First Love Duda

First Love Duda
Kampus Araba



Baby sudah duduk disebelah Ardy, mengotak atik daksbor dan memainkan musik sesukanya. Adry tidak merasa risih dengan kehadiran Baby, tidak seperti pertama kali bertemu dulu. Adry hanya melirik apa yang tengah dilakukan Baby, tersenyum tipis karena tingkah anak disebelahnya.


Adry berhenti di kampus Araba. Kampus yang menjadi saksi dirinya pernah berjuang setengah mati. Baby mengikuti Adry dari belakang, seperti tengah mengikuti ayahnya.


"Kenapa disini?" Tanya Baby lirih


"Tidak apa apa" kata Adry terus berjalan hingga berhenti ke gedung fakultas kedokteran.


Baby menatap sekeliling, dimana bau obat obatan serta beberapa mahasiswa yang duduk dengan almamater di tubuh mereka. Adry menaiki tangga, lalu berhenti pada sebuah loker warna biru tua. Sepertinya loker ini sengaja di kosongkan. Adry meletakkan sebuah bunga didepan lokernya. Diam sejenak sambil menatap tulisan kecil yang tertempel di pintu loker


"Silvi Margareta" gumam Baby lirih.


"Dulu ini loker mendiang istri saya" kata Adry menjelaskan


"Oh" Baby hanya ber oh saja, dia masih tidak percaya kalau Adry akan kesini bukannya pergi ke makam istrinya.


"Kenapa Om pergi kesini bukannya kemakan istri Om?" Tanya Baby


"Makam istri saya ada di Bandung" jawab Adry "kalau saya rindu saya selalu menyempatkan kesini, setidaknya loker ini pernah menjadi saksi istri saya belajar" ceritanya sambil menatap arah loker dengan kosong.


Baby menatap loker yang tidak terkunci itu, menatap beberapa foto yang tertempel di pintu loker. Sedikit mengabur, dan sudah tidak jelas.


"Saya meminta pihak kampus untuk tidak menghilangkan loker ini" kata Adry bercerita lagi  "sejak saya lulus" lanjutnya


"Istri Om meninggal pas udah lulus kuliah?" Tanya Baby


Adry menggeleng "baru dua tahun yang lalu" katanya menjelaskan


Baby manggut manggut "terus kenapa loker ini masih ada?"


Adry menoleh Baby lalu tersenyum tipis "karena dia gak nyelesaiin study nya, dia harus berhenti kuliah karena masalah depresi yang dideritanya"


Baby menatap mata Adry, mata bulat tajam yang sedang memancarkan kesedihan. Baby tidak tega, sungguh. Lelaki sekuat Adry bisa memancarkan kesedihan melalui matanya. Meskipun bibirnya tidak mengatakan kalau dia tengah sedih.


"Saya meminta untuk tidak dipindah atau diganti, setidaknya nama istri saya masih ada di sini sebagai bagian mahasiswa sini" kata Adry dengan senyum getir.


Baby tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan, menghibur Adry atau diam saja mendengarkan. Baby juga tidak tahu apa yang dibutuhkan Adry saat ini, teman cerita atau teman menghiburnya.


"Ayo pulang" ajak Adry sudah lebih dulu berjalan.


Baby mengekori dari belakang, mengekori lelaki kekar didepannya ini. Adry tidak beranjak pulang, duduk ditaman dengan minuman cup yang dia pesan tadi. Baby duduk, menatap sekeliling yang sudah mulai sepi, matahari pun menggelincir kehilangan cahayanya.


"Kamu besok mau kuliah dimana?" Tanya Adry menatap lurus


"Gue?" Tanya Baby memperjelas apakah Adry bertanya padanya


Adry hanya mengaguk sebagai jawaban "ya" darinya.


"Masih belum difikirkan" kata Baby ikutan menerawang kedepan "Pengennya ke luar negri, tapi otak gue kayaknya gak sanggup deh Om"


Mendengar itu Adry tertawa renyah dan lirih meski begitu Baby mendengarnya.


"Kamu mirip teman saya" ceritanya


"Temen Om goblok juga?" Tanya Baby tajam


Adry menoleh, menatap Baby sambil tersenyum manis. Membuat pacuan jantung Baby kembali bergetar.


