First Love Duda

First Love Duda
Party



Adry tetap Keukeh mengantarkan Baby meski Baby menolaknya. Akhirnya Baby duduk di mobil dengan memikirkan rumah siapa yang akan dijadikannya tempat kerja kelompok asal asalan. Pilihan terakhir jatuh pada Oci, karena hanya gadis itulah yang menerimanya jika bertamu, tanpa kecurigaan tentunya.


"Semoga aja om Pandu gak dirumah" batin Baby dalam hati.


Baby melirik kearah Adry yang masih fokus menyetir dengan kaos santai.


"Kamu tidak berniat pulang kerumah?" Pertanyaan dari Adry membuat Baby langsung mengernyitkan dahi.


"Kenapa? Gak nyaman gue nginep dirumahnya Om?" Tanya Baby memudarkan duduknya.


"Kalau itu jelas" jawab Adry mantap "kalau kamu lupa, saya seorang duda, tidak seharusnya duda tinggal serumah dengan seorang gadis yang bukan kerabatnya"


Baby manggut manggut ikut membenarkan. Dia menoleh sambil menatap dengan mata mengerjap "tapi kan Om, gue kan gak pernah ngelakuin hal yang gak senonoh sama Om"


"Maksud kamu?" Kini Adry menoleh, mata mereka saling pandang, tidak lama karena yang duluan kalah adu pandang adalah Adry.


"Ya masak Om gak tahu" Baby menatap jalan dengan tatapan mata sayu "sebenarnya gue kangen sama bokap gue "katanya lirih "tapi takut sama kesalahan kesalahan yang gue perbuat kalau gue pulang kerumah" Baby menyandarkan kepalanya di pintu mobil.


"Ini bukan rumah temenmu?" saat Adry memarkirkan mobil didepan rumah Oci, mata Adry menyipit.


"Saya seperti kenal dengan rumah ini" ujar Adry tiba tiba


Baby memainkan bibirnya kekanan dan kekiri, jelas lah Adry kenal, siapa di Jakarta yang tidak kenal dengan jakas Pandu Abdiansyah. Jaksa dengan kasus kemenangan terbanyak, yang bulan depan akan diangkat sebagai ketua kejaksaan Republik Indonesia.


"Udah ah, gue mau ngerjain tugas" Baby langsung turun, menutup pintu dengan membantingnya.


"Daaa" dia melambaikan tangan.


Adry menatap bangunan rumah megah yang akan menjadi tempat mengerjakan tugas kelompoknya. Meski dengan rasa penasaran besar, Adry tetap memacu mobilnya untuk pergi meninggalkan Baby.


Sedangkan Baby buru buru mencari taksi begitu mobil Adry tidak terlihat dimatanya.


**


Vio berdiri didepan gedung menunggu kedatangan Baby. Setengah jam yang lalu Baby sudah mengirimi nya pesan untuk merubah tempat pertemuan mereka. Sambil menunggu Vio mengotak atik ponselnya, membunuh kejenuhan


Bugh


"Ish" Vio berdecak karena tabrakan dari seseorang membuat dia menjatuhkan ponsel


"Tau gak berapa harga handpone gue?" hampir saja dia menaikan nada suaranya, begitu melihat siapa yang berdiri sambil memungut ponselnya, Vio langsung terdiam



"Maaf ya" ujar nya sambil memberikan ponsel Vio


Ada sedikit goresan dilayar ponsel Vio, lelaki ini memandangi ponsel Vio yang sedikit tergores.


"Hp Lo rusak" katanya melemah.


Vio menerima uluran ponsel itu sambil menarik sudut bibir


"Gak papa, lagian emang udah kayak gini" dustanya


Lelaki didepannya ini mengacak rambut, lalu memasukan tangan kedalam saku. Sebuah hal yang tidak boleh terjadi didepan seorang wanita kalau lelaki tidak ingin membuat wanita didepannya jatuh cinta.


"Gue bakal perbaiki ponsel elo yang gue rusakin" kata lelaki ini dengan tulus "ini nomor HP gue, kapan kapan kalau elo ada waktu, biar gue perbaiki hp Lo" katanya


Vio mengangguk dengan cengo. Tatapan matanya masih saja terpokus pada lelaki didepannya ini. Lelaki yang belum Vio ketahui namanya sudah bergegas pergi. Hanya meninggalkan nomor telephone yang masih digenggam oleh Vio.


"Eh sorry sorry gue tel__" belum selesai ucapan Baby, Vio sudah memotong


"Gila Beb, gue barusan ditabrak cowok ganteng banget. Berasa gue ada di film film india" Vio dengan cerita yang membuat wajahnya berseri


"Syukur deh kalau elo ditabrak cowok itu, jadinya gak marah sama gue" ujar Baby.



Baby berdiri dengan setelah bluse biru muda yang sedikit terbuka, rok hitam mini diatas lutut, Hells tinggi yang membuatnya terlihat semakin mempesona, belum lagi makeup tipis yang mempertegas kecantikan.


"Lo udah WhatsApp si Manik belum?" Tanya Vio karena mulai merasa kewalahan berdiri.


Baby menggeleng, saat membuka tasnya, benda Pipih yang dicari tidak ada disana.


"Nyari apa si Lo?" Tanya Vio yang melihat wajah panik dari Baby.


"Hp gue gak ada" kata Baby  membongkar semua isi tas kecilnya.


"Ih bantuin nyari ngapa" Baby membongkar semua isi tasnya. Tetap tidak ada, hanya ada kartu kredit, atm, lipstik, bedak dan parfum.


Dia menarik nafas mencoba mengingat dimana terkahir kali dia memainkan ponselnya. Saat dirumah dia memegang ponsel itu, bahkan ketika keluar rumah pun dia masih memainkan ponselnya.


"Aaa" Baby mulai ingat "gue ninggalin hp gue di dasbor mobil Adry" ucapnya melemah saat ingat dia meletakan ponsel di dasbor agar dia bisa mengikat rambut lurusnya.


"Mampus Beb" decak Vio "Lo gak hafal nomornya Manik?" Tanya Vio menyender pada tembok


Baby menggeleng


"Dah pulang aja yuk. Gak ada harapan buat masuk kedalam" Vio menarik pergelangan tangan Baby untuk menjauh dari gedung tempat berlangsungnya pesta.


"Baby"


Ada seseorang yangemanggil nya dari belakang. Baby dan Vio menoleh kompak, lelaki dengan setelan jas abu abu tersenyum kearah mereka.



"Kenapa gak masuk?" Tanyanya


Baby melepaskan cekalan tangan Vio, menyembunyikan rambut dibelakang telinga dengan gestur menggoda


"Gak enak, soalnya gak dapet undangan" kata Baby.


Lelaki itu alias Atlas Manik Prayoga tersenyum.


"Masuk aja, tadi gue udah bilang ke yang lainnya"


Baby tersenyum "tapi ini kan acaranya temennya kakak"


Manik tersenyum lagi, kemudian menatap Vio lalu berpindah ke Baby meminta penjelasan.


"Oh, kenalin ini temen gue. Namanya Vio" ucap Baby mengenalkan.


Manik mengangguk "masuk yuk" ajaknya


Mereka berdua mengekori Manik dari belakang, lelaki yang seketika terasa manis untuk dipandang. Masuk kedalam ruangan yang dipenuhi dengan suara dentuman musik, beberapa pasang yang tengah duduk atau bahkan berjoget bersama.


"Acara apa sih ini kak?" Tanya Baby lebih mencondongkan tubuhnya mendekati Manik, takut kalau lelaki itu tidak bisa mendengar pembicaraannya.


"Ulang tahun BEM sekalian ulang tahun Hendrik" jelas Manik


"Hendrik?" Ulang Baby


"Wakil presiden BEM" kata Manik menjelaskan.


Baby manggut manggut, kemudian ikut duduk di kursi yang sudah disiapkan Manik.


Manik duduk di depan Baby, menatap wajah cantik Baby yang tampak bersinar. Wajah cantik itu tengah menoleh, seolah menjelajahi isi tempat pesta. Mata terpesona Manik tidak bisa berbohong, dia benar benar terpesona akan cantiknya Baby hari ini.


Baby menoleh, menangkap Manik yang menatapnya sedari tadi.


"Eh mau kenalan sama Hendrik gak?" Ujar Manik menutupi rasa malunya.


Baby mengangguk sambil tersenyum miring.


"Hen, sini" Manik berteriak cukup kencang, membuat beberapa kursi yang berdekatan dengan mereka menoleh kearah Manik.


Seseorang lelaki berkemeja putih berjalan mendekat, tersenyum kearah mereka.


"Kenalin dia Hendrik, wakil presiden BEM US" ujar Manik memperkenalkan.


"Eh dia yang nabrak gue tadi" bisik Vio pada Baby.


"Hendrik" orang yang disebut Hendrik menjabat tangan Baby dengan senyuman masih mengembang.


"Baby" kata Baby memperkenalkan.


"Hendrik"


Vio langsung menjabat tangan Hendrik dengan agresif, hampir menarik Hendrik sangking kuatnya.


"Vio" cengirnya.