First Love Duda

First Love Duda
Tante Bunda



Baby terisak diatas sofa membuat Adry memandanginya dengan iba. Tidak ada yang bisa dilakukan Adry selain memilih memberikan waktu Baby untuk menangis.


"Om sekarang tahu kan gimana nasib gue, gue dipaksa homeschooling disaat gue masih normal" Baby masih menangis dengan tersedu sedu


"Saya tidak menyalahkan kalau kamu bodoh" kata Adry memilih duduk kembali di kursinya


Baby menoleh dengan ganas, meski begitu air matanya tetap saja keluar


"Homeschooling itu bukan untuk anak anak yang tidak normal, tetapi anak yang tidak memiliki waktu untuk pergi ke sekolahan negri atau swasta" Adry menatap berkasnya "artis itu juga banyak yang homeschooling"


"Tapi kan gue gak mau om" teriak Baby sambil terisak


"Ya udah kalau gak mau. Tapi jangan nangis di kantor saya" Adry melirik kearah Baby, menunggu gadis itu tenang sedikit.


Baby menyeka air matanya, lalu meminum kaleng soda sambil terisak sedikit.


Adry terus menatap berkas berkasnya tanpa mengalihkan ke Baby yang saat ini justru tengah menatap Adry.


"Anjay, ni oom oom kalo lagi kerja seksi juga" batin Baby dalam hati.


Sangking tidak sadarnya ketika sekretaris Adry membuka pintu, Baby bahkan tidak tahu, dan tersentak ketika sekretaris itu sudah berdiri didepannya.


"Eh kapan masuknya?" Tanya Baby dengan tampang cengo


Adry melirik kearah Baby, lalu jatuh pada sekretaris nya yang bernama Sinta


"Sudah pukul dua belas, bapak yang menjemput Non Ara atau saya suruh pak Budi" kata Sinta mengingatkan


Adry melirik jam di pergelangan tangannya, baru tersadar jika waktu sudah cepat sekali berputar.


"Biar gue aja yang jemput Ara " tawat Baby langsung berdiri dan mendekati Adry.


Baik Adry maupun Sinta saling pandang, memperhatikan Baby yang tampak antusias.


"Gak, nanti kamu apa apain lagi anak saya" kata Adry berdiri tegak


"Biar saya saja sinta, kamu bisa kembali bekerja" Tutur Adry meminta Sinta untuk pergi.


Sinta pamit undur diri digantikan rentangan tangan dari Baby yang menghalangi jalan Adry.


"Astaga apa lagi?" Tanya Adry berdecak kesal


"Biar gue aja yang jemput Ara" Baby berjinjit hendak merampas kunci mobil yang di pegang Adry namun gagal karena tinggi badan keduanya yang berbeda.


"Saya gak bisa nyerahin keselamatan anak saya ke sembarang orang"


"Ye elah Om, kan gue nawarin baik baik, lagian si Ara juga udah kenal sama gue" kata Baby memutar badannya untuk duduk di sofa


"Kalau gak mau dibantuin ya udah sih gak papa, itung itung jadwal rebahan gue nambah panjang" kata Baby berniat untuk tidur kembali


"Yaudah yaudah, tapi ingat hati hati dijalan, jangan kebut kebutan"


Mendengar ucapan Adry, Baby lantas berdiri dan berlari untuk mengambil kunci mobil yang ada ditangan Adry. Kemudian mengadahkan tangan untuk meminta uang


"Apa?" Kata Adry tak paham


"Minta duit lah om, buat isi bensin"


"Bensi mobil saya selalu penuh" tukas Adry duduk di tempat duduknya


"Ya nanti kalau Ara minta jajan"


Adry memutar mata, memijat pelipis dan mendegus


"Anak saya gak kayak kamu, dia gak suka jajan sembarangan" Adry menatap Baby "sana berangkat" bentaknya.


Dengan berat hati karena tidak mendapatkan uang, Baby menghentakkan kaki dan meninggalkan Adry untuk menjemput Ara.


**


Lima menit Baby menunggu Ara keluar sekolahan, namun Ara belum juga keluar, Baby memutuskan menunggu diluar, dengan seragam sekolahan yang masih melekat di tubuhnya.


"Tante" tiba tiba dari arah samping seseorang memanggilnya


"Lah, kok elo disini?" Tanya Baby ketika tahu bahwa Ara muncul bukan dari gerbang SD melainkan dari sisi jalan.


"Sekolahan Ara kan yang disana" tunjuk Ara pada sekolahan sebelah.


Baby melongo, menepuk jidatnya karena salah tempat.


"Gue kira anaknya orang kaya bakalan di sekolahin di sekolahan swasta, lah ini disekolahan negri" tukas Baby membukakan pintu pada Ara.


Ara tidak langsung naik, melainkan memperhatikan wajah Baby.


"Heh naik cepetan, udah kesemutan gue nungguin elo"


"Kok Tante yang jemput Ara, papa mana?" Tanya Ara memainkan tasnya


"Papa elo lagi sibuk cari duit, ayok buruan naik"


Ara akhirnya mau naik kedalam mobil, duduk rapi dan memakai sabuk pengamannya tanpa banyak protes.


"Biasanya balik dulu atau langsung kekantor papa lo?" Tanya Baby


"Tante Tante" bukannya menjawab Ara malah menggoyang goyangkan lengan Baby.


"Apa sih?"


"Boleh gak Ara panggil Tante , Bunda"


Mendengar permintaan Ara yang tidak masuk akal membuat Baby langsung tersedak oleh air liurnya sendiri.


"Busyet. Gue masih muda woy, gak gak gak" kata Baby berteriak seperti toa masjid


"Bunda kan gak harus tua Tante, guru nya Ara pas TK juga dipanggil bunda"


"Ya tapi beda, kalo itu mah emang dari sekolahannya, nah gue" Baby menatap jalanan, lalu diam diam melirik wajah Ara yang berubah sedih.


Untuk kesekian kalinya dia merasa tidak tega dengan kesedihan Ara, baginya Ara anak yang baik. Meski sedikit menyebalkan.


"Jangan manggil bunda deh. Gimana kalau tante bunda" saran Baby agar merubah mood Ara


Ara menoleh, perlahan lahan lengkungan di sudut bibirnya terangkat, gigi gigi kecil yang rapi terlihat.


"Iya Tante Bunda" kata Ara senang


Baby tidak begitu menanggapinya, baginya perkataan yang keluar dari mulut Ara hanya guyonan saja. Tidak harus difikirkan, masalah panggilan. Toh dia juga sering dipanggil dengan panggilan aneh, seperti "sayang" , "babi" , "cabe" dan macam macam.


Mobil sedan hitam berhenti didepan perusahan. Baby dan Ara keluar dari mobil dan melangkah beriringan. Ara berkali kali ingin menggandeng tangan Baby, namun ditolak oleh Baby dengan cara dia berjalan lebih cepat dibandingkan Ara.


Sampai diruangan Adry, Ara langsung memeluk papanya. Bercerita tentang sekolahnya. Bagaimana teman temannya, Berapa nilai belajarnya dan masih banyak lagi.


Baby tidak terlalu mendengarkan, dia sibuk memainkan ponsel tanpa memperhatikan mereka berdua.


Earphone di telinga yang melantunkan lagu melow membuat Baby memejamkan mata, menuntun Baby kedalam mimpi tanpa sadar dimana dia tengah berbaring sekarang.


Ara masih sibuk bercerita sambil mengganti pakaiannya


"Tadi Tante Bunda salah jemput Ara" cerita Ara kala dia tahu Baby sudah pulas tertidur di atas sofa


"Tante Bunda?" Tanya Adry tidak tahu siapa yang dimaksud Ara.


Ara tertawa kecil sambil menutup mulutnya "itu Tante " tunjuk Ara pada Baby yang tengah tertidur


"Kok Tante Bunda?"


"Gak papa. Pengen manggil Tante Bunda aja" kata Ara berjalan mengambil buku gambar di tas.


"Lihat deh pa, tadi Ara gambar di sekolahan"


Ara menunjukan gambarannya pada Adry. Sebuah keluarga yang bahagia, lengkap tanpa satupun yang pergi. Adry memandang gambar itu seolah tengah memandang masa lalunya, masa lalu saat Ara masih berumur tiga tahun, saat istrinya masih ada disampingnya.