First Love Duda

First Love Duda
Enam kali tiga berapa Om?



Setelah kejadian memalukan yang menimpa Adry ataupun Baby keduanya jadi salah tingkah ketika bertemu, bahkan sengaja saling menghindar untuk kontak mata.


Baby berjalan dengan lemas kearah lemari pendingin, begitu tahu kalau Adry duduk di meja makan, dia langsung putar kaki, meskipun terlambat deheman dari Adry membuat Baby berhenti.


"Bukannya kamu mau ambil minum?" Tanya Adry dengan suara berat yang sengaja di netralkan sebaik mungkin


"Eh gak jadi deh Om, hausnya ilang" cengiran Baby dengan terpaksa.


Adry berdiri, mungkin tahu kalau ada atmosfer canggung berada diantar mereka. Saat melangkah, entah sengaja atau tidak, Adry berhenti tepat disebelah Baby, sehingga wangi mentol itu seakan menggoda Baby untuk menciumnya.


"Masalah tadi, anggap saja gak pernah terjadi" dan Adry buru buru pergi.


"Huh" seakan menahan nafas belasan detik, Baby langsung berlari dan membuka minuman dingin untuk diminumnya. Memang urusan dengan Adry selalu mampu membuatnya kehilangan nafas. Baby minum hingga tersedak sedak apalagi tanpa sengaja bayangan saat Adry toples dada melintas di depannya.


Rasanya tenggorokan yang sudah dibanjiri oleh minum itu tetap terasa kering.


Baby duduk di meja makan menggantikan Adry, setelah degupan jantungnya hilang, tenggorokan kering berubah menjadi dingin dan suhu tubuhnya normal, kali ini Baby menghubungi nomor Manik ketua BEM US yang sudah disimpannya tapi tidak di pernah hubungi.


Baby


Malam


Manik


Malam juga


Baby


Lagi apa kak?


Manik


Kumpul sama temen, kebetulan lagi ada pesta


Baby


Ih serunya, pengen deh ikut


Manik


Beneran, kebetulan aku lagi sendirian gak bawa pasangan, mau aku jemput?


Baby tersenyum saat membaca pesan terakhir dari Manik


"Elah, dikira gue gak tau dia udah punya pacar" ujar Baby pada dirinya sendiri. Baby kembali mengetik balasan untuk Manik , lelaki yang tiba tiba terlihat manis untuknya.


Baby


Emang boleh ? Aku kan gak kenal temen kakak


Manik


Boleh lah, kan kesininya bareng aku. Kalau mau kakak jemput


Baby


Emm aku ajak temen boleh gak, soalnya kalau keluar malam malam gini sendiri suka gak dibolehin Mama


Manik


Oke deh, kabarin aja kapan dijemputnya.


Baby


Gak usah dijemput kirim alamatnya aja biar aku yang kesana


Sengaja Baby tidak ingin dijemput, maksudnya lagipula dia sekarang berada di rumah Adry, kalau Manik tahu dia serumah dengan duda bisa bisa terjadi gosip yang tidak benar. Baby menghubungi Vio, meski dering ketiga Kali tidak diangkat namun untuk yang keempat kalinya suara Vio yang seperti toa langsung menyapa.


"Ngapain nelfon malam malam dah, gue lagi karaokean" teriak Vio dengan suara dentuman musik kencang


"Iss matiin dulu musik elo" pinta Baby


"Apa? Deketin" justru Vio mendekatkan ponsel itu ke suara musik sehingga membuat Baby menjauhkan ponsel dari telinganya


"Viooo Matiin musik elo" teriak baby


"Hahaha" Vio tertawa lalu suara musiknya langsung mati "apaan?"


"Gue mau ngajak elo ke acara party"


"Party nya siapa? Temen kita kan kagak ada yang ulang tahun" Tanya Vio


"Bukan temen kita, tapi temennya si Manik"


"Manik?" Ualng Vio "oh Manik atlas itu"


"Atlas Manik, Vioo sayanggg" koreksi Baby


"Bilang aja elo mau ngerjain tugas di rumah gue" saran Baby


"Ide bagus, bentar gue ijin nyokap gue dulu, soalnya dia paling susah dimintain ijin" Vio langsung mematikan panggilan tanpa salam apapun.


"Kebiasaan deh kurcaci satu ini, dikira gue nelfon gak pakek pulsa apa!" gerutu Baby.


Baby melangkahkan kaki keluar dari dapur begitu berada di ruang keluarga dia segera melihat Ara yang duduk dengan buku buku berserakan diatas meja.


"Tante katanya mau bantuin Ara ngerjain PR" kata Ara mengingatkan


"Oh iya"


Baby duduk disebelah Ara sambil menunggu panggilan dari Vio.


"Sini" Baby menarik buku Pr Ara, melihat perkalian di catatan bukunya


"Elo kan masih kecil, kok udah kali kalian"


"Ara kelas empat Tante" kata Ara memberitahu


"Nih lihat ini, 6X3\=  berapa?" Tanya Baby pada Ara.


Ara menggeleng karena tidak tahu.


"Elo kan punya permen 6 nah elo kasih ke 3 temen elo"


Adry yang mendengar penjelasan Baby langsung geleng geleng.


"Salah, kalau di kasih ke temen itu namanya dibagi, kalau dikali itu 3 temen Ara ngasih permen masing masing enam" koreksi Adry dengan lirikan tajam ke arah Baby.


"Emang gitu ya?" Baby garuk garuk kepala.


"Pokoknya elo punya temen tiga nah masing masing temen elo ngasih permen enam biji, jadi permen yang elo punya berapa?" Tanya Baby pada ara.


Ara berkomat Kamit, menghitung penjumlahan yang ditanyakan Baby, karena terlalu lama Baby berkecap kesal.


"Ah lama banget sih elo" cela Baby "enam kali tiga aja gak tahu" tambahnya "enam kali tiga itu___" Baby berhenti sebentar sambil menghitung "enam kali tiga berapa Om?" Teriak nya


Lagi lagi Adry dibuat menggeleng oleh tingkah Baby yang super duper menyebalkan.


"Kamu gak hafal perkalian ?" Tanya Adry


"Hafal" ujar Baby mantap "tapi dulu pas SD, sekarang mah lupa"


Helaan nafas berat keluar dari hidung Adry, demi apapun rasanya Adry ingin mencabik cabik wajah Baby andai dia bukan gadis.


"Delapan belas" kata Adry menjawab pertanyaan Baby.


"Nah jawabannya delapan belas"


Saat dia hendak membacakan soal kedua, panggilan dari Vio membuatnya berhenti.


"Gimana?" Baby berdiri dan berjalan menuju kamar Adry tanpa permisi, meninggalkan Ara yang tengah menghitung.


"Gue diijinin, tapi gak boleh bawa mobil, kudu di anterin sopir" ujar Vio.


"Yaudah gpp, minta turun didepan rumah gue aja, ntar kita ketemuan disana"


Baby bergegas berganti baju dengan celana jeans panjang dan kaos saja, agar saat dia meminta ijin pada adry, Adry tidak menaruh curiga padanya.



Baby keluar dari kamar Adry setelah mengganti pakaian. Dia menggunakan kaos coklat hitam garis garis dengan celana jeans biru panjang.


"Om, gue ijin kerumah temen gue buat ngerjain tugas" suaranya



"Apa tidak bisa besok saja?" Tanya Adry pada Baby.


"Duh ni Om Om kenapa susah banget sih dimintain ijin" gerutu Baby dalam hati


"Gak bisa, harus sekarang, soalnya besok dikumpul" ujarnya lagi


"Kamu memang menumpang disini, tapi kalau ada apa apa saya yang akan di salahkan jika itu terjadi" kata Adry memberi tahu


"Iya om gue paham kok, makanya gue minta ijin baik baik ke elo, gimana diijinin gak?"


Adry terdiam lama, tidak menjawab pertanyaan Baby. Dia sedang menimang nimang, haruskah memberi ijin pada gadis ini atau menolaknya. Adry tengah menyelusuri dari mana asal usul Baby, dan sekretarisnya belum mendapat jawaban apapun. Olehnya Adry tidak bisa sembarangan memberi ijin, apalagi keluar tengah malam seperti ini.


"Tapi dengan satu syarat" tukas Adry membuat Baby berdegup


"Saya antarkan kamu sampai ketempat tujuan" ujarnya.