"Bisa dibilang seperti itu. Tapi dia tidak sebodoh kamu" kata Adry


Baby bersungut kesal "emangnya gue bodoh banget ya, "teriaknya kesal


"Ha ha ha" Adry tertawa lepas mendengar Baby marah marah. Tertawa sampai keluar sedikit air mata diujung kelopak matanya.


"Ah saya sampai menangis melihat kamu" katanya mengusap air mata.


Melihat itu Baby tersenyum, menatap sisi lain dari Adry yang dingin, Adry yang tidak banyak berbicara dan Adry yang pemarah.


Ponsel di saku Baby bergetar, buru buru di ambilnya. Melihat nama pemanggil "anak pungut ❤" membuatnya berdecak kesal.


Belum selesai Adry mengangguk Baby sudah menaikan suaranya begitu panggilan mereka terhubung.


"Ngapa Lo nelfon nelfon?" Bentak Baby pada sipenelfon yang tak lain adalah Ken


Adry geleng geleng sendiri melihat gadis disebelahnya yang tak begitu ramah.


"Lo dimana? " Tanya Ken


"Mau tahu urusan orang aja Lo" cicit Baby


Terdengar helaan nafas berat dari ujung telfon "Lo harus balik sama gue"


"Kalo gue gak mau gimana?"


"Ini wajib. Kalau kita balik kerumah sendiri sendiri, Mama bisa ngamuk, Lo mau di homeschooling in"


Mendengar kata homeschooling yang menakutkan membuat Baby bergidik ngeri, terlebih membayangkan ekspresi Rindu.


"Yaya, dimana Lo sekarang?" Tanya Baby memilih mengiyakan permintaan Ken


"Gue masih disekolahan" kata Ken terdengar santai "Lo Kesini, gue tunggu sampe lima belas menit, kalau elo gak datang gue tinggal"


"Eh breng___"


Tut Tut Tut


Memang Ken selalu pandai dalam hal membuat Baby kesal. Gadis itu berdecak sebal


"Dasar Ken brengsek, semoga aja Tuhan ngutuk elo sesegera mungkin" maki Baby pada ponselnya


Adry menoleh, kembali geleng geleng melihat sikap gadis disebelahnya.


"Apa anak seusiamu memang kayak gini?" Tanyanya


Baby menoleh "Apa?" Teriaknya kesal


Adry langsung berdiri "ayo saya antarkan pulang. Seperti nya ada setan yang mulai mempengaruhi kamu" sindirnya


"Gue kan setannya" ucap Baby sambil menegakkan tubuh "Om anterin gue kesekolahan aja" lanjut Baby sambil mengekori langkah Adry


Adry berhenti mendadak, sehingga kepala Baby menabrak punggung kokoh Adry. Menabraknya saja, membuat jantung Baby berdetak kencang.


"Kalo mau berhenti kasih tanda dong" maki Baby untuk menghilangkan degupan jantungnya


"Kenapa tiba tiba kamu minta saya nganterin ke sekolahan?" Tanya Adry terdengar seperti bapak bapak


"Gue balik sama kembaran gue" jawab Baby menampilkan ekspresi kesal


"Kamu punya kembaran?" Alis Adry terangkat


"Ya gitu deh" Baby berjalan lebih dulu "bukain pintu mobilnya" teriak Baby saat tahu pintu mobil masih terkunci


Adry buru buru membukakan pintu mobil. Andai saja Baby tahu, kalau dia adalah satu satunya orang yang bisa memerintahkan Adry seenak itu.


Baby duduk sambil menggaruk telapak kaki, lalu diciumnya. Untung saja Adry tidak melihat itu kalau dia melihat mungkin kepala Baby akan di timpuk dengan keras.


"Jadi saya antarkan kamu ke sekolahan?" Tanya Adry


Baby mengangguk. Sambil menggunakan sepatunya kembali.


"Buruan, lima belas menit gue bisa ditinggal sianak pungut" kata Baby meminta Adry untuk cepat pergi


"Siapa anak pungut?" Tanyanya


"Duh Om banyak tanya banget sih" Baby berdecak "anak pungut itu kembaran gue" katanya


Mendengar itu Adry kembali geleng geleng sendiri. Sungguh Baby adalah gadis ajaib yang baru dia temui, gadis ajaib setelah istrinya. Gadis yang lucu dengan sejuta tingkah aneh dan tidak masuk diakal manusia. Atau jangan jangan Baby ini bukan manusia?