan makanan ringan. Sebenarnya Baby sudah kenyang tapi karena dia disini tidak punya teman, jadi menurut saja ketika Manik mengajaknya pergi.


Baby memakan beberapa suap makanan yang dihidangkan, lalu meminum dan menoleh kekanan kekiri.


Ponsel milik Baby diatas meja bergetar, nama Thea tertera sebagai pemanggil


"Hallo" sapa baby


"Lo dimana Beb, gue cariin gak ada. Lo beneran gak kesini?" Thea langsung membanjiri dengan pertanyaan pertanyaan


"Gue lagi makan nih di restoran deket pantai" Baby menatap mata Manik yang juga menatapnya.


Dilihat lihat Manik ganteng juga, matanya bulat, senyumnya manis, dia juga lucu meski kadang kadang sikapnya aneh untuk Baby. Manik mengalihkan arah pandang, dia selalu kalah jika beradu pandang dengan Baby, padahal Baby biasa saja ketika mata mereka saling bertatapan.


"Gue susul ya?" Tanya thea


"Gak usah bentar lagi gue kesana"


Panggilan itu putus sepihak oleh Thea, entah kenapa gadis itu memutuskan begitu saja panggilannya. Baby kembali meletakkan ponselnya ketempat semula, lalu menatap kembali mata Manik yang juga menatapnya.


"Kenapa sih?" Goda Baby sambil menompang dagu


Manik hanya menggeleng sambil tersenyum malu malu, dan itu membuat Baby gemas sendiri.


"Bdw Lo disini berapa hari?" Tanya Manik


Baby memutar mata sambil berfikir, berapa hari dia disini, acara pemotretan dijadwalkan hanya dua hati setelah itu ah acara apalagi Baby tidak ingat semua acaranya


"Gak tahu, lupa he he he" ujarnya nyengir


"Kalau mau, waktu Lo ada jam kosong, gue pengen ngajak elo main main disini" tawar Manik


Mendengar itu mata Baby bersinar terang, rasanya dia seperti diberikan setumpuk uang ketika mendengar tawaran Manik, dan Baby tidak boleh menyia nyiakan tawaran Manik begitu saja.


"Mau mau mau" kata Baby berulang ulang.


Manik tersenyum puas, tanpa sengaja tangan kekar Manik mengusap pipi Baby dan membuat si empunya mematung sejenak oleh sikap manis Manik.