First Love Duda

First Love Duda
Luar Negri



Baby duduk diatas brangkar sambil tangannya memainkan ponsel, ada berita baru mengenai dirinya, yaitu sebuah foto yang dijadikan bahan gosipan, foto Baby meminum alkohol bersama Manik di club. Komentar buruk mengenai dirinya juga membuat berita semakin memanas.


Baby menghela nafa diatas brangkar, pintu ruangan inapnya digeser oleh Ken, lelaki itu datang membawa kotak makan.


"Udah bangun?" Tanya Ken,


Baby menatap Ken yang bergerak kearahnya , kotak bekal itu berisi makanan yang sudah dimasak oleh Rindu, pastinya sudah dipastikan gizi dan makanan itu sehat.


"Lo kenapa sih Beb?" Ken menggeser kursi, menatap kembarannya yang cemberut.


"Berita tentang gue masih aja jadi trending topik" mata Baby berkaca kaca


"Udahlah" Ken merebut ponsel Baby "mulai sekarang ponsel gue sita, Lo juga gak boleh nonton berita"


Baby menangis, gadis itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ken yang melihat adiknya berubah menjadi gadis cengeng dan anti sosial merasa iba. Ken tidak tega, seharusnya Baby ceria seperti sebelumnya, bertengkar dengan Ken, bukan menjadi gadis lemah seperti ini.


Pintu ruangan Baby digeser seseorang, Baby mendongak, menyeka air mata dan menatap Baskara dengan gugup. Dia langsung menunduk, tidak berani beradu mata dengan papanya.


"Gimana keadaanmu?" Separah apapun marahnya Baskara, lelaki itu tidak akan tahan untuk tidak menegur Baby, Baskara adalah ayah, dia akan mengatakan kesalahan putrinya tidak penting seberapa fatal kesalahan itu.


Baby mengangguk "sudah baikan" katanya lemah


"Udah makan?" Baskara menggeser kursi, mengambil kotak bekal yang dibawa Ken tadi "Mama Masakin sayur Sop kesukaanmu"


Baby tetap saja menunduk, air mata nya jatuh tanpa bisa dicegah. Menangis ditahan hingga kerongkongannya terasa panas. Baskara tahu bahwa putrinya tengah menangis saat ini, melihat tangan putrinya yang ditekan untuk menghilangkan ketakutan


Baskara menarik tangan anaknya, mengelus tangan yang di salur dengan selang infus. Air mata itu diseka oleh Baskara.


"Papa gak marah sama kamu" katanya setelah mata Baby menatap mata Baskara. "Sekarang, kamu harus nurut sama papa" imbuh Baskara lagi


Baby mengangguk perlahan lahan, dia akan menebus kesalahannya, dosanya karena sudah membuat Baskara malu.


"Papa akan ngirim kamu ke Belanda, disana kamu akan meneruskan sekolah selama satu semester mu"


Baby mendongak, ada rasa kaget dan gugup yang menjadi satu. Baby tidak bisa menolaknya, sungguh, mulutnya seakan terkunci rapat rapat.


"Vio akan menemanimu disana" lanjut Baskara menutup kotak bekal yang sempat dia buka


Baskara menatap Ken yang berdiri di sisi brangkar adiknya, Ken tengah menatap Baby.


"Papa kasih kamu waktu dua hari untuk nyelesaiin urusanmu " Baskara langsung bergegas pergi.


**


Rindu tidak bisa ikut menjemput Baby keluar rumah sakit. Keadaan Baskara drop setelah mendengar berita demo dari masyarakat mengenai stasiun televisi nya.


Baby menatap arah lurus dengan kosong. Dia tidak tahu setelah ini apa yang harus dia lakukan, pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal pada Adry atu menetap disisinya tidak perduli keadaan yang semakin memanas atau bahkan dunia miliknya hancur berkeping-keping?


Lelaki itu apa kabar? Selama Baby disana dia tidak menjenguk Baby sama sekali, bahkan yang paling mengejutkan, tadi sore, Baby melihat koran yang tergeletak di meja, koran itu memberitakan pertunangan Adry dengan Rike.


Semuanya terasa kacau, dia kira Adry akan menunggu Baby mendapatkan restu, tidak sekarang memang, beberapa tahun setelah Baby pulang dari Belanda, dia berniat meminta restu papanya. Tapi apa ini.


"Ken, gue pengen ke suatu tempat" kata Baby menatap Ken yang tengah menyetir


"Kemana?" Tanya Ken


"Rumah Om Adry" Baby berharap Ken akan mengabulkan keinginannya, Ken sempat bimbang untuk menerima permintaan Baby.


"Sekali aja Ken, gue cuman pengen ketemu dia, gak akan lama kok" Baby berusaha meyakinkan


"Tapi Lo gak akan aneh aneh kan?" Ken was was


"Gue janji"


Ken akhirnya menuruti permintaan Baby, membawa gadis itu kerumah Adry. Disana, rumah yang dihuni beberapa tahun oleh Adry terasa lenggang, Baby turun, lebih dulu meminta Ken untuk pulang.


"Lo pulang aja, gue gak lama, gue bisa pulang sendiri" titah Baby dengan suara melemas


"Beb" Ken ingin menolaknya. Tatapan mata dari Baby itu membuatnya lemah, Ken hanya bisa menuruti.


**


Adry mendatangi Elang grup dengan wajah pias, dia tidak menyangka kalau lelaki tua bernama Purna Irawan itu akan senekat ini untuk menjadikan Adry sebagai menantu. Disana, saat Purna sedang bersama direksi, Adry langsung memaki, melemparkan koran ke atas meja.


"Apa maksud dari ini semua?" Tanya Adry dengan suara mengeras.


Purna memberi kode pada direksinya untuk pergi, disana lelaki berambut tembaga ini membetulkan kacamata.


"Saya bisa jelaskan pak Adry" kata Purna mencoba menenangkan


Adry menarik nafas, mencoba mendengarkan penjelasan Purna, berharap penjelasan itu jauh lebih masuk akal dibandingkan berita sampah tidak berguna yang akhir akhir ini memenuhi media.


"Saya hanya membantu Anda untuk mengalihkan berita tidak baik mengenai Anda" Tutur Purna menjelaskan


Adry berdecak "Anda tidak bisa mengambil keputusan sepihak seperti ini pak" suara Adry benar benar meninggi "Berita ini akan menguntungkan perusahaan Anda, saham perusahan Anda akan naik sedangan Sila, perusahaan saya akan kehilangan kepercayaan masyarakat karena memiliki CEO seperti saya" Adry menjedanya "apa itu yang Anda inginkan?" Tanyanya


Kobaran kemarahan dari mata Adry itu cukup menjelaskan semuanydiaPurna tidak bisa membela diri, doa terlalu gegabah dengan ini.


Adry melepaskan beberapa kancing jasnya, mengendorkan dasi untuk menghilangkan sesak frustasi yang dia alami.


"Saya akan membatalkan kerja sama perusahaan kita" Tutur Adry "investasi, bantuan iklan p, akan saya batalkan" Adry menarik nafas


"Pak Adry, jangan seperti itu, Anda tidak bisa membatalkan kerja sama hanya karena Anda sedang marah" Purna begitu gugup


"Tanpa bantuan Anda, saya bisa membuat Sila bersinar kembali, toh dulu Sila hanya sebongkah gedung yang hampir hancur" Adry langsung berlalu pergi.


Dia memukul stir mobil berulang ulang di parkiran perusahan Elang grup, semuanya harus berantakan. Berita seperti ini akan membuat Baby semakin drop.


Ponsel Adry bergetar, dia merogoh saku celana, menggeser tombol kunci ponselnya dan terpaku membaca pesan yang dia terima


Baby


Om, Om dimana? Gue ada dirumah


"Dimana Baby?" Tanya Adry


"Non Baby ada di kolam renang pak"


Adry berlarian, nafas nya terengah-engah, begitu dia menuju kolam, Baby sedang berdiri menatap air kolam. Menatap taman yang didesain Adry seindah mungkin.


"Baby" Adry memanggil Baby, gadis itu menoleh dengan senyum manisnya


Adry memeluk Baby, memeluk gadisnya yang sudah dirindukan beberapa hari, pelukan itu begitu kencang, hampir membuat nafas Baby terputus hanya karena Adry mendekapnya seerat mungkin.


"Saya rindu kamu" kata Adry menciumi leher Baby


Baby terdiam, tangannya jatuh disisi kanan jas Adry.


"Kamu apa kabar?" Adry melepaskan pelukannya , menatap mata coklat kesukaan Adry.


Baby tidak membalas, dia memeluk Adry, melingkarkan tangan tangan kecil itu di pinggang Adry, mendusel dan menangis sesegukan di dada bidang Adry.


Lelaki yang hampir berkepala lima, tidak akan bertanya penyebab Baby menangis, dia tahu alasan dari Baby memeluk Adry.


Dengan lembut Adry mendorong Baby. Adry mengelus pipi Baby, mengelus dengan lembut. Mata basah itu diseka Adry perlahan lahan.


"Berat ya?" Tanya Adry, menanyakan masalah yang mereka hadapi.


Baby hanya memejamkan mata, menikmati setiap elusan yang Baby rasakan di kulit kulitnya. Adry mendekatkan bibirnya, di kecup bibir Baby perlahan, ciuman itu begitu lembut tidak ada kesan memaksa, Baby memejamkan mata, merangkulkan tangannya di leher Adry.


Ciuman itu dilepaskan Adry, lelaki yang memiliki mata tajam menatap Baby dengan lembut.


"Kamu mau makan? Saya buatkan makan"


Adry melepaskan jas yang dia kenakan menyisakan kemeja putih panjang. Saat dia hendak beranjak, Baby menahannya. Gadis itu memeluk Adry, melingkarkan tangannya dan mendekap dengan dekapan paling kuat


"Sebentar saja" Baby berbisik lirih "sebentar aja, gue pengen posisi kayak gini" Baby mencium aroma tubuh Adry


Lelaki itu diam pasrah, merasakan ada yang aneh dari Baby. Sesuatu yang membuatnya begitu sulit melepaskan Adry. Baby melepaskan Adry, dia menatap mata elang lelaki itu dengan tatapan terluka, air matanya membanjiri pipinya


"Mari kita akhiri hubungan ini, Om" suara Baby lirih tercekat diantara kerongkongan.


Adry tidak bisa menjawab kalimat Baby, menolak pun dia tidak bisa. Baginya Adry hanyalah seseorang yang membuat hidup Baby berantakan, Adry akan merelakan apapun yang menjadi pilihan Baby .


"Mereka bilang cinta kita salah Om" Baby mengatakan itu sambil menangis


Adry terdiam, menarik nafas dengan sesak "Kalau cinta kita sebuah kesalahan saya tidak akan membenarkannya" Adry menyeka air mata Baby


Baby terisak "Kita akhir sampai disini Om" dia menangis lagi


Sejatinya Baby hanyalah anak SMA, cinta seperti ini baginya hanya lah cinta yang singgah untuk membuat masa SMA nya bewarna, tapi bagi Adry, cinta seperti ini adalah cinta yang akan dia bawa sampai akhir.


"Baik kita akhir hubungan kita sampai disini" Adry menyeka air mata Baby


Gadis itu mendongak, menatap mata elang Adry yang menyiratkan kesedihan


"Maaf karena gak bisa bertahan Om" air mata Baby tetap teguh untuk keluar


Adry menyeka nya dengan rasa sakit yang menggerogoti organ dalamnya, "itu bukan salah kamu"


Baby menunduk "Ini terlalu berat buat gue"


Adry menyeka air mata, dia tersenyum. Adry tidak bisa menahan seseorang yang ingin pergi, itu sudah cukup menyakitkan meminta istrinya tetap tinggal sementara Sisil ingin pergi.


"Kejar cita cita mu ya" Adry setia menyeka setiap tetas air mata yang membasahi wajah cantik Baby


Gadis yang baru menginjakan umur tujuh belasan memeluk Adry dengan isak tangis, tangan Adry lemas, dia tidak mampu membalasnya.


Isakan itu harus berhenti, Baby menjauhkan diri dari pelukan Adry, dia berlarian keluar rumah.


"Tante, Tante Bunda mau kemana?" Panggilan dari Ara tidak lagi di gubris oleh Baby


Terlalu menyakitkan jika harus bertahan disini, Baby terus berlari sedangkan Adry menahan Ara agar tidak mengejar Baby lagi.


"Ara, biarin Tante Bunda pergi" kata Adry


"Tapi kenapa Tante Bunda nangis sambil lari, papa nakalin Tante Bunda?"


Adry tersenyum "Tante Bunda mau fokus sekolah, sekarang Ara gak usah pikirin Tante Bunda lagi"


Adry beranjak pergi menahan rasa sakitnya, apalagi saat ini dia benar benar harus merelakan Baby. Adry selalu berusaha untuk bertahan di sisi gadis itu, dia tidak akan mencegah gadis itu bertahan karena sejak awal berada di sisi seorang duda seperti Adry memang sebuah kesulitan


"Saya akan terus berjalan di jalan kesalahan ini Baby, asal saya tetap mencintaimu" Adry membatin, masuk kedalam kamar dan merebahkan tubuhnya.


Langkah kecil yang berlarian diluar rumah Adry semakin cepat, air matanya tidak bisa lagi dibendung, ketika membuka pagar Baby menunduk, menyangga tubuh di  lutut kaki, Baby sedang mencari kekuatan dari sana. Ken kakaknya, dia belum pergi dari rumah Adry, menunggu Baby didalam mobil.


Saat mata mereka berdua bertatapan, Ken hanya bisa mengelus bahu Baby tanpa menghiburnya.


**


Rindu dan Baskara, menunggu kepulangan Baby dengan cemas, saat mobil yang digunakan Ken terdengar, Rindu langsung berhamburan ke pintu. Dia menatap wajah anaknya yang semakin pucat, matanya sembab, rambutnya berantakan.


"Kamu dari mana?, Mama khawatir sama kamu"


Baby hanya tersenyum, dia menatap Baskara yang berkacak pinggang dengan raut tegang


"Pa, Baby mau keberangkatan Baby ke Belanda di ajuin besok" ujar Baby pada Baskara.


Rindu menoleh nya. Kaget kenapa Baby secepat itu ingin segera pergi


"Kamu serius?" Tanya Rindu


"Lebih cepat lebih baik kan ma" Baby berjalan menaiki tangga.


note : Selamat beepatah hati 😁