
Baby duduk di kursi sambil menyalin jawaban PR Veronika atau yang lebih akrab di panggil Vio oleh si Baby.
"Beb, gue denger denger elo ada foto terbarunya si Ken ya?" Tanya Vio merapatkan kursi ke Baby.
"Lo mau lihat?" Tanya Baby sambil menegakkan posisi duduknya.
"Selesaiin aja PR elo, daripada di hukum bu Zaenab"
"Elah Bu Zaenab doang" jawab Baby enteng. Baby mengeluarkan foto, memperlihatkan pada Vio yang langsung ngiler
"Gilee si Ken sexay banget, absnya kotak kotak gitu" kata Vio merampas ponsel Baby.
"Biasa aja dong, gausah nafsu gitu"
"Lo moto ini pas kapan beb?" Tanya Vio menatap Baby yang sedang melanjutkan menyalin PR.
"Wekend kemarin kan kita sekeluarga berenang bareng, jadi diem diem gue foto deh tubuh etletisnya si Ken, terus sisanya gue ngumpet di kamar Ken dan gue foto dia dari bawah meja"
"Anjir niat banget Lo dagangin kakak sendiri"
"Harus dong, kalau melakukan sesuatu itu gak boleh nanggung nanggung, eh gimana endorse gue. Makin hari makin sepi nih" kata Baby mulai terlihat sedih
"Gue masih ngusahaiin nyari perusahaan kosmetik yang mau makek jasa elo" kata Vio memperhatikan foto si Ken saat melepas baju.

"Eh ini dia nunjuk elo ya?" Tanya si Vio.
Baby ikut melihat foto yang di bicarakan Vio.
"Iya, gara gara itu gue dibilang cabul sama dia, kesel gak sih gue sama anak pungut satu itu" Baby berdecak
"Lagian sama sodara sendri gak pernah akur" ledek Vio "Lo ngeliatin ginian gak nafsu bebb?" Tanya Vio dengan wajah bersungguh sungguh
"Gila ya elo, Ken itu kakak gue, mana bisa nafsu gue sama orang kayak dia"
"Hahaha" Vio tertawa.
"Siniin, gue mau ngeblur fotonya si Ken terus gue posting di ig, siapa tahu banyak yang minat" tukas Baby merampas ponselnya.
"Gue rasa adek yang tega ngejual kakak nya cuman elo deh beb, niat banget bisnis pakek nama kakaknya"
"Lagian, si Ken itu kolot banget. masa di jaman modern kayak gini dia gak punya ig atau akun yang lain. Tau nya cuma wa, Google, YouTube" Baby menatap langit langit
"Si Ken pernah onani gak beb?" Tanya Vio semakin menjadi
"Heran deh gue, otak elo isinya makanan basi semua ya, kotor banget mulut nya" teriak Baby sampai seisi kelas menatap mereka
"Gak usah kenceng kenceng juga kali, elo bikin gue malu"
Beberapa saat dari ucapan mereka, anak anak kelas lain langsung masuk kedalam kelas dan menghampiri Baby yang sedang menyalin tugas.
"Kak, masih punya fotonya kak Ken kan?" Tanya adik kelas dengan kaca mata bulat di wajahnya.
"Kenapa? Kalian semua mau?" Tanya Baby dengan wajah sinis.
Cewek itu mengangguk yang membuat besitan senyum di wajah Baby semakin terlihat.
"Lo mau foto yang mana, foto Ken yang sexsy harganya 200 ribu, foto yang lucu 100 ribu, foto kecilnya Ken harganya 150 ribu. Kalau mau nomornya si Ken harganya 500 ribu"
Rombongan cewek yang mengantri itu langsung syok mendengar harga fantastis yang di berikan Baby.
"Gila Lo jualan nomor HP atau jualan nomor lontre" tukas Vio mencela.
"Suka suka gue dong, ribet amat sih. Elo juga nanti makan duit ini, berterimakasih dikit lah sama gue"
"Kak aku mau foto yang lucunya kak Ken dong" cewek berkaca mata bulat menyodorkan uang seratus ribu yang dengan berat hati dia berikan ke Baby.
Setelah cewek berkaca mata bulat memberikan nomor WhatsApp, Baby langsung mengirim foto sesuai permintaan.

"Tu gue kirim foto yang banyak" kata si Baby.
"Makasih Kak, lain kali aku bakalan nabung buat beli nomor HP nya kak Ken" kata cewek berkaca mata bulat sebelum pergi.
Tepat setelah kepergian cewek itu dan Baby masih meladeni antrian yang meminta foto Ken. Orang yang tengah menjadi bahan berjualan masuk kedalam kelas Baby dengan heran. Dia membawa kotak bekal berwarna pink muda yang di letakkan diatas meja Baby.
Ken menatap antrian para cewek SMA nya dengan heran lalu menatap adiknya.
"Lo ninggalin kotak bekal di mobil tadi" ujar Ken hendak berlalu pergi tapi ada seseorang yang memotretnya.
"Eh Lo, elo mau gue laporin atas tindakan tidak menyenangkan dan menganggu privasi orang" ujar Ken pada gadis yang duduk di kursi nomor dua.
Baby hanya menatap cewek itu yang sudah pucat oleh tatapan elang dari Ken.
"Kalau elo gak hapus foto itu, gue bakalan aduin elo ke polisi" ucap Ken dan langsung pergi.
Inilah alasan kenapa membeli foto Ken pada Baby lebih aman dibandingkan memotret diam diam si Ken. Lelaki itu memang selalu bersikap seperti itu, tidak seperti kembarannya yang lebih banyak membuat masalah di sekolahan.
"Kalian lihat kan, hanya Baby yang bisa ngambil fotonya Ken. Makanya kalian harus beli foto foto Ken sama Baby" ujar Baby pada cewek cewek yang sedang mengantri.
Pada saat Baby akan berucap lagi, bu Zaenab sudah masuk kedalam kelas dengan tampang menakutkan khas dirinya.
"Itu yang dari kelas lain, kalian mau belajar atau mau ngerumpi" kata Bu Zaenab penuh penekanan.
Mereka langsung bubar, dan digantikan dengan tepukan dahi dari Baby.
"Gue belum selesai nyalin Pr lagi" katanya bergegas menyelesaikan PR.
"kumpul PR sekarang" titah Bu Zaenab yang semakin membuat Baby kelabakan.
"Cepetan Beb, gue gak mau kena hukum gara gara elo" kata Vio lebih ke menghianati persahabatan
"Bangke elo, temen macam apa coba. Temennya lagi susah bukannya nolongin" kata Baby.
"Siapa yang belum ngumpul" tanya Bu Zaenab
"Saya saya Bu" dengan sekali hentakan Vio menarik buku tulisnya dan berlari ke arah meja Bu Zaenab.
"Bangke punya temen modelan Vio emang susah" lirih Baby dari mejanya.
"Siapa yang belum mengumpulkan tugas ?" Tanya Bu Zaenab yang membuat kelas langsung hening.
Vio yang masih berjalan kearah mejanya tiba tiba menunjuk kearah Baby.
"Baby Bu Baby yang belum ngumpulin tugas"
Brak
Baby menggebrak meja dengan pelototan tajam lalu dia tersenyum
"Iya Bu saya belum ngumpul tugas" katanya pada Bu Zaenab
"Kamu keluar sekarang juga" usir Bu Zaenab. "Minggu kemarin kita sudah sepakat, siapapun yang tidak mengerjakan tugas akan dikeluarkan dari kelas" ujarnya menambahkan.
Baby tersenyum lalu mengangguk, tidak lupa membawa pouch (tas kecil yang berisi makeup dan ponsel) keluar. Sebelum keluar saat dia melintasi Vio, Vio membisikan satu kalimat.
"Tunggu gue lima menit lagi" bisiknya yang diangguki Baby.
Baby meninggalkan pelajaran pertama dan berjalan ke kantin. Dikantin semua tampak sepi namun kesepian itu terasa pecah ketika dia menerima sebuah email yang mendebarkan